Info penulisan PTK

Educational With PTK mengajak anda guru, mahasiswa, kepala sekolah dan pengawas sekolah semua jenjang yang terkendala naik pangkat karena belum siap PTK/PTS/PTKp di sini siap berbagi model tindakan KTI yang siap membantu anda. CARANYA DISKUSI  MEMBAHAS BAB PER BAB MULAI DARI BAB I SMPAI BAB III, SERTA INSTRUMEN YANG DUBUNAKAN DALAM PENELITIAN. DAN DILANJUTKAN DISKUSI PENULISAN BAB IV, V  SETELAH MELALUI PROSES PENELITIAN SIKLUS. SESUAI PROSESUR PTK. KONTAK 087766637245 , EMAIL.dinusmath63@gmail.com

laraskan persepsi, satukan langkah, berlari menuju perubahan. pasti bisa!.

Dalam pembelajaran di kelas secara reguler dihadapkan pada target pembelajaran yang harus diampu. Kegiatan penelitian tindakan bertujuan untuk melakukan suatu pendekatan terhadap proses pembelajaran dan memandang guru sebagai hakim terbaik terhadap keseluruhan pengalaman pembelajaran.
Dengan demikian, penelitian tindakan kelas dapat menjembatani kesenjangan antara teori dengan praktek pembelajaran bahkan guru didorong untuk mengembangkan diri melalui konsep-konsep dan teorinya. Penerapan penelitian tindakan kelas memosisikan guru sebagai seorang penelilti yang berkolaborasi dan melakukan penelitian bersama rekan-rekannya, yaitu para peserta didik dan orang-orang yang terlibat di sekitarnya, sehingga guru didorong untuk sadar bersikap ilmiah dan profesional, sehingga mampu mengembangkan kompetensinya secara optimal, baik kompetensi profesional, sosial, maupun kompetensi personal dan spiritual.

Syarat ketercapaian sebuah pembelajaran dibuktikan dengan adanya (tolok ukur) indikator ketercapaian materi dimana ada ketetapan Kompetensi dasar dalam setiap pembelajaran. Berkaitan pula dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang harus dicapai oleh peserta didik. Penetapan KKM tersebut dapat ditentukan melalui prasyarat tertentu semisal daya dukung guru, intake siswa, ketersediaan sarana prasarana dan tingkat kesulitan materi pembelajaran.Dalam pelaksanaannya, masih banyak guru yang melakukan kesalahan dalam memknai PTK ini. Kesalahan umum yang sering dilakukan misalnya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran, seringkali yang ditonjolkan adalah aktifitas gurunya bukan aktifitas peserta didik.

Aspek yang harus ditonjolkan dalam pelaksanaan PTK adalah perbaikkan proses atau peningkatan kualitas pembelajaran. Persiapan awal yang biasa dilakukan dalam pelaksanaan PTK ini adalah menemukan kesenjangan materi pembelajaran dengan ketercapaian kompetensi yang harus peserta didik capai. Setelah melalui beberapa kali pengulangan melalui kegiatan remedial namun masih terdapat kesenjangan maka hal tersebut layak untuk dilakukan Penelitian Tindakan Kelas. Selanjutnya dilakukan penyusunan proposal, mencakup pelaksanaan maupun pelaporannya.

prestasi belajar merupakan ukuran sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang telah diajarkan.Hal yang tak kalah penting dalam prestasi belajar adalah Ketuntasan Kriteria Minimal (KKM). KKM merupakan acuan standar penilaian minimal sehingga siswa bisa dikatakan berhasil dalam belajar.Jadi prestasi belajar adalah “alat ukur ketuntasan belajar yang biasanya dilakukan dengan memberikan tes berdasarkan standar KKM” tidak perlu cari teori dari luar , menentukan indikator keberhasilan PTK. PTK tdk sama dengan penelitian umumnya. PTK punya ciri khas dan karekteristik yang unik. seali lagi bkan skripsi, bukan disertasi dsbnya

Kebanyakan guru2 menetapkan/mematok indikator keberhasilan dalam melaksanakan siklus PTKnya mematok ketntasan individu ≥ 65 dan klasikal ≥ 85%. padahal pelaksnaan PTK mengikuti kurikulum yang berlaku , dan tidk menggangu program kurikulum yangdilaksanakan oleh sekolahnya. artiny indikator keberhasilan sialhkan gunakan KKM KD sesuai materi yang dibahas pada siklus penelitian PTK nya.dan tidak harus 85%, jika anda belum puas 85% tetpkan 90 atau 100% . KTSP itu fleksibel. beda dengan PTK yg dilaksnakan sebelum KTSP, karena semuanya di aur pusat. sekarang KTSP 2006 atau KTSP 2013 (Kurnas) sangat fleksibel. Tidak perlu mencari teori lain diluar kurikulumsekolah umtk menentukan indikator kenerhasilan PTK-nya. Lain halnya skrpsi umum. semoga bermanfaat.
araskan persepsi, satukan langkah, berlari menuju perubahan. pasti bisa!
seorang guru harus menguasai aspek “pembelajaran” dan Aspek Penilaian”. jika tk maaka anda akan terkecoh oleh argumen yang keliru.Baca dan Kuasai Kurikulum yang berlaku sekarang. tinggalkan regulasi yang kadaluarsa. pasti bisa menuju perubahan.
rofesi Guru adalah panggilan jiwa. Peran guru tak hanya sebatas menjadi guru kurikulum yang ruang kerjanya dibatasi tembok ruang kelas, tetapi juga menjadi guru inspiratif dalam ruang kreativitas yang nyaris tak terbatas hingga mampu memberikan inspirasi kepada peserta didiknya agar kelak menjadi generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial.

mari bapak iibu guru, pngawas, kepla sekolah laraskan persepsi, satukan langkah, berlari menuju perubahan. pasti bisa!.
Apa gunanya bimbet KTPS kerkali kali kalau masih pake regulasi yg kadaluarsa. kurikulum sekarang fleksibel. tdk boleh ada kata harus begini,harus begitu seperti jaman waktu sentral pendidikan, kurnas sesui kebuthan sesuai sikon,asal tdk bertentngan dengan peraturan yg berlaku. silahkan kreatifitas guru. kurnas hanya menampilkan standar minimal. kembangkan, bila perlu jadikan best praftice guru.!
jika masih ada kepsek atau pengawas yang berpola ” harus begini, harus begitu, bisa terpasung kraetifitas guru kalao begitu polanya. Biarkan guru kreatif mengembangkan dirinya. asal tdk bertentangan dengan peraturan yg berlaku. ayo bp ibu guru maju terus. baca dan kuasai aspek pembelajaran dan penilaian dalam kurikulum sekarang. anda pasti bisa berargumntasi dengan kepsek dan ppengawasnya. semga bermanfaa
memang dunia pendidikan sekarang ini dibuat aneh: yang menilai lomba prestasi guru adalah guru yang tdk pernah mengikuti lomba apalagi mendpat prestasi,alhasil produk yg dihasilkan acak-acakan.Begitu pula. Guru yang menilai PTK kenaikan pangkat ,tapi tdk pernah melaksanakan/membuat PTK, hasil nyapun membuat Guru jadi bingung, .telepon pun berdering hampir tiap saat. , bertanya seputar catatan penilai: 1; kkm tdk boleh dijadikan krieria keberhasilan disuruh cari teori lain, saya jawab: seperti yang saya posting terdahulu..(KKM sebaknya utk guru yg melaksanakan PTK). kalau orang luar meneliti tentang pengaruh, atau hubngan, dll di sekolah anda tdk usah pake KKM .silahkan pake analisis yg lain.
2.Kata Kunci pada absrtak harus di atas. kalau ditulis dibawah dicoret alias tdk boleh, harus di atas dan kalimat pada absrak harus numpuk tdk boleh ada alinea..Saja jelaskan masalah kata kunci tdk prinsip boleh boleh saja atas atau bawah, kecuali mahasiswa yang terikat oleh pedoman penulisan skripsi yang menjadi kitabnya, ya itu harus di ikuti.guru yg ber PTK silakan pake referensi mana saja asal di atas thn 2000 (presentasi Arikunto thn 2010 saat penguatan pengawas sekolah),,dan yg utaman buku 1,2,3,4,dan 5 pedoman PKB. ( 3.).Jika dalam laporan ditulis dilaksanakan 2 siklus, langsung dicoret. dengan catatan drimana anda tau 2 siklus?. saya jawab, PTK itu adalah menulis kembali hasil penelitiannya yg sudah dilaksanakan dan saat penelitian telah tuntas mencapai indikator keberhasilan 2 siklus,makanya ditulus 2 siklus. bukan direncanakan lagi 2 siklus. kalau direncanakan 2 siklus namanya proposal ptk, bukan laporan PTK.(4).apakah Data harus ditulus dalam lapotan. saya jabaw yang ditulis dalam laporan itu dk perlu semua hasil namlisis data. cukup ringkasan datanya. data lengkap simpan dilampiran,
Namun demi naik pangkat yah ikutin aja catatanya .benar salahnya PTK itu ga usah mikirin karena penilaian tdk boleh diprotes .
Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu. Dan pada saat itulah engkau adalah MURID sekaligus GURU bagi dirimu sendiri dalam kehidupan ini

Pentingnya pembelajaran berbasis PTK

Penelitian tindakan adalah nama yang diberikan kepada suatu gerakan yang secara umum semakin berkembang dalam bidang penelitian pendidikan. Gerakan tersebut mendorong seorang guru untuk melakukan penilaian kembali terhadap praktek pembelajaran yang dilakukannya dengan maksud untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi guru maupun peserta didiknya.

Dalam pembelajaran di kelas secara reguler dihadapkan pada target pembelajaran yang harus diampu. Kegiatan penelitian tindakan ini bertujuan untuk melakukan suatu pendekatan terhadap proses pembelajaran dan memandang guru sebagai hakim terbaik terhadap keseluruhan pengalaman pembelajaran.

Penerapan penelitian tindakan kelas memosisikan guru sebagai seorang penelilti yang berkolaborasi dan melakukan penelitian bersama rekan-rekannya, yaitu para peserta didik dan orang-orang yang terlibat di sekitarnya, sehingga guru didorong untuk sadar bersikap ilmiah dan profesional, sehingga mampu mengembangkan kompetensinya secara optimal, baik kompetensi profesional, sosial, maupun kompetensi personal dan spiritual.

Syarat ketercapaian sebuah pembelajaran dibuktikan dengan adanya (tolok ukur) indikator ketercapaian materi dimana ada ketetapan Kompetensi dasar dalam setiap pembelajaran. Berkaitan pula dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang harus dicapai oleh peserta didik (tanda kutip bukan teori lain, teori KKM itu maksudnya). untuk mengukur ketuntsan belajar adalah KKM buka teori lain. Penetapan KKM tersebut dapat ditentukan melalui prasyarat tertentu semisal daya dukung guru, intake siswa, ketersediaan sarana prasarana dan tingkat kesulitan materi pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, masih banyak guru yang melakukan kesalahan dalam memknai PTK ini. Kesalahan umum yang sering dilakukan misalnya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran, seringkali yang ditonjolkan adalah aktifitas gurunya bukan aktifitas peserta didik.

Aspek yang harus ditonjolkan dalam pelaksanaan PTK adalah perbaikkan proses atau peningkatan kualitas pembelajaran. Persiapan awal yang biasa dilakukan dalam pelaksanaan PTK ini adalah menemukan kesenjangan materi pembelajaran dengan ketercapaian kompetensi yang harus peserta didik capai. Setelah melalui beberapa kali pengulangan melalui kegiatan remedial namun masih terdapat kesenjangan maka hal tersebut layak untuk dilakukan Penelitian Tindakan Kelas. Selanjutnya dilakukan penyusunan proposal, mencakup pelaksanaan maupun pelaporannya.

Pembelajaran merupakan sebuah proses menanami dan proses menguasai sejumlah kemampuan pada siswa s meliputi proses menanami dan menguasai kemampuan pada aspek sikap, proses menanami dan menguasai kemampuan pada aspek pengetahuan,dan proses menanami dan menguasai kemampuan pada aspek keterampilan.

Yang dimaksud dengan proses menanami kompetensi adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran agar siswa melakukan proses menguasai sejumlah kemampuan berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Misalnya tujuan pembelajaran berbunyi:siswa mampu menjelaskan simbiose mutualisma. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah:
• Guru menampilkan media pembelajaran, kemudian siswa diminta untuk mengamati media pembelajaran tersebut.
• Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan media pembelajaran dan siswa menjawab pertanyaan berdasarkan hasil pengamatan pada media pembelajaran.
• Guru mengajukan pertanyaan untuk membentuk konsep simbiose mutualisma dan siswa diminta untuk merumuskan konsepnya.
• Guru menegaskan konsep simbiose mutualisma.
Dengan demikian guru melakukan sejumlah tahapan agar siswanya belajar. Yang dimaksud dengan proses menguasai kompetensi adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran agar tercapai sejumlah kemampuan sebagai hasil belajar.
Misalnya siswa belajar tentang simbiose mutualisma, maka proses menguasai kompetensinya adalah:
• Aktif mengamati media pembelajaran yang telah disiapkan.
• Aktif menjawab dengan santun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru.
• Aktif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru bersama siwa lain.
Dengan demikian tahapan-tahapan yang dilakukan siswa untuk menguasai hasil belajarnya adalah aktif mengamatif, aktif menjawab pertanyaan, aktif mengerjakan tugas.

Pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas merupakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas yang menjadi tanggung jawabnya tanpa melibatkan pihak lain sebagai pengamat. Peran pengamat dilakukan oleh guru itu sendiri. Dengan demikian guru melakukan pembelajaran dengan tetap menggunakan prinsip penelitian tindakan kelas di kelas yang menjadi tanggug jawabnya dan bukan di kelas lain.

Beberapa manfaat dari penerapan pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas adalah:
• Guru tetap berada di kelas yang menjadi tanggung jawabnya karena tidak melakukan tugas pengamatan di tempat lain.
• Guru tidak perlu melakukan persiapan secara khusus untuk melayani pihak lain yang dilibatkan.
• Guru lain tidak dikorbankan jam pembelajarannya karena tidak perlu meninggalkan kelasnya untuk melaksanakan tugas pengamat kegiatan pembelajaran.
• Jam pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum tidak dikorbankan untuk diisi dengan kegiatan khusus penelitian materi lain dari peneliti lain.
• Siswa tidak mengalami situasi baru karena hanya bertemu dengan gurunya sendiri.
• Semua materi pelajaran berdasarkan penetapan kurikulum semakin ditingkatkan mutu proses pembelajarannya.
• Guru sendiri akan semakin mampu memperbaiki mutu pembelajarannya melalui proses pembiasaan penelitian dari waktu ke waktu secara berkesinambungan.
• Mutu hasil belajar siswa akan semakin meningkat oleh adanya guru yang selalu memperbaiki mutu pembelajarannya.
• Sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan guru tidak perlu direpotkan dengan mendatangkan guru dari sekolah lain untuk tugas pengamat kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan manfaat di atas maka penerapan pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas menjadi penting untuk dilaksanakan mengingat pentingnya peningkatan mutu hasil belajar siswa. Kelemahan dari penerapan pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas adalah bila masih ada guru yang belum memiliki kemampuan menilai secara terbuka mutu pelajarannya sendiri.

tahun 2019 seluruh sekolah di Indonesia tanpa terkecuali menerapkan Kurikulum 2013 (K-13) yang sudah diperbaiki

10644239_924658087561804_4525610772286597143_okurikulum-2013

Pemerintah menargetkan pada tahun 2019 seluruh sekolah di Indonesia tanpa terkecuali menerapkan Kurikulum 2013 (K-13) yang sudah diperbaiki. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan, implementasi kurikulum pengganti KTSP tersebut dilakukan secara bertahap.Juli mendatang ditargetkan 25 persen sekolah sudah menerapkan K-13. Tahun depan, jumlah sekolah tersebut akan bertambah menjadi 35 persen. Lalu pada 2018 bertambah menjadi 60 persen sekolah.”Ditargetkan pada 2019 seluruh sekolah di Indonesia sudah menerapkan K-13 yang telah direvisi,” kata Hamid yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (26/03).Pemerintah optimis seluruh sekolah yang menerapkan K-13 akan mudah mengimplementasikannya, karena metode yang lebih sederhana dan ringkas.

 

Kurikulum 2013 (K-13) resmi diberlakukan secara nasional mulai Juli mendatang. Dengan metode yang lebih sederhana dan ringkas, pemerintah optimistis seluruh sekolah yang menerapkan K-13 akan mudah mengimplementasikannya.Menteri Pendi‎dikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan, pemerintahan akan meneruskan hal-hal yang dipandang baik, salah satunya K-13. Dia pun membantah akan mengganti nama K-13 menjadi kurikulum nasional.

Rencananya Kemendikbud akan menghapus Kurikulum 2013 dan mengganti dengan Kurikulum Nasional pada tahun 2018 mendatang

Amburadulnya pelaksanaan Kurikulum 2013, membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana akan menghapus Kurikulum 2013 dan mengganti dengan Kurikulum Nasional pada tahun 2018 mendatang.

Direktorat Jenderal Ketenagaan Pendidikan Kemendikbud, Unifah Rosyidi seperti yang SekolahDasar.Net lansir dari surabayanews.co.id (05/04/15) mengatakan saat ini pihaknya masih belum melakukan sosialisasi karena masih fokus pada perbaikan Kurikulum 2013.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan permasalahan utama pendidikan yang harus dibenahi saat ini ada pada guru bukan pada kurikulum. Hal ini dikatakan Anies di Gedung Kemendikbud Jakarta, Kamis (12/3).

“Kita selalu fokus pada kurikulum, padahal sebenarnya guru yang menjadi masalah,” ujar Anies yang SekolahDasar.Net kutip dari beritasatu.com (13/03/2015).Meskipun kurikulum berubah-ubah sampai saat ini telah 10 kali ganti kurikulum, pendidikan tetap mengalami masalah yang sama. Untuk itu, Kemendikbud akan melatih para guru untuk meningkatkan kompetensi mengajar, kualitas, dan bidang studi pengajaran. Revolusi mental itu bukan difokuskan kepada anak-anak, melainkan para pendidik (ilustrasi via detik)

Terkait konsep revolusi mental, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah Anies Baswedan menyatakan revolusi mental dalam dunia pendidikan itu akan difokuskan kepada para guru. Selain guru, Anies juga menilai perlunya jajaran birokrat di kementeriannya untuk mendapat pencerahan revolusi mental.”Yang harus direvolusi mental adalah pendidiknya. Bukan anak yang menjadi fokus, melainkan gurunya. Saya melihat dalam konteks pendidikan, jangan lihat anak-anak kita sebagai botol yang harus diisi sehingga harus diisi materi sebanyak-banyaknya,” kata Anies yang SekolahDasar.Net kutip dari Kompas (12/11/2014).

Menurut Anies proses belajar anak tidak bisa disamakan dengan berlari sprint. Penggagas gerakan Indonesia Mengajar ini menganalogikan proses belajar mereka seperti berlari maraton yang stabil dan berkelanjutan. Belajar harus menyenangkan, jangan sampai anak menjadi lelah dalam proses belajar dan merasa bersekolah itu adalah beban.

Struktur birokrasi di kementerian yang dipimpinnya saat ini juga dinilai terlalu gemuk, kerja yang tidak efektif, serta program tanpa berorientasi hasil. Itu akan menjadi materi evaluasi yang akan dilakukan Anies. Menurut dia, semua aparat di kementerian harus sadar akan tugasnya untuk membentuk masa depan bangsa Indonesia.

“Saya perhatikan, mereka melaporkan apa yang sudah dikerjakan. Hasilnya apa? Biasanya karena penyerapan, maka laporannya pun sebatas apa yang sudah dikerjakan. Saya berharap setelah ini orang akan berpikir dua kali atas apa yang dikerjakannya di kementerian,” kata Anies.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2014/11/anies-yang-harus-direvolusi-mental-adalah-guru.html#ixzz44DCCQZ5p

 

download Juknis Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya+Lampiran Lengkap

1.Lamp I-baru

2.Lampiran II A-IIC-BARU

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT IIA-IIC

3.lamp.3 PETUNJUK PENGISIAN

   FORMAT lamp 3

4.CONTOH lampiran 4

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 4

5.CONTOH lamp 5

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 5

6.CONTOH lamp 6

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 6

7.CONTOH lamp 7

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 7

8.CONTOH lamp 8

  PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 8

9.CONTOH lamp 9

   PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 9

10.CONTOH lamp 11

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 11

11.CONTOH lamp 10 PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 10

12.Lamp XII-BARU

13.LAMP XIII A- G PROGRAM PENGAWASAN

14.lamp XIV A- C PELAPORAN KEPENGAWASAN

15.lamp XV Penyampaian Penetapan Angka Kredit

16.lampiran XVI INSTRUMEN PEMBINAAN PEMBINAAN

17.LAMPIRAN XVII INSTRUMEN PEMANTAUAN 8 SNP

18.LAMPIRAN XVIII INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA merlyn

19.LAMPIRAN XVIII INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA_

LAMPIRAN XVIII INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA_

LAMPIRAN XIX PEMBERIAN ANGKA KREDIT SUB BUTIR

LAMPIRAN XIX PEMBERIAN ANGKA KREDIT SUB BUTIR

LAMPIRAN XVII INSTRUMEN PEMANTAUAN 8 SNP

semoga bermnfaat.amin

551265_774071445953803_948734511_n 578552_732675346760080_961427029_n 1003068_784240368270244_595244799_n 1511556_963280650366214_2250321897337533592_o 1518900_859547144072899_6549353813913003761_o 1529718_770232666337681_458525195_o 1540340_807792042581743_980190406_o 1601241_778114845549463_2143237082_n 1621918_774072052620409_1211239993_n 1655658_963400127020933_2318845146963021475_o 1782266_842383295789284_6724216203536209203_o 1799926_874123892615224_2440396209264863673_o 1800435_929982777029335_732266687539284075_n 10005994_805630596131221_445616865_o 10256875_852506948110252_2720483419490398583_o 10258861_818871554807125_3968035024800043978_o 10259726_819343288093285_142343080719776986_n 10295448_859597777401169_2990527418930712537_o 10295515_842374875790126_366652803247660619_o 10298202_858833487477598_96179053405058371_o 10308263_844373672256913_3186994849391556076_n 10321110_851159044911709_758630273905341556_o 10321555_858866084141005_4266217486180171793_o 10321778_10202112515514694_1080183651736273010_o 10329946_864512300243050_663179623168260016_o 10338551_851160331578247_1395137556981285906_o 10338608_858960130798267_6884219882094905830_o 10348788_852484091445871_7039030994762315779_o 10372836_852511368109810_2831946243040703540_o 10380049_842385969122350_7079277984009355715_o 10380096_963387773688835_8288560348365931899_o 10380160_853015888059358_4641709190746234147_o 10380669_862718760422404_6824416915321167109_o 10383724_853018938059053_8619829713047001639_o 10387068_901886809838932_617054634338612142_o 10403747_853202904707323_8858476239539371219_o 10404000_867476876613259_5437230656826522311_o 10407807_873449489349331_296651775744910293_n 10428192_858257854201828_7200132362158441034_o 10428260_857548197606127_4298609028369524491_o 10428714_815541831842010_8174315961974675249_n 10450054_875236232503990_344626482979555607_o 10453028_859925527368394_5623927024202560084_o 10479883_859596734067940_9130180067276276438_o 10489719_880538478640432_6021906206922728890_n 10494952_861377560556524_1058689123346150112_o 10496202_872938036067143_1726516226963625284_o 10497171_867454549948825_7461526488264336117_o 10497876_864508840243396_792476543709985073_o 10498091_885138321513781_5608011458113063471_o 10550993_893476210679992_3605160774498313373_n 10551532_903509046343375_1117353522175966974_o 10600380_893475767346703_3432443334600655928_n 10620139_961188653908747_1669167800274634923_o 10628544_912435198784093_7053789193366909041_n 10633498_961188113908801_4216985182232062537_o 10644239_924658087561804_4525610772286597143_o 10661744_924648060896140_7817234260364848002_o 10669033_965869956773950_221252458366976180_o 10694362_925836264110653_184426565494741365_o 10704427_960341407326805_5736022024245266851_o 10887343_979115652116047_1859478294071147673_o

 

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS SEKOLAH DAN ANGKA KREDITNYA

format-permendikbud-no-143-th-2014-tentang-pengawas-sekolah-dan-angka-kreditnya

permendikbud-no-143-th-2014-tentang-pengawas-sekolah-dan-angka-kreditnya

permendikbud-no-143-th-2014-tentang-pengawas-sekolah-dan-angka-kreditnya

pedoman Standar Nasional Pendidikan

A. Rasional
Penjaminan mutu pendidikan adalah serentetan proses dalam sistem yang saling berkaitan untuk mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan data tentang program atau kegiatan pendidikan dalam mencapai mutu pendidikan. Proses penjaminan mutu diawali dari mengidentifikasi aspek pencapaian dan prioritas peningkatan, penyediaan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan serta membantu membangun budaya peningkatan mutu berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah dikaji berdasarkan delapan standar nasional pendidikan dari Badan Standar nasional Pendidikan (BSNP).Penjaminan mutu secara langsung tentu saja memiliki kontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah di Indonesia berkaitan dengan tiga aspek utama yaitu: (1) pengkajian mutu pendidikan, (2) analisis dan pelaporan mutu pendidikan, dan (3) peningkatan mutu dan penumbuhan budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan. Khususnya pada aspek pertama, secara sederhana diartikan bahwa dalam aspek pengkajian mutu pendidikan didalamnya perlu ada pemetaan dan penetapan langkah yang perlu dilakukan untuk pencapaian mutu. Kegiatan pemetaan salah satunya melalui Evaluasi Diri Sekolah (EDS) dan instrumen lain yang dapat menambah informasi tentang profil sekolah. Adapun kegiatan penetapan langkah pencapaian mutu adalah rencana sistematis, rasional, dan terukur serta dirumuskan oleh satuan pendidikan untuk memenuhi pencapaian mutu pendidikan.
Untuk mencapai mutu, ternyata tidak setiap satuan pendidikan mampu melakukannya. Banyak faktor yang menjadi kendala dan penghambat sehingga mereka tidak mampu melakukannya. Berdasarkan hasil penelitian secara mendalam, salah satu sebabnya adalah karena budayapenjaminan mutu di satuan pendidikan relatif sangat lemah. Secara operasional, jika ingin membina budaya penjaminan mutu di setiap satuan pendidikan maka dipandang perlu memberi petunjuk atau panduan pencapaian mutu yang lebih rinci yaitu berdasarkan pada pencapaian setiap komponen Standar NasionalPendidikan (SNP).
Hasil riset menunjukkan bahwa sekolah dan madrasah merupakan pihak yang memberikan kontribusi terbesar terhadap proses dan hasil penjaminan mutu dan peningkatan mutu pendidikan, sedangkanmasyarakat, penyelenggara pendidikan, dan pemerintah daerah memberikan fasilitasi dalam pelaksanaan penjaminan mutu tersebut. Oleh karena itu, sekolah dan madrasah perlu diberdayakan dan didukung dalam usahanya menciptakan budaya mutu. Pihak masyarakat perlu didorong agar secara aktif mendukung program sekolah dan madrasah. Adapun pihak pemerintah daerah perlu ditingkatkan upaya koordinasinya agar mereka menyusun program dan penganggaran penjaminan mutu sebagai prioritas utamanya.

B. Tujuan
Tujuan umum penyusunan pedoman pemenuhan SNP pada satuan pendidikan ini adalah untuk memberikan acuan bagi satuan pendidikan dalam melaksanakan penjaminan mutu pendidikan secara sinergis dan berkelanjutan melalui pemenuhan SNP oleh satuan pendidikan.
Secara khusus pedoman ini bertujuan untuk:
1. memberi penjelasan tentang indikator esensial pada delapan Standar Nasional Pendidikan yang diuraikan berdasarkan argumentasi perlunya pemenuhan indikator esensial, langkah pemenuhannya, waktu dan durasi implementasi pemenuhannya, dan hasil yang dapat diukur.
2. mengatur peran dan tanggung jawab setiap unsur organisasi pada satuan pendidikan dan pihak terkait lainnya untuk mencapai mutu pendidikan berdasarkan acuan mutu delapan Standar Nasional Pendidikan.
3. memberi petunjuk pengelolaan dan koordinasi penjaminan mutu pendidikan yang diawali dari pemetaan mutu pendidikan dengan berbagai penggunaan instrumen, pemenuhan standar yang mengacu pada SNP atau Standar mutu pendidikan di atas SNP, serta evaluasi mutu pendidikan.

C. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301),
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496),
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 TentangStandar Isi (SI),
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah, dan
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 12/2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah,
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 13/2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah,
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16/2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru,
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19/2007 Tentang Standar Pengelolaan Oleh Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah,
9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan,
10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA),
11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah,
12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah,
13. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 25/2008 Tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah,
14. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 26/ 2008 Tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah,
15. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 27/2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Konselor,
16. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan,
17. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 69 Tahun 2009 Tentang Standar Biaya Operasi Non Personalia Tahun 2009.

BAB II
ACUAN MUTU PENDIDIKAN

A. Definisi Mutu Pendidikan
Ada tiga konsep dasar yang perlu dibedakan dalam peningkatan mutu yaitu kontrol mutu (quality control), jaminan mutu (quality assurance) dan mutu terpadu (total quality). Kontrol mutu secara historis merupakan konsep mutu yang paling tua. Kegiatannya melibatkan deteksi dan eliminasi terhadap produk-produk gagal yang tidak sesuai dengan standar. Tujuannya hanya untuk menerima produk yang berhasil danmenolak produk yang gagal. Dalam dunia pendidikan, kontrol mutu diimplementasikan dengan melaksanaan ujian sumatif dan ujian akhir.Hasil ujian dapat dijadikan sebagai bahan untuk kontrol mutu.
Jaminan mutu merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan sejak awal proses produksi. Jaminan mutu dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menjamin proses produksi agar dapat menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi tertentu. Jaminan mutu adalah sebuah cara menghasilkan produk yang bebas dari cacat dan kesalahan. Lanjutan dari konsep jaminan mutu adalah Total Quality Management(TQM) yang berusaha menciptakan sebuah budaya mutu dengan cara mendorong semua anggota stafnya untuk dapat memuaskan para pelanggan. Dalam konsep TQM pelanggan adalah raja. Inilahyang merupakan pendekatan yang sangat populer termasuk dalam dunia pendidikan. Sifat TQM adalah perbaikan yang terus menerus untuk memenuhi harapan pelanggan.
Dalam TQM, mutu adalah kesesuaian fungsi dengan tujuan, kesesuaian dengan spesifikasi dan standar yang ditentukan, sesuai dengan kegunaannya, produk yang memuaskan pelanggan, sifat dan karakteristik produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.Sistem manajemen mutu pendidikan adalah suatu sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan satuan pendidikan dalam penetapan kebijakan, sasaran, rencana dan proses/prosedur mutu serta pencapaiannya secara berkelanjutan (continous improvement).
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yang berlaku saat ini bertumpu kepada tanggung jawab tiap pemangku kepentingan pendidikanuntuk menjamin dan meningkatkan mutu pendidikan.Implementasi SPMP terdiri atas rangkaian proses/tahapan yang secara siklik dimulai dari (1) pengumpulan data, (2) analisis data, (3) pelaporan/pemetaan, (4) penyusunan rekomendasi, dan (5) upaya pelaksanaan rekomendasi dalam bentuk program peningkatan mutu pendidikan. Pelaksanaan tahapan-tahapan di atas dilaksanakan secara kolaboratif antara satuan pendidikan dengan pihak-pihak lain yang terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan) yaitu penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi,dan pemerintah.
SPMP berbasis pada data dan pemetaan yang valid, akurat, dan empirik.Data yang dikumpulkan oleh sekolah dapat diperoleh dari hasil akreditasi sekolah, sertifikasi guru, ujian nasional, dan profil sekolah. Selain itu Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan instrumen implementasi SPMP yang dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan sebagai salah satu program akseleratif dalam peningkatan kualitas pengelolaan dan layanan pendidikan (Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010; Prioritas Nomor 2. Pendidikan).

B. Alur Penjaminan Mutu Pendidikan

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) merupakan alur siklus yang terpadu dan berkelanjutan. Siklus tersebut dapat menyatukan dan mengarahkan pelaksanaan penjaminan mutu secara internal dan eksternal. Adapun skema alur penjaminan mutu pendidikan adalah sebagai berikut:

Gambar: Alur Siklus Penjaminan Mutu Pendidikan

Bagan alir di atas dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Lingkaran besar merupakan siklus Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) di sekolah. Kegiatan yang esensialnya terdiri dari lima langkah yaitu pengembangan standar mutu, penetapan standar, perencanaan pemenuhan, pemenuhan standar, dan auidit/evaluasi.
2. Pada langkah pemenuhan standar, pihak sekolah tidak mampu melakukannya sendiri karena banyak komponen yang bukan merupakan kewenangannya dan perlunya ketentuan standarisasi dari pihak eksternal. Oleh karena itu dalam pemenuhan standar dan audit/evaluasi dibutuhkan pedoman pemenuhan mutu yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).
3. Pedoman pemenuhan mutu menjadi acuan dalam melakukan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah daerah (MSPD). Kerangka kegiatan MSPD juga didasarkan pada SNP dan hasil Audit/evaluasi internal pihak sekolah. Hasil MSPD dapat dijadikan peta mutu dan atau profil mutu yang dapat digunakan untuk rencana intervensi pemerintah dan pemerintah daerah.
4. Intervensi pemerintah dan pemerintah daerah meliputi semua tahapan penjaminan mutu di sekolah sebagaimana terlihat dalam lingkaran besar pada gambar di atas.
5. Ketika sinergitas kegiatan penjaminan mutu telah dilakukan oleh sekolah di satu sisi dan intervensi pemerintah di pihak lain, maka pada dasarnya sekolah layak mendapat status terakreditasi.

C. Standar Nasional Pendidikan sebagai Acuan Mutu Pendidikan
Acuan mutu yang digunakan untuk pencapaian atau pemenuhan mutu pendidikan pada satuan pendidikan adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan standar-standar lain yang disepakati oleh kelompok masyarakat. Standar nasional pendidikan adalah standar yang dibuat oleh pemerintah, sedangkan standar lain adalah standar yang dibuat oleh satuan pendidikan dan/atau lembaga lain yang dijadikan acuan oleh satuan pendidikan. Standar-standar lain yang disepakati oleh kelompok masyarakat digunakan setelah SNP dipenuhi oleh satuan pendidikan sesuai dengan kekhasan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
SNP sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan peraturan perundangan lain yang relevan yaitu kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. SNP dipenuhi oleh satuan atau program pendidikan dan penyelenggara satuan atau program pendidikan secara sistematis dan bertahap dalam kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan.
Terdapat delapan SNP yaitu:
1. Standar Isi
2. Standar Proses
3. Standar Kompetensi Lulusan
4. Standar Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
5. Standar Sarana dan Prasarana
6. Standar Pengelolaan
7. Standar Pembiayaan
8. Standar Penilaian

Delapan SNP di atas memiliki keterkaitan satu sama lain dan sebagian standar menjadi prasyarat bagi pemenuhan standar yang lainnya. Dalam kerangka sistem, komponen input sistem pemenuhan SNP adalah Standar Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana (Sarpras), dan Standar Pembiayaan. Bagian yang termasuk pada komponen proses adalah Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Evaluasi, sedangkan bagian yang termasuk pada komponen output adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Berikut ini disajikan kaitan antara SNP.

PTK_Prof_Dr_SuwarsihMadya

pedoman-pemenuhan-snp-smp

pemenuhan-snp-sd

pedoman-pemenuhan-snp-sma

pedoman-pemenuhan-snp-smk

PENELITIAN_TINDAKAN_KELAS

Membuat_Laporan_PTK

_Dikti Makalah_PTK

MacamIsiKTI

Leaflet_Blockgrant

_PTK_PMPTK_2006

11 Proposal PTK

12 Laporan PTK

AlasanPenolakan

AngkaKredit Bahasa_dalam_KTI

06 Metodologi Penelitian

07 Model_PTK

08 Analisis Data

09 Validitas_PTK

10 Hasil Penelitian

05 Landasan Teori

04 Identifikasi Masalah

03 Judul Penelitian

02 PTK vs Non PTK 01 Tentang_PTK

00 All PTK sil17

RRPBerkarakterBiologiXII-1

RRPBerkarakterBiologiXI-1 RRPBerkarakterBiologiX-1 RPPGeografiBerkarakterSMAXII-1 RPPKimiaSMABerkarakterX-1 RPPKimiaSMABerkarakterXII-1 RPPSejarahSMABerkaraterX-1 RPPSejarahSMABerkaraterXI-1 RPPBerkarakterEkonomiSMAXI-1 RPPBerkarakterSMAB.IndoX-1 RPPBerkarakterEkonomiSMAXII-1 RPPGeografiBerkarakterSMAX-1 RPPGeografiBerkarakterSMAXI-1 RPPBerkarakterEkonomiSMAX-2 RPPBahasaIndonesiaBerkarakterSMPKelasVIIIsms1 rpp IPS RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN uu_23_tahun_2014 imagesD

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

y

what it comes down to

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life