Belajar Berbasis Masalah

Belajar berbasis masalah berakar dari pandangan John Dewey, yang menyatakan bahwa sekolah mestinya mencerminkan masyarakat yang lebih besaJ, dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Pandangan ini mengharuskan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Pembelajaran di sekolah seharusnya lebih memiliki manfaat nyata daripada abstrak. Pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik yang merupakan pilihan mereka sendiri. Visi pembelajaran yang berdaya guna atau terpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan siswa untuk menyelidiki secara pribadi masalah tersebut. Hal ini secara jelas

‘      BBM juga dikembangkan dari konsep konstruktivisme atas dasar pandangan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Piaget menegaskan bahwa anak memiliki r;;sa inyin tahl! bav.’aan dan secara tcru.s menerus bernsaha ingin memahami dunia di  sekitamya. Rasa ingin tahu ini. menurut Piaget dapat memotivasi mereka untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka mengenai lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh semakin dcwasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan bahasa dan memori, tampilan mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Sementara itu, pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka dan memotivasinya untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu.

Pandangan ini lebih lanjut mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis namun secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Menurut Piaget, pedagogi yang baik hams melibatkan anak dengan situasi-situasi di mana anak itu secara mandiri melakukan eksperimen, dalam arti mencoba segala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda. memanipulasi simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan sr’.^diri jawabannya, mencocokkan apa yang mereka temukan pada suatu saat dengan apa yang ia temukan pada saat yang lain, dan membandingkan temuannya dengan temuan anak lain (dalam Ibrahim dan Nur, 2000).

Di pihak lain. Lev Vygotsky percaya bahwa perkembangan intelektual tcrjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman ba– yang menantang uan k’;ti!:a m.Tek.i h,:rii:-iah;t until!;. rncmccahkan masalah yanu dimunculkan oleh pengalaman. Dala.’n npaya mendapalk;in pemahaman, individu men^kaitka pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya untuk membangun pengenian baru. Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada

aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan eman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

Pada   dasamya,   baik   Piaget   maupun   Vygotsky,   sama-sama mengembangkan  kontruktivisme psikologis. Namun demikiah, Piaget lebih menekankan pada kontruktivisme psikologis yang bersifat personal, sedangkan Vygotsky lebih menekankan pada kontruktivisme psikologis yang bersifat sosial.

(Supamo, 1997 : 43). Kedua konsep konstruktivisme tersebut menjadi landasan pokok model Belajar Berdasarkan Masalah.BBM juga berlandaskan pada social learning theory Albert Bandura, yang fokus pada pembelajaran dalam konteks sosial (social context). Teori ini menyatakan bahwa seseorang belajar dari orang lain, termasuk konsep dan belajar observasional, imitation, dan modeling. Prinsip umum dari social learning theory’ selengkapnya dinyatakan oleh Ormrod (1999) sebagai berikut.

General principles of social learning theory’follows:

  1. People can learn by observing the behavior is of others and the outcomes of those behaviors.
  1. Learning can occur without a change in behavior. Behaviorists say that learning has to he represented by a permanent change in behavior, in contrast social learning theorists say thai because people can leurn through observation alone, their learning may no! necessarily be shown in their performance. Learning may or may not result in a behavior change.
  1. Cognition plays a role in learning. Over the lust 30 years social learning theory has become increasingly cognitive in its interpretation of htiiniin learning.  Awareness and expectations oj  f’mnre reinforcements or piifii ‘ih.ineiUs can have n major effect iin llir behaviors thai people exhibit.
  1. Social learning theory can he considered a bridge or a transition between behaviorist learning theories and cognitive learning theories.

Belajar Berbasis Masalah didukung pula oleh teorinya Jerome Bruner yang dikenal dengan pembelajaran penemuan. Belajar penemuan ini merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami  struktur atau ide kunci dad suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktifteriibat dalam proses pembelajaran, dan    pembelajaran yang sebenamya terjadi melalui penemuan pribadi. Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk penemuan siswa. Pembelajaran penemuan diterapkan dengan menekankan penalaran induktif dan proses-proses inkuiri yang merupakan ciri dan metode ilmiah. Belajar berdasarkan masalah pada intinya adalah melakukan proses inkuiri tersebut.

Kaitan intelektual antara pembelajaran penemuan dan belajar berbasis masalah sangat jelas. Pada kedua model ini, guru menekankan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi induktif lebih ditekankan dari pada deduktif, dan siswa menentukan atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pada belajar berbasis masalah atau penemuan, guru mengajukan pertanyaan atau masalah kepada siswa dan memperbolehkan siswa untuk menemukan ide dan teori mereka sendiri.

Belajar Berbasis Masalah (BBM) memiliki nama lain yang pada dasamya twrmak-na <sama   cprvrti  PmhIpm-Ricprf  I pamino ^PRI ^   Prnhlpm-Racpd Instruction (PBI), Project-Based Teaching (Pembelajaran Proyek), Experienced Based Education (Pendidikan Berdasarkan Pengalaman), Authentic Learning (Belajar Autcntik), dan Anchored Instruction (Pembelajaran Berakar pada

Kehidupan Nyata).

Belajar Berbasis Masalah (BBM) adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah kehidupan yang bersifat tidak tentu (ill-structured), terbuka, dan mendua. Masalah yang tidak tentu adalah masalah yang kabur, tidak jelas,atau belum terdefinisikan (Fogarty, dalam Arnyana, 2004). Sedangkan Boud(1985 : 1) menyatakan bahwa Belajar berdasarkan masalah merupakan pembelajaran yang dimulai dengan penyajian masalah, yang berupa pertanyaan atau teka-teki yang dapat merangsang siswa untuk menyelesaikannya. Definisi yang hampir sama dinyatakan oleh Ibrahim dan Nur (2000 : 3), bahwa BBM terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Secara lebih spesifik, Barrows (1996 : 5) menyatakan bahwa BBM merupakan pembelajaran yang memiliki karakteristik, yakni (1) belajar berpusat pada siswa, (2) belajar terjadi dalam kelompok kecil, (3) guru berperan sebagai fasilitator atau penuntun, (4) bentuk masalah difokuskan pada pengaturan dan merangsang untuk belajar, (5) masalah merupakan saran’d untuk membangun keterampilan pemecahan masalah, (6) informasi baru diperoleh melalui self-directing learning.

Belajar Berbasis Masalah diterapkan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (Ibrahim dan Nur. 20001. Peran guru dalam pembelajaran ini adalah mcnyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi pcnyclidikan dan dialog. Lcbih penting lagi, guru melakukan scaffolding, yaitu

su;;ui kcningkii (.liikiiiigan yang memperkaya ketcrampilan dan pertumbuhan intcleklual siswa. BBM tidak terjadi tanpa guru mengembangkan lingkungan kclas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka.

Belajar berbasis masalah memiliki ciri – ciri sebagai berikut. (1)

Mengajukan pertanyaan atau masalah. BBM mengorganisasikan pertanyaan dan masalah yang sangat penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa. Masalah yang diajukan berupa situasi kehidupan nyata/autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi tersebut. (2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. (3) Penyelidikan autentik.

BBM mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian masalah secara nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis infonnasi, melakukan eksperimen (jika diperiukan),   membuat inferensi dan merumuskan simpulan sebagai solusi terhadap masalah yang diajukan. (4) Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya. BBM menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaia masalah yang mereka temukan. (5) Kerja sama. BBM juga dicirikan oleh siswa bekerja sama antara yang satu dengan lainnya dalam bentuk berpasangan .atau berkelompok (antara 4-8 siswa) dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

Dalam pembelajarannya, siswa bekerja sama antara satu dengan yang lain, untuk mengembangkan kelerampilan sosial dan keterampilan berpikir. (Ibrahim dan Nur, 2000 : 5-6).

Belajar berdasarkan niasalah tlikembanyk.in liimik mciiilianlu siswa mengembangkan kcmampuan berpikir, mcmccahkan masalah, dan kelerampilan intelektual. Di samping itu, BBM memberikan kesempatan belajar berbagai pe;-*A orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi serta menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim dan Nur, 2000). BBM dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini didukung oleh

Hastings yang mengemukakan bahwa belajar berdasarkan masalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis serta menghadapkan siswa pada latihan untuk memecahkan masalah (dalam Arnyana, 2004). Ibrahim dan Nur (2000) memberikan rasional tentang bagaimana BBM membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar pentingnya peran orang dewasa. Mereka lebih lanjut mengungkapkan bagaimana pembelaiaran di sekolah seperti yang dipahami secara tradisional, berbeda dalam empat hal penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah.

Keempat hal tersebut dipaparkan seperti berikut. (1) Pembelajaran di sekolah berpusat pada kinerja siswa secara individual, semenfara di luar sekolah keria mental mclibatkan kerja sama dengan orang lain. (2) Pembelajaran di sekolah terpusat pada proses berpikir tanpa bantuan. sementara aktivitas mental di luar sekolah selalu melibatkan alat-alat kognitif seperti kompuiei, kalkulator, dan instrumen ilmiah lainnya. (3) Pembelajaran di sekolah mengembangkan berpikir simbolik berkaitan dengan situasi hipotesis, sementara aktivitas mental di luar sekolah mengharapkan  masing-masing individu berhadapan secara langsung dengan benda dan situasi yang kongkret. (4) Pembelajaran di sekolah memusatkan pada keterampilan umum, sementara di luar sekolah memerlukan kemampuan khusus.

Belajar bcrbasis masalah biasanya terdiri dari 5 tahap yang dimulai dengan (1) orientasi siswa kepada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. (Nur, 2000 : 13; Arends, 2004 : 406). Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam 2 sampai 3 kali pertemuan. Namun untuk masalah yang kompleks Tnuogkm akan dibutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya.

Model belajar berbasis masalah, pada umumnya diterapkan pada bidang-bidangsains, untuk penerapannya pada bidang matematika, perlu adanya modifikasi. Secara garis besar kelima langkah tersebut tetap, yang perlu sedikit penyesuaian adalah pada kegiatan guru dan kegiatan siswa. Keluna tahapan tersebut secara lengkap disajikan pada tabel 3.

Tabel 2.1 Sintaks Model Belajar Berbasis Masalah

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Tahap 1 Guru menjelaskan tujuan Siswa menginveritarisasi
pembelajaran, dan mempersiapkan
Orientasi siswa
menjelaskan kebutuhan kebutuhaii yang
kepada masalah yang diperlukan, dan diperlukan dalam proses
memotivasi siswa terlibat pembelajaran. Siswa
pada aktivitas pemecnhan berada dalam kelompok
ma.saJah yang dipilihnya. yang telah ditetapkan.
Tahap 2 Guru membantu siswa Siswa membatasi
mendefinisikan dan permasalahan yang akan
Mengorganisasi siswa mengorganisasikan tugas dikaji
untuk belajar
belajar yang berl-ii;bungan
dengan masalah tersebut.
Tahap 3 Guru mendorong siswa Siswa melakukan inkuiri,
untuk mengumpulkan investigasi, dan bertanya
Membimbing
informasi yang sesuai, untuk mendapatkan
penyelidikan
untuk mendapatkan jawaban atas
individual maupun penjelasan dan permasalahan yang
kelompok
pemecahan masalah. dihadapi.
Tahap4 Guru membantu siswa Siswa menyusun laporan
dalam merencanakan dan dalam kelompok dan
Mengembangkan dan menyiapkan laporan, serta menyajikannya dihadapan
menyajikan hasil membantu siswa untuk kelas dan berdiskusi
karya
berbagi tugas dalam dalam kelas.
kelompoknya
Tahap 5 Guru membantu siswa Siswa mengikuti tes dan
untuk melakukan refleksi menyerahkan tugas-tugas
Menganalisis dan atau evaluasi terhadap sebagai bahan evaluasi
mengevaluasi proses penyelidikan mereka dan proses belajar.
pemecahan masalah
proses-proses yan^
mereka gunakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s