laraskan persepsi, satukan langkah, berlari menuju perubahan. pasti bisa!.

Dalam pembelajaran di kelas secara reguler dihadapkan pada target pembelajaran yang harus diampu. Kegiatan penelitian tindakan bertujuan untuk melakukan suatu pendekatan terhadap proses pembelajaran dan memandang guru sebagai hakim terbaik terhadap keseluruhan pengalaman pembelajaran.
Dengan demikian, penelitian tindakan kelas dapat menjembatani kesenjangan antara teori dengan praktek pembelajaran bahkan guru didorong untuk mengembangkan diri melalui konsep-konsep dan teorinya. Penerapan penelitian tindakan kelas memosisikan guru sebagai seorang penelilti yang berkolaborasi dan melakukan penelitian bersama rekan-rekannya, yaitu para peserta didik dan orang-orang yang terlibat di sekitarnya, sehingga guru didorong untuk sadar bersikap ilmiah dan profesional, sehingga mampu mengembangkan kompetensinya secara optimal, baik kompetensi profesional, sosial, maupun kompetensi personal dan spiritual.

Syarat ketercapaian sebuah pembelajaran dibuktikan dengan adanya (tolok ukur) indikator ketercapaian materi dimana ada ketetapan Kompetensi dasar dalam setiap pembelajaran. Berkaitan pula dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang harus dicapai oleh peserta didik. Penetapan KKM tersebut dapat ditentukan melalui prasyarat tertentu semisal daya dukung guru, intake siswa, ketersediaan sarana prasarana dan tingkat kesulitan materi pembelajaran.Dalam pelaksanaannya, masih banyak guru yang melakukan kesalahan dalam memknai PTK ini. Kesalahan umum yang sering dilakukan misalnya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran, seringkali yang ditonjolkan adalah aktifitas gurunya bukan aktifitas peserta didik.

Aspek yang harus ditonjolkan dalam pelaksanaan PTK adalah perbaikkan proses atau peningkatan kualitas pembelajaran. Persiapan awal yang biasa dilakukan dalam pelaksanaan PTK ini adalah menemukan kesenjangan materi pembelajaran dengan ketercapaian kompetensi yang harus peserta didik capai. Setelah melalui beberapa kali pengulangan melalui kegiatan remedial namun masih terdapat kesenjangan maka hal tersebut layak untuk dilakukan Penelitian Tindakan Kelas. Selanjutnya dilakukan penyusunan proposal, mencakup pelaksanaan maupun pelaporannya.

prestasi belajar merupakan ukuran sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang telah diajarkan.Hal yang tak kalah penting dalam prestasi belajar adalah Ketuntasan Kriteria Minimal (KKM). KKM merupakan acuan standar penilaian minimal sehingga siswa bisa dikatakan berhasil dalam belajar.Jadi prestasi belajar adalah “alat ukur ketuntasan belajar yang biasanya dilakukan dengan memberikan tes berdasarkan standar KKM” tidak perlu cari teori dari luar , menentukan indikator keberhasilan PTK. PTK tdk sama dengan penelitian umumnya. PTK punya ciri khas dan karekteristik yang unik. seali lagi bkan skripsi, bukan disertasi dsbnya

Kebanyakan guru2 menetapkan/mematok indikator keberhasilan dalam melaksanakan siklus PTKnya mematok ketntasan individu ≥ 65 dan klasikal ≥ 85%. padahal pelaksnaan PTK mengikuti kurikulum yang berlaku , dan tidk menggangu program kurikulum yangdilaksanakan oleh sekolahnya. artiny indikator keberhasilan sialhkan gunakan KKM KD sesuai materi yang dibahas pada siklus penelitian PTK nya.dan tidak harus 85%, jika anda belum puas 85% tetpkan 90 atau 100% . KTSP itu fleksibel. beda dengan PTK yg dilaksnakan sebelum KTSP, karena semuanya di aur pusat. sekarang KTSP 2006 atau KTSP 2013 (Kurnas) sangat fleksibel. Tidak perlu mencari teori lain diluar kurikulumsekolah umtk menentukan indikator kenerhasilan PTK-nya. Lain halnya skrpsi umum. semoga bermanfaat.
araskan persepsi, satukan langkah, berlari menuju perubahan. pasti bisa!
seorang guru harus menguasai aspek “pembelajaran” dan Aspek Penilaian”. jika tk maaka anda akan terkecoh oleh argumen yang keliru.Baca dan Kuasai Kurikulum yang berlaku sekarang. tinggalkan regulasi yang kadaluarsa. pasti bisa menuju perubahan.
rofesi Guru adalah panggilan jiwa. Peran guru tak hanya sebatas menjadi guru kurikulum yang ruang kerjanya dibatasi tembok ruang kelas, tetapi juga menjadi guru inspiratif dalam ruang kreativitas yang nyaris tak terbatas hingga mampu memberikan inspirasi kepada peserta didiknya agar kelak menjadi generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial.

mari bapak iibu guru, pngawas, kepla sekolah laraskan persepsi, satukan langkah, berlari menuju perubahan. pasti bisa!.
Apa gunanya bimbet KTPS kerkali kali kalau masih pake regulasi yg kadaluarsa. kurikulum sekarang fleksibel. tdk boleh ada kata harus begini,harus begitu seperti jaman waktu sentral pendidikan, kurnas sesui kebuthan sesuai sikon,asal tdk bertentngan dengan peraturan yg berlaku. silahkan kreatifitas guru. kurnas hanya menampilkan standar minimal. kembangkan, bila perlu jadikan best praftice guru.!
jika masih ada kepsek atau pengawas yang berpola ” harus begini, harus begitu, bisa terpasung kraetifitas guru kalao begitu polanya. Biarkan guru kreatif mengembangkan dirinya. asal tdk bertentangan dengan peraturan yg berlaku. ayo bp ibu guru maju terus. baca dan kuasai aspek pembelajaran dan penilaian dalam kurikulum sekarang. anda pasti bisa berargumntasi dengan kepsek dan ppengawasnya. semga bermanfaa
memang dunia pendidikan sekarang ini dibuat aneh: yang menilai lomba prestasi guru adalah guru yang tdk pernah mengikuti lomba apalagi mendpat prestasi,alhasil produk yg dihasilkan acak-acakan.Begitu pula. Guru yang menilai PTK kenaikan pangkat ,tapi tdk pernah melaksanakan/membuat PTK, hasil nyapun membuat Guru jadi bingung, .telepon pun berdering hampir tiap saat. , bertanya seputar catatan penilai: 1; kkm tdk boleh dijadikan krieria keberhasilan disuruh cari teori lain, saya jawab: seperti yang saya posting terdahulu..(KKM sebaknya utk guru yg melaksanakan PTK). kalau orang luar meneliti tentang pengaruh, atau hubngan, dll di sekolah anda tdk usah pake KKM .silahkan pake analisis yg lain.
2.Kata Kunci pada absrtak harus di atas. kalau ditulis dibawah dicoret alias tdk boleh, harus di atas dan kalimat pada absrak harus numpuk tdk boleh ada alinea..Saja jelaskan masalah kata kunci tdk prinsip boleh boleh saja atas atau bawah, kecuali mahasiswa yang terikat oleh pedoman penulisan skripsi yang menjadi kitabnya, ya itu harus di ikuti.guru yg ber PTK silakan pake referensi mana saja asal di atas thn 2000 (presentasi Arikunto thn 2010 saat penguatan pengawas sekolah),,dan yg utaman buku 1,2,3,4,dan 5 pedoman PKB. ( 3.).Jika dalam laporan ditulis dilaksanakan 2 siklus, langsung dicoret. dengan catatan drimana anda tau 2 siklus?. saya jawab, PTK itu adalah menulis kembali hasil penelitiannya yg sudah dilaksanakan dan saat penelitian telah tuntas mencapai indikator keberhasilan 2 siklus,makanya ditulus 2 siklus. bukan direncanakan lagi 2 siklus. kalau direncanakan 2 siklus namanya proposal ptk, bukan laporan PTK.(4).apakah Data harus ditulus dalam lapotan. saya jabaw yang ditulis dalam laporan itu dk perlu semua hasil namlisis data. cukup ringkasan datanya. data lengkap simpan dilampiran,
Namun demi naik pangkat yah ikutin aja catatanya .benar salahnya PTK itu ga usah mikirin karena penilaian tdk boleh diprotes .
Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu. Dan pada saat itulah engkau adalah MURID sekaligus GURU bagi dirimu sendiri dalam kehidupan ini

Pentingnya pembelajaran berbasis PTK

Penelitian tindakan adalah nama yang diberikan kepada suatu gerakan yang secara umum semakin berkembang dalam bidang penelitian pendidikan. Gerakan tersebut mendorong seorang guru untuk melakukan penilaian kembali terhadap praktek pembelajaran yang dilakukannya dengan maksud untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi guru maupun peserta didiknya.

Dalam pembelajaran di kelas secara reguler dihadapkan pada target pembelajaran yang harus diampu. Kegiatan penelitian tindakan ini bertujuan untuk melakukan suatu pendekatan terhadap proses pembelajaran dan memandang guru sebagai hakim terbaik terhadap keseluruhan pengalaman pembelajaran.

Penerapan penelitian tindakan kelas memosisikan guru sebagai seorang penelilti yang berkolaborasi dan melakukan penelitian bersama rekan-rekannya, yaitu para peserta didik dan orang-orang yang terlibat di sekitarnya, sehingga guru didorong untuk sadar bersikap ilmiah dan profesional, sehingga mampu mengembangkan kompetensinya secara optimal, baik kompetensi profesional, sosial, maupun kompetensi personal dan spiritual.

Syarat ketercapaian sebuah pembelajaran dibuktikan dengan adanya (tolok ukur) indikator ketercapaian materi dimana ada ketetapan Kompetensi dasar dalam setiap pembelajaran. Berkaitan pula dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang harus dicapai oleh peserta didik (tanda kutip bukan teori lain, teori KKM itu maksudnya). untuk mengukur ketuntsan belajar adalah KKM buka teori lain. Penetapan KKM tersebut dapat ditentukan melalui prasyarat tertentu semisal daya dukung guru, intake siswa, ketersediaan sarana prasarana dan tingkat kesulitan materi pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, masih banyak guru yang melakukan kesalahan dalam memknai PTK ini. Kesalahan umum yang sering dilakukan misalnya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran, seringkali yang ditonjolkan adalah aktifitas gurunya bukan aktifitas peserta didik.

Aspek yang harus ditonjolkan dalam pelaksanaan PTK adalah perbaikkan proses atau peningkatan kualitas pembelajaran. Persiapan awal yang biasa dilakukan dalam pelaksanaan PTK ini adalah menemukan kesenjangan materi pembelajaran dengan ketercapaian kompetensi yang harus peserta didik capai. Setelah melalui beberapa kali pengulangan melalui kegiatan remedial namun masih terdapat kesenjangan maka hal tersebut layak untuk dilakukan Penelitian Tindakan Kelas. Selanjutnya dilakukan penyusunan proposal, mencakup pelaksanaan maupun pelaporannya.

Pembelajaran merupakan sebuah proses menanami dan proses menguasai sejumlah kemampuan pada siswa s meliputi proses menanami dan menguasai kemampuan pada aspek sikap, proses menanami dan menguasai kemampuan pada aspek pengetahuan,dan proses menanami dan menguasai kemampuan pada aspek keterampilan.

Yang dimaksud dengan proses menanami kompetensi adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran agar siswa melakukan proses menguasai sejumlah kemampuan berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Misalnya tujuan pembelajaran berbunyi:siswa mampu menjelaskan simbiose mutualisma. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah:
• Guru menampilkan media pembelajaran, kemudian siswa diminta untuk mengamati media pembelajaran tersebut.
• Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan media pembelajaran dan siswa menjawab pertanyaan berdasarkan hasil pengamatan pada media pembelajaran.
• Guru mengajukan pertanyaan untuk membentuk konsep simbiose mutualisma dan siswa diminta untuk merumuskan konsepnya.
• Guru menegaskan konsep simbiose mutualisma.
Dengan demikian guru melakukan sejumlah tahapan agar siswanya belajar. Yang dimaksud dengan proses menguasai kompetensi adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran agar tercapai sejumlah kemampuan sebagai hasil belajar.
Misalnya siswa belajar tentang simbiose mutualisma, maka proses menguasai kompetensinya adalah:
• Aktif mengamati media pembelajaran yang telah disiapkan.
• Aktif menjawab dengan santun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru.
• Aktif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru bersama siwa lain.
Dengan demikian tahapan-tahapan yang dilakukan siswa untuk menguasai hasil belajarnya adalah aktif mengamatif, aktif menjawab pertanyaan, aktif mengerjakan tugas.

Pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas merupakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas yang menjadi tanggung jawabnya tanpa melibatkan pihak lain sebagai pengamat. Peran pengamat dilakukan oleh guru itu sendiri. Dengan demikian guru melakukan pembelajaran dengan tetap menggunakan prinsip penelitian tindakan kelas di kelas yang menjadi tanggug jawabnya dan bukan di kelas lain.

Beberapa manfaat dari penerapan pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas adalah:
• Guru tetap berada di kelas yang menjadi tanggung jawabnya karena tidak melakukan tugas pengamatan di tempat lain.
• Guru tidak perlu melakukan persiapan secara khusus untuk melayani pihak lain yang dilibatkan.
• Guru lain tidak dikorbankan jam pembelajarannya karena tidak perlu meninggalkan kelasnya untuk melaksanakan tugas pengamat kegiatan pembelajaran.
• Jam pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum tidak dikorbankan untuk diisi dengan kegiatan khusus penelitian materi lain dari peneliti lain.
• Siswa tidak mengalami situasi baru karena hanya bertemu dengan gurunya sendiri.
• Semua materi pelajaran berdasarkan penetapan kurikulum semakin ditingkatkan mutu proses pembelajarannya.
• Guru sendiri akan semakin mampu memperbaiki mutu pembelajarannya melalui proses pembiasaan penelitian dari waktu ke waktu secara berkesinambungan.
• Mutu hasil belajar siswa akan semakin meningkat oleh adanya guru yang selalu memperbaiki mutu pembelajarannya.
• Sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan guru tidak perlu direpotkan dengan mendatangkan guru dari sekolah lain untuk tugas pengamat kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan manfaat di atas maka penerapan pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas menjadi penting untuk dilaksanakan mengingat pentingnya peningkatan mutu hasil belajar siswa. Kelemahan dari penerapan pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas adalah bila masih ada guru yang belum memiliki kemampuan menilai secara terbuka mutu pelajarannya sendiri.

tahun 2019 seluruh sekolah di Indonesia tanpa terkecuali menerapkan Kurikulum 2013 (K-13) yang sudah diperbaiki

10644239_924658087561804_4525610772286597143_okurikulum-2013

Pemerintah menargetkan pada tahun 2019 seluruh sekolah di Indonesia tanpa terkecuali menerapkan Kurikulum 2013 (K-13) yang sudah diperbaiki. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan, implementasi kurikulum pengganti KTSP tersebut dilakukan secara bertahap.Juli mendatang ditargetkan 25 persen sekolah sudah menerapkan K-13. Tahun depan, jumlah sekolah tersebut akan bertambah menjadi 35 persen. Lalu pada 2018 bertambah menjadi 60 persen sekolah.”Ditargetkan pada 2019 seluruh sekolah di Indonesia sudah menerapkan K-13 yang telah direvisi,” kata Hamid yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (26/03).Pemerintah optimis seluruh sekolah yang menerapkan K-13 akan mudah mengimplementasikannya, karena metode yang lebih sederhana dan ringkas.

 

Kurikulum 2013 (K-13) resmi diberlakukan secara nasional mulai Juli mendatang. Dengan metode yang lebih sederhana dan ringkas, pemerintah optimistis seluruh sekolah yang menerapkan K-13 akan mudah mengimplementasikannya.Menteri Pendi‎dikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan, pemerintahan akan meneruskan hal-hal yang dipandang baik, salah satunya K-13. Dia pun membantah akan mengganti nama K-13 menjadi kurikulum nasional.

Rencananya Kemendikbud akan menghapus Kurikulum 2013 dan mengganti dengan Kurikulum Nasional pada tahun 2018 mendatang

Amburadulnya pelaksanaan Kurikulum 2013, membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana akan menghapus Kurikulum 2013 dan mengganti dengan Kurikulum Nasional pada tahun 2018 mendatang.

Direktorat Jenderal Ketenagaan Pendidikan Kemendikbud, Unifah Rosyidi seperti yang SekolahDasar.Net lansir dari surabayanews.co.id (05/04/15) mengatakan saat ini pihaknya masih belum melakukan sosialisasi karena masih fokus pada perbaikan Kurikulum 2013.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan permasalahan utama pendidikan yang harus dibenahi saat ini ada pada guru bukan pada kurikulum. Hal ini dikatakan Anies di Gedung Kemendikbud Jakarta, Kamis (12/3).

“Kita selalu fokus pada kurikulum, padahal sebenarnya guru yang menjadi masalah,” ujar Anies yang SekolahDasar.Net kutip dari beritasatu.com (13/03/2015).Meskipun kurikulum berubah-ubah sampai saat ini telah 10 kali ganti kurikulum, pendidikan tetap mengalami masalah yang sama. Untuk itu, Kemendikbud akan melatih para guru untuk meningkatkan kompetensi mengajar, kualitas, dan bidang studi pengajaran. Revolusi mental itu bukan difokuskan kepada anak-anak, melainkan para pendidik (ilustrasi via detik)

Terkait konsep revolusi mental, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah Anies Baswedan menyatakan revolusi mental dalam dunia pendidikan itu akan difokuskan kepada para guru. Selain guru, Anies juga menilai perlunya jajaran birokrat di kementeriannya untuk mendapat pencerahan revolusi mental.”Yang harus direvolusi mental adalah pendidiknya. Bukan anak yang menjadi fokus, melainkan gurunya. Saya melihat dalam konteks pendidikan, jangan lihat anak-anak kita sebagai botol yang harus diisi sehingga harus diisi materi sebanyak-banyaknya,” kata Anies yang SekolahDasar.Net kutip dari Kompas (12/11/2014).

Menurut Anies proses belajar anak tidak bisa disamakan dengan berlari sprint. Penggagas gerakan Indonesia Mengajar ini menganalogikan proses belajar mereka seperti berlari maraton yang stabil dan berkelanjutan. Belajar harus menyenangkan, jangan sampai anak menjadi lelah dalam proses belajar dan merasa bersekolah itu adalah beban.

Struktur birokrasi di kementerian yang dipimpinnya saat ini juga dinilai terlalu gemuk, kerja yang tidak efektif, serta program tanpa berorientasi hasil. Itu akan menjadi materi evaluasi yang akan dilakukan Anies. Menurut dia, semua aparat di kementerian harus sadar akan tugasnya untuk membentuk masa depan bangsa Indonesia.

“Saya perhatikan, mereka melaporkan apa yang sudah dikerjakan. Hasilnya apa? Biasanya karena penyerapan, maka laporannya pun sebatas apa yang sudah dikerjakan. Saya berharap setelah ini orang akan berpikir dua kali atas apa yang dikerjakannya di kementerian,” kata Anies.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2014/11/anies-yang-harus-direvolusi-mental-adalah-guru.html#ixzz44DCCQZ5p

 

download Juknis Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya+Lampiran Lengkap

1.Lamp I-baru

2.Lampiran II A-IIC-BARU

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT IIA-IIC

3.lamp.3 PETUNJUK PENGISIAN

   FORMAT lamp 3

4.CONTOH lampiran 4

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 4

5.CONTOH lamp 5

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 5

6.CONTOH lamp 6

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 6

7.CONTOH lamp 7

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 7

8.CONTOH lamp 8

  PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 8

9.CONTOH lamp 9

   PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 9

10.CONTOH lamp 11

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 11

11.CONTOH lamp 10 PETUNJUK PENGISIAN FORMAT lamp 10

12.Lamp XII-BARU

13.LAMP XIII A- G PROGRAM PENGAWASAN

14.lamp XIV A- C PELAPORAN KEPENGAWASAN

15.lamp XV Penyampaian Penetapan Angka Kredit

16.lampiran XVI INSTRUMEN PEMBINAAN PEMBINAAN

17.LAMPIRAN XVII INSTRUMEN PEMANTAUAN 8 SNP

18.LAMPIRAN XVIII INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA merlyn

19.LAMPIRAN XVIII INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA_

LAMPIRAN XVIII INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA_

LAMPIRAN XIX PEMBERIAN ANGKA KREDIT SUB BUTIR

LAMPIRAN XIX PEMBERIAN ANGKA KREDIT SUB BUTIR

LAMPIRAN XVII INSTRUMEN PEMANTAUAN 8 SNP

semoga bermnfaat.amin

551265_774071445953803_948734511_n 578552_732675346760080_961427029_n 1003068_784240368270244_595244799_n 1511556_963280650366214_2250321897337533592_o 1518900_859547144072899_6549353813913003761_o 1529718_770232666337681_458525195_o 1540340_807792042581743_980190406_o 1601241_778114845549463_2143237082_n 1621918_774072052620409_1211239993_n 1655658_963400127020933_2318845146963021475_o 1782266_842383295789284_6724216203536209203_o 1799926_874123892615224_2440396209264863673_o 1800435_929982777029335_732266687539284075_n 10005994_805630596131221_445616865_o 10256875_852506948110252_2720483419490398583_o 10258861_818871554807125_3968035024800043978_o 10259726_819343288093285_142343080719776986_n 10295448_859597777401169_2990527418930712537_o 10295515_842374875790126_366652803247660619_o 10298202_858833487477598_96179053405058371_o 10308263_844373672256913_3186994849391556076_n 10321110_851159044911709_758630273905341556_o 10321555_858866084141005_4266217486180171793_o 10321778_10202112515514694_1080183651736273010_o 10329946_864512300243050_663179623168260016_o 10338551_851160331578247_1395137556981285906_o 10338608_858960130798267_6884219882094905830_o 10348788_852484091445871_7039030994762315779_o 10372836_852511368109810_2831946243040703540_o 10380049_842385969122350_7079277984009355715_o 10380096_963387773688835_8288560348365931899_o 10380160_853015888059358_4641709190746234147_o 10380669_862718760422404_6824416915321167109_o 10383724_853018938059053_8619829713047001639_o 10387068_901886809838932_617054634338612142_o 10403747_853202904707323_8858476239539371219_o 10404000_867476876613259_5437230656826522311_o 10407807_873449489349331_296651775744910293_n 10428192_858257854201828_7200132362158441034_o 10428260_857548197606127_4298609028369524491_o 10428714_815541831842010_8174315961974675249_n 10450054_875236232503990_344626482979555607_o 10453028_859925527368394_5623927024202560084_o 10479883_859596734067940_9130180067276276438_o 10489719_880538478640432_6021906206922728890_n 10494952_861377560556524_1058689123346150112_o 10496202_872938036067143_1726516226963625284_o 10497171_867454549948825_7461526488264336117_o 10497876_864508840243396_792476543709985073_o 10498091_885138321513781_5608011458113063471_o 10550993_893476210679992_3605160774498313373_n 10551532_903509046343375_1117353522175966974_o 10600380_893475767346703_3432443334600655928_n 10620139_961188653908747_1669167800274634923_o 10628544_912435198784093_7053789193366909041_n 10633498_961188113908801_4216985182232062537_o 10644239_924658087561804_4525610772286597143_o 10661744_924648060896140_7817234260364848002_o 10669033_965869956773950_221252458366976180_o 10694362_925836264110653_184426565494741365_o 10704427_960341407326805_5736022024245266851_o 10887343_979115652116047_1859478294071147673_o

 

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS SEKOLAH DAN ANGKA KREDITNYA

format-permendikbud-no-143-th-2014-tentang-pengawas-sekolah-dan-angka-kreditnya

permendikbud-no-143-th-2014-tentang-pengawas-sekolah-dan-angka-kreditnya

permendikbud-no-143-th-2014-tentang-pengawas-sekolah-dan-angka-kreditnya

pedoman Standar Nasional Pendidikan

A. Rasional
Penjaminan mutu pendidikan adalah serentetan proses dalam sistem yang saling berkaitan untuk mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan data tentang program atau kegiatan pendidikan dalam mencapai mutu pendidikan. Proses penjaminan mutu diawali dari mengidentifikasi aspek pencapaian dan prioritas peningkatan, penyediaan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan serta membantu membangun budaya peningkatan mutu berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah dikaji berdasarkan delapan standar nasional pendidikan dari Badan Standar nasional Pendidikan (BSNP).Penjaminan mutu secara langsung tentu saja memiliki kontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah di Indonesia berkaitan dengan tiga aspek utama yaitu: (1) pengkajian mutu pendidikan, (2) analisis dan pelaporan mutu pendidikan, dan (3) peningkatan mutu dan penumbuhan budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan. Khususnya pada aspek pertama, secara sederhana diartikan bahwa dalam aspek pengkajian mutu pendidikan didalamnya perlu ada pemetaan dan penetapan langkah yang perlu dilakukan untuk pencapaian mutu. Kegiatan pemetaan salah satunya melalui Evaluasi Diri Sekolah (EDS) dan instrumen lain yang dapat menambah informasi tentang profil sekolah. Adapun kegiatan penetapan langkah pencapaian mutu adalah rencana sistematis, rasional, dan terukur serta dirumuskan oleh satuan pendidikan untuk memenuhi pencapaian mutu pendidikan.
Untuk mencapai mutu, ternyata tidak setiap satuan pendidikan mampu melakukannya. Banyak faktor yang menjadi kendala dan penghambat sehingga mereka tidak mampu melakukannya. Berdasarkan hasil penelitian secara mendalam, salah satu sebabnya adalah karena budayapenjaminan mutu di satuan pendidikan relatif sangat lemah. Secara operasional, jika ingin membina budaya penjaminan mutu di setiap satuan pendidikan maka dipandang perlu memberi petunjuk atau panduan pencapaian mutu yang lebih rinci yaitu berdasarkan pada pencapaian setiap komponen Standar NasionalPendidikan (SNP).
Hasil riset menunjukkan bahwa sekolah dan madrasah merupakan pihak yang memberikan kontribusi terbesar terhadap proses dan hasil penjaminan mutu dan peningkatan mutu pendidikan, sedangkanmasyarakat, penyelenggara pendidikan, dan pemerintah daerah memberikan fasilitasi dalam pelaksanaan penjaminan mutu tersebut. Oleh karena itu, sekolah dan madrasah perlu diberdayakan dan didukung dalam usahanya menciptakan budaya mutu. Pihak masyarakat perlu didorong agar secara aktif mendukung program sekolah dan madrasah. Adapun pihak pemerintah daerah perlu ditingkatkan upaya koordinasinya agar mereka menyusun program dan penganggaran penjaminan mutu sebagai prioritas utamanya.

B. Tujuan
Tujuan umum penyusunan pedoman pemenuhan SNP pada satuan pendidikan ini adalah untuk memberikan acuan bagi satuan pendidikan dalam melaksanakan penjaminan mutu pendidikan secara sinergis dan berkelanjutan melalui pemenuhan SNP oleh satuan pendidikan.
Secara khusus pedoman ini bertujuan untuk:
1. memberi penjelasan tentang indikator esensial pada delapan Standar Nasional Pendidikan yang diuraikan berdasarkan argumentasi perlunya pemenuhan indikator esensial, langkah pemenuhannya, waktu dan durasi implementasi pemenuhannya, dan hasil yang dapat diukur.
2. mengatur peran dan tanggung jawab setiap unsur organisasi pada satuan pendidikan dan pihak terkait lainnya untuk mencapai mutu pendidikan berdasarkan acuan mutu delapan Standar Nasional Pendidikan.
3. memberi petunjuk pengelolaan dan koordinasi penjaminan mutu pendidikan yang diawali dari pemetaan mutu pendidikan dengan berbagai penggunaan instrumen, pemenuhan standar yang mengacu pada SNP atau Standar mutu pendidikan di atas SNP, serta evaluasi mutu pendidikan.

C. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301),
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496),
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 TentangStandar Isi (SI),
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah, dan
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 12/2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah,
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 13/2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah,
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16/2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru,
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19/2007 Tentang Standar Pengelolaan Oleh Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah,
9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan,
10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA),
11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah,
12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah,
13. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 25/2008 Tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah,
14. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 26/ 2008 Tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah,
15. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 27/2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Konselor,
16. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan,
17. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 69 Tahun 2009 Tentang Standar Biaya Operasi Non Personalia Tahun 2009.

BAB II
ACUAN MUTU PENDIDIKAN

A. Definisi Mutu Pendidikan
Ada tiga konsep dasar yang perlu dibedakan dalam peningkatan mutu yaitu kontrol mutu (quality control), jaminan mutu (quality assurance) dan mutu terpadu (total quality). Kontrol mutu secara historis merupakan konsep mutu yang paling tua. Kegiatannya melibatkan deteksi dan eliminasi terhadap produk-produk gagal yang tidak sesuai dengan standar. Tujuannya hanya untuk menerima produk yang berhasil danmenolak produk yang gagal. Dalam dunia pendidikan, kontrol mutu diimplementasikan dengan melaksanaan ujian sumatif dan ujian akhir.Hasil ujian dapat dijadikan sebagai bahan untuk kontrol mutu.
Jaminan mutu merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan sejak awal proses produksi. Jaminan mutu dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menjamin proses produksi agar dapat menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi tertentu. Jaminan mutu adalah sebuah cara menghasilkan produk yang bebas dari cacat dan kesalahan. Lanjutan dari konsep jaminan mutu adalah Total Quality Management(TQM) yang berusaha menciptakan sebuah budaya mutu dengan cara mendorong semua anggota stafnya untuk dapat memuaskan para pelanggan. Dalam konsep TQM pelanggan adalah raja. Inilahyang merupakan pendekatan yang sangat populer termasuk dalam dunia pendidikan. Sifat TQM adalah perbaikan yang terus menerus untuk memenuhi harapan pelanggan.
Dalam TQM, mutu adalah kesesuaian fungsi dengan tujuan, kesesuaian dengan spesifikasi dan standar yang ditentukan, sesuai dengan kegunaannya, produk yang memuaskan pelanggan, sifat dan karakteristik produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.Sistem manajemen mutu pendidikan adalah suatu sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan satuan pendidikan dalam penetapan kebijakan, sasaran, rencana dan proses/prosedur mutu serta pencapaiannya secara berkelanjutan (continous improvement).
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yang berlaku saat ini bertumpu kepada tanggung jawab tiap pemangku kepentingan pendidikanuntuk menjamin dan meningkatkan mutu pendidikan.Implementasi SPMP terdiri atas rangkaian proses/tahapan yang secara siklik dimulai dari (1) pengumpulan data, (2) analisis data, (3) pelaporan/pemetaan, (4) penyusunan rekomendasi, dan (5) upaya pelaksanaan rekomendasi dalam bentuk program peningkatan mutu pendidikan. Pelaksanaan tahapan-tahapan di atas dilaksanakan secara kolaboratif antara satuan pendidikan dengan pihak-pihak lain yang terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan) yaitu penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi,dan pemerintah.
SPMP berbasis pada data dan pemetaan yang valid, akurat, dan empirik.Data yang dikumpulkan oleh sekolah dapat diperoleh dari hasil akreditasi sekolah, sertifikasi guru, ujian nasional, dan profil sekolah. Selain itu Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan instrumen implementasi SPMP yang dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan sebagai salah satu program akseleratif dalam peningkatan kualitas pengelolaan dan layanan pendidikan (Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010; Prioritas Nomor 2. Pendidikan).

B. Alur Penjaminan Mutu Pendidikan

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) merupakan alur siklus yang terpadu dan berkelanjutan. Siklus tersebut dapat menyatukan dan mengarahkan pelaksanaan penjaminan mutu secara internal dan eksternal. Adapun skema alur penjaminan mutu pendidikan adalah sebagai berikut:

Gambar: Alur Siklus Penjaminan Mutu Pendidikan

Bagan alir di atas dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Lingkaran besar merupakan siklus Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) di sekolah. Kegiatan yang esensialnya terdiri dari lima langkah yaitu pengembangan standar mutu, penetapan standar, perencanaan pemenuhan, pemenuhan standar, dan auidit/evaluasi.
2. Pada langkah pemenuhan standar, pihak sekolah tidak mampu melakukannya sendiri karena banyak komponen yang bukan merupakan kewenangannya dan perlunya ketentuan standarisasi dari pihak eksternal. Oleh karena itu dalam pemenuhan standar dan audit/evaluasi dibutuhkan pedoman pemenuhan mutu yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).
3. Pedoman pemenuhan mutu menjadi acuan dalam melakukan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah daerah (MSPD). Kerangka kegiatan MSPD juga didasarkan pada SNP dan hasil Audit/evaluasi internal pihak sekolah. Hasil MSPD dapat dijadikan peta mutu dan atau profil mutu yang dapat digunakan untuk rencana intervensi pemerintah dan pemerintah daerah.
4. Intervensi pemerintah dan pemerintah daerah meliputi semua tahapan penjaminan mutu di sekolah sebagaimana terlihat dalam lingkaran besar pada gambar di atas.
5. Ketika sinergitas kegiatan penjaminan mutu telah dilakukan oleh sekolah di satu sisi dan intervensi pemerintah di pihak lain, maka pada dasarnya sekolah layak mendapat status terakreditasi.

C. Standar Nasional Pendidikan sebagai Acuan Mutu Pendidikan
Acuan mutu yang digunakan untuk pencapaian atau pemenuhan mutu pendidikan pada satuan pendidikan adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan standar-standar lain yang disepakati oleh kelompok masyarakat. Standar nasional pendidikan adalah standar yang dibuat oleh pemerintah, sedangkan standar lain adalah standar yang dibuat oleh satuan pendidikan dan/atau lembaga lain yang dijadikan acuan oleh satuan pendidikan. Standar-standar lain yang disepakati oleh kelompok masyarakat digunakan setelah SNP dipenuhi oleh satuan pendidikan sesuai dengan kekhasan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
SNP sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan peraturan perundangan lain yang relevan yaitu kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. SNP dipenuhi oleh satuan atau program pendidikan dan penyelenggara satuan atau program pendidikan secara sistematis dan bertahap dalam kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan.
Terdapat delapan SNP yaitu:
1. Standar Isi
2. Standar Proses
3. Standar Kompetensi Lulusan
4. Standar Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
5. Standar Sarana dan Prasarana
6. Standar Pengelolaan
7. Standar Pembiayaan
8. Standar Penilaian

Delapan SNP di atas memiliki keterkaitan satu sama lain dan sebagian standar menjadi prasyarat bagi pemenuhan standar yang lainnya. Dalam kerangka sistem, komponen input sistem pemenuhan SNP adalah Standar Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana (Sarpras), dan Standar Pembiayaan. Bagian yang termasuk pada komponen proses adalah Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Evaluasi, sedangkan bagian yang termasuk pada komponen output adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Berikut ini disajikan kaitan antara SNP.

PTK_Prof_Dr_SuwarsihMadya

pedoman-pemenuhan-snp-smp

pemenuhan-snp-sd

pedoman-pemenuhan-snp-sma

pedoman-pemenuhan-snp-smk

PENELITIAN_TINDAKAN_KELAS

Membuat_Laporan_PTK

_Dikti Makalah_PTK

MacamIsiKTI

Leaflet_Blockgrant

_PTK_PMPTK_2006

11 Proposal PTK

12 Laporan PTK

AlasanPenolakan

AngkaKredit Bahasa_dalam_KTI

06 Metodologi Penelitian

07 Model_PTK

08 Analisis Data

09 Validitas_PTK

10 Hasil Penelitian

05 Landasan Teori

04 Identifikasi Masalah

03 Judul Penelitian

02 PTK vs Non PTK 01 Tentang_PTK

00 All PTK sil17

RRPBerkarakterBiologiXII-1

RRPBerkarakterBiologiXI-1 RRPBerkarakterBiologiX-1 RPPGeografiBerkarakterSMAXII-1 RPPKimiaSMABerkarakterX-1 RPPKimiaSMABerkarakterXII-1 RPPSejarahSMABerkaraterX-1 RPPSejarahSMABerkaraterXI-1 RPPBerkarakterEkonomiSMAXI-1 RPPBerkarakterSMAB.IndoX-1 RPPBerkarakterEkonomiSMAXII-1 RPPGeografiBerkarakterSMAX-1 RPPGeografiBerkarakterSMAXI-1 RPPBerkarakterEkonomiSMAX-2 RPPBahasaIndonesiaBerkarakterSMPKelasVIIIsms1 rpp IPS RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN uu_23_tahun_2014 imagesD

mengimplementasikan pembelajaran matematika yang berorientasi pada pandangan realistik untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa melalui Pendidikan Matematika Realistik (PMR).

BAB I PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang belajar lazimnya diperoleh dengan mengamati tingkah laku seseorang atau kelompok orang yang melakukan suatu tugas belajar, pengamatan tersebut dilakukan berulang kali pada kondisi tertentu. Dari hasil pengamatan tersebut dihasilkan prinsip-prinsip belajar yang dapat diuji.
Prinsip – prinsip ini melahirkan sekumpulan pengetahuan tentang belajar yang terus meningkat baik kedalamnya maupun ketelitiannya. Dari prinsp-prinsip yang diperoleh dengan cara demikian dapat disusun suatu teori belajar. Karena situasi belajar mengajar dikelas itu beraneka ragam.
Belajar itu merupakan suatu proses yang memungkinkan seseorang untuk mengubah tingkah lakunya cukup cepat dan perubahan tersebut bersifat relatif tetap, sehingga perubahan serupa tidak perlu terjadi berulang kali setiap menghadapi situasi yang baru (Gagne, 1975).
Belajar merupakan inti dari kegiatan disekolah. Dalam kegiatan pembelajaran guru dihadapkan pada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Guru berkewajiban untuk membantu mengatasi dengan cara memberikan bimbingan sesuai dengan kesulitan yang dialami siswa.
Permasalahan yang akan penulis kembangkan dalam penelitian ini adalah bagaimana mengimplementasikan pembelajaran matematika yang berorientasi pada pandangan realistik untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa melalui Pendidikan Matematika Realistik (PMR).

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pendidikan Matematika Realistik (PMR) mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan sehari- hari. Matematika sebagai aktivitas manusia maksudnya, manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika.
Menurut Treffers (1991) ada dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horisontal dan matematisasi vertikal. Dalam matematisasi horisontal siswa menggunakan matematika untuk mengorganisasikan dan menyelesaikan masalah yang ada pada situasi nyata. Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualisasi masalah dalam cara-cara yang berbeda, merumuskan masalah dalam kehidupan sehari-hari ke dalam bentuk matematika. Sedangkan matematisasi vertikal berkaitan dengan proses pengorganisasian kembali pengetahuan yang telah diperoleh dalam simbol-simbol matematika yang lebih abstrak.
Dalam RME kedua matematisasi horisontal dan vertikal digunakan dalam proses belajar mengajar. Treffers (1991) mengklasifikasikan empat pendekatan pembelajaran matematika yaitu: mekanistik, emperistik, strukturalis, dan realistik. Mekanistik lebih memfokuskan pada drill, emperistik lebih memfokuskan matematisasi horisontal, strukturalis lebih menekankan pada matematisasi horisontal dan vertikal, dan disampaikan secara terpadu pada siswa.
Berikut ini adalah hasil penelitian yang relevan dengan PMR. Berdasarkan hasil penelitian Ashlock (1994) menunjukkan terdapat beberapa pola kesalahan menentukan relasi antara dua pecahan, dan juga pola kesalahan penjumlahan pecahan.
Hasil penelitian Fauzan Ahmad terhadap kelas IV SD yang diajar menggunakan perangkat pembelajaran RME mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memecahkan contextual problem topik “luas dan keliling”

dibandingkan dengan siswa kelas V yang diajar dengan metode tradisional. (Fauzan Ahmad, 2001)
Dari hasil penelitian Nurhaiki (2002) menunjukkan bahwa dengan menggunakan perangkat pembelajaran PMR dapat meningkatkan minat siswa belajar matematika, hal ini dapat dilihat dari sikap siswa selama mengikuti pelajaran matematika. kehidupan siswa sehari-hari yaitu buah timun yang mudah diiris. Selain benda-benda nyata juga disiapkan model-model dari kertas berwama-warni yang berbentuk lingkaran, segitiga, persegi dan persegi panjang. Dengan menggunakan alat peraga ini akan disusun suatu permainan menggunting dan menempel sehingga siswa akan memahami konsep pecahan, pecahan bernilai sama, pecahan yang lebih besar atau lebih kecil. Pelajaran dilanjutkan dengan menggunakan model dan menggunakan garis bilangan. Setiap akhir kegiatan siswa diberi soal tes untuk mengukur seberapa jauh penguasaan siswa.
Dengan mendapatkan pengalaman belajar langsung diharapkan siswa dapat mentransfer hasil belajarnya ke dalam situasi yang abstrak. Secara keseluruhan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengajaran serupa.

BAB III

PERENCANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Identifikasi Masalah

Pokok bahasan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah pecahan yang diajarkan di kelas III. Berdasarkan hasil pengamatan dengan teman sejawat tentang kesalahan yang dilakukan siswa, siswa sering melakukan kesalahan pada waktu membandingkan pecahan misalnya untuk pecahan yang pembilangnya sama penyebutnya berbeda, siswa mengatakan pecahan yang penyebutnya lebih besar adalah yang lebih besar, contohnya seperempat lebih dari sepertiga. Kesalahan lain yaitu pada waktu menjumlahkan pecahan, pembilang ditambah pembilang penyebut ditambah dengan penyebut. Kesalahan ini sering kali terbawa siswa sampai tingkat yang lebih tinggi. Untuk mengajarkan pecahan guru mengajar dengan cara mengikuti langkah-langkah yang ada pada buku paket yang digunakan, pengenalan pecahan dengan menggunakan gambar-gambar yang ada pada buku paket, untuk menyatakan pecahan yang benilai sama digunakan aturan kalikan pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama. Pada waktu guru bertanya pada siswa, “Apakah kalian sudah mengerti?”, siswa biasanya raenjawab “Sudah!”. Tetapi pada waktu guru menanyakan pada siswa bagaimana menunjukkan bahwa siswa menunjukkan setengah sama dua perempat siswa menjadi bingung.
Dari ilustrasi ini menunjukkan bahwa siswa mendapatkan pemahaman pecahan tidak secara konseptual tetapi secara prosedural. Siswa hanya bisa menyatakan pecahan yang pembilangnya sama yang penyebutnya lebih besar berarti pecahan tersebut nilainya lebih kecil tetapi tidak dapat mengatakan alasannya atau memberi contoh. Demikian juga untuk menjumlahkan pecahan, penyebutnya harus disamakan, kemudian pembilangnya dijumlahkan tanpa memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri aturannya.
Dalam salah satu bukunya Mitzel mengatakan bahwa hasil belajar siswa secara langsung dipengaruhi oleh pengalaman siswa dan faktor internal. Bila guru memberikan pengalaman yang bennakna bagi siswa, maka siswa akan mendapatkan suatu pengertian. Mengembangkan suatu pengertian merupakan tujuan pengajaran matematika. (Mitzel, 1982)
Sebelum masuk sekolah, pada umumnya siswa telah mengenal ide-ide matematika. Melalui pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari mereka mengembangkan ide-ide yang lebih kompleks, misalnya tentang bilangan, pola bentuk, ukuran dan sebagainya. Pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih bermakna apabila guru mengkaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa. Misalnya pemahaman pecahan, siswa mendapatkan pengalaman berbagi kue dengan saudaranya.
Pembelajaran dengan PMR memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika berdasarkan masalah realistik yang diberikan oleh guru. Situasi realistik dalam belajar memungkinkan siswa menggunakan pengetahuan informal mereka untuk menyelesaikan masalah.
Pembelajaran ini pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970. Teori ini mengacu pada asumsi bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan situasi sehari- hari. Selain itu, anak harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. (Gravemeijer, 1994)
Dari pendapat para ahli ini dapat menepis anggapan bahwa untuk mengajarkan matematika dengan baik memerlukan biaya yang mahal, padahal apabila guru dapat mengoptimalkan pengalaman belajar yang dimiliki siswa dan kehidupan sehari-hari, diharapkan siswa dapat memperoleh transfer belajar yang lebih baik. Matematika realistik ini tidak hanya dapat digunakan di kota-kota besar saja tetapi juga dapat diajarkan di tempat-tempat terpencil.
Dari uraian di atas maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian Tindakan kelas ini dengan judul “Penerapan Pendidikan Matematika Realistik pada Pokok Bahasan Pecahan Bagi Siswa Kelas III SDN 1 Gendoh Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang disajikan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1) Bagaimana penerapan model pengajaran matematika realistik untuk pokok bahasan pecahan bagi siswa kelas III SDN 1 Gendoh Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi.
2) Sejauhmana penggunaan model pembelajaran matematika yang berorientasi pada pendekatan realistik dapat meningkatkan pemahaman pecahan bagi siswa kelas III SDN 1 Gendoh Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi.

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, maka penulis merumuskan tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1) Menerapkan pembelajaran matematika yang berorientasi pada pendekatan realistik untuk pokok bahasan pecahan di kelas III SDN
1 Gendoh Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi

2) Ingin mengetahui sejauhmana penerapan pembelajaran matematika yang berorientasi pada pendekatan realistik dapat meningkatkan pemahaman matematika siswa khususnya untuk pokok bahasan pecahan di kelas III SDN 1 Gendoh Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk berbagai pihak yang terkait. Secara khusus penelitian ini dapat berguna untuk pihak-pihak sebagai berikut:
1) Bagi Pengembangan ilmu Pengetahuan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan bacaan dan pedoman bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan lebih lanjut sehingga dapat menemukan hal-hal yang baru.

2) Bagi Lembaga Pendidikan

Penelitian ini dapat berguna bagi sekolah tempat penelitian sebagai berikut:

 Memberikan wawasan kepada guru bagaimana mengembangkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan penguasaan matematika siswa.
 Dari hasil penelitian ini dapat dikembangkan bentuk pengabdian pada masyarakat terhadap guru, terutama guru SDN 1 Gendoh bagaimana mengajarkan matematika dengan menggunakan pendekatan PMR, yang sesuai dengan kurikulum yang sedang dikembangkan sekarang yaitu kurikulum kompetensi

3) Bagi Peneliti

Dengan adanya penelitian ini maka penulis memperoleh pengalaman mengembangkan model pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan latar belakang pengalaman realistik yang dimiliki siswa.

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian : Di kelas III

Tempat : SDN 1 Gendoh, Kecamatan Sempu

Mata pelajaran : Matematika

Jumlah siswa : 28 siswa terdiri dari 14 laki-laki dan 14 perempuan

Tempat duduk : 1 bangku 2 orang

Jadwal perbaikan per silkus mata pelajaran Matematika.

No Tanggal Pelaksanaan Mata pelajaran Siklus Keterangan
1. 06 Mei 2008 Matematika I Eksak
2. 02 Juni 2008 Matematika II Eksak
B. Prosedur Kerja dalam Penelitian Tindakan

Prosedur kerja dalam penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap kegiatan yaitu:
Siklus I

1) Penyusunan Rencana Tindakan I

Pada tahap ini guru menyusun rencana pembelajaran berdasarkan pokok bahasan yang akan diajarkan meliputi merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun langkah-langkah pembelajaran, merencanakan alat peraga apa yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan.
2) Pemberian Tindakan 1

Guru melaksanakan pengajaran dengan menggunakan alat peraga sesuai dengan rencana yang telah disepakati. Siswa dibentuk kelompok-ketompok kecil yang masing-masing kelompok diberi sekumpulan alat peraga yang berupa kertas yang dipotong sesuai dengan pola yang ada kemudian ditempelkan pada selembar kertas, sedemikian sehingga siswa mendapat pemahaman sendiri

tentang konsep pecahan, pecahan senilai dengan menggunakan alat peraga yang telah diadakan. Setelah selesai dengan kegiatan 1, guru mengganti alat peraganya dengan alai peraga Iain berupa model pecahan berbentuk lingkaran, persegi panjang, kemudian guru memberikan pertanyaan dan tugas-tugas yang serupa dengan kegiatan pertama. Adapun pertanyaan yang diajukan misalnya jika ayah membagi buah untuk kamu dan adikmu masing-masing mendapat bagian yang sama, berapa bagian masing – masing? Siswa diminta membagi buah timun atau benda-benda yang lain dengan leman-temannya. Untuk pertanyaan-pertanyaan awal guru mengkaitkan dengan pengalaman nyata yang pernah dimiliki siswa. Kegiatan berikutnya melakukan kegiatan bagaimana menuliskan lambang pecahan dengan menggunakan model atau permainan kemudian dengan menggunakan garis bilangan.
3) Melakukan Pengamatan

Pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan observasi dan mencatat kejadian-kejadian yang terjadi yang nantinya dapat bemnanfaat untuk pengambilan keputusan apakah guru dapat menggunakan kali mat dengan tepat atau perlu diadakan perbaikan. Apakah tugas-tugas dan pertanyaan yang
diajukan guru sudah mencerminkan pcmbelajaran realistik dan Iain-lain.

4) Refleksi

Dari hasil observasi, dilakukan analisis pada tindakan I kemudian dilanjutkan dengan refleksi. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dilakukan bersama- sama ini, dipertimbangkan apakah perlu dilakukan tindakan II terhadap permasalahan-permasalahan yang masih ada.

Siklus II

1). Penyusunan Rencana Tindakan II

Rencana tindakan II disusun berdasarkan hasil analisis dan refleksi selama tahap pertama dilaksanakan
2) Pemberian Tindakan II

Tindakan II ini dilakukan apabila masih terdapat permasalahan-permasalahan yang lain yang terjadi pada tahap pertama. Dalam tindakan ini diharapkan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada guru dan siswa dapat diatasi.
3) Melakukan Observasi

Peneliti mengamati dan membuat catatan-catatan sebagaimana pada tahap pertama berlangsung.
4) Refleksi

Pada akhir tindakan II peneiiti meiakukan analisis dan refleksi terhadap kegiatan yang dilakukan. Dari hasil analisis dan refleksi tersebut maka peneliti menarik kesimpulan dan saran dari seluruh kegiatan yang dilakukan pada tahap kedua.

C. Hal-hal yang Unik

Ada ha-hal unik muncul pada saat pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan antara lain:
1. Perubahan suasana kelas dari yang biasanya agak ramai menjadi tenang karena perhatian siswa tertuju kepada kehadiran teman sejawat yang duduk dibangku kelas.
2. Siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran ini karena mereka melaporkan kegiatan yang mereka alami di lingkungan rumah.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus I

Persiapan Penelitian

Sebelum membuat persiapan pembelajaran, terlebih dahulu guru diperkenalkan mengenai apa yang dimaksud dengan Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Secara bersania-sama guru dan peneliti membuat rencana pembelajaran meliputi merumuskan tujuan, mempersiapkan alat peraga berupa benda kongkrit yaitu mentimun, alat peraga untuk mengenalkan pecahan berupa lingkaran dan persegi panjang, mempersiapkan Iangkah-langkah pembelajaran, Jan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa.
Sebelum melaksanakan pembelajaran, peneliti melakukan observasi di kelas pada waktu guru mengajar matematika.. Hal ini dilakukan untuk lebih mengakrabkan diri dengan siswa. Ternyata tidak merasa asing dengan peneliti karena selain sering bertemu dengan siswa peneliti juga merupakan salah satu guru di SDN 1 Gendoh Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi. Tugas-tugas yang diberikan pada siswa dapat berupa tugas kelompok maupun perorangan.

Pelaksanaan Tindakan

Tindakan ini dilakukan berdasarkan permasalahan yang sering terjadi pada siswa-siswi SDN 1 Gendoh, antara lain sebagai berikut:
2). Siswa salah memahami konsep pecahan merupakan bagian keseluruhan, dimana seharusnya keseluruhan dibagi menjadi bagian-bagian yang sama. Seperti contoh suaru benda dibagi 3 yang tidak sama, tetapi siswa mengatakan masing-masmg sepertiga.
3). Kesalahan lain menentukan relasi antara dua pecahan, misalnya sepertiga lebih besar dari setengah.
Pelaksanaan tindakan I, peneliti lakukan sebanyak 6 kali pertemuan sebagai berikut:
Pertemuan I

1). Sebagai apersepsi guru menanyakan pada siswa, apakah kamu pernah berbagi kue dengan adikmu, supaya adil bagaimana cara kamu membagi? Berapa bagian untuk kamu dan berapa bagian untuk adik kamu?
2). Guru mengambil sebuah mcntimun, membaginya menjadi 2 bagian yang sama lalu bertanya kepada siswa, berapa bagian masing-masing? Ada siswa yang menjawab separo, setengah, dan seperdua. Guru mengatakan bahwa semuanya benar. Pada saat siswa. diminta untuk menuliskan pecahan setengah, ada salah satu siswa yang mcnulis dengan benar. Guru mengambil mentimun lagi untuk menunjukkan sepertiga, dan seperempat, juga lambangnya.
3). Guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil masing-masing. kelompok ± 4-5 siswa. Masing-masing kelompok mendapat satu Iembar kertas manila berwarna untuk menempel, dan kertas berwarna lain yang telah ditandai untuk dipotong. Masing-masing kelompok mendapatkan bentuk tertentu. Ada yang berbentuk lingkaran, persegi, persegi panjang, segitiga sama sisi, belah ketupat, dengan warna yang berbeda dengan kertas manila yang dipakai untuk menempel. Masing-masing kelompok rnendapat tugas menggunting sesuai dengan pola yang ada, kemudian menempelkannya pada kertas manila dan menuliskan satu bagian dari potongan kertas tersebut. Supaya tidak menimbulkan kesalahan pada siswa, pada waktu menempelkan pecahan-pea.han tersebut satu-satuan juga tetap ditempelkan juga.
4). Semua hasil pekerjaan siswa ditempel di papan tulis. Sccara bergantian siswa ke depan untuk menunjukkan pecahan yang diminta guru. Siswa diminta memberi alasan atas jawaban mereka.
Pertemuan 2

1). Siswa diajak mengulang” kembali dengan menunjukkan pecahan yang pembilangnya 1, kemudian dilanjutkan dengan pecahan yang pembilangnya bukan 1, dengan menggunakan mentimun. Mentimun dibagi menjadi 4 bagian yang sama besar, 1 bagian menunjukkan pecahan berapa? Kalau 2 bagian menunjukkan berapa? Bagaimana kalau 3 bagian? Guru

menuliskan pecahan yang telah ditunjukkan siswa, kemudian mengenalkan istilah pembilang dan penyebut.
2) Dengan menggunakan potongan kertas yang telah ditempel guru menunjukkan pecahan-pcahan yang pembilangnya tidak hanya satu saja yaitu dengan cara mengarsir bagian-bagian yang sesuai dengan pecahan tersebut
3) Dengan hasil siswa tersebut guru juga menunjukkan pecahan-pecahan dengan satuan yang berbeda bentuknya.
4) Pada akhir kegiatan siswa mengerjakan soal-soal yang diberikan guru yaitu menentukan pecahan yang mcnunjukkan soal-soal yang diarsir, dan mewarnai iaerah yang menunjukkan pecahan yang tertulis di bawah gambar yang disediakan.
Pertemuan 3

1) Sebagai bahai pelajaran guru menanyakan lagi pecahan yang ditunjukkan oleh oagian-bagian dengan menggunakan gambar. Kemudian mengulang lagi apakah siswa dapat menyebutkan pembilang dan penyebut dari suatu pecahan
2) Untuk lebibh mengetahui pemahaman siswa terhadap pecahan, guru menunjukkan gambar sebagai berikut:

Apakah masing-masing menunjukkan sepertiga, siswa diminta memberikan alasan kenapa masing-masing tidak menunjukkan sepertiga.
3) Guru meminta siswa menunjukkan pecahan sepertiga dengan cara mengarsir gambar yang ada di papan tulis.

4) Siswa dibagi menjadi kelompok-kclompok keoil, masing-masing terdiri dari

4-5 siswa. Masing-masing keiompok diberi alat pemga berupa lingkaran pecahan. Guru meminta siswa menunjukkan bilangan yang disebutkan guru dengan mengacungkan bagian dari pecahan tersebut dan menyebutkan warnanya.

5) Dengan menggunakan alat peraga, siswa diminta menunjukkan pecahan yang pembilangnya bukan satu.
6) Guru menuliskan pasangan-pasangan bilangan pecahan di papan tulis, siswa diminta untuk menunjukkan mana yang lebih besar dan mana yang lebih kecil Siswa diminta mengerjakan soal-soal mencntukan relasi antara dua pecahan, siswa dapat menggunakan alat peraga lingkaran pecahan.

7) Pada akhir kegiatan siswa mengerjakan soal-soal mencntukan reiasi antara dua pecahan dengan menggunakan gambar yang telah dilaksanakan.

Pertemuan 4

1) Dengan menggunakan model pecahan yang dibuat siswa, guru menanyakan pada siswa pecahan yang ditunjukkan oleh guru. Dengan menggunakan model tersebut siswa diminta menunjukkan relasi lebih besar (>), lebih kecil (<), atau sama dengan (=), antara dua pecahan.
2) Siswa dibagi menjadi kelomjxik-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 siswa.

Masing-masing kelompok diberi seperangkat alat peraga berupa persegi panjang yang dapat disusun sebagai berikut:

1
1
2 1
2
1/3 1/3 1/3
1/4 1/4 1/4 1/4
1/5 1/5 1/5 1/5 1/5
1/6 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10
1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12

3) Dengan menggunakan fraction strips siswa diminta menunjukkan satu dari

pecahan yang pembilangnya 1 yaitu

1 , 1/3, 3
2 4

dan seterusnya. Kemudian

diminta menunjukkan pecahan yang pembilangnya bukan satu.

4) Dari model pecahan yang berupa fraction strips guru mentransfernya dengan menempelkan. gambar garis bilangan di papan tulis, mengajak siswa. mengkorespondensikan titik pada garis bilangan dengan bilangan yang sesuai.
5) Pada akhir pembelajaran siswa diminta melengkapi garis bilangan dengan menuliskan bilangan pada tempat-tempat yang dikosongkan.
6) Dengan menggunakan garis bilangan yang telah dibuat, siswa diminta menentukan relasi >, <, atau antara 2 pecahan
7) Sebagai tugas untuk dikerjakan di rumah, siswa diberi PR melengkapi garis bilangan dengan penyebut 2, 3, 4, 5, 6, 8, 10, dan 12.
Pertemuan 5

1) Siswa menunjukkan PR kepada guru untuk diperiksa, peneliti membantu guru untuk meneliti pekerjaan siswa tersebut
2) Pada waktu peneliti memeriksa pekerjaan siswa, guru memasang kertas manila yang menggambarkan garis bilangan.
3) Guru menuliskan di papan tulis pasangan-pasangan pecahan. Secara bergantian siswa diminta menentukan relasi antara 2 pecahan dan diminta alasannya.

4) Pada akhir pembelajaran siswa diminta menentukan relasi antara dua bilangan dengan menggunakan garis bilangan

Hasil Pengamatan Pertemuan I

1). Pada saat guru mengambil dan mernotong buah mentimun menjadi 2 bagian yang kemudian mengajukan pertanyaan kepada siswa, berapa bagian masing-masing buah yang dipotong. Banyak siswa yang berebutan untuk menjawab. Dari mereka ada yang menjawab separo, setengah dan seperdua. Begitulah pula halnya pada saat guru meminta untuk menuliskannya di papan tulis.
2). Pada saat siswa menggunting kertas yang kemudian diminta untuk menempelkan pada kertas manila dengam lem, ada kelompok yang menyusun kembali dengan cepat dan ada pula yang bingung menyusun menjadi bangun seperti semula. Namun pada akhir pembelajaran semua kelompok dapat menyelesaikan dengan baik.
3). Setelah hasil karya siswa terscbut ditempe! di papan tulis semua siswa bergerombol di depan papan tulis untuk melihat hasil karya mereka.
4). Selama kegiatan pembelajaran ini berlangsung nampak siswa berperan aktif dan bersemangat mengerjakan semua kegiatan pcmbelajaran ini.
Pertemuan 2

1) Pada waktu guru menanyakan pecahan yang ditunjukkan oleh gambar dan menuliskannya di papan tulis, siswa yang ditunjuk secara acak dapat menuliskannya dengan benar
2) Siswa mewamai gambar yang menunjukkan pecahan dengan wama-wama yang disenangi oleh siswa
3) Untuk mcngambarkan pecahan yang diminta siswa mewamai daerah yang diminta dengan warn a yang tidak sama.
Pertemuan 3

1) Pada saat siswa diminta menunjukkan pecahan yang disebutkan oleh guru dengan menggunakan fraction strips, siswa yang salah cepat ketahuan karena wama yang ditunjukkan tidak sama

2) Pada saat siswa diminta untuk menentukan relasi dua pecahan, siswa yang menyusun pecahan-pecahan tersebut dengan daerah linkaran dapat menjawab dengan cepat. Hal ini berbeda dengan kelompok siswa yang tidak menyusunnya menjadi lingkaran.
3) Pada saat diminta menentukan relasi antara dua pecahan dengan gambar yang disediakan ada siswa yang melakukan kesalahan
Pertemuan 4

1) Dengan menggunakan fraction strips masing-masing kelompok mencoba menyusun pecahan sebagai berikut :

1
1
2 1
2
1/3 1/3 1/3
1/4 1/4 1/4 1/4
1/5 1/5 1/5 1/5 1/5
1/6 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10 1/10
1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12 1/12

2) Nampak ada beberapa kelompok yang berebut, masing-masing anggota kelompok mengambil model yang warnanya sama kemudian menyusunnya kembali.
3) Pada saat diminta menentukan relasi antara dua pecahan, ada siswa yang menyusunnya dengan menghimpitkan di atasnya ada pu!a yang menyusunnya dengan sejajar.
4) Untuk melengkapi pecahan yang berkorespondensi dengan titik-titik pada garis bilangan ad£ siswa yang melakukan kcsalahan dengan menuliskan penyebutnya secara berurutan, sedangkan pembilangnya tetap satu.

Pertemuan 5

1) Dari semua hasil pekerjaan siswa mengenai menggambar garis bilangan semuanya benar.
2) Pada saat siswa menentukan relasj antara 2 pecahan ada siswa yang dapat menentukan letak pecahan pada garis bilangan, tetapi bingung menentukan mana yang lebih besar (menentukan relasi antara 2 pecahan

Deskripsi dan Refleksi

Pertemuan 1

1) Dari pertanyan yang diajukan guru pada saat memotong buah menjadi 2 bagian, semua siswa menjawab dengan benar, begitu pula saat guru memotong menjadi 4-5 bagian. Siswa dapat menjawab pertanyaan guru tersebut karena siswa sudah mendapat pengalaman dari kehidupan sehari-hari mereka.
2) Apabila seorang guru matematika dapat mengkaitkan suatu konsep yang akan dipelajari siswa sesuai dengan pengalaman mereka sehari-hari, maka pelajaran yang abstrak akan mudah dipelajari dan anak-anak akan lebih tertarik pada pelajaran matematika
3) Pada saat siswa memotong-motong kertas dan menempelkan kembali pada kertas maniia. Ada siswa yang cepat menyusunnya kembali dengan cepat ada pula siswa yang Iambat dalam menyusun. Peneliti bertanya pada siswa apakah kalian pernah bermain puzzle, ternyata kelompok yang memerlukan waktu lama dalam menyusun tidak pernah bermain puzzle. Mereka tidak tahu mau diapakan potongan-potongan itu. Dari pengalaman ini sebaiknya guru memberikan penjelasan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan siswa dengan potongan tersebut sehingga potongan tersebut tidak dicerai-beraikan oleh siswa pada saat memotong.
4) Bentuk kertas yang diberikan pada siswa bermacam-macam, ada yang berbentuk persegi, persegi panjang, lingkaran, dan belah ketupat. Hal ini dilakukan agar siswa memahami jika satuannya berbeda, pecahan yang ditunjukkan juga berbeda dan tidak dapat dibandingkan. Pada saat menempel potongan pecahan pada kertas manila siswa tetap diminta untuk menyertakan

satuannya, karena dikhawatirkan untuk bentuk persegi panjang dan peresegi jika dipotong akan menjadi utuh lagi.

Pertemuan 2

1) Untuk menentukan pecahan yang pembilangnya bukan satu sisa dapat menyebutkannya dengan benar. Adapun kesalahan yang dilakukan pada waktu menyatakan pecahan yang pembilangnya bukan satu yang ditunjukkan dengan arsiran yaitu pembilangnya menunjukkan banyaknya daerah yang diarsir sedangkan penyebutnya daerah yang tidak diarsir. Padahal seharusnya penyebut adalah banyaknya potongan dari satu kesatuan.
2) Pada saat siswa diberi waktu untuk mewarnai daerah yang menunjukkan pecahan tertentu, masing-masing siswa memilih warna yang disukainya. Dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan kegiatan yang sesuai dengan kesukaan mereka akan membuat siswa menyenangi pelajaran matematika.
3) Dari hasil pekerjaan yang dilakukan oleh siswa terlihat bahwa siswa mampu menunjukkan pecahan yang diminta. Walaupun daerah yang diarsir pada masing-masing siswa tidak sama tetapi menunjukkan pecahan yang sama.

Pertemuan 3

1) Dengan menggunakan lingkaran, dapat menunjukkan bahwa pecahan merupakan bagian dari suatu keseluruhan.
2) Dalam penentuan realsi pecahan siswa yang telah menyusun pecahan tersebut menjadi daerah lingkaran. Untuk membandingkan 2 pecahan yang perbedaannya cukup besar mereka dapat membandingkan dengan melihat langsung, tetapi untuk pecahan yang besamya hampir sama mereka membandingkan dengan cara menghimpitkan bagian lingkaran yang menunjukkan dua pecahan tersebut.
3) Siswa yang menjawab salah temyata mereka terbalik dalam menuliskan > dan

<, ia mengatakan lebih besar tetapi menulisnya <. Pada saat ditanya mengapa

tigaperempat > setengah, mereka memberikan alasan “yang tiga perempat potongannya kecil-kecil dari setengah”.
4) Selain mendapatkan pengalaman yang lebih baik, pengalaman belajar ini membuat siswa senang. Hal ini terlihat dari sikap siswa pada waktu pelajaran

Pertemuan 4

1) Dengan menggunakan fraction strips dengan mudah terlihat pecahan-pecahan yang diminta guru karena model tersebut tertulis pecahan yang dimaksud.
2) Dalam menjawab pertanyaan untuk menentukan relasi 2 pecahan, siswa menjawab dengan cara menghimpitkan dan membandingkan pecahan tersebut sehingga memudahkan siswa menentukan relasi antara dua buah pecahan
3) Untuk melengkapi pecahan yang berkorespondensi dengan titik-titik pada garis bilangan ada siswa yang melakukan kesalahan dengan menuliskan
penyebutnya secara berurutan sedangkan pembilangnya tetap satu. Setelah guru meminta siswa tersebut membuat garis bilangan dengan menebali tepi fraction strips tersebut dan menuliskan pecahan di bawah titik-titik yang bersesuai jari barulah siswa tersebut mengerti. Dari hasil pengamatan ini seringkali harapan seorang guru berbeda dengan kenyataan, transfer belajar yang seharusnya terjadi tidak terjadi.
Pertemuan 5

1) Dari kesalahan siswa dalam menentukan relasi antara dua pecahan ada yang bingung menggabungkan dua garis bilangan, sehingga ia merasa kesulitan menentukan relasi dua bilangan tersebut
2) Kesalahan yang lain yaitu dalam hal menentukan tanda lebih besar dan lebih kecil.

Siklus II

Pelaksanaan siklus-2 dilakukan secara langsung pada waktu pembelajaran berlangsung ataupun setelah jam pelajaran berakhir.

1) Untuk kesalahan menentukan mana lebih besar antara tigaperempat dan setengah”.

Siswa menyatakan 1/4 < karena 3/4 kecil-kecil sambil menunjuk bagian dari tiga perempat. Kemudian guru dan peneliti meminta pada siswa untuk menggunakan fraction circle, siswa nampak terdiam sebentar kemudian menjawab tiga perempat lebih besar dari setengah. Waktu ditanyakan alasannya siswa tersebut meletakkan model yang menunjukkan tigaperempat di atas setengah. Siswa mengatakan tigaperempat lebih besar dari setengah.
2) Bagi siswa yang melakukan kesalahan terbalik tanda ( < ) dan ( > ), guru menggunakan cara “<‘ diberi j<, herarti lebih kecil dan “>” diberi tanda j> berarti lebih besar.
3) Bagi siswa yang melakukan kesalahan dengan menuliskan bilangan pada garis bilangan dengan cara pembilangnya tetap satu, tetapi penyebutnya diurutkan, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya terlihat pada gambar berikut:

Guru menggunakan fraction strips meminta siswa membuat garis bilangan yang menunjukkan satu, setengah, sepertiga, seperempat, dan seterusnya. Guru meminta siswa membandingkan dengan pekerjaan siswa semula. Dengan menggunakan fraction strips siswa diminta lagi membuat garis bilangan dan melengkapi garis bilangan dengan pecahan yang sesuai.
4) Untuk memudahkan memahami relasi dengan garis bilangan, guru mengajak siswa mengulang dengan menggunakan garis bilangan yang menggambarkan bilangan cacah sebagai berikut:

Bagaimanakah relasi 3 dan 5/ siswa menuliskan 3 < 5 pada garis bilangan 3 terletak di sebelah kiri 5 atau terletak sebelah kanan 5?.
Bagaimanakah relasi 7 dan 3?. Siswa menuliskan 7>3. pada garis bilangan 7 terletak disebelah kiri atau sebelah kanan 3?.

Dari pemahaman ini guru menanyakan pada siswa relasi dua pecahan dengan menggunakan garis bilangan apakah <, =, dan >, dengan menanyakan apakah pecahan tertentu disebelah kiri atau sebelah kanan pecahan lain.
Dengan menggunakan cara di atas permasalahan yang terjadi pada siswa dapat diatasi.
Pembahasan

Dari pembelajaran yang telah dilaksanakan ini terdapat beberapa hal penting yang diperoleh. Adapun beberapa hal yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1) dengan mengkaitkan pengalaman siswa membagi kue dengan saudaranya, dan juga pengalaman yang ditunjukkan guru dengan membagi mentimun menjadi bagian-bagian yang sama untuk menunjukkan setengah, sepertiga dan seterusnya, akan mendapat konsep pecahan dengan benar. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa waktu guru membagi mentimun menjadi 2 bagian yang tidak sama kemudian menanyakan apakah masing-masing mentimun mennjukkan setengah dengan serentak siswa menjawab bukan, karena 2 bagian tersebut tidak sama besar. Demikian juga waktu ditunjukkan daerah persegi yang dibagi menjadi 3 bagian yang tidak sama, kemudian bertanya apakah masing-masing menunjukkan sepertiga, siswa menjawab bukan, karena membaginya tidak sama. Demikian juga apabila suatu saat siswa lupa
% > 7z, guru menanyakan hagaimana kalau sebuah semangka dibagi menjadi

bagian-bagian yang sama dan jika diberikan pada 2 siswa dan diberikan pada

4 siswa, bagaimana besar mana? Siswa Iangsung meralat jawabannya

1

14 <

2
4) Dengan memberikan pengalaman belajar bermacam-macam untuk pokok bahasan pecahan ini, yaitu merupakari benda konkrit, fraction circle, fraction strips, gambar dan garis bilangan, siswa mendapatkan pemahaman pecahan

lebih baik. Siswa dapat menggunakan untuk mengorganisasikan dan menyelesaikan masalah yang ada pada situasi nyata. Hal ini sesuai dengan matematisasi horizontal. Pada tingkat yang lebih tinggi pemahaman pemahaman pecahan ini bermanfaat menyederhanakan bentuk aljabar, membuktikan keteraturan, penggeneralisasian yang sesuai dengan matematisasi vertikal. Kedua hal ini yaitu matematisasi vertikan dan matematisasi horizontal ini sesuai dengan pendekatan RME yang dikemukakan oleh Treffers (1991).
5) Dengan memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan biasanya membuat siswa antusias dan bersemangat. Hal ini dapat dilihat dan sikap siswa selama mengikuti pelajaran. Setiap akan memulai pelajaran siswa menanyakan alat peraga apa lagi yang akan digunakan.
6) Ada hal-hal yang belum dilakukan guru di sini yaitu memberikan pengalaman pada siswa untuk melakukan sendiri kegiatan membagi mentimun dengan menggunakan pisau. Hal ini tidak dilakukan guru karena ada kekhawatiran siswa tidak dapat membagi menjadi bagian-bagian yang sama, sehingga dikhawatirkan terjadi salah konsep. Demikian juga ketakutan guru jika dapat melukai siswa. Hal lain yang belum diberikan siswa adalah memberikan kesempatan pada siswa membuat garis bilangan pada kesempatan ini karena guru merasa membuat garis bilangan dan membagi menjadi bagian-bagian yang sama itu tidak mudah.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

I. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan realistik (PMR) yang digunakan untuk mengajar pecahan di kelas III SDN 1 Gendoh menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Siswa belajar pecahan dengan mengkaitkan pengalaman belajar yang diperoleh dan kehidupan sehari-hari. Guru membagi sebuah mentimun menjadi bagian-bagian yang sama untuk menunjukkan pecahan tertentu.
2) Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran realistik siswa dapat menguasai dengan baik pokok bahasan pecahan. Mereka dapat menunjukkan pecahan, pecahan senilai, menentukan relasi antara pecahan dengan menggunakan benda nyata, model, garis bilangan dan lambang bilangan secara lisan maupun tertulis yang dapat dilihat dari hasil pengamatan dan hasil evaluasi yang mencapai 80 %.

II. Saran

1. Berdasarkan hasil penelitian masih ada permasalahan yang belum tuntas, misalnya bagaimana jika siswa sendiri yang menggambar garis bilangan. Apakah satuan yang dibuat sama, apakah siswa dapat menuliskan pecahan dengan titik-titik pada garis bilangan tersebut dengan tepat. Sehingga perlu adanya penelitian lanjutan.
2. Pengalaman belajar yang diperoleh siswa melalui pendekatan PMR ini dapat digunakan pada pokok bahasan selanjutnya misalnya pada penjumlahan, pengurangan, pecahan, perkalian dan pembagian pecahan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Imron, 1990. Penelitian kualitatif dalam Bidang Ilmu-Ilmu dan
Keagamaan. Malang: Kalimasahada Press

Depdikbud. 1993. Kurikulum 1994 Sekolah Dasar (SD), GBPJ’ Mata Pelajaran
Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.
Muhajir Noeng, 1996. MetodePenelitianKualitatifYogyakaxta: Rake Sarasin. Khalid, M dan Suyati. 2003. PelajaranMatematika3A. Jakarta: Erlangga. Soedjadi, R. 2001. Pemanfaatan Realitas dan Lingkungan dalamPembelajaran
Matemnatika. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional RME di
FMIPAUNESA2001

Supardjo, 2000. PelajaranMatematikaGemarBerhitungSekolahDasar2B. Solo: Tiga Serangkai.

Treffers, A (1991). Realistic Mathematics Education in Primary School. Utrecht: CD-b Press.

Zulkardi, 2001. CASCADE-IMEI: Lingkungan Belajar Pendidikan Matematika Realistik untuk Colon Guru Matematika di Indonesia. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional RME di FMIPA UNESA 2

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

LaDIYfest Sheffield

2015 - NOW ORGANISING!

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites (& Other Stories ) by Diahann Reyes

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Whatever

DEARLY BELOVED, WE ARE GATHERED HERE TODAY TO GET THROUGH THIS THING CALLED LIFE

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

Litmus 2015

Writers on the MA Creative & Critical Writing and MA Writing for Children students at the University of Winchester share information about their writing lives. Read about our anthology, published in May 2015, the Winchester Reading Series and Winchester Writers' Festival.

Mummy Spits the Dummy

I was once a paragon of parenting. Then I had kids and ruined it.

The Wandering Nomads

Two bikes, one life, and the whole world to see

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.006 pengikut lainnya