Karya Tulis Ilmiah (KTI) terbagi dalam dua besaran, yaitu KTI hasil Penelitian dan KTI Non Penelitian. Untuk menilai karya tulis ilmiah hasil KTI yang dibuat oleh guru maupun non penelitian, PTK merupakan KTI Penelitian. Suhardjono dkk (2009) menyusun rambu-rambu penilaian KTI dan kriteria-kriteria penilaian KTI sebagai berikut.
Perhatikan identitas guru yang akan dinilai karya pengembangan profesinya
 Tentukan jenis karya pengembangan profesi yang diusulkan
Lakukan langkah penilaian KTI sebagai berikut ini
1. Baca secara teliti KTI yang dinilai
2. Tentukan dengan tepat jenis KTI
3. Bila KTI tersebut merupakan pengajuan kembali (apelan), atau yang pernah ditolak, baca dengan cermat isi surat penolakan terdahulu, dan pahami apa yang disarankan dalam surat tersebut. Bila tidak ada surat terdahulu, tanyakan kepada sekretariat.
4. Baca dengan cermat dan teliti KTI dengan memastikan kesesuaiannya dengan persyaratan yang ditentukan (APIK), kesesuaian kerangka isi, kelengkapan pengesahan dan persyaratan serta bukti fisik lain
5. Bila telah MEMENUHI SYARAT berikan nilai sesuai dengan yang ditetapkan (lihat tabel besaran angka kredit KTI)
6. Bila tidak memenuhi syarat TETAPKAN ALASAN PENOLAKAN DAN SARAN sesuai dengan nomor kode alasan penolakan
7. Tuliskan nomor kode alasan penolakan dalam format penilaian untuk dapat diproses selanjutnya.
Macam KTI Kegiatan Pengembangan Profesi Guru Dan Alasan Penolakan

1. KTI YANG TIDAK ASLI
No Hal yang terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH Alasan penolakan dan saran
1.1 Pada KARYA TULIS ILMIAH terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa KARYA TULIS ILMIAH tersebut tidak asli, seperti data yang tidak konsisten, lokasi, nama sekolah, dan data yang dipalsukan, lampiran yang tidak sesuai, dan lain-lain.
(Penilai harus menuliskan / menandai hal-hal yang diduga tidak asli pada KARYA TULIS ILMIAH yang dinilainya)

Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, yaitu adanya berbagai data yang tidak konsisten
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan yang berfokus pada laporan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV) Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian instrumen (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin, foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

1.2 Pada KARYA TULIS ILMIAH terdapat indikasi yang menunjukkan kejanggalan misalnya :
Dalam satu tahun, seorang pengawas sekolah mengajukan lebih dari dua buah KARYA TULIS ILMIAH hasil penelitian.
(Catatan : Apabila setiap semester dilakukan satu penelitian, maka dalam setahun, dihasilkan maksimal dua KARYA TULIS ILMIAH hasil penelitian)
Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, karena banyaknya laporan hasil penelitian dalam kurun waktu yang tersedia, tampak kurang wajar.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan yang berfokus pada laporan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV) Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian instrumen (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin, foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

1.3 Pada karya tulis ilmiah terdapat indikasi yang menunjukkan kejanggalan misalnya :
Beberapa karya tulis ilmiah dari pengawas sekolah yang sama, sangat berbeda kualitasnya.
Misalnya satu KARYA TULIS ILMIAH berkualitas setara tesis, sedang KARYA TULIS ILMIAH lain yang, mempunyai kualitas yang sangat jauh berbeda.
Tidak wajar apabila kualitas KARYA TULIS ILMIAH dari pengawas sekolah yang sama, mempunyai mutu yang sangat jauh berbeda. Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, yaitu adanya perbedaan mutu KARYA TULIS ILMIAH yang mencolok di antara karya-karya yang dibuat oleh seorang pengawas sekolah yang sama
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan yang berfokus pada laporan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV) Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian instrumen (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin, foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Apabila guru sudah merasa puas dengan siklus-siklus yang dilakukan, langkah berikutnya tidak lain adalah menyusun laporan kegiatan. Proses penyusunan laporan ini tidak akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah dilakukan. Untuk menyusun laporan penelitian diperlukan pedoman penulisan yang dapat dipakai sebagai acuan para peneliti pelaksana, sehingga tidak ditemukan adanya variasi bentuk. Di samping itu, juga perlu disesuaikan dengan pedoman yang sudah ditetapkan Diknas dalam rangka memenuhi persyaratan penulisan karya tulis ilmiah (KTI) dalam upaya meningkatkan jabatan/ golongan melalui pengembangan profesi. Berikut ini disampaikan bentuk laporan PTK dalam rangka mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilakukan dengan menglompokannya menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut.

A. Bagian Awal
Bagian awal terdiri dari:
1. Halaman Judul
2. Halaman Pengesahan
3. Abstrak
4. Kata Pengantar
5. Daftar Isi
6. Daftar tabel/ lampiran

B. Bagian Isi
Bagian isi memuat hal-hal sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN TEORETIK DAN PUSTAKA
BAB III PROSEDUR/METODE PENELITIAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Penjelasan dari sistematika tersebut adalah sebagai berikut.
Dalam Bab I, dimulai dengan mendikripsikan masalah penelitian secara jelas dengan dukungan data faktual yang menunjukkan adanya masa-ah pada setting tertentu, pentingnya masalah untuk dipecahkan. Uraikan bahwa masalah yang diteliti benar-benar nyata, berada dalam kewenangan guru dan akibat yang ditimbulkan kalau masalah tidak dipecahkan
Selanjutnya masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, sehingga akan terjawab setelah tindakan selesai dilakukan. Diupayakan rumusan masalah ini dapat dirinci dalam proses, situasi, hasil yang diperoleh.
Dalam tujuan penelitian hendaknya dikemukakan secara rinci tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan pada bagian sebelumnya.
Manfaat penelitian agar dikemukakan secara wajar, tidak perlu ambisius, rumuskan yang terkait dengan siswa, dan dapat juga diperluas ke guru.
Dalam Bab II, kemukakan teori dan hasil kajian/temuan/penelitian yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Serta memberi arah serta petunjuk pada pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian. Diperlukan untuk dapat membangun argumentasi teoritis yang menunjukan bahwa tindakan yang diberikan dimung-kinkan dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas. Pada akhir bab ini dapat dikemukakan hipotesis tindakan.
Pada Bab III, deskripsikan setting penelitian secara jelas, tahapan di setiap siklus yang memuat: rencana, pelaksanaan/ tindakan, pemantuan dan evaluasi beserta jenis instrumen yang digunakan, refleksi (perlu dibedakan antara metode penelitian pada usulan penelitian dengan metode yang ada pada laporan penelitian). Tindakan yang dilakukan berisfat rational, feasible, collaborative.

Kemudian pada Bab IV, dideskripsikan setting penelitian secara lengkap kemudian uraian masing-masing siklus dengan disertai data lengkap berserta aspek-aspek yang direkam/diamati tiap siklus. Rekaman itu menunjukkan terjadinya perubahan akibat tindakan yang diberikan. Ditunjukkan adanya perbedaan dengan pelajaran yang biasa dilakukan. Pada refleksi diakhir setiap siklus berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang tenjadi dalam bentuk grafik. Kemukakan adanya perubahan/kemajuan/perbaikan yang terjadi pada diri siswa, lingkungan kelas, guru sendiri, minat, motivasi belajar, dan hasil belajar. Untuk bahan dasar analisis dan pembahasan kemukakan hasil keseluruhan siklus ke dalam suatu ringkasan tabel/ grafik. Dan tabel/grafik rangkuman itu akan dapat memperjelas perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara rinci dan jelas.
Terakhir dalam Bab V sajikan simpulan dan hasil penelitian sesuai dengan hasil analisis dan tujuan penelitian yang telah disampaikan sebelumnya. Berikan saran sebagai tindak lanjut berdasarkan simpulan yang diperoleh baik yang menyangkut segi positif maupun negatifnya.

C. Bagian Penunjang
Daftar Pustaka
Memuat semua sumber pustaka yang dirujuk dalam kajian teori yang digunakan dalam semua bagian laporan, dengan sistem penulisan yang konsisten menurut ketentuan yang berlaku.

Lampiran-Lampiran
Berisi lampiran berupa instrumen yang digunakan dalam penelitian, lembar jawaban dari siswa, izin penelitian dan bukti lain yang dipandang penting.

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Pengertian
Penyusunan proposal atau usulan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan peneliti sebelum memulai kegiatan PTK. Proposal PTK dapat membantu memberi arah pada peneliti agar mampu menekan kesalahan yang mungkin terjadi selama penelitian berlangsung. Proposal PTK harus dibuat sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang mudah diikuti. Proposal PTK adalah gambaran terperinci tentang proses yang akan dilakukan peneliti (guru) untuk memecahkan masalah dalam pelaksanaan tugas (pembelajaran).
Proposal atau sering disebut juga sebagai usulan penelitian adalah suatu pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara keseluruhan. Proposal PTK penelitian berkaitan dengan pernyataan atas nilai penting dari suatu penelitian. Membuat proposal PTK bisa jadi merupakan langkah yang paling sulit namun menyenangkan di dalam tahapan proses penelitian. Sebagai panduan, berikut dijelaskan sistematika usulan PTK.

B. Sistematika Proposal
Sistematika proposal PTK mencakup unsur-unsur sebagai berikut:

JUDUL PENELITIAN
Judul penelitian dinyatakan secara singkat dan spesifik tetapi cukup jelas menggambarkan masalah yang akan diteliti, tindakan untuk mengatasi masalah serta nilai manfaatnya. Formulasi judul dibuat agar menampilkan wujud PTK bukan penelitian pada umumnya. Umumnya di bawah judul utama dituliskan pula sub judul. Sub judul ditulis untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang subyek, tempat, dan waktu penelitian. Berikut contoh judul PTK dalam pendidikan dasar.
(1) Meningkatkan hasil belajar melalui pembelajanan kooperatif pada mata pelajaran IPS (dapat dituliskan topik bahasan dan juga mata pelajarannya) di SD Negeri Banjarsari, Bandung.
(2) Penerapan pembelajaran model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran Fisika Kelas VII di SMP XXX.
(3) Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri pada Mata Pelajaran Geografi untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep tentang Perpindahan Penduduk.
(4) Pembelajaran Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian, Pembagian Menggunakan Sedotan (Drinking Straws) dan Kantong Operasi Hidung pada kelas 2 SD dengan Pendekatan Pakempros.
(5) Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika dengan Menerapkan Pendekatan Realistik dengan Teknik Brainstorming by Guided Reinvension di Kelas X SMAN 3 Kota Manna.
(6) Praktik Radikal bebas dan Model Pembelajaran Problem Based Instruction Sebai Upaya untuk Meningkatkan Hasil belajar Siswa Pada mata Pelajaran Biologi.
(7) Pengunaan Model Kreasi 10 Pola dan Pemanfaatan Bahan Ubi Jalar dalam Proses Pembelajaran Desain Seni Batik Cap di SMA.
(8) Permainan Drag and Drop sebagai Kemampuan Menggali informasi pada materi Akuntansi sebagai Sistem Informasi di Kelas XI Jurusan Ilmu Sosial SMAN 1 Sulang Tahun Pelajaran 2006/2007.
(9) Efektivitas Permainan Sepak Bola Tuna Netra dengan Microkontroer Alternatif Alat Permainan Sepak Bola dengan Menggunakan Sensor Infra Red.
(10) Aplikasi Model Pembelajaran Traffic light Card Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa Kelas I SMKN 3 Banjarasri.
(11) Penerapan Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Teknologi Bagi Siswa Kelas III SDN Tanggungrejo 4 Malang.
(12) Menumbuhkan Sikap Demokratis Siswa Kelas V SD Negeri No.2 Maros Melalui Permainan Simulasi dengan Media Papan Kartu dan Kartu Beberan.
(13) .Integrasi Outdoor Learning dan Indoor Learning dalam Meningkatkan Kemandirian di TK Anak Saleh Malang.
(14) Meningkatkan Kreativitas Siswa SD Negeri 3 Kota Banjar Dalam Pembelajaran IPA melalui PAKEM.
(15) Peningkatan Keterampiran Menulis Paragraf Deskriptif bahasa Inggris Melalui Kolaborasi Kamus Gambar dan Kerja kelompok di Kelas VII A SMPN 19 Surabaya.
(16) Metode Tiga Pencitraan Dalam Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Matematika dalam pembelajaran Bilangan Bulat dengan Media Bimamun Opsiba di Kelas VII B SMPN 2 Pakisjaya Kabupaten Karawang.
(17) Implementasi Model Cooperative Thinking and Moving (CTM) pada Pembelajaran PKn dalam upaya meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa di Kelas IX SMPN 1 Pamulihan Kabupaten Sumedang.
(18) Optimalisasi Penggunaan Asesmen Otentik untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah Siswa pada Pembelajaran Sains di SMP.

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan pembelajaran. Untuk itu, dalam uraian latar belakang masalah yang harus dipaparkan hal-hal berikut.
(1) Masalah yang diteliti adalah benar-benar masalah pembelajaran yang terjadi di sekolah. Umumnya didapat dari pengamatan dan diagnosis yang dilakukan guru atau tenaga kependidikan lain di sekolah. Perlu dijelaskan pula proses atau kondisi yang terjadi.
(2) Masalah yang akan diteliti merupakan suatu masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut.
(3) Identifikasi masalah di atas, jelaskan hal-hal yang diduga menjadi akar penyebab dari masa!ah tersebut. Secara cermat dan sistematis berikan alasan (argumentasi) bagaimana dapat menarik kesimpulan tentang akar masalah itu.

B. Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah
Pada bagian ini umumnya terdiri atas jabaran tentang rumusan masalah, cara pemecahan masalah, tujuan serta manfaat atau kontribusi hasil penelitian.
(1) Perumusan Masalah, berisi rumusan masalah penelitian. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan PTK. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan cara mengajukan indikator keberhasilan tindakan, cara pengukuran serta cara mengevaluasinya.
(2) Pemecahan Masalah; merupakan uraian altematif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti disesuaikan dengan kaidah PTK. Cara pemecahan masalah ditentukan atas dasar akar penyebab permasalahan dalam bentuk tindakan yang jelas dan terarah. Alternatif pemecahan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Di samping itu, harus terbayangkan manfaat hasil pemecahan masalah dalam pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran. Juga dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan PTK dirumuskan secara jelas, dipaparkan sasaran antara dan sasaran akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian-bagian sebelumnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi pembelajaran yang dianggap sesuai, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan lain sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi pembelajaran bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.
Di samping tujuan PTK di atas, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh, khususnya bagi siswa, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya serta bagi dosen LPTK sebagai pendidik guru. Pengembangan ilmu, bukanlah prioritas dalam menetapkan tujuan PTK.

BAB II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Pada bagian ini diuraikan landasan konseptual dalam arti teoritik yang digunakan peneliti dalam menentukan alternatif pemecahan masalah. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku-pelaku PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim hasil kajian kepustakaan. Pada bagian ini diuraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan mendasar usulan rancangan penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dapat dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan/ diantisipasi. Sebagai contoh, akan dilakukan PTK yang menerapkan model pembelajaran kontekstual sebagai jenis tindakannya. Pada kajian pustaka harus jelas dapat dikemukakan:
(1) Bagaimana teori pembelajaran kontekstual, siapa saja tokoh-tokoh dibelakangnya, bagaimana sejarahnya, apa yang spesifik dari teori tersebut, persyaratannya, dll.
(2) Bagaimana bentuk tindakan yang dilakukan dalam penerapan teori tersebut pada pembelajaran, strategi pembelajarannya, skenario pelaksanaannya, dll.
(3) Bagaimana keterkaitan atau pengaruh penerapan model tersebut dengan perubahan yang diharapkan, atau terhadap masalah yang akan dipecahkan, hal ini hendaknya dapat dijabarkan dari berbagai hasil penelitian yang sesuai.
(4) Bagaimana perkiraan hasil (hipotesis tindakan) dengan dilakukannya penerapan model di atas pada pembelajaran terhadap hal yang akan dipecahkan.
BAB III PROSEDUR PENELITIAN
Pada bagian ini diuraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, waktu dan lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Sistematika dalam ini meliputi:
a. Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian. Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya.
b. Variabel yang diselidiki. Pada bagian ini ditentukan variabel-variabel penelitian yang dijadikan fokus utama untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.
c. Rencana Tindakan. Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti :
1) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan tindakan, pelaksanaan tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang ditetapkan. Disamping itu juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah
2) Implementasi Tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan. Skenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
3) Observasi dan Interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.
4) Analisis dan Refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan berikutnya.
d. Data dan cara pengumpulannya. Pada bagian ini ditunjukan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.
e. Indikator kinerja, pada bagian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan yang diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.
f. Tim peneliti dan tugasnya, pada bagian ini hendaknya dicantumakan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.
g. Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.
h. Rencana anggaran, meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian, dan pelaporan.

LATIHAN/TUGAS
1. Identifikasi Masalah dalam PTK
a. kemukakanlah masalah-masalah atau kendala-kendala yang anda hadapi ketika melaksanakan tugas dalam pembelajaran/bimbingan……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
b. pilihlah salah satu masalah yang menurut anda mendesak!
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
c. berikan alasan mengapa masalah tersebut penting untuk segera dicarikan pemecahannya!
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

d. Faktor-faktor penyebab munculnya masalah yang dirumuskan tersebut!
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
e. Dapatkanlah satu alternatif pemecahan masalah untuk memecahkan masalah urgent yang anda hadapi tersebut! Alternatif pemecahan masalah itu harus bertolak dari hasil analisis dan didasarkan pada teori tertentu.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
2. Kerangka Penelitian Tindakan
a. Masalah:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

b. Rencana Tindakan:
Siklus 1:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Siklus 2:
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

c. Rincian Tindakan/Langkah-langkah:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
d. Contoh Format Observasi:

NO ASPEK YANG DIOBSERVASI SKOR KETERANGAN
1 2 3 4 5

3. Usulan PTK
a. Tulislah judul PTK yang anda usulkan
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………Apakah judul PTK anda telah mencantumkan hal-hal berikut:
 Tujuan
 Cara menyelesaikan masalah
 Tempat penelitian dilaksanakan

b. Deskripsi masalah yang anda hadapi
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Apakah masalah yang anda deskripsikan telah memuat hal-hal sebagai berikut:
 Apakah deskripsi masalah telah disesuaikan dengan kondisi nyata tentang kendala-kendala yang anda hadapi sewaktu melaksakan tugas kepengawasan.
 Apakah deskripsi masalah telah memuat identifikasi satu masalah yang mendesak untuk segera dilaksanakan?
 Apakah deskripsi masalah telah memuat tentang analisis masalah?
 Apakah deskripsi masalah telah memuat tentang refleksi awal?
 Bagaimana perumusan masalah?
c. Deskripsikan tentang cara pemecahan masalah yang anda ajukan!
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Apakah pemecahan masalah yang anda ajukan memenuhi rambu-rambu berikut?
 Apakah ada alternatif pemecahan masalah?
 Apakah alternatif pemecahan masalah itu didasarkan pada teori tertentu?
 Apakah alternatif pemecahan masalah itu bertolak dari hasil analisis?
d. Rumuskan hasil yang diharapkan dari penelitian anda!
Apakah rumusan yang diharapkan dalam penelitian anda telah memuat hal –hal sebagai berikut:
 Apakah rumusan hasil yang diharapkan telah mengemukakan hasil yang diharapkan bagi siswa?
 Apakah rumusan hasil yang diharapkan telah mengemukakan hasil yang diharapkan bagi praktisi (kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lainnya di sekolah)?
e. Kemukakan prosedur tindakan yang anda lakukan dalam PTK ini!
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Apakah dalam deskripsi tentang prosedur tindakan sekolah telah anda kemukakan hal-hal sebagai berikut:
 Apakah ada deskripsi tentang setting dan karakteristik subyek?
 Apakah ada variabel/faktor yang diselidiki?
 Apakah ada rencana tindakan yang mencakup misalnya strategi, pendekatan, metode atau teknik yang digunakan dalam implementasi tindakan, observasi, analisis, dan refleksi?
f. Tulislah lokasi penelitian anda!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
g. Tulislah personil tim peneliti anda!

KONSEP DASAR DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

KONSEP DASAR DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas
1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk peneli- tian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu; (1) untuk memperbaiki praktik; (2) untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang dilaksana- kannya; serta (3) untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.
Komponen-komponen di dalam kelas yang dapat dijadikan sasaran PTK adalah sebagai berikut.
a. Siswa, antara lain perilaku disiplin siswa, motivasi atau semangat belajar siswa, keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah dan lain-lain.
b. Guru, antara lain penggunaan metode, strategi, pendekatan atau model pembelajaran.
c. Materi pelajaran, misalnya urutan dalam penyajian materi, pengorganisasian materi, integrasi materi, dan lain sebagainya.
d. Peralatan atau sarana pendidikan, antara lain pemanfaatan laboratorium, penggunaan media pembelajaran, dan penggunaan sumber belajar.
e. Penilaian proses dan hasil pembelajaran yang ditinjau dari tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotorik).
f. Lingkungan, mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif misalnya melalui penataan ruang kelas, penataan lingkungan sekolah, dan tindakan lainnya.
g. Pengelolaan kelas, antara lain pengelompokan siswa, pengaturan jadwal pelajaran, pengaturan tempat duduk siswa, penataan ruang kelas, dan lain sebagainya.
Karena makna “kelas” dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar bersama dalam waktu yang bersamaan, serta guru yang sedang memfasilitasi kegiatan belajar, maka permasalahan PTK cukup luas. Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Masalah belajar siswa di sekolah, seperti misalnya permasalahan pembelajaran di kelas, kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran, miskonsepsi, misstrategi, dan lain sebagainya.
b. Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka peningkatan mutu perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi program dan hasil pembelajaran.
c. Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik modifi- kasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.
d. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi penggunaan metode pembelajaran (misalnya penggantian metode mengajar tradisional dengan metode mengajar baru), interaksi di dalam kelas (misalnya penggunaan stretegi pengajaran yang didasarkan pada pendekatan tertentu).
e. Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa.
f. Alat bantu, media dan sumber belajar, misalnya penggunaan media perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas.
g. Sistem assesment atau evaluasi proses dan hasil pembelajaran, seperti misalnya masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen penilaian berbasis kompetensi, atau penggunaan alat, metode evaluasi tertentu
h. Masalah kurikulum, misalnya implementasi KBK, urutan penyajian meteri pokok, interaksi antara guru dengan siswa, interaksi antara siswa dengan materi pelajaran, atau interaksi antara siswa dengan lingkungan belajar.

2. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kalas
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah untuk mengatasi berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:
a. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
b. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
c. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
d. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.
Dengan demikian output atau hasil yang diharapkan melalui PTK adalah peningkatan atau perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran.
Dengan memperhatikan tujuan dan hasil yang dapai dapat dicapai melalui PTK, terdapat sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.
a. Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah.
b. Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung professionalisme dan karir pendidik.
c. Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antarpendidik dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
d. Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas..
e. Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
f. Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

3. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
PTK merupakan bentuk penelitian tindakan yang diterapkan dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan nyata yang dilakukan sebagai bagian dari kegiatan penelitian dalam rangka memecahkan masalah pembelajaran di kelas.
Terdapat sejumlah karakteristik yang merupakan keunikan PTK dibandingkan dengan penelitian pada umumnya, antara lain sebagai berikut.
a. PTK merupakan kegiatan yang berupaya memecahkan masalah pembelajaran, dengan dukungan ilmiah.
b. PTK merupakan bagian penting upaya pengembangan profesi guru melalui aktivitas berpikir kritis dan sistematis serta membelajarkan guru untuk menulis dan membuat catatan.
c. Persoalahan yang dipermasalahkan dalam PTK berasal dari adanya permasalahan nyata dan aktual (yang terjadi saat ini) dalam pembelajaran di kelas.
d. PTK dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.
e. Adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru dan kepala sekolah) dengan peneliti dalam hal pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tentang tindakan (action) .

Kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru) dan peneliti (dosen atau widyaiswara) merupakan salah satu ciri khas PTK. Melalui kolaborasi ini mereka bersama menggali dengan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi oleh guru dan atau siswa. Sebagai penelitian yang bersifat kolaboratif, harus secara jelas diketahui peranan dan tugas guru dengan peneliti. Dalam PTK kolaboratif, kedudukan peneliti setara dengan guru, dalam arti masing-masing mempunyai peran serta tanggung jawab yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Peran kolaborasi turut menentukan keberhasilan PTK terutama pada kegiatan mendiagnosis masalah, merencanakan tindakan, melaksanakan penelitian (tindakan, observasi, merekam data, evaluasi, dan refleksi), menganalisis data, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan hasil.
Sering terjadi PTK dilaksanakan sendiri oleh guru. Guru melakukan PTK tanpa kerjasama dengan peneliti. Dalam hal ini guru berperan sebagai peneliti sekaigus sebagai praktisi pembelajaran. Guru profesional seharusnya mampu mengajar sekaligus meneliti. Dalam keadaan seperti ini, maka guru melakukan pengamatan terhadap diri sendiri ketika sedang melakukan tindakan (Suharsimi, 2002). Untuk itu guru harus mampu melakukan pengamatan diri secara obyektif agar kelemahan yang terjadi dapat terlihat dengan wajar. Melalui PTK, guru sebagai peneliti dapat:
a. mengkaji/ meneliti sendiri praktik pembelajarannya;
b. melakukan PTK dengan tanpa mengganggu tugasnya;
c. mengkaji permasalahan yang dialami dan yang sangat dipahami; dan
d. melakukan kegiatan guna mengembangkan profesionalismenya.

Dalam praktiknya, boleh saja guru melakukan PTK tanpa kolaborasi dengan peneliti. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa PTK yang dilakukan oleh guru tanpa kolaborasi dengan peneliti mempunyai kelemahan karena para praktisi umumnya (dalam hal ini adalah guru) kurang akrab dengan teknik-teknik dasar penelitian. Di samping itu, guru pada umumnya tidak memiliki waktu untuk melakukan penelitian sehubungan dengan padatnya kegiatan pengajaran yang dilakukan. Akibatnya, hasil PTK menjadi kurang memenuhi kriteria validitas metodologi ilmiah. Dalam konteks kegiatan pengawasan sekolah, seorang pengawas sekolah dapat berperan sebagai kolaborator bagi guru dalam melaksanakan PTK.

4. Prinsip Penelitian Tindakan Kelas
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru (peneliti) dalam pelaksanaan PTK yaitu sebagai berikut.
Pertama, tindakan dan pengamatan dalam proses penelitian yang dilakukan tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan utama, misalnya bagi guru tidak boleh sampai mengorbankan kegiatan pembelajaran. Siklus tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan kurikulum secara keseluruhan. Penetapan jumlah siklus tindakan dalam PTK mengacu kepada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perencanaan, tidak mengacu kepada kejenuhan data/informasi sebagaimana lazimnya dalam pengumpulan data penelitian kualitatif.
Kedua, masalah penelitian yang dikaji merupakan masalah yang cukup merisaukannya dan berpijak dari tanggung jawab profesional guru di kelas.
Ketiga, metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang lama, sehingga berpeluang menggangu proses pembelajaran.
Keempat, metodologi yang digunakan harus terencana secara cermat dan taat azas PTK.
Kelima, permasalahan atau topik yang dipilih harus benar–benar nyata, mendesak, menarik, mampu ditangani, dan berada dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.
Keenam; peneliti harus tetap memperhatikan etika dan tata krama penelitian serta rambu–rambu pelaksanaan yang berlaku umum. Dalam pelaksanaan PTK harus diketahui oleh pimpinan lembaga, disosialisasikan pada rekan-rekan di lembaga terkait, dilakukan sesuai tata krama penyusunan karya tulis akademik, di samping tetap mengedepankan kemaslahatan bagi siswa.
Ketujuh; kegiatan PTK pada dasarnya merupakan kegiatan yang menggunakan siklus berkelanjutan, karena tuntutan terhadap peningkatan dan pengembangan akan menjadi tantangan sepanjang waktu.

B. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
PTK bukan hanya bertujuan mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi seperti kesulitan siswa dalam mempelajari pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan pemecahan masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
Pembahasan berikutnya akan menguraikan prosedur pelaksanaan PTK yang meliputi penetapan fokus permasalahan, perencanaan tindakan, pelak- sanaan tindakan yang diikuti dengan kegiatan observasi, interpretasi, dan analisis, serta refleksi. Apabila diperlukan, pata tahap selanjutnya disusun rencana tinda lanjut. Upaya tersebut dilakukan secara berdaur membentuk suatu siklus. Langkah-langkah pokok yang ditempuh pada siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya. Sesudah menetapkan pokok permasalahan secara mantap langkah berikutnya adalah:
• Perencanaan tindakan
• Pelaksanaan tindakan
• Pengumpulan data (pengamatan/observasi)
• Refleksi (analisis, dan interpretasi)
Hasil refleksi siklus pertama akan mengilhami dasar pelaksanaan siklus kedua. Untuk lebih jelasnya, rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat dilihat pada gambar berikut.

gambar berikut.

Gambar 2. 1. Siklus Kegiatan PTK

Setelah permasalahan ditetapkan, pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri atas empat tahap kegiatan. Hasil refleksi siklus pertama akan dapat diketahui keberhasilan atau hambatan dalam hasil tindakan, peneliti kemudian mengidentifikasi permasalahannya untuk menentukan rancangan siklus berikutnya. Kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan sebelumnya yang ditunjukan untuk mengatasi berbagai hambatan/ kesulitan yang ditemukan dalam siklus sebelumnya.
Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, peneliti dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan peneliti belum merasa puas, dapat dilanjutkan pada siklus ketiga, yang tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa siklus harus dilakukan, namun setiap penelitian minimal dua siklus dan setiap siklus minimal tiga pertemuan.

1. Penetapan Fokus Permasalahan
Sebelum suatu masalah ditetapkan/dirumuskan, perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan, misalnya tentang kualitas proses dan hasil pembelajaran yang dicapai selama ini. Sikap tersebut diperlukan untuk menumbuhkan keinginan peneliti memperbaiki kualitas pembelajaran. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah. Jika dirasakan ada hal-hal yang perlu diperbaiki dapat diajukan pertanyaan seperti di bawah ini.
a. Apakah kompetensi awal siswa yang mengikuti pelajaran cukup memadai?
b. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
c. Apakah sarana pembelajaran cukup memadai?
d. Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
e. Apakah suasana dalam proses belajar mengajar kondusif?

Secara umum karaktersitik suatu masalah yang layak diangkat untuk PTK adalah sebagai berikut.
a. Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empirik yang dirasakan dalam proses pembelajaran.
b. Masalah tersebut memungkinkan untuk dicari dan diidentifikasi faktor-faktor penyebabnya. Faktor-faktor tersebut menjadi dasar atau landasan untuk menentukan alternatif solusi.
c. Masalah tersebut sangat merisaukan dan mendesak untuk segera diatasi.
d. Adanya kemungkinan untuk dicarikan alternatif solusi bagi masalah tersebut melalui tindakan nyata yang dapat dilakukan guru/peneliti.
Dianjurkan agar masalah yang dipilih untuk diangkat sebagai masalah PTK adalah yang memiliki nilai yang bukan sesaat, tetapi memiliki nilai strategis bagi keberhasilan pembelajaran lebih lanjut dan memungkinkan diperolehnya model tindakan efektif yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah serumpun. Pertanyaan yang dapat diajukan untuk menguji kelayakan masalah yang dipilih antara lain seperti di bawah ini.
a. Apakah masalah yang dirasakan secara jelas teridentifikasi dan terformulasikan dengan benar?
b. Apakah ada masalah lain yang terkait dengan masalah yang akan dipecahkan?
c. Adakah hasil penelitian pendukung dari masalah yang akan dipecahkan
d. Apakah ada bukti empirik yang memperlihatkan nilai guna untuk perbaikan praktik pembelajaran jika masalah tersebut dipecahkan?

Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui identifikasi, dilanjut- kan dengan analisis untuk menentukan kepentingan. Analisis terhadap masa- lah juga dimaksud untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau pemecahan yang dibutuhkan. Adapun yang dimaksud dengan analisis masalah di sini ialah kajian terhadap permasalahan dilihat dari segi kelayakannya.
Analisis masalah dipergunakan untuk merancang tindakan baik dalam bentuk spesifikasi tindakan, keterlibatan peneliti, waktu dalam satu siklus, indikator keberhasilan, peningkatan sebagai dampak tindakan, dan hal-hal yang terkait lainya dengan pemecahan yang diajukan.
Pada tahap selanjutnya, masalah-masalah yang telah diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh antara lain sebagai berikut.
a. Apakah strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?
b. Apakah pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran?
c. Apakah penyampaian materi dengan menggunakan LKS dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran?
d. Apakah penggunaan strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS?

2. Perencanaan Tindakan
Setelah masalah dirumuskan secara operasional, perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang dapat diambil dapat dirumuskan ke dalam bentuk hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Perencanaan tindakan memanfaatkan secara optimal teori-teori yang relevan dan pengalaman yang diperoleh di masa lalu dalam kegiatan pembelajaran/penelitian sebidang. Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal.
Secara rinci, tahapan perencanaan tindakan terdiri atas kegiatan- kegiatan sebagai berikut.
a. Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan masalah. Umumnya dimulai dengan menetapkan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik dan yang dapat dilakukan guru.
b. Mentukan cara yang tepat untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan menjabarkan indikator-indikator keberhasilan.
c. Membuat secara rinci rancangan tindakan yang akan dilaksanakan mencakup; (a) Bagian isi mata pelajaran dan bahan belajarnya; (b) Merancang strategi dan langkah pembelajaran sesuai dengan tindakan yang dipilih; serta (c) Menetapkan indikator ketercapaian dan menyusun instrumen pengumpul data yang sesuai.

3. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahapan ini, rancangan strategi dan skenario pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan penutup diterapkan. Skenario tindakan harus dilaksanakan secara benar tampak berlaku wajar. Pada PTK yang dilakukan guru, pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan. Waktu tersebut dibutuhkan untuk dapat menyesaikan sajian beberapa pokok bahasan dan mata pelajaran tertentu. Berikut disajikan contoh aspek-aspek rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan pada satu PTK.
1. Dirancang penerapan metode tugas dan diskusi dalam pembelajaran X untuk pokok bahasan: A, B, C, dan D.
2. Format tugas: pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, pilih ketua, sekretaris, dll oleh dan dari anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan cara random, dengan cara yang menyenangkan.
3. Kegiatan kelompok; mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok bekerja/ belajar memahami materi, menuliskan hasil diskusi dalam OHP untuk persiapan presentasi.
4. Presentasi dan diskusi pleno; masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru sebagai moderator, lakukan diskusi, ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran.
5. Jenis data yang dikumpulkan; berupa makalah kelompok, lembar OHP hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, serta hasil belajar yang dilaksanakan sebelum (pretes) dan setelah (postes) tindakan dilak- sanakan.

4. Pengamatan/Observasi dan Pengumpulan Data
Tahapan ini sebenarnya berjalan secara bersamaan pada saat pelaksanaan tindakan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada tahapan ini, peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain), tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, atusias siswa, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.
Instrumen yang umum dipakai adalah (a) soal tes, kuis; (b) rubrik; (c) lembar observasi; dan (d) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, seperti aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.

5. Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Negera Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya
Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/0/1995.
Kemmis, S. and McTaggart, R.1988. The Action Researh Reader. Victoria, Deakin University Press.
Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. 1996. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widya-iswara. Jakarta: Depdikbud, Dikdasmen.
Suhardjono. 200. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah pada “Diklat Pengembangan Profesi bagi Jabatan Fungsional Guru”, Direktorat Tenaga Kependidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas.
Suhardjono. 2005. Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Kelas sebagai KTI, Makalah pada “Pelatihan Peningkatan Mutu Guru di Makasar”, Jakarta, 2005
Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. 2006. Peneilitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bina Aksara.
Supardi. (2005). Penyusunan Usulan, dan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disampaikan pada “Diklat Pengembangan Profesi Widyaiswara”, Ditektorat Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Tita Lestari (2009) Manajemen Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Modul Pelatihan Bagi Guru dan Kepala Sekolah. Pusdiklat Depdiknas. Sawangan. Bogor.

MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN “PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH”

MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN “PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH”

“Dari Sekolah Binaan Kami Untuk Sekolah Binaan Anda”

Disampaikan Pada Kegiatan Pembekalan Pembimbing Penelitian Tindakan Sekolah Tanggal 16 s.d. 17 Mei 2000 di Hotel Poencer, Cisarua Bogor

Oleh: Tita lestari

A. Pengantar

Saat ini pengawas sekolah dituntut untuk memiliki kompetensi penelitian pengembangan yang tidak cukup dianggap hanya sekedar penerima pembaharuan dari hasil penelitian para peneliti dari kalangan perguruan tinggi, melainkan ikut bertanggung jawab serta dan berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui penelitian tindakan kelas maupun penelitian tindakan sekolah yang berkaitan dengan tugas pokok pengawas sekolah yaitu memantau, menilai, membina, dan melaporkan serta melaksanakan tindak lanjut hasil pengawasan. Baca lebih lanjut

PENERAPAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Berkomunikasi antar pribadi dalam kehidupan sehari hari merupakan keharusan bagi manusia. Manusia membutuhkan dan berusaha menjalin komunikasi atau hubungan dengan sesamanya. Selain itu, ada sejumlah kebutuhan di dalam diri manusia yang hanya dapat dipenuhi lewat komunikasi dengan sesamanya. Oleh karena itu terampil berkomunikasi dengan sesama manusia diperlukan oleh setiap individu manusia.
Proses belajar mengajar di sekolah merupakan bentuk komunikasi antara peserta didik dengan pendidik di sekolah. Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang efektif dan kondusif agar guru dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU. No. 14 / 2005 Bab 1, 1: 1). Lebih lanjut ditegaskan pula ole h Slameto (1995 : 97), bahwa guru mempunyai tugas sebagai berikut (1) mendidik dengan titik berat dengan memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, (2) memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai, (3) membantu perkembangan aspek – aspek pribadi seperti sikap, nilai nilai dan penyesuaian diri. Demikian juga, dalam proses belajar mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan akan tetapi lebih dari itu, ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan kepribadian siswa. Ia harus mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar secara aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan.
Untuk dapat me laksanakan tugas tugasnya tersebut guru dituntut untuk menguasai ketrampilan berkomunikasi, demikian pula bagi siswa yang setiap hari melakukan komunikasi dengan guru maupun sesama siswa yang lain, maka diperlukan ketrampilan komunikasi, khususnya komuni kasi antar pribadi.
Komunikasi antar pribadi sangat penting bagi hidup manusia. Johnson (dalam Supratiknya, 1995: 9) menunjuk beberapa peranan yang disumbangkan oleh
kkoomunikasi antar pribadi dalam rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia, yaitu (1) komunikasi antar pribadi membantu perkembangan intelektual dan sosial kita. (2) identitas atau jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain. (3) dalam rangka memahami realitas di sekeliling kita serta menguji kebenaran kesan kesan dan pengertian yang kita miliki tentang dunia di sekitar kita, kita perlu membandingkannya dengan kesan kesan dan pengertian orang lain tentang realitas yang sama. (4) kesehatan mental kita sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungan kita dengan orang lain, lebih lebih orang orang yang merupakan tokoh tokoh signifikan (significant figure) dalam hidup kita.
Kenyataan menunjukkan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan berkomunikasi antar pribadi, hal ini dapat terlihat pada prilaku siswa SMP Negeri 1 Kempo pada umumnya dan pada khususnya siswa kelas IX C
Berdasarkan pernyataan di atas bila para siswa tidak memiliki ketrampilan berkomunikasi antar pribadi maka dapat berakibat siswa menngalami kesulitan dalam menerima d an menyampaikan pesan yang diterimanya kepada teman temannya maupun kepada gurunya.Ketrampilan komunikasi antar pribadi dapat dilatih mel alui beberapa cara antara lain : wawancara, permainan, bimbingan, diskusi, berpidato, menul is. Bennett (dalam Chasiyah dkk, 2001 : 22) menjelaskan bahwa “group prosedur yang lebih intensif dan lebih mendalam adalah group therapy ”. Sedangkan Warters (dalam Chasiyah dkk, 2001 : 22) lebih menekankan group guidance 16 sebagai group work,yang merupakan penggunaan pengalaman kelom pok untuk membantu perkembangan individu dalam kelompok mencapai tujuan yang diinginkan.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, dalam rangka upaya meningkatkan komunikasi antar pribadi bagi siswa SMP Negeri 1 Kempo, penelitian ini difokuskan pada pelak sanaan layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan beberapa individu siswa dapat melakukan dinamika kelompok memecahkan masalahnya. Layanan bimbingan kelompok tersebut dilakukan dengan teknik simulasi yang dapat memberikan stimulus kepada individu dalam upaya mengatasi kesulitan berkomunikasi antar pribadi. Beberapa ketrampilan komunikasi antar pribadi meliputi (1) ketrampilan memberikan tanggapan, (2) ketrampilan memberikan informasi, (3) ketrampilan memberikan nasihat, (4) ketra mpilan bertanya, (5) ketrampilan merefleksikan, (6) ketrampilan menyimpulkan (Hamzah B Uno, 2008: 29).

B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada latar belakang tersebut di atas, dapat diidentifikasikan permasalahan komunikasi antar pribadi sebaga i berikut :
a. Masih banyak siswa SMP Negeri 1 Kempo yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi antar pribadi
b. Kurangnya pemahaman akan pentimgnya komunikasi antar pribadi siswa SMP Negeri 1 Kempo
c. Kurangnya ketrampilan menanggapi dalam berkomunikasi antar pribadi siswa SMP Negeri 1 Kempo
d. Masih banyaknya siswa SMP Negeri 1 Kemp oyang tidak mempunyai ketrampilan bertanya dalam komunikasi antar pribadi
e. Kurangnya ketrampilan mengungkapkan ide – ide serta menyimpulkan dan merefleksikan dalam komuni kasi antar pribadi siswa SMP Negeri 1 Kempo.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Apakah Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Simulasi Mampu Meningkatkan Kemampuan Komuni kasi Antar Pribadi Siswa Kelas IX C SMP Negeri 1 Kempo Tahun Ajaran 2015-2016?

C. Tujuan Penelitian
Suatu penelitian tanpa adanya tujuan yang jelas, tidak akan memberikan manfaat dalam bidang yang ditelitinya. Tujuan penelitian ini adalah : “ Untuk meng efektifkan pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi guna meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX C SMP Negeri I kempo Tahun Ajaran 2015-2016”
D. Manfaat Penelitian
Setelah perumusan masalah dan tujuan masa lah maka berdasarkan hal hal tersebut maka dapat dik emukakan manfaat penelitian sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis.
a. Memberikan bukti empiris kepada guru BK bahwa penerapan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi dapat membantu meningkatkan kema mpuan

berkomunikasi antar pribadi.
b. Memberi masukan kepada kepala sekolah dan guru BK tentang cara yang tepat untuk mengatasi siswa yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi antar pribadi dengan teknik simulasi dalam layanan bimbingan kelompok.

BAB II
KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Tinjauan Teori
1. Tinjauan tentang Komunikasi Antar Pribadi
a. Pengertian Komunikasi Antar Pribadi
Beberapa ahli menjelaskan bah wa manusia sejak dalam kandungan sudah dianggap dapat berkomunikasi. Komunikasi berasal dari kata communicare yaitu bahasa latin yang artinya berpartissi atau memberitahukan, DR. Phi l Astrid Susanto dalam bukunya Komunikasi dalam Teori dan Praktekmengungkapkan bahwa ” komunikasi adalah proses pengoperan lambang lambang yang mengandung arti ” (dalam Salmah Lilik, 1986: 4). Kemudian Harmack dan Fest dalam bukunya psikolog komunikasi menganggap “ komunikasi sebagai proses interaksi diantara orang untu k tujuan integrasi intra personal dan interpersonal ” (dalam Salmah Lilik, 1986: 4).
Pengungkapan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau yang berguna untuk memahami tanggapan kita di masa kini tersebut (Johnson, 1981 dalam Supratiknya 1995 ).
Menurut Johnson (1981 dalam Supratiknya1995 ) pembukaan diri memiliki dua sisi, yaitu bersikap terbuka terhadap atau kepada yang lain dan bersikap terbuka terhadap atau bagi y ang lain. Kedua proses dapat berlangsung secara serentak itu apabila terjadi pada kedua belah pihak akan membuahkan relasi yang terbuka antara kita dan orang lain.
Secara sempit komunikasi antar pribadi diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kep ada seseorang yang lain lewat satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Dalam setiap bentuk komunikasi setidaknya saling mengirimkan lambang lambang yang memiliki makna tertentu, kemudian lambang lambang tersebut bisa bersifat verbal berupa kata kata atau non verbal berupa ekspresi atau ungkapan tertentu dan gerakan tubuh (Johnson, 1981 dalam Supratiknya 1995 ).
Berdasarkan pendapat ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa, komunikasi antar pribadi adalah proses interaksi dari orang dalam mengungkapkan reaksi dan menanggapi situasi yang sedang dihadapi sebagai pembukaan diri terhadap individu lain.
b. Tahapan Komunikasi Antar Pribadi
Kalau dua orang bertemu maka akan terjadi komunikasi. Namun komunikasinya itu dapat berlangsung pada tahap kedalaman yang berbeda beda, tahap kedalaman komunikasi ini dapat diukur dari apa dan siapa yang saling dibicarakan, pikiran atau perasaan, obyek tertentu, orang lain atau dirinya sendiri. Semakin orang mau saling membica rakan tentang perasaan yang ada di dalam dirinya, semakin dalamlah taraf komunikasi yang terjadi. Atas dasar ke dalamannya ini, Powell (dalam Supratiknya, 1995 : 32) membedakan komunikasi dalam lima tahapan, yaitu ;
1) Basa basi
Ini merupakan tahap komunikasi paling dangkal. antara dua orang yang bertemu secara kebetulan. Membicarakan orang lain.Di sini orang sudah mulai saling menanggapi, namun tetap pada tahap dangkal, khususnya belum mau berbicara tentang diri masing masing.
2) Menyatakan gagasan atau pendapat
Kita sudah mau saling membuka diri, saling mengungkapkan diri, namun pengungkapan diri tersebut masih terbatas pada tahap pikiran.
3) Tahap hati atau perasaan
Ada yang mengatakan bahwa emosi atau perasaan adalah unsure yang membedak anorang yang satu dari yang lain.
4) Hubungan puncak
Komunikasi pada tahap ini ditandai dengan kejujuran, keterbukaan, dan saling percaya yang mutlak diantara kedua belah pihak. Tidak ada lagi ganjalan ganjalan berupa rasa takut, rasa khawatir jangan-jangan kepercayaan kita disia siakan. Selain merasa bebas untuk saling mengungkapkan perasaan, biasanya kedua belah pihak juga memiliki perasaan yang sama tentang banyak hal. Dengan kata lain, komunikasi tersebut telah berkembang begitu mendalam sehingga kedua pihak merasakan kesatuan perasaan timbal balik yang hamper sempurna.
Pada pokok bahasan tentang tahapan komunikasi antar pribadi tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa, dalam proses berkomunikasi, individu bereaksi setahap demi setahap dalam menco ba menyampaikan pesan dan pembukaan diri, didasarkan pada tahapan masing masing individu.

c. Hambatan Komunikasi Antar Pribadi
Dalam perjalanannya tentang pelaksanaan komunikasi antar pribadi tidaklah semudah yang akan terdapat banyak hambatan hambatan dibayangkan, yang mungkin akan dapat menjadikan individu mengalami kesulitan dalam berkomunikasi antar pribadi, hambatan tersebut dapat bersifat positif maupun negatif, dan hambatan tersebut dapat berasal dari pribadi individu maupun dari faktor eksternal in dividu. Sehingga dengan adanya hambatan hambatan dalam berkomunikasi antar pribadi maka terbentuklah konflik yang timbul akibat hambatan komunikasi antar pribadi.
Setiap hubungan antar pribadi unsur mengandung unsur konflik , pertentangan pendapat, atau perbedaan kepentingan, yang dimaksud konflik adalah situasi di mana tindakan salah satu pihak berakibat menghalangi, menghambat atau mengganggu tindakan pihak lain (Johnson, 1981 dalam Supratiknya 1995).
Kendati unsur konflik selalu terdapat dalam setiap bentuk hubungan antar pribadi, pada umunya masyarakat memandang konflik sebagai keadaan yang buruk dan harus dihindarkan.
Sesungguhnya bila kita mampu mengelolanya secara konstruktif, konflik justru dapat memberikan manfaat positif bagi diri kita sendiri maupun bagi hubungan kita dengan orang lain. Menurut Johnson (1981 dalam Supratiknya, 1995: 94) beberapa contoh manfaat positif dari konflik adalah sebagai berikut :
1) Konflik dapat menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perlu
dipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain.
2) Konflik dapat menyadarkan dan mendorong kita untuk melakukan dalam diri perubahan perubahan kita.
3) Konflik dapat menumbuhkan dorongan dalam diri kita untuk memecahkan persoalan yang selama ini tidak jelas kita sadari atau kita biarkan tidak muncul ke permukaan.
4) Konflik dapat menjadikan kehidupan lebih menarik, perbedaan pendapat dengan seorang teman tentang suatu pokok persoalan dapat menimbulkan perdebatan yang memaksa kita lebih mendalami dan memahami pokok persoalan tersebut, selain menjadikan hubungan kita tidak membosankan.
5) Perbedaan pendapat dapat membimbing ke arah tercapainya keputusan keputusan bersama yang lebih matang dan bemutu.
6) Konflik dapat mengilangkan ketegangan ketegangan kecil yang sering kita alami dalam hubungan kita dengan seseorang.
7) Konflik juga dapat menjadikan kita sadar tentang siapa atau macam apa diri kita sesungguhnya.
8) Konflik juga dapat menjadi sebuah hiburan. Sebagai contoh dengan sengaja mencari koflik dalam sebuah permainan atau perlombaan.
9) Konfl ik dapat mempererat dan memperkaya hubungan. Hubungan konflik yang tetap bertahan kendati diwarnai dengan banyak konflik, justru dapat membuat kedua belah pihak sadar bahwa hubungan mereka itu kiranya sangat berharga, sebab bebas dari ketegangan ketegang an dan karenanya juga menyenangkan.
Dengan kata lain, konflik dalam hubungan antar pribadi sesungguhnya memilki potensi menunjang perkembangan pribadi kita sendiri maupun perkembangan relasi kita dengan orang lain. Ada empat hal yang dapat kita jadikan patokan untuk menetapkan apakah konflik yang kita alami bersifat kostruktif atau destruktif. Suatu konflik bersifat konstruktif, bila sesudah mengalami (1) Hubungan kita dengan pihak lain justru menjadi lebih erat, dalam artilebih mudah berinteraksi dan beker ja sama. (2) kita dan pihak lain justru lebih saling mempercayai. (3) kedua belah pihak sama sama merasa puas dengan akibat akibat yang timbul setelah berlangsungnya konflik. (4) kedua belah pihak makin terampil mengatasi secara konstruktif konflik konflik baru yang terjadi di antara mereka.
Bila kita terlibat dalam suatu konflik dengan orang lain, ada dua hal yang harus kita pertimbangkan :
1) Tujuan atau kepentingan pribadi kita. Tujuan pribadi ini dapat kita rasakan sebagai hal yang sangat penting seh ingga harus kita pertahankan mati matian, atau tidak terlalu penting sehingga
dengan mudah kita korbankan.
2) Hubungan baik dengan pihak lain. Seperti tujuan pribadi, hubungan dengan pihak lain dengan siapa kita berkonflik ini juga dapat kita rasakan sebaga i hal yang sangat penting, atau sama sekali tidak penting.
Berdasarkan dua pertimbangan di atas, dapat ditemukan lima gaya dalam mengelola mengatasi konflik antar pribadi (Johnson, 1981 dalam Supratiknya, 1995: 99) yaitu ;
1) Gaya kura kura
Sikap atau gaya untuk menghindari konflik dari pokok soal permasalahan karena pendapat orang yang bermasalah tersebut berpendapat bahwa sia sia apabila memecahkan konflik tersebut. Lebih mudah menarik diri, secara fisik maupun psikologis, dari konflik darda menghadapinya. Dalam pewayangan, sikap semacam ini kiranya dapat kita temukan dalam figur Baladewa.
2) Gaya ikan hiu
Sikap atau gaya yang senang menaklukan lawan dengan memaksanya menerima solusi konflik yang ia sodorkan. Baginya konflik harus dipecahkan dengan cara satu pihak menang dan pihak lain kalah. Dalam tokoh pewayangan, sikap ini kiranya dapat kita temukan dalam figur Duryudana.
3) Gaya kancil
Sikap yang mengutamakan hubungan, dan kurang mementingkan tujuan – tujuan pribadinya. Keyakinan bahwa konflik harus dihindari, demi kerukunan. Dalam tokoh pewayangan digambarkan sebagai Puntadewa.
4) Gaya rubah
Sikap senang mencari kompromi, baik tercapainya tujuan pribadi maupun hubungan baik dengan pihak lain sama – sama cukup penting dan mau mengorbankan sedikit tujuan tujuannya dan hubungan dengan pihak lain demi tercapainya kepentingan dan kebaikan bersama. Dalam tokoh pewayangan digambarkan Werkudara.
5) Gaya burung hantu Sikap mengutamakan tujuan tujuan pribadi sekaligus hubungannya dengan pihak lain. Baginya konflik mer upakan masalah yang harus dicari pemecahannya dan pemecahan tersebut harus sejalan dengan tujuan pribadinya maupun tujuan pribadi lawannya. Pendapatnya konflik tersebut bermanfaat meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi ketegangan yang terjadi di antara dua pihak yang berhubungan. Dalam tokoh pewayangan digambarkan sebagai tokoh Kresna.
d. Ketrampilan Dasar Berkomunikasi Antar Pribadi
Agar mampu memulai, mengembangkan dan memelihara komunikasi yang akrab, hangat, dan produktif dengan orang lain, kita perl u memilki sejumlah ketrampilan dasar berkomunikasi.
Menurut Johnson (1981 dalam Supratiknya 1995: 10), beberapa ketrampilan dasar yang dimaksud sebagai berikut : (1) saling memahami, kemampuan ini mencakup beberapa sub kemampuan, yaitu sikap percaya, pemb ukaan diri, keinsafan diri dan penerimaan diri (Johnson, 1981 dalam Supratiknya, 1995 ). (2) saling mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kita secara tepat dan jelas. (3) mampu saling memberikan dukungan atau mampu menanggapi keluhan orang cara saling menolong, lain dengan cara yang bersifat menolong. (4) harus mampu memecahkan konflik dan bentuk bentuk masalah antar pribadi lain yang mungkin muncul dalam komunikasi kita dengan orang lain, melalui cara – cara yang semakin mendekatkan kita dengan lawan komunikasi kita dan menjadikan komunikasi kita itu semakin tumbuh dan berkembang. Kemampuan ini sangat penting untuk mengembangkan dan menjaga kelangsungan komunikasi kita.
Ketrampilan berkomunikasi bukan merupakan kemampuan yang kita bawa sejak lahir dan juga tidak akan muncul secara tiba tiba saat kita memerlukannya. Ketrampilan tersebut harus kita pelajari atau latih. Seperti ketrampilan ketrampilan lainnya, ketrampilan berkomunikasi ini dapat kita pelajari mengikuti kiat kiat sebagai berikut (Johnson, 1981 dalam Supratiknya1995: 12) :
1) Kita harus menyadari mengapa ketrampilan berkomunikasi ini penting kita kuasai dan apa manfaatnya bagi kita.
2) Kita harus memahami arti ketrampilan berkomunikasi dan bentuk bentuk prilaku komponennya yang perlu kita kuasai untuk mewujudkan ketrampilan itu.
3) Kita harus rajin mencari atau menemukan situasi situasi di mana kita dapat mempraktikkan ketrampilan tersebut.
4) Kita tidak boleh segan atau malu meminta bantuan orang lain untuk memantau usaha kita serta memberikan penilaian tentang kemajuan yang sudah kita capai maupun kekurangan yang masih kita miliki.
5) Kita tidak boleh bosan atau berlatih. Ketrampilan berkomunikasi tersebut harus kita praktikkan terus menerus.
6) Keseluruhan latihan tersebut harus kita bagi dalam satu kesatuan atau bagian tertentu, agar setiap kali dapat kita rasakan keberhasilan usaha kita.
7) Akan sangat menolong bila kita dapat menemukan teman yang dapat kita ajak sebagai lawan berlatih.
8) Ketrampilan berkomunikasi dengan seluruh komponen atau bagiannya tersebut harus terus menerus kita latih dan praktikkan,
sampai akhirnya menjadi bagian dari diri kita.
Seluruh langkah dalam kiat di atas dapat dilakukan dalam kerangka metode belajar yang disebut experiental learning atau belajar melalui peng alaman (Johnson, 1981 dalam Supratiknya, 1995 : 13).
2. Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Simulasi
a. Pengertian Bimbingan Kelompok
Menurut Kirby, dalam artikelnya yang berjudul : Group Guidance (Vol. 49, April 1971) yang menyatakan bahwa “ Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok yang dilaksanakan dengan cara memberikan informasi dan data data dalam usaha untuk mengembangkan tingkah laku yang baik dari
individu”.
Sedangkan Mahler (dalam Chasiyah dkk, 2001 : 23) menyatakan bahwa “Bimbingan kelompok adalah terutama adalah pendidikan di kelas atau pengalaman pendidikan, yang pada pokoknya dikaitkan pada pemberian informasi. Kegiatan bimbingan kelompok di sekolah sekolah biasanya diorientasikan dalam memberikan dorongan terhadap para siswa untuk dap at memahami serta mengetahui sampai sejauh mana partissi serta keterlibatannya dalam mengembangkan diri ke arah berpikir dewasa. Walaupun pokok pembahasan dalam bimbingan kelompok mungkin sama dengan konseling kelompok, tanggung jawab utama dalam bimbin gan tetap berada pada guru. Dalam konseling kelompok pembicaraan pokok adalah untuk setiap anggota kelompok, tetapi bahasan terletak pada perubahan tingkah lakunya, tetapi tidak pada perubahan tingkah lakunya secara umum”.
Bimbingan kelompok dapat pula dib erikan pengertian yang sederhana dan pengertian yang mendalam memakai kelompok sekedar sebagai tempat atau wadah atau sasaran dilaksanakannya suatu usaha bimbingan, sedangkan dalam arti yang lebih mendalam bimbingan kelompok mempergunakan dinamika kelompok yang benar benar terarah dan positif untuk membantu klien memperkembangkan
dirinya sendiri dalam menanggulangi masalah masahnya (Depdikbud, 1983 dalam Chasiyah dkk, 2001: 23)
Berdasarkan pendapat ahli di atas diambil kesimpulan bahwa bimbingan kelompok pada dasarnya bimbingan yang dilaksanakan dengan tujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan aspe k kediriannya yang bersifat sosi al.
Aspek – aspek kedirian tersebut berupa sikap, ketrampilan dan keberanian yang dimensinya bersangkut paut dengan orang lain (sosial) diberikan tenggang rasa sebagai suatu warna.

b. Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok
Dalam melaksanakan suatu kegiatan sudah pasti selalu ada arah tujuan pencapaian, begitu pula dengan layanan bimbingan kelompok. Beberapa pandangan tentang tujuan bimbingan kelompok, Crow and Crow ( dalam Chasiyah dkk, 2001: 26) mengemukakan hal hal sebagai berikut :
1) Bimbingan kelompok ditujukan untuk memberikan dan memperoleh informasi dari individu.
2) Mengadakan usaha usaha analisa dan pemahaman bersama tentang sikap, minat dan pandangan yang berbeda.
3) Untuk membantu memecahkan masalah bersama.
4) Untuk menemukan masalah – masalah pribadi.
Selanjutnya Bennet (dalam Chasiyah dkk, 2001: 26) mengemukakan pendapat tentang tujuan dari bimbingan kelompok adalah :
1) Memberikan informasi kepada siswa tentang pekerjaan atau jabatan, pendidikan, dan sosial pribadi.
2) Memungkinkan siswa untuk ikut serta membicarakan secara pribadi, dan ikut serta dalam kegiatan perencanaan karir.
3) Memberikan kepada siswa untuk meneliti dan membicarakan bersama masalahnya,cita – cita atau masalah tujuan hidupnya, serta cara –cara pemecahannya.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penyelasaian tugas – tugas bukanlah tujan utama dari kegiatan bimbingan kelompok, tetapi yang diutamakan adalah proses penyelesaian tugas yang diarahkan melalui alur alur tertentu, alur penyelesaian tugas yang dibebankan kepadanya.
c. Tahapan Layanan Bimbingan Kelompok
Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok terdapat tahapan tahapan yang perlu diperhatikan, tahapan layanan bimbingan kelompok tersebut dalam Chsiyah, dkk (2001: 35) yang dalam bukunya “layanan bimbingan kelompok” dijelaskan bahwa bahwa peranan layanan bimbingan kelompok harus dapat memunculkan aspek pribadi dari masing masing anggota k elompok. Kemudian Prayitno (1995: 40) dalam bukunya “layanan bimbingan dan konseling kelompok, dasar dan profil” menjelaskan pula bahwa pembahasan tentang tahap perkembangan kegitan kelompok dalam rangka bimbingan dan konseling melalui pendekatan kelompok adalah amat penting bagi guru pembimbing, dengan mengetahui dan menguasai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang hendaknya terjadi di dalam kelompok itu, haruslah dapat memunculkan segala bentuk kedirian dari anggota kelompok.
Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam setiap tahapan dari layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk membentuk karakter individu dengan memunculkan segala aspek kedirian atau kepribadian individu peserta layanan bimbingan kelompok, sehingga dapa t diketahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri individu dan apa diharapkan dari individu.
Adapun tahapan layanan bimbingan kelompok tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Pembentukan
Dalam tahap ini peranan pemimpin kelompok hendaknya memunculkan d irinya sehingga tertangkap oleh para anggota sebagai orang yang benar benar bisa dan bersedia membantu para anggota kelompok mencapai tujuan mereka.
2) Peralihan
Setelah terbentuk kelompok, maka menuju tahap berikutnya namun –
pemimpin kelompok harus menjelas kan sedetil detilnya apa yang harus dan apa peranan masing- masing dari anggota kelompok.
3) Kegiatan
Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Namun kelangsungan kegiatan kelompok pada tahap ini amat tergantung pada hasil dari dua tahap sebelumnya.
4) Pengakhiran
Pokok perhatian utama pada tahap pengakhiran adalah hasil yang telah dicapai oleh kelompok tersebut, ketika menghentikan pertemuan.
d. Tinjauan Teknik Simulasi
Para ahli menjelaskan bahwa ada beberapa jenis pelaksanaan bimbingan kelompok, yang antara lain ; (1) program informasi, (2) program orientasi, (3) diskusi, (4) pembelajaran remedial, (5) belajar dan berkerja kelompok, (6) sosiodrama, (7) psikodrama, (8) home room(9) karya wisata, (10) simulasi, (11),
bermain peran, (12) kepram ukaan, (13) organisasi siswa, (14) petemuan kelas.
Berbagai tinjauan tentang jenis jenis pelaksanaan layanan bimbingan kelompok sehingga teknik simulasi termasuk ke dalam jenis pelaksanaan bimbingan kelompok.
1 ) Pengertian Teknik Simulasi
Teknik pembelajaran dapat dia rtikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan pengg unaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. (Beda Strategi, Mo del, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/) ).
Kemudian berdasarkan pemahaman tersebut di atas maka simulasi adalah suatu tehnik pembelajaran atau salah satu metode pembelajaran yang diterapkan di Indonesia, simulasi sama dengan permainan dengan mempresentasikan suatu permasalahan dan menginterpretasikan serta merefleksikan permasalahan yang sedang dibahas tersebut. Pelopor dari simulasi adalah Boocock dan Guestzkow (Hamzah B Uno: 28), yang menyatakan bahwa menganggap siswa sebagai suatu sistem, yang dapat mengendalikan umpan balik sendiri (self regulated feedback ).
Adapun fungsi dari simulasi adalah sebagai berikut :
a) Menghasilkan gerakan atau tindakan sistem terhadap target yang diinginkan
b) Membandingkan dampak dari tindakan tersebut, apakah sesuai atau tidak dengan jalur atau rencana yang seharusnya (mendeteksi kesalahan)
c) Memanfaatkan kesalahan untuk mengarahkan kembali ke arah atau jalur yang seharusnya.
Jadi di sini Boocock dan Guestzkow (Hamzah B. uno, 2008: 28) menyimpulkan bahwa pembelajaran simulasi adalah menginterpretasikan manusia sebagai suatu sistem kontrol yang dapat mengarahkan tindakannya dan memperbaiki tindakannya dengan mendasarkan pada umpan balik. Ap likasi dari prinsip simulasi tersebut dalam pendidikan terlihat dengan semakin banyaknya simulator yang dikembangkan untuk berbagai kebutuhan yang mempunyai kelebihan, antara lain :
a) Siswa dapat mempelajari sesuatu yang dalam situasi nyata tidak dapat dilak ukan karena kerumitannya dan karena faktor lain seperti resiko
kecelakaan atau bahaya dan lain lain.
b) Memungkinkan siswa belajar dari umpan balik yang datang dari dirinya sendiri.
Salah satu contoh konkrit dari pelaksanaan simulasi di Indonesia yang paling terkenal adalah simulasi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, suatu simulator yang dirancang untuk meningkatkan wawasan dan pengamalan nilai – nilai Pancasila. Contoh yang lain adalah, Life Carrier Gamesuatu permainan yang dirancang bagi petuga s konseling atau konselor untuk membantu siswa dalam merencanakan karirnya, kemudian permainan anak anak yang terkenal yang dapat digolongkan ke dalam simulasi adalah monopoli atau disebut pula international simulation, yaitu simulator yang dirancang untuk mengajarkan prinsip – prinsip hubungan internasional.
Berdasarkan pemahaman dari ahli di atas bahwa pemahaman tentang teknik simulasi, dapat disimpulkan bahwa teknik simulasi adalah merupakan salah satu jenis pelaksanaan bimbingan kelompok yang mengarah kan individu peserta layanan bimbingan kelompok agar dapat mengarahkan tindakannya sebagai manusia yang menginterpretasikan prilakunya ke dalam suatu sistem kontrol yang dapat memperbaiki tindakannya dengan adanya penerimaan umpan balik.
2) Cara pelaksanaan s imulasi
Hamzah B. Uno dalam bukunya “model pembelajaran : menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan kreatif”, menjelaskan ada 4 prinsip dalam pembentukan proses pelaksanaan simulasi, yang dalam pelaksanaannya tidak menghilangkan tahapan tahapalayanan bimbingan dalam kelompok.
Prinsip dalam proses simulasi yaitu :
a) Prinsip Penjelasan
Untuk melaksanakan simulasi pemain harus benar – benar memahami aturan main, maka tugas guru atau fasilitator adalah menjelaskan sedetil detilnya segala hal berkenaan dengan simulasi.
b) Prinsip Pengawasan (refereeing)
Simulasi adalah dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur main tertentu. Oleh karena itu, guru atau fasilitator harus mengawasi proses simulasi tersebut, sehingga dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
c) Prinsip Pelatihan (coaching)
Dalam simulasi, pemain atau peserta akan mengalami kesalahan, oleh karena itu guru atau fasilitator harus memberikan saran, petunjuk, atau arahan sehingga memungkinkan bagi mereka untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
d) Prinsip Diskusi
Dalam simulasi, refleksi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, setelah simulasi selesai, fasilitator atau guru mendiskusikan beberapa hal, seperti ; Seberapa jauh simulasi sudah sesuai dengan kenyataan kesulitan, hikmah didapat dari kesulitan (real world),yang proses simulasi, bagaimana memperbaiki atau meningkatkan simulasi.
Kemudian setelah mengetahui prinsip dasar dari simulasi maka juga harus
memperhatikan tahapan dalam proses simulasi, yang antara lain ;
a) Pembelajaran simulasi adalah menyiapkan siswa menjadi pemeran dalam simulasi.
b) Guru menyusun skenario dengan memperkenalkan siswa terhadap atauran, peranan, prosedur, pemberian skor (nilai), serta tujuan dari simulasi itu sendiri.
c) Pelaksanaan dari simul asi itu sendiri. Siswa berpartissi dalam simulasi,sementara guru memainkan perannya sehingga pada saat saat tertentu kemungkinan ada interupsi apabila terjadi kesalah pahaman sehingga proses simulasi dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan.
d) Debriefing, guru mendiskusikan tentang beberapa hal seperti yang telah dijelaskan.
B. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teori yang telah dikemukakan di atas maka dapat disusun suatu kerangka pemikiran bahwa komunikasi antar pribadi di lingkungan sekolah d an dalam suasana proses belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang dapat membantu terciptanya kelancaran tujuan sekolah dan dalam proses belajar mengajar. Kelancaran komunikasi antar pribadi akan membawa siswa dapat meningkatkan kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan bersosialisasi, namun apabila komunikasi antar pribadi tersebut mengalami hambatan maka segala proses belajar mengajar akan mengalami kegagalan.
Oleh karena itu diperlukan adanya bantuan kepada para siswa untuk mengubah cara berkomu nikasi dan komunikasi antar pribadi. Salah satu layanan yang dipilih adalah layanan bimbingan kelompok dengan tehnik simulasi. Selanjutnya kerangka pemikiran ini dapat digambarkan sebagai berikut :
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah merupakan jawaban sementara atas suatu permasalahan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut :
“Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Simulasi Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Anta r Pribadi Siswa Kelas IX C SMP Negeri I kempo Tahun Ajaran 2015-2016”

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Seting Penelitian
1. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa SMP Negeri 1 Kempokelas IX C. Hal tersebut didasarkan atas pertimbangan hasi l pengamatan penulis saat melaksanakan PPL dan informasi dari guru SMP Negeri 1 Kempoyang mengampu di kelas IX C dan guru pamong BK SMP Negeri 1 Kempo, bahwa siswa kelas IX C berkesulitan dalam berkomunikasi antar pribadi.
Siswa kelas IX C SMP Negeri 1 Kempo tersebut menunjukkan karakrakteristik berkesulitan komunikasi antar pribadi dengan ciri ciri yaitu,
kurang memiliki sikap pembukaan diri, sikap percaya diri, kurang mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat, kurang mampu memecah kan konflik.
2. Tempat Penelitian
Penelitian apabila ditinjau dari segi tempatnya dibagi menjadi 3 (tiga) macam, yaitu : (1) Penelitian laboratorium. (2) Penelitian perpustakaan. (3) Penelitian kancah atau lapangan. (Arikunto, 1996 : 10).
Penelitian ini merupa kan penelitian lapangan, yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kempo.Pertimbangan atau alasan tempat penelitian adalah sebagai berikut : (1) Ada sementaran siswa yang memerlukan bimbingan peningkatan kemampuan komunikasi antar pribadi dibutuhkan oleh siswa (2) SMPN I Kempo.. merupakan salah satu SMP negeri di Kempo. yang pelaksanan bimbingan dan konseling yang lancar dan terprogram. (3) Hasil penelitian diharapkan da pat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi SMPN 1 Kempo untuk mengembangkan program bimbingan kelompok dengan salah satu tujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa .
3. Jadwal Waktu Penelitian
Waktu penelitian i ni diperkirakan selama 6 bulan dari bulan September 2015 sampai September 2015. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1
Jadwal Penelitian

NO. KETERANGAN
Juli Agustus Sept Okt Nop
1. Menyusun
Proposal xxxx xxxx xxxx xxxx
2. Persiapan
Penelitian xxxx
3. Perijinan xxxx
4. Menyusun
Instrumen xxxx xxxx
5. Pelaksanaan
Penelitian xxxx
6. Pengumpulan Data xxxx
7. Mengolah Data xxxx

B. Metode dan Pendekatan Penelitian
Dari berbagai metode dan pendekatan dalam penelitian, langkah memilih metode dan pendekatan sebenarnya bisa lebih tepat setelah peneliti menentukan dengan tegas variabel p enelitian. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dalam bimbingan konseling disebut dengan penelitian tindakan bimbingan konseling.

1. Pengertian Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling
Pemilihan metode yang tepat sangat menentukan ke berhasilan penelitian yang akan dilaksanakan. Berdasarkan rumusan masalah dan latar belakang masalah penelitian yang akan dilaksanakan digunakan penelitian tindakan bimbingan konseling, yang mengadopsi konsep penelitian tindakan kelas.
Penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang mempunyai aturan dan langkah yang harus diikuti. Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Researh yang dilakukan di kelas.
Sesuai dengan arti katanya, oleh Carr dan Kemmis (Mcniff, 1991, p.2 dalam Wardhani, 2007: 1. 3) penelitian tindakan didefinisikan sebagai berikut :
Action research is a form of self reflective enquiry undertaken by particnts (teachers, students, or princls, for example) in social (including educational) situati ons in order to improve the rationality and justice of (1) their own social or educational practice, (2) their understanding of these practices, and (3) the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Sedangkan Mills (2000 dalam Wardhani, 2007: 1. 4 ) mendefinisikan bahwa, penelitian tindakan sebagai systematic inquiry yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah dan juga konselor untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukannya.
Lebih lanjut Nana Sudjana (dalam Sutarno, 2009: 2) menyatakan bahwa PTK merupakan penelitian yang dilaksanakan oleh guru melalui refleksi diri yang diikuti dengan tindakan yang bertujuan memperbaiki kinerjanya layanan, sehingga layanan meningkat.
Jika dicermati pengertian tersebut di atas secara seksama, dapat ditemukan sejumlah ide pokok sebagai berikut :
a. Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
b. Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
c. Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
d. Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik praktik, pemahaman terhadap praktik tersebut,
serta situasi atau lembaga tempat praktik tersebut dilaksanakan.
Berdasarkan pendapat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan adalah suatu tindakan pengumpulan, mengolah, menganalisis, menafsirkan, dan menyimpulkan data y ang diperoleh dari suatu tindakan atau perbuatan yang sengaja dirancang dan dilakukan dalam rangka merumuskan metode atau sistem yang lebih baik.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka penelitan tindakannya menjadi dasar dari penelitian tindakan bimbingan konseling yang akan dilaksanakan untuk melaksanakan penelitian untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX C SMPN 1 Kempo
2. Manfaat Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan kelas mempunyai manfaat yang cukup besar, baik bagi guru, pembelajaran, maupun bagi sekolah. Wardhani ( 2007: 1.19 ) berpendapat bahwa manfaat penelitian tindakan adalah sebagai berikut :
a. Mafaat bagi guru
1) PTK dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran yang dik elolanya, karena sasaran akhir PTK adalah perbaikan program pembelajaran.
2) Dengan melakukan PTK, guru dapat berkembang secara professional karena dapat menunjukkan bahwa ia menilai dan memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya.
3) PTK membuat guru lebih percaya diri.
4) Melalui PTK, guru mendapat kesempatan berperan aktif mengembangkan pengetahuan.
Berdasarkan pemahaman tersebut di atas maka PTK yang menjadi dasar adanya PTBK bermanfaat pula bagi guru pembimbing, karena sasaran akhir PTBK juga perbaikan program layanan dan PTBK juga membentuk guru pembimbing menjadi lebih berperan aktif dan dapat mengembangkan pengetahuannya serta keprofesionalannya.
b. Manfaat bagi pembelajaran
Jika kita mengacu kembali pada karakteristik PTK bahwa PTK mempunyai manfaat yang sang at besar terhadap hasil akhir dari pembelajaran karena tujuan PTK adalah memperbaiki praktik pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki belajar siswa (Raka Joni, Kardiawan, dan Hadisubroto, 1998 dalam Wardhani, 2007). Berdasarkan pendapat tersebuut maka PTK yang menjadi dasar adanya PTBK maka kesalahan dalam proses layanan akan cepat dianalisis dan diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut.
Berdasarkan pendapat ahli di atas maka PTBK yang mengadopsi dari PTK juga bermanfaat bagi pem belajaran, karena tujuan akhir dari PTBK adalah memperbaiki dan membantu jalannya proses pembelajaran.
c. Manfaat bagi sekolah
PTK memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan professional para gu ru, perbaikan proses dan hasil pembelajaran siswa, serta kondusifnya ikl im pendidikan sekolah tersebut.Berdasarkan pengertian di atas, sehingga dengan demikian PTBK disesuaikan dengan PTK memberikan sumbangan pula terhadap sekolah dengan meningkatkan k eprofesionalan pembimbing serta memperbaiki proses dan pelayanan terhadap siswa.
C. Prosedur Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling
Mills ( dalam Wardhani, 2007: 2.4 ) menyebutkan tahapan dalam PTK ada 4 tahap, yang merupakan satu siklus atau daur, oleh karena itu setiap tahap akan berulang kembali. Tahapan tahapan yang harus dilakukan sebelum melaksanakan penelitian, tahapan tersebut antara lain (1) perencanaan perbaikan. (2) pelaksanaan tindakan. (3) mengamati dan mengevaluasi tindakan. (4) merefleksikan tindakan perbaikan.
Maka dengan demikian penelitian tindakan bimbingan konseling yang mengadopsi dari penelitian tindakan kelas prosedurnyapun tidak jauh berbeda, dikarenakan konsep dasar dari PTBK adalah PTK.
Mengacu pada pendapat di atas maka prosedur p elaksanaan penelitian tindakan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Perencanaan Penelitian
a. Mengidentifikasi satu bidang yang akan menjadi perhatian
Suatu rencana penelitian tindakan diawali dengan adanya masalah yang dirasakan atau disadari oleh guru, yaitu masalah yang berasal dari orang yang terlibat dalam praktik, dalam hal ini guru sebagai pengelola pembelajaran. Guru merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di kelasnya, yang jika dibiarkan akan berdampak buruk bagi proses dan hasil belajar siswa. Ber bekalkan kejujuran dan kesadaran tersebut, untuk mengidentifikasikan masalah, guru dapat mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri sebagai berikut (1) apa yang sedang terjadi di kelas saya ?. (2) masalah apa yang ditimbulkan oleh kejadian itu ?. (3) apa pengaruh masalah tersebut bagi kelas saya ?. (4) apa yang akan terjadi jika masalah tersebut saya biarkan ?. (5) apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi masalah tersebut atau memperbaiki situasi yang ada ?.
Dalam penelitian ini yang menjadi bidang kajian yang akan menjadi perhatian adalah bidang bimbingan sosial yang menjadi pokok kajian bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi.
Penelitian ini direncanakan untuk mengefektifkan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi dengan ciri ciri memiliki sikap pembukaan diri, mempunyai sikap percaya diri, mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat, mampu memecahkan konflik.
b. Menganalisis dan me rumuskan masalah
Analisis dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri atau yang disebut refleksi, dan dapat pula mengkaji ulang berbagai dokumen seperti pekerjaan siswa, daftar hadir, atau daftar nilai, atau bahkan mungkin bahan pelajaran yang kita siapkan. Semua ini tergantung jenis masalah yang kita identifikasikan. Misalnya, jika masalah yang kita identifikasi adalah rendahnya motivasi belajar siswa maka yang perlu kita analisis adalah dokumen tentang hasil belajar siswa, catatan har ian kita tentang respon siswa dalam KBM.
Begitu pula dengan pokok bahasan penelitian ini yaitu peningkatan kemampuan komunikasi antar pribadi, yang perlu kita analisis paling pokok adalah hasil dari observasi tentang kemampuan yang dimiliki siswa supaya dapat berkomunikasi antar pribadi dengan efektif, serta hasil dari penerapan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi. Selanjutnya dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa (1) apakah bimbingan kelompok dengan teknik simulasi efektif untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi. (2) bagaimanakah pelaksanaan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi.
c. Merencanakan perbaikan
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, dapat dibuat rencana tindakan atau sering disebut rencana perbaikan. Langkah langkah bimbingan kelompok dengan teknik simulasi dalam menyusun rencana adalah sebagai berikut (1) merumuskan cara perbaikan yang akan ditempuh dalam bentuk hipotesis tindakan. (2) analisis kelayaka n hipotesis tindakan. Langkah langkah perencanaan perbaikan pada kegiatan bimbingan kelompok mengikuti lima aturan kegiatan yaitu : (1) perencanaan materi layanan, tujuan yang akan dicapai, sasaran kegiatan dan kemudian rencana penilaian. (2) pelaksanaan (3) Evaluasi. (4) analisis hasil evaluasi. (5) tindak lanjut.
Materi layanan direncanakan untuk meningkatkan sikap pembukaan diri, meningkatkan sikap percaya diri, meningkatkan kemampuan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat, kemampuan mena nggapi dan mengajukan usul, kemampuan menyimpulkan, meningkatkan kemampuan memecahkan konflik.
2. Melaksanakan Tindakan
Setelah meyakini bahwa hipotesis tindakan atau rencana perbaikan sudah cukup layak, kini guru perlu mempersiapkan diri untuk pelaksana an perbaikan. Langkah tersebut adalah persiapan pelaksanaan, yang sebenarnya dapat merupakan bagian dari perencanaan, tetapi dapat pula kita tempatkan sebagai bagian awal dari pelaksanaan.
Berdasarkan penjelasan tentang langkah langkah pelaksanaan tindakan tersebut di atas maka dapat di jabarkan langkah pelaksanaan teknik simulasi sebagai berikut :
a. Menyiapkan pelaksanaan
Ada beberapa langkah yang perlu kita siapkan sebelum merealisasikan rencana tindakan ; (1) membuat rencana layanan bimbingan kelompok de ngan teknik simulasi dan skenario pelaksanaan simulasi. (2) menyiapkan fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan yang berupa beberan simulasi, pedoman pelaksanaan simulasi, aturan permainan simulasi. (3) menyiapkan cara merekam dan menganalisis data yang berkaitan dengan proses dan hasil perbaikan yaitu dengan angket dan obsevasi.
Mengacu pada langkah persiapan pelaksanaan simulasi maka dapat dijabarkan sebagai berikut :
(1) Rencana dan skenario pelaksanaan simulasi berupa beberan simulasi komunikasi anta r pribadi
Persiapan alat dan media simulasi antar pribadi Memberi salam pembuka dan memimpin doa pelaksanaan simulasi Menentukan tugas masing masing peserta simulasi, dengan memilih ketua, penulis. Memimpin jalannya simulasi dan membacakan aturan main dalam simulasi Mengamati dan mencatat setiap hal yang terjadi saat berlangsungnya simulasi pada daftar check list Menutup simulasi dengan membacakan kesimpulan diskusi simulasi komunikasi antar pribadi, memimpin doa penutup.
(2) Menyiapkan fasilitas dan sarana pe ndukung
(a) Beberan simulasi komunikasi antar pribadi yang berupa papan simulasi dan kartu diskusi simulasi komunikasi antar pribadi yang mencakup materi sikap pembukaan diri, meningkatkan sikap percaya diri, meningkatkan kemampuan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat, kemampuan menanggapi dan mengajukan usul, kemampuan menyimpulkan, meningkatkan kemampuan memecahkan konflik
(b) Pedoman dan aturan pelaksanaan simulasi yaitu : waktu pelaksanaan simulasi 60 menit, simulasi komunikasi antar pribadi digunakan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi, dalam melaksanakan simulasi peserta diharapkan dapat menempati tugasnya, setiap permasalahan yang timbul pada saat simulasi diselesaikan dengan diskusi, peserta tidak diperkenankan meninggalka n ruang simulasi sebelum selesai, setiap peserta adalah wajib mentaati peraturan dalam simulasi komunikasi antar pribadi
(c) Bentuk dan isi kartu diskusi simulasi yaitu soal cerita, contoh : Pak Kardi adalah seorang guru matematika yang sudah tua, sehingga setiap kali menerangkan suaranya tidak jelas, dengan adanya guru seperti itu apa yang akan anda lakukan. Setelah membaca soal tersebut kemudian peserta mendiskusikan cerita tersebut
(3) Menyiapkan cara merekam dan menganalisis data yang berupa angket dan observas i
(a) Menyiapkan alat dan media angket dan daftar observasi
(b) Waktu pelaksanaan 30 menit
(c) Mencatat segala hal yang terjadi saat pelaksanaan observasi maupun pengisian angket
b. Melaksanakan tindakan
Setelah pelaksanaan persiapan selesai, kini tiba saatnya pembimbing melaksanakan tindakan. Agar dalam penelitian tidak rancu maka peneliti wajib memperhatikan langkah langkah aturan main dalam penelitian tindakan, penelitian dilaksanakan ketikan berlangsungnya proses layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi, at au pada saat pelaksanaan diskusi simulasi.
Peneliti memimpin jalannya simulasi agar dapat melihat secara langsung proses pelaksanaan simulasi. Peserta layanan bimbingan mendapat tugas melaksanakan diskusi simulasi dalam proses layanan bimbingan kelompok un tuk meningkatkan komunikasi antar pribadi, tugas tersebut terdapat dalam permainan simulasi yang berbentuk pertanyaan dan soal cerita, sehingga dapat merangsang minat berkomunikasi antar peserta simulasi.

3. Pengumpulan Data
a. Jenis data
Data yang akan dikumpu lkan pada penelitian tindakan ini adalah berupa data diskrit tentang kemampuan berkomunikasi antar pribadi.
b. Sumber data
Sumber data adalah subyek dari mana data itu diperoleh, yang menjadi sumber data pada penelitian tindakan ini adalah siswa kelas IX C SMPN 1 KEMPO
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Observasi
Observasi dilakukan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena yang diselidiki (Sutrisno Hadi, 200 1 : 136). Pengamatan dan
pencatatan dilakukan secara sistematik untuk merekam secara langsung atau tidak langsung semua kegiatan siswa selama penelitian dilaksanakan.
Metode observasi digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan langsung dari peneliti, untuk memperoleh data yang berkaitan dengan perilaku siswa mengenai kemampuan komunikasi antar pribadi, yang sumber datanya diambil dari hasil pengamatan langsung peneliti pada saat berlangsungnya pemberian proses simulasi, pengamatan langsung tersebut kemudian dituangkan dalam catatan berbentuk check list, adapun bentuk check list observasi tersebut sebagai berikut :

Tabel 2
CHECK LIST OBSERVASI
SIMULASI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

Nama siswa : …………………..
Posisi : …………………..

ASPEK KEMAMPUAN
YANG DI OBSERVASI RINCIAN ASPEK KEGIATAN
OBSERVASI SKOR
OBSERVASI
1. Sikap pembukaan
diri 1. Siswa dapat berkomunikasi dengan
peserta simulasi
2. Siswa menerima kritik dan saran dari
peserta simulasi yang lain
3. Siswa dapat menyatakan pendapat
kepada peserta simulasi yang lain
4. Siswa dapat menghargai pendapat dan
gagasan dari peserta simulasi yang lain
5. Siswa menerima pendapat dan gagasan
dari peserta simulasi yang lain ……
……
……
……
……
1. Siswa memberi dukungan kepada peserta
simulasi yang lain ……
2. Siswa mempertahanan idenya saat diskusi
simulasi ……
2. Sikap percaya diri 3. Siswa dapat menanggapi permasalahan di
dalam kelompoknya ……
4. Siswa dapat mengargumentasikan
pendapat kepada peserta simulasi yang
lain ……
1. Sswa dapat menerima informasi dari
peserta simulasi yang lain ……
3. Mengkomunikasikan pikiran dan perasaan
dengan tepat 2. Sswa dapat menafsirkan informasi dari
peserta simulasi yang lain ……
3. Siswa dapat mengungkapkan kembali
informasi dari peserta simulasi yang lain ……
4. Siswa dapat memberikan masukan atas
informasi yang diterima ……
1. Siswa dapat menanyakan materi
informasi yang disampaikan ……
2. Siswa dapat menyatakan pendapat
tentang materi informasi yang diterima ……

Selanjutnya dibuat rancangan ob servasi sebagai instrumen observasi, adapun instrumen tersebut sebagai berikut :
Tempat : Ruang kelas observasi
Waktu : 30 menit
Prosedur :
1) Tujuan observasi : untuk memperoleh data yang berkaitan dengan perilaku siswa dalam rangka meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi.
2) Subjek observasi : peserta layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi (kelas IX C), pada saat kegiatan layanan bimbingan. Pengamatan difokuskan pada perubahan tingkah laku dalam,
3) berkomunikasi baik dalam menanggapi maup un menyampaikan pendapat pada saat pelaksanaan layanan bimbingan.
Setting pengamatan : lokasi pengamatan di dalam kelas pada saat pelaksanaan simulasi, dengan waktu pengamatan 30 menit. kegiatan obsevasi sebagai berikut :
Kegiatan awal (5 menit) : Memberikan salam, menanyakan tentang hal hal yang sekiranya belum jelas dalam proses pelaksanan simulasi .Kegiatan inti (20 menit) : peneliti mempersiapkan catatan, peneliti mengamati diskusi simulasi, mencatat segala hal yang terjadi dalam pelaksanaan diskusi simulasi sesuai dengan acuan pencatatan pengamatan.
Kegiatan penutup (5 menit) : merangkum hasil pengamatan.
b. Angket daftar pernyataan
Teknik angket daftar pernyataan digunakan sebagian besar penelitian umumnya sebagai metode yang dipilih untuk m engumpulkan data, angket memang memiliki banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data (Arikunto, 1996: 227). Teknik angket daftar pernyataan ini dibuat untuk mengumpulkan data kemampuan komunikasi antar pribadi siswa kelas IX C SMP Negeri 1 Kempo.
Aspek aspek yang dimasukkan dalam pembuatan angket untuk mengungkap ketrampilan berkomunikasi antar pribadi adalah (1) kemampuan ketrampilan individu siswa dalam memberikan tanggapan. (2) kemampuan ketrampilan siswa dalam menerima informasi. (3) kemampuan ketrampilan individu siswa dalam memberikan nasihat. (4) kemampuan ketrampilan siswa dalam bertanya. (5) kemampuan ketrampilan individu siswa dalam merefleksi pertanyaan. (6) ketrampilan individu siswa dalam menyimpulkan pertanyaan. Kemudian aspek aspek tersebut dikembangkan dalam bentuk angket, yang setiap point aspek diberikan skor untuk mengevaluasi hasil pengungkapan aspek, pemberian skor berupa angka dari 1 sampai dengan 3. Setelah diketahui aspek yang menjadi acuan dalam pembuatan angket maka ditent ukan pula sebagai berikut :
1) Tujuan Pokok Pembuatan Angket
a) Memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian yaitu meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi.
b) Memperoleh data yang sesuai dengan prosentase perubahan tingkah laku tentang kemampuan ko munikasi antar pribadi.
2) Sumber Penyusunan Angket
a) Kerangka konseptual
b) Aspek sikap pembukaan diri, sikap percaya diri, kemampuan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat, kemampuan memecahkan konflik.
c) Indikator aspek sikap pembukaan diri, sikap percaya diri, kemampuan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat, kemampuan memecahkan konflik
3) Hal hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket
a) Apakah pertanyaan yang diajukan relevan dengan tujuan dan hipotesa penelitian
b) Bagaimana cara mengevaluasi untuk setiap pertanyaan
c) Mempelajari angket yang sudah ada
d) Konsultasi dengan ahli yang pernah meneliti hal yang sama
4) Isi Pertanyaan dalam Angket
a) Pertanyaan tentang fakta misalnya : umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, dan sebagainya
b) Pertanyaan tentang memiliki sikap pembukaan diri, sikap percaya diri, kemampuan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat, kemampuan memecahkan konflik.
5) Jenis Pertanyaan dalam Angket
Pertanyaan tertutup. Jawaban pertanyaan sudah disediakan oleh peneliti. Keuntungannya memudahkan dalam proses evaluasi, sedang kelemahannya kurang dapat memperoleh data yang mendalam dan bervariasi
6) Uji Coba Angket
Keuntungan jika melakukan uji coba angket.
a) Pertanyaan yang tidak relevan dapat dihilangkan
b) Bisa diketahui apakah tiap pertanyaa n dapat dimengerti dengan baik oleh responden
c) Apakah urutan pertanyaan dapat dirubah
d) Bisa diketahui reaksi responden terhadap pertnyaan sensitif
e) Lama pengisian angket.
Teknik uji cobaan angket penelitian ini didasarkan pada judgement dari pembimbing penulisan karya tulis. Maksud dari uji coba angket dengan menggunakan dasar pada judgement dari pembimbing penulisan karya tulis adalah dalam penerapan dan pelaksanaan uji coba angket melalui pertimbangan dan keputusan dari pembimbing penulisan karya tulis, sehingga validit as uji coba angket ini berdasarkan pertimbangan dari pembimbing penulisan karya tulis. Kemudian tujuan dari penggunaan teknik in adalah untuk mempermudah dalam pengukuran validitas, cara pelaksaan uji coba angket adalah sebagai berikut :
a. Kegiatan awal (10 meni t) : Memberikan salam, membagikan angket, membacakan aturan main dalam pengisian angket, menanyakan apakah ada yang kurang jelas
b. Kegiatan inti (30 menit) : peneliti mengawasi jalannya pengisian angket.
c. Kegiatan penutup (5 menit) : mengumpulkan kembali angket, mengucapkan terima kasih sudah mau mengisi angket.
Kemudian hasil dari uji coba angket tersebut diajukan kepada pembimbing penulisan karya tulis yang kemudian dilakukan pengukuran validitas angket yang telah diuji cobakan.

5. Evaluasi
Berdasarkan hasil dari proses pengumpulan data maka dapat dievaluasi dengan menggunakan ru mus statistik tertentu, untuk mengetahui apakah layanan yang diberikan berhasil atau tidaknya layanan tersebut.
Seperti yang dikemukakan oleh Godwin dan Coates (1976 : 71) dengan rumus change in frequence from base rate to post rate, maka peneliti mengguna kan rumus sebagai berikut :
( post rate – bese rate )
Jika penilaian akhir menyatakan bahwa setelah diberikan treatment berupa layanan bimbingan kelompok dapat mencapai 50% dari penilaian semula sebelum diberikan treatment, maka penelitian dikatakan berhasil atau dengan kata lain bahw a pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi dinyatakan berhasil. Namun apabila kurang dari 50% setelah pemberian treatment maka layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi tersebut dianggap kurang efektif untuk meningkatkan komunikasi antar pribadi siswa kelas IX C SMP Negeri 1 Kempo.
6. Refleksi
Kegiatan refleksi diawali dengan analisis data, yaitu meny eleksi dan mengelompokkan data, memaparkan dan mendiskripsikan data dalam bentuk narasi, tabel, dan atau grafik, serta menyimpulkan secara deklaratif.
Berdasarkan hasil analisis data tersebut dlaksanakan refleksi dan diikuti dengan perencanaan lanjutan dal am bentuk revisi dari rencana perbaikan yang telah dilaksanakan untuk siklus berikutnya sampai dengan kriteria peningkatan kemampuan komunikasi antar pribadi mencapai skor kenaikan 50% dari sebelum diberikan treatment.
D. Indikator Keberhasilan Layanan Bimbi ngan Kelompok dengan Teknik Simulasi untuk Meningkatkan Komunikasi Antar pribadi
Hasil penilaian kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan komunikasi antar pribadi perlu dianalisis untuk mengetahui lebih lanjut seluk beluk kemajuan penyelenggaraan layanan. Perlu dikaji adalah apakah hasil – hasil pembahasan dan atau pemecahan masalah sudah dilakukan sedalam dalamnya atau sebenarnya masih ada aspek penting yang perlu dijangkau dalam pembahasan itu. Sedangkan indikator yang perlu diperhatikan dalam mengkaji tingkat keberhasilan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan komunikasi antar pribadi adalah sebagai berikut :
1. Sikap Pembukaan Diri
a. Siswa menyadari siapa dirinya
b. Siswa menyadari peserta simu lasi yang lain
c. Siswa mampu menyatakan pendapat kepada peserta simulasi lain
d. Siswa menghargai gagasan peserta simulasi lain
e. Siswa mampu menerima pendapat dari peserta simulasi yang lain
2. Sikap Percaya Diri
a. Siswa mampu memberi dukungan kepada peserta simulas i yang lain
b. Siswa aktif dalam kelompoknya
c. Siswa mampu menanggapi permasalahan dalam kelompoknya
d. Siswa mampu menyatakan argumentasi pendapatnya kepada peserta simulasi yang lain
3. Kemampuan Mengkomunikasikan Pikiran dan Perasaan dengan Tepat
a. Siswa mampu m enangkap dan memahami informasi dari peserta simulasi yang lain
b. Siswa mampu menafsirkan informasi dari peserta simulasi yang lain
c. Siswa mampu mengungkapkan kembali informasi dari peserta simulasi yang lain
d. Siswa mampu memberikan masukan atas informasi yang diterima
e. Siswa mampu menyampaikan pendapatnya atas informasi yang diterima
4. Menanggapi dan Mengajukan Usul
a. Siswa mampu menanyakan materi informasi yang disampaikan
b. Siswa mampu menyatakan pendapatnya tentang materi informasi yang diterima
c. Siswa mampu mem berikan pendapat tentang penyampaian materi informasi
d. Siswa mampu menyampaikan pendapat tentang permasalahan penyampaian materi informasi
5. Menyimpulkan
• Siswa mampu menerima informasi dari teman dan menyimpulkannya Siswa mampu mengolah informasi dari teman kemudian menyampaikan kembali dengan kalimatnya sendiri
• Siswa mampu menyampaikan kembali hasil informasi dari teman dengan bahasanya sendiri
Siswa mampu menyampaikan pendapatnya atas informasi yang diterima melalui saran maupun kritik
6. Kemampuan Memecahkan Konflik
• Siswa mampu memahami perbedaan pendapat dalam kelompoknya Siswa mampu memberi sumbangan pemikiran pemecahan perbedaan pendapat bagi kelompoknya
• Siswa mampu menilai solusi permasalahan dari peserta simulasi yang lain
• Siswa mampu menyampaikan pendap at untuk permasalahan dalam kelompoknya
Kemudian setelah diketahui indikator keberhasilan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan komunikasi antar pribadi maka dilakukan evaluasi tindak lanjut dengan metode yang telah dijelaska n di atas untuk diambil kesimpulan meningkat atau malah menurun kemampuan berkomunikasi antar pribadi, dengan cara membuat check list
Hasil pemberian perlakuan pada masing masing siklus dengan menggunakan indikator kriteria angka peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi berdasarkan angket daftar pernyataan adalah sebesar 50%, dan berdasarkan observasi dengan menggunakan check list sebesar 50%.

BAB IV
PELAKSANAAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan bimbingan konseling dalam rangka meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi yang dilaksanakan pada siswa kelas IX C SMPN 1 Kempo pada tanggal 24 September 2009, terdiri dari uji coba instrumen, pelaksanaan instrumen, pelaksanaan penelitian. Target yang diharapkan dari penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan berkomunikasi siswa kelas IX C SMPN 1 kemmpo.
A. Persiapan Penelitian
Beberapa langkah yang dilaksanakan untuk merealisasikan penelitian adalah seba gai berikut :
1. Membuat perencanaan pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi
2. Mempersiapkan skenario pelaksanaan simulasi
3. Mempersiapkan beberan simulasi, pedoman simulasi, aturan permainan simulasi
4. Mempersiapkan angket dan check list observasi
B. Pelaksanaan dan Hasil Penelitian
Setelah angket memenuhi syarat validitas dan reliabelitas angket maka angket siap untuk digunakan teknik penghitungan hasil, pengisian angket dengan pemberian skor pada item jawaban, untuk jawaban selalu ( S ) yang a pabila pernyataan terjadi pada diri siswa diberikan skor 3, jawaban kadang kadang (Kd ) yang apabila pernyataan terkadang ada pada diri siswa diberikan skor 2, jawaban tidak penah ( Tp ) yang apabila pernyataan tidak pernah ada pada diri siswa diberikan skor 1.
Total skor yang harus diperoleh pada saat pengisian angk et adalah = 90 point .
Pelaksanaan penelitian tindakan dalam usaha meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX C SMPN 1 Kemmpo.
dilaksanakan mulai tanggal 24 September 2015yang dibagi menjadi tiga siklus yang setiap siklu snya dilaksanakan dalam dua minggu, kemudian dalam dua minggu tersebut terdapat dua tahap.
Penggunaan angket diberikan pada saat awal penelitian, untuk mengetahui kemampuan awal berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX Cdan pada akhir setiap siklus untuk mengetahui kemampuan akhir pada setiap proses siklus, sehingga dapat diketahui perkembangan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas .
X-C Kesimpulan dari pengumpulan data dengan angket adalah menyatakan bahwa siswa kelas IX C mempunyai kemampuan awal berkomunikasi antar pribadi yang cukup baik, yang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4
Hasil Rata – rata Skor Pengisian Angket
Konseling Aspek jumlah
a b c d e f
1 2 2 2 2 1 1 10
2 2 2 2 2 2 1 11
3 2 2 2 1 1 2 10
4 3 2 2 1 1 2 11
5 2 2 2 1 1 1 9
6 2 2 2 1 1 2 10
7 2 2 2 1 2 2 11
8 2 2 2 2 1 2 11
9 2 2 1 2 1 2 10
10 2 2 2 2 2 2 12
11 1 2 2 1 2 2 10
12 1 2 1 2 2 2 10
13 1 2 2 2 1 2 10
14 2 2 2 2 2 2 12
15 2 2 2 1 1 2 10
16 1 2 2 1 2 2 10
17 2 2 2 1 2 2 11
18 1 2 1 1 2 2 9
19 2 2 1 2 2 2 11
20 2 2 2 2 2 2 12
21 2 2 1 2 2 2 11
22 2 2 2 2 2 2 12
23 2 2 1 2 2 2 11
24 2 2 2 2 2 1 11
25 2 2 2 2 2 1 11
Jumlah 226

Maka didapat hasil dengan perhitungan sebagai berikut :
~X 226
N 25
Kesimpulan awal tentang kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX Cberdasarkan data pengisian angket komunikasi antar pribadi
memiliki kemampuan rata rata skor per aspek adalah 1 0,64, data tersebut menyatakan bahwa kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX C
1 perlu ditingkatkan karena dari skor yang diperoleh belum sesuai dengan standar skor yang harus diperoleh masing masing aspek.
Kemudian berdasarkan kesimpulan tersebut dilaksanak an perlakuan dengan menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi. Pelaksanaannya dapat dirinci sebagai berikut :
1. Siklus pertama
a. Perencanaan
Pada pelaksanaan perlakuan yang menjadi pusat perhatian pada saat pelaksanaan perlakuan atau peserta dituntut untuk memenuhi (1) sikap pembukaan diri (2) sikap percaya diri (3) mengkomunikasikan pikiran dengan baik dan benar (4) menanggapi dan mengajukan ususl (5) menyimpulkan (6) memecahkan konflik.
Pada siklus pertama peneliti merencanakan :
1) Peneliti merencanakan pelaksanaan simulasi dengan lima kali observasi
2) Menyiapkan instrumen simulasi yang berupa, beberan simulasi, kartu diskusi simulasi, anak dadu dan dadu simulasi komunikasi antar pribadi
3) Membentuk kelompok diskusi simulasi, dan memilih ketua dan skretaris dalam diskusi simulasi, dengan rincian kelompok A sebagai kelompok yang setuju dengan pendapat dalam kartu diskusi, kelompok B yang selalu menyanggah pendapat dalam kartu diskusi. Kemudian tugas ketua dan sekretaris tidak hanya memimpin jalannya permainan namun mengarahkan bagaimana disdkusi tidak melenceng dari tema dalam kartu diskusi
4) Menyiapkan instrumen observasi yang berupa daftar check list
5) Mengevaluasi pelaksanaan simulasi sebagai langkah tindak lanjut
6) Peneliti merencanakan target keberhasilan adalah 50% peningkatan
dari satu tahap pelaksanaan layanan
b. Pelakasanaan
Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi antar pribadi pada siklus pertama ini dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama disebut tahap data awal atau best rate yang dilakukan dengan lima kali perlakuan dan lima kali pengamatan yang dilakukan pada tanggal 25 September sampai dengan 30 September, kemudian tahap kedua adalah tahap data akhir untuk pembanding atau data post rate, yang dilakukan pada tanggal 31 September, 1 dan 3 Agustus sampai dengan 5 Agustus 2009
Pelaksanaan layanan diawali dengan pembentukan kelompok, yang dibagi menjadi dua kelompok yang dilakukan dengan sistem mengambil undian. Kelompok dibagi dua kelompok A adalah kelompok yang selalu membenarkan dan kelompok B adalah kelompok yang selalu menyanggah. Kemudian setelah terbetuk kelompok dipilihlah ketua dan sekretaris yang dijabat oleh Sheila sebagai ketua dan Maria sebagai sekretaris.
Setelah kelompok dengan ketua serta sekretaris terbentuk maka simulasi dimulai dengan membacakan aturan main dari simulasi komunikasi antar pribadi tersebut oleh ketua, posisi peneliti adalah di belakang peserta.
Kemudian mulai ketua mengocok dadu dan melempar dadu sehingga keluar angka yang harus dijalankan, dan sekretaris mengabil kartu diskusi sesuai dengan angka anak dadu tersebut berada, sekretaris membacakan isi kartu diskusi
dan peserta yang lain diminta untuk menanggapinya, dikarenakan pada awal pelaksanaan layanan siswa peserta layanan masih bingung terhadap permainan maka pelaksanaan diskusi masih terasa kaku, sebagai contoh peserta tidak mampu menanggapi maupun menyanggah pendapat yang dimunculkan kelompok lawannya.
c. Pengumpulan data
Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan peneliti pada saat setelah pelaksanaan simulasi dan diskusi simulasi, dengan menggunakan angket daftar pernyataan. Pada saat pelaksanaan simulasi terdapat 9 siswa peserta yang terlihat aktif dalam memberikan solusi terhadap pemecahan masalah dalam diskusi tersebut. Setelah selesai sampai pada akhir dari diskusi simulasi sekretaris membacakan hasil dari diskusi, hal tersebut menunjukkan bahwa banyak siswa yang masih bingung dan ragu dalam setiap kali diskusi namun setelah pada hari berikutnya sudah mulai menunjukkan peningkatan, pelaksanaan pengumpulan data dilakukan peneliti dengan memberikan skor kepada peserta sesuai dengan frekuensi kemunculan kriteria peningkatan kemampuan komunikasi antar pribadi, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5
Hasil Rata rata Skor Pengisian Angket Simulasi Komunikasi Antar Pribadi Siklus I
Konseli Aspek jumlah
a b c d e f
1 1 2 2 2 2 2 11
2 1 2 2 1 2 2 10
3 1 2 2 1 2 2 10
4 1 2 2 1 1 2 9
5 1 2 2 1 2 2 10
6 2 2 2 1 1 2 10
7 1 2 2 1 2 2 10
8 1 2 2 2 1 2 10
9 2 2 2 2 1 2 11
10 1 2 2 2 2 2 11
11 1 2 2 2 2 2 11
12 1 2 2 2 2 2 11
13 1 2 2 2 2 2 11
14 2 2 2 2 1 2 11
15 2 2 2 1 2 2 11
16 1 2 1 1 2 2 9
17 2 2 2 1 2 2 11
18 1 2 1 1 2 2 9
19 2 2 1 2 2 2 11
20 2 2 2 2 2 2 12
21 2 2 1 2 2 2 11
22 2 2 2 2 2 2 12
23 2 2 1 2 2 2 11
24 2 2 2 2 2 2 12
25 2 2 2 2 2 2 12
Jumlah 267

Keterangan aspek :
a : Sikap pembukaan diri
b : Sikap percaya diri
c : Mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat
d : Menanggapi dan mengajukan usul
e : Menyimpulkan
f : Memecahkan konflik

Maka didapat hasil dengan perhitungan sebagai berikut :
~X 267
N 25
Kesimpulan dari data angket di atas adalah skor rata rata per – aspek peningkatan kemampuan komunikasi a ntar pribadi rata rata siswa kelas IX C –
1 adalah 10,68, namun peningkatan tersebut masih belum bisa dikatakan sebagai
keberhasilan dalam pelaksanaan perlakuan, karena layanan baru dilaksanakan satu kali atau masih dalam siklus pertama sehingga belum bisa diyakini hasilnya. d. Refleksi
Dari pelakasanaan simulasi komunikasi antar pribadi pada siklus pertama masih dia nggap belum berhasil, dikarenakan peserta masih bingung dan ragu, keraguan peserta adalah ketika akan menanggapi pernyataan dari peserta yang lain. Kemudian pula yang mempengaruhi kurangnya siswa dalam berkomunikasi akibat dari cara pembentukan kelompok de ngan sistem undian, sehngga peserta yang aktif dan tidak aktif tidak merata. Oleh karena itu pada pelaksanakan siklus kedua dengan membagi kelompok dengan sistem pengaturan dari peneliti yang mana peserta yang aktif dan yang tidak aktif bisa merata sehingga peserta yang aktif mampu memotivasi siswa yang tidak aktif untuk berperan serta dalam diskusi simulasi komunikasi antar pribadi. Dan ketua pelaksanaan simulasi satu tahapan diganti dan yang mengganti adalah peserta yang pasif dalam diskusi simulasi komunikasi antar pribadi dan yang menunjuk adalah peneliti.
2. Siklus kedua
a. Perencanaan
Siklus kedua diawali den gan perencanaan perbaikan treat ment, pelaksanaan siklus berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama.
Perencanaan pada siklus kedua adalah sebaga i berikut :
1) Peneliti menyiapkan instrumen, simulasi observasi
2) Peneliti merencanakan pelaksanaan simulasi dalam lima kali observasi dalam satu tahap, dengan perbaikan dalam hal membagi kelompok dengan sistem pengaturan dari peneliti dengan menempatkan peserta yang aktif dan yang tidak aktif diacak sehingga peserta yang aktif mampu memotivasi siswa yang tidak aktif untuk berperan serta dalam diskusi simulasi komunikasi antar pribadi. Dan ketua pelaksanaan simulasi satu tahapan diganti dan yang mengganti adalah peserta yang pasif dalam diskusi simulasi komunikasi antar pribadi dan yang menunjuk adalah peneliti.
3) Membentuk kelompok dengan dasar data observasi pada siklus pertama, siswa yang aktif dibagi dan dikelompokkan kepada siswa yang kurang aktif, yaitu dengan kelompok A sebagai kelompok yang setuju dengan pendapat dalam kartu diskusi simulasi sedangkan kelompok B adalah yang menyanggah pendapat dari isi kartu diskusi.
4) Memilih ketua dan sekretaris dari siswa pada siklus pertama yang kurang aktif, ketua bertugas mengawasi jalannya diskusi jangan sampai melenceng dari tema diskusi.
5) Peneliti merencanakan target keberhasilan adalah 50% peningkatan dari satu tahap pelaksanaan layanan
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus kedua dimulai dengan pembentukan kelompok yang diatur peneliti dengan susunan kelompok acak antara peserta yang akti dan pasif, data peserta yang aktif dan pasif didapat peneliti pada saat sklus pertama. Peserta yang aktif ada 9 anak, maka 4 peserta ada pada A dan 5 peserta pada kelompok B, begitu pula ketua pelaksana simulasi yang ditunjuk oleh peneliti, yang di jabat oleh Hutomo sebagai ketua dan Ardhito sebagai sekretaris.
Pelaksanaan simulasi dimulai tanggal 7, 8, 10, 11, 12 Agustus yang disebut data awal atau best rate, kemudian tanggal 14, 15, 18, 19, 20 Agustus dkai sebagai data pembanding atau post rate.
Seperti pada siklus pertama pelaksanaan diawali dengan pembacaan aturan main simulasi oleh ketua, setelah pembacaan aturan main maka ketua memulai pelaksanaan simulasi dengan melempar dadu dan skretaris menjalankan anak dadu, setelah sampai pada angka dimana anak dadu berada maka sekretaris membuka kartu diskusi sesuai dengan nomor pada posisi anak dadu berada, kemudian membacakannya. Kemudian ketua mempersilahkan peserta menanggapinya, pada siklus ini diskusi mulai tampak hidup, peserta berperan aktif pada saat diskusi, ini ditunjukkan dengan adanya perdebatan dari masing masing kelompok dan cara peserta mencari jalan tengah terhadap pemecahan masalah yang dilakukan dengan aklamasi dan peserta banyak berperan aktift baik dari kelompok A maupun kelompok B, baik dari yang tadinya tidak aktif menjadi aktif karena termotivasi dengan teman yang tadinya aktif. Setelah selesai sampai pada akhir dari diskusi simulasi sekretaris membacakan hasil dari di skusi.
c. Pengumpulan data
Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan peneliti pada saat berlangsungnya pelaksanaan simulasi dan diskusi simulasi, untuk memudahkan penilaian setiap kali siswa memberikan respon atau tanggapan, siswa diminta menyebutkan nama terlebih dahulu. Instrumen yang digunakan adalah daftar checklist. Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan peneliti dengan memberikan skor kepada peserta sesuai dengan frekuensi kemunculan kriteria peningkatan kemampuan komunikasi antar pribadi. Pada siklus ini didapat data seperti yang tampak dalam tabel berikut :

Tabel 6
Hasil Rata rata Skor Pengisian Angket Simulasi Komunikasi Antar Pribadi
Siklus II
Konseli Aspek jumlah
a b c d e f
1 2 2 2 2 2 2 12
2 2 2 2 2 2 2 12
3 2 2 2 2 2 2 12
4 2 2 2 2 2 2 12
5 2 2 2 2 2 2 12
6 2 2 2 2 2 2 12
7 2 2 2 2 2 2 12
8 2 2 2 2 2 2 12
9 2 2 2 2 2 2 12
10 2 2 2 2 2 2 13
11 2 2 2 2 2 2 12
12 2 2 2 2 2 2 12
13 2 2 2 2 2 2 12
14 2 2 2 2 2 3 12
15 2 2 2 2 2 2 12
16 2 2 2 2 2 2 12
17 2 2 2 2 2 2 12
18 2 2 2 2 2 2 12
19 2 2 2 2 2 2 12
20 2 2 2 2 2 2 12
21 2 2 2 2 2 2 12
22 2 2 2 2 2 2 12
23 2 2 2 2 2 2 12
24 2 2 2 2 2 2 12
25 2 2 2 2 2 2 12
Jumlah 301

Keterangan aspek :
a : Sikap pembukaan diri
b : Sikap percaya diri
c : Mengkomunikasikan pikiran dan pera saan dengan tepat
d : Menanggapi dan mengajukan usul
e : Menyimpulkan
f : Memecahkan konflik

Maka didapat hasil dengan perhitungan sebagai berikut : ~X 301
N 25
Data tertsebut di atas menyatakan bahwa setelah diberikan treatment skor tingkat perubahan rata rata per aspek mencapai 12,04 maka berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa treathment yang dilaksanakan pada tahap kedua atau pada siklus kedua sudah bisa meningkatkan
kemamapuan berkomunikasi antar pribadi rata – rata siswa kelas IX C 1, namun untuk lebih meyakinkan pelaksanaan treathment maka dilakukan pelaksanaan siklus yang ketiga dengan treathment yang sama.
d. Refleksi
Pelaksanaan siklus kedua bisa dianggap meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX C 1, dengan dasar sebagai berikut;
( 12,04 – 10,68 )
x 100% = 12,73 %
10,68
Namun prosentase peningkatannya belum memenuhi kriteria yang diharapkan dan hal tersebut memerlukan tindak lanjut dengan memberikan perlakuan ketiga atau dilanjutkan dengan siklus ketiga, dengan merubah pola kelompok, yang semula kelompok A adalah kelompok yang selalu m endukung pendapat dalam kartu diskusi simulasi dengan argumennya berubah menjadi kelompok yang tidak setuju dengan pendapat dalam kartu diskusi simulasi, begitupun dengan kelompok B, berubah menjadi kelompok yang selalu setuju dengan pe ndapat dalam kartu d iskusi simulasi.

3. Siklus ketiga
a. Perencanaan
Siklus ketiga diawali den gan perencanaan perbaikan treatment, pelaksanaan siklus berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua.
Perencanaan pada siklus ketiga adalah sebagai berikut :
1) Peneliti menyiapkan instrumen, simulasi observasi
2) Peneliti merencanakan pelaksanaan simulasi dalam lima kali observasi dalam satu tahap
3) Membentuk kelompok dengan dasar data observasi pada siklus pertama, siswa yang aktif dibagi dan dikelompokkan kepada siswa yang kurang aktif, yaitu dengan kelompok A sebagai kelompok yang setuju dengan pendapat dalam kartu diskusi simulasi sedangkan kelompok B adalah yang menyanggah pendapat dari isi kartu diskusi, posisi anggota kelompok diacak lagi oleh peneliti dan dibalik, yang semula kelompok A adalah kelompok yang selalu mendukung pendapat dalam kartu diskusi menjadi kelompok penyanggah, kemudian kelompok B yang selalu menyanggah pendapat berubah menjadi kelompok yang selalu mendukung pendapat dalam kartu diskusi.
4) Memilih ketua dan sekretaris dari siswa pada siklus pertama yang kurang aktif, ketua bertugas mengawasi jalannya diskusi jangan sampai melenceng dari tema diskusi.
5) Peneliti merencanakan target keberhasilan adalah 50% peningkatan dari satu tahap pelaksanaan layanan

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan perlakuan pada siklus ini diawali dengan membagi kelompok yang dilakukan oleh peneliti, dan pembagian ketua dan skretaris oleh peneliti pula, yang dijabat oleh Zamrud sebagai ketua dan Derek sebagai sekretaris.
Pelaksanaan simulasi dimulai tanggal 24, sampai dengan 28 Agustus yang disebut data awal atau best rate, kemudian tanggal 1 sampai dengan 5 September dkai sebagai data pembanding atau post rate.
Seperti pada siklus sebelumnya, pelaksanaan simulasi diawali dengan pembacaan aturan main simulasi. Kemudian ketua melempar dadu dan sekretaris yang membuka kartu diskusi sesuai dengan nomor pada anak dadu berada. Pada saat diskusi peserta sangat antusias dan aktif, cara penyelesaian dan pemberian solusi sudah dapat dikatakan meningkat, sebagai co ntoh pada diskusi sebelumnya penyelesaian masalah adalah terpusat pada satu siswa namun pada siklus ini siswa bersama – sama memberikan masukan dan diambil jalan tengahnya oleh ketua. Setelah selesai sampai pada akhir dari diskusi simulasi sekretaris membacakan hasil dari diskusi.
c. Pengumpulan data
Pengumpulan data pada siklus ketiga ini tidak berbeda dengan dua siklus sebelumnya. Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan peneliti dengan memberikan skor kepada peserta sesuai dengan frekuensi kemunculan kriteria peningkatan kemampuan komunikasi antar pribadi.
Peningkatan kemampuan komunikasi antar pribadi melalui simulasi komunikasi antar pribadi tampak pada tabel rata rata peserta simulasi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 7
Hasil Rata rata Skor Pengisian Angket Simulasi Komunikasi Antar Pribadi

Siklus III
Konseli Aspek jumlah
a b c d e f
1 3 3 3 3 3 3 18
2 3 3 3 3 3 3 18
3 3 3 3 3 3 3 18
4 3 3 3 3 3 3 18
5 3 3 3 3 3 3 18
6 3 3 3 3 3 3 18
7 3 3 3 3 3 3 18
8 3 3 3 3 3 3 18
9 3 3 3 3 3 3 18
10 3 3 3 3 3 3 18
11 3 3 3 3 3 3 18
12 3 3 3 3 3 3 18
13 3 3 3 3 3 3 18
14 3 3 3 3 3 3 18
15 3 3 3 3 3 3 18
16 3 3 3 3 3 3 18
17 3 3 3 3 3 3 18
18 3 3 3 3 3 3 18
19 3 3 3 3 3 3 18
20 3 3 3 3 3 3 18
21 3 3 3 3 3 3 18
22 3 3 3 3 3 3 18
23 3 3 3 3 3 3 18
24 3 3 3 3 3 3 18
25 3 3 3 3 3 3 18
Jumlah 450

Keterangan aspek :
a : Sikap pembukaan diri
b : Sikap percaya diri
c : Mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat
d : Menanggapi dan mengajukan usul
e : Menyimpulkan
f : Memecahkan konflik

Data tertsebut di atas menyatakan bahwa setelah diberikan treatment skor tingkat perubahan rata rata per aspek mencapai skor maksimal yaitu 18 Berdasarkan perhitungan perubahan kemampuan komunikasi antar pribadi siswa kelas IX Cdapat dinyatakan meningkat dari data awal pada siklus pertama, maka pelaksanaan penelitian dapat dinyatakan berhasil karena adanya perubahan peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi dari masing masing siklus.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil dari pengumpulan data pada siklus ketiga ini pelaksanaan perlakuan sudah dapat dihentikan dan penelitian dinyatakan berhasil, karena prosentase peningkatan kemampuan be rkomunikasi antar pribadi dalam simulasi komunikasi antar pribadi sebagai berikut;
( 18 – 12,04 )
x 100% = 49,50 %
12,04
Walaupun prosentase peningkatannya tidak mutlak 50% namun peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi ters ebut sudah mencapai taraf maksimal, sehingga pelaksanaan perlakuan dapat dihentikan.
Kemudian secara rinci peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi pada masing masing siklus dapat dilihat pada tabel observasi berikut :

Tabel 8
Rata – rata Observasi Peningkatan Kemampuan Berkomunikasi Antar Pribadi Masing masing Siklus
Konseli Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3
Aspek Aspek Aspek
a b c d e f a b c d e f a b c d e f
1 2 2 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 5 5 5 5 6 5
2 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 5 5 5 5 6 5
3 2 2 2 3 3 2 3 3 2 4 3 3 5 5 5 5 6 5
4 3 2 2 1 1 2 2 3 3 3 3 3 5 5 5 5 6 5
5 2 2 3 1 2 2 3 3 3 3 3 6 5 5 5 5 6 5
6 2 2 2 1 1 2 6 3 3 3 3 5 5 5 5 5 6 5
7 2 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 5 5 5 5 6 5
8 2 2 2 2 1 2 3 5 3 3 3 3 5 5 5 5 6 5
9 2 2 2 2 1 2 6 2 3 3 3 6 5 5 5 5 6 6
10 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 5 5 6 5 6 5
11 1 2 2 2 2 2 6 3 3 4 3 2 5 6 5 5 6 5
12 1 2 2 2 2 2 2 3 3 4 3 3 5 6 5 5 6 6
13 1 2 2 2 2 2 3 4 6 3 3 3 5 5 5 5 6 5
14 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 5 6 5 5 5 6
15 2 2 2 2 2 2 2 6 3 3 3 3 5 5 5 5 6 6
16 1 2 3 1 2 2 6 2 4 3 4 3 5 6 5 5 5 6
17 2 2 2 1 2 2 2 2 4 3 3 3 5 5 5 5 5 5
18 3 2 1 1 2 2 3 5 3 3 3 3 5 6 5 5 5 5
19 2 2 1 2 2 2 3 2 6 3 3 3 5 5 5 5 6 6
20 2 2 2 2 2 2 6 5 3 6 6 3 5 6 5 5 6 5
21 2 2 1 2 2 2 2 3 3 3 3 3 5 6 5 5 6 5
22 2 2 2 2 2 2 6 3 3 6 5 3 5 6 5 5 5 5
23 2 2 1 2 2 2 2 3 3 3 3 3 5 6 5 5 6 6
24 2 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 5 6 5 5 5 6
25 2 2 2 2 2 2 2 3 5 3 3 6 5 5 5 5 6 6
Jumlah 48 50 49 45 48 51 85 80 83 84 81 85 125 135 126 125 144 134

Keterangan aspek :
a : Sikap pembukaan diri
b : Sikap percaya diri
c : Mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan tepat
d : Menanggapi dan mengajukan usul
e : Menyimpulkan
f : Memecahkan konflik
Kesimpulan sementara atas peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX Cset elah mendapatkan treatment dihitung dengan rumus rumus change in frequence from base rate to post rate adalah sebagai berikut :
1) Siklus pertama :
~X 291
= = 11, 64
N 25

2) Siklus kedua ~X 498 =
N 25
3) Siklus ketiga
~X 789
= = 19, 92
= 31, 56

N 25
Maka siklus I ke s iklus II didapat prosentase peningkatan sebagai berikut :
(19, 92 – 11, 64 ) x 100% = 71, 13%
11, 64

Kemudian siklus I I ke siklus III didapat prosentase peningkatan sebagai berikut :
(31, 56 – 19, 92 )
x 100% = 58, 43 %
19, 92
Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil observasi simulasi komunikasi antar pribadi terdapat 50% peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX C 1, maka pelaksanaan treatment dapat dihentikan sampai pada siklus ketiga karena pelaksanaan treatment telah meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi dengan taraf prosentase peningkatan 50% dari masing masing siklus.

BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX CSMPN 1 KEMMPOtahun ajaran 2009/20 10, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan analisis data dan hasil dari penelitian tentang peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX CSMPN 1 KEMMPO…….. tahun ajaran 2009/20 10, diperoleh hasil itu untuk siswa kelas IX Cyang berjumlah 25 siswa, dengan taraf prosentase 50% peningkatan kemampuan berkomunikasi ant ar pribadi siswa kelas IX Cdengan teknik simulasi pada layanan bimbingan kelompok dari setiap tahap perlakuan mampu meningkatkan kemampuan berkomunikasi ant ar pribadi siswa kelas IX CSMPN 1 KEMMPO………
Adapun rincian hasil dari peningkatan kemampuan berkomunikasi antar
pribadi masing masing siklus sebagai berikut;
1. Siklus I

( 10,68 10,64 )
x 100% = 0,375 %
10,64
Data tersebut di atas menyatakan bahwa prosentase peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi dari data awal, setelah diberikan perlakuan pada siklus pertama terdapat peningkatan sebesar 0,375%.
2. Siklus II ( 12,04 – 10,68 )
x 100% = 12,73 % 10,68
Data tersebut di atas menyata kan bahwa prosentase peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi dari siklus pertama kepada siklus kedua, setelah diberikan perlakuan pada siklus kedua terdapat peningkatan sebesar 12,73%.
3. Siklus III ( 18 – 12,04 )
x 100% = 49,50 % 12,04
Data tersebut di atas menyatakan bahwa prosentase peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi dari siklus kedua kepada siklus ketiga, setelah diberikan perlakuan pada siklus ketiga terdapat peningkatan sebesar 49,50%.
Berdasa rkan analisa data perlakuan pada akhir masing – masing siklus di atas dapat dinyatakan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi setelah diberikan perlakuan.
B. Implikasi Hasil Penelitian
1. Implikasi Teoritis
Bahwa peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi dengan teknik simulasi pada layanan bimbingan kelompok merupakan teknik yang sesuai di dalam peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi.
2. Implikasi Praktis
Dengan adanya hasil penelitian yang menunjukkan adanya peningkat an kemampun berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX CSMPN 1 KEMMPOmaka secara praktis penelitian ini berguna untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi
C. Saran – Saran
Berkaitan dengan hasil penelitian dan kenyataan yang ada di lapangan, maka penulis memberikan saran – saran sebagai berikut :
1. Saran kepada Kepala Sekolah
Dalam upaya untuk mengefektifkan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pibadi siswa kelas IX Cm aka kepala sekolah diharapkan memberikan waktu yang cukup kepada petugas BK untuk mensosialisasikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi untuk meningkatakan kemampuan berkomunikasi antar pribadi siswa kelas IX CSMPN 1 KEMMPO………
2. Saran ke pada Guru
a. Guru kelas sebaiknya lebih berusaha menciptakan suasana kelas yang aktif dan menyenangkan dan komunikatif sehingga siswa dapat secara bertahap menerima apa yang dipelajari.
b. Guru BK dapat menggunakan dan mengembangkan sendiri layanan bimbingan kel ompok dengan teknik simulasi untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi antar pribadi.
c. Guru BK sebaiknya lebih bisa menjalin keakraban antara guru BK dan siswa, supaya siswa menjadi lebih berani untuk mengungkapkan segala pendapatnya.
3. Saran kepada Siswa
a. Siswa hendaknya dapat berpartissi aktif saat kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa akan terbiasa terlibat secara aktif berkomunikasi saat proses kegiatan belajar mengajar agar tercipta suasana belajar pembelajaran yang aktif komunikatif
b. Siswa sebaikn ya mampu mengekspresikan dirinya dengan lebih berani dan ikut berpartissi dalam kegiatan belajar mengajar yang diadakan oleh guru.
4. Saran kepada Peneliti
a. Diharapkan ada penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan kemampuan berkomunikasi antar pribadi melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi.
b. Para peneliti dapat mengadakan kembali dan dapat menumbuhkan ide kreatif dan inovatif untuk menciptakan teknik simulasi pada layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kemampuan berkomun ikasi antar pribadi.
c. Dalam penelitian ini jumlah subyek yang dkai kecil, karena itu diharapkan ada penelitian yang mengupas peningkatan kemampuan berkomunikasi dengan Teknik simulasi dalam layanan bimbingan kelompok dengan mengambil jumlah subyek yang besar.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syamsuri., Chosiyah., dan Djono R. 2001. Layanan .
Bimbingan Kelompok FKIP BK UNS : Percetakan 35 Solo.
Edy Legowo. 1993. Analisis Pengubahan Tingkah Laku : Helping Student Help Themselves : How You can But Behavior An alysis Into Action in Your Classroom Dwight L.
Goodwin ; Thomas J Coates. …….. : FKIP UNS.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok : Dasar dan Profil. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Sanafiah Faisal. 1981. Dasar dasar dan Teknik Menyusun .Angket Surabaya : Usaha Nasional Surabaya. Makalah Seminar
Sutarno. PTBK 2009. Prodi. BK. FKIP UNS. ……..
Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek
Jakarta : Rineka Cipta.
Salmah Lilik., & Suhardjo Danusastro. 1986. Ketrampilan Komunikasi …….. : Depdikbud RI UNS.
Supratiknya A. 1995. Komunikasi Antar Pribadi : Tinjauan Psikologis Kanisius Jakarta.
Uno Hamzah B. 2008. Model Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan Efektif Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Wardhani IGAK., dll. 2007. Penelitian Tindakan Kelas Jakarta : Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.
Wayan Nurkancana. 1990. Pemahaman Individu I Singaraja: Usaha Nasional
Surabaya.
Wibawa Basuki, 2004. Penelitian Tindakan Kelas edisi kedua. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan
http://smacepiri ng.wordpress.com/
http://www.scribd.com/doc/903 948 8/Pedoman -observasi

PANDUAN PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

PANDUAN PENGEMBANGAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
I. Pendahuluan

Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar.

Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi yang memayungi Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran,Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian

II. Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Mencantumkan identitas
• Nama sekolah
• Mata Pelajaran
• Kelas/Semester
• Alokasi Waktu

Catatan:
 RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
 Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan
 Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.

A.Standar Kompetensi
Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi diambil dari Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar). Sebelum menuliskan Standar Kompetensi, penyusun terlebih dahulu mengkaji Standar Isi mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau SK dan KD
b. keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran
c. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.

B. Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai SK mata pelajaran tertentu. Kompetensi Dasar dipilih dari yang tercantum dalam Standar Isi. Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan Kompetensi Dasar
b. Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran
c. Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran

C.Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.

D. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.

E. Metode Pembelajaran/Model Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

F. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar dalam kegiatan pembelajaran harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan dalam setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan :
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

G. Sumber Belajar

Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

H. Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat dituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.

III. Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah : SMP………………………
Mata Pelajaran : ……………………………..
Kelas/Semester : ……………………………..
Alokasi Waktu : ….. x 40 menit (… pertemuan)

A. Standar Kompetensi
B. Kompetensi Dasar
C. Tujuan Pembelajaran:
Pertemuan 1
Pertemuan 2
Dst
D. Materi Pembelajaran
E. Model/Metode Pembelajaran
F. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
Pertemuan 2
dst
G. Sumber Belajar

H. Penilaian

Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian
Teknik Bentuk
Instrumen Instrumen

RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN rpp IPS RPPBahasaIndonesiaBerkarakterSMPKelasVIIIsms1 RPPBerkarakterEkonomiSMAX-2 RPPBerkarakterEkonomiSMAXI-1 RPPBerkarakterSMAB.IndoX-1 RPPGeografiBerkarakterSMAX-1 RPPGeografiBerkarakterSMAXI-1 RPPGeografiBerkarakterSMAXII-1 RPPKimiaSMABerkarakterX-1 RPPKimiaSMABerkarakterXII-1 RPPSejarahSMABerkaraterX-1 RPPSejarahSMABerkaraterXI-1 RRPBerkarakterBiologiX-1 RRPBerkarakterBiologiXI-1 RRPBerkarakterBiologiXII-1 sil17

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu akan mati kelaparan

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

LaDIYfest Sheffield

2015 - NOW ORGANISING!

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites (& Other Stories )

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Whatever

I'M STUCK WITH A VALUABLE FRIEND

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

Litmus 2015

Writers on the MA Creative & Critical Writing and MA Writing for Children students at the University of Winchester share information about their writing lives. Read about our anthology, published in May 2015, the Winchester Reading Series and Winchester Writers' Festival.

Mummy Spits the Dummy

I was once a paragon of parenting. Then I had kids and ruined it.

The Wandering Nomads

Two bikes, one life, and the whole world to see

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.005 pengikut lainnya