PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF LEARNING MELALUI SUPERVISI AKADEMIK OLEH KEPALA SEKOLAH DI SMPN 3 SATAP PAJO KABUPATEN DOMPU

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu standar yang memegang peran penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah standar pendidik dan standar kependidikan yang memegang peran strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka dibutuhkan peningkatan kualitas guru. Tenaga guru dituntut mampu menunjukkan kompetensinya sebagai guru yang profesional. Mulyasa (2003,45) mengemukakan lima kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional yaitu : (1) Penguasaan kurikulum, (2) penguasaan materi pelajaran, (3) penguasaan metode dan tehnik evaluasi, (4) komitmen terhadap tugas, dan (5) disiplin dalam arti luas.
Kompetensi guru merupakan faktor pertama yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Guru yang memiliki Kompetensi tinggi akan bersikap kreatif dan inovatif yang selamanya akan mencoba dan mencoba menerapkan berbagai penemuan baru yang dianggap lebih baik untuk pembelajaran siswa.
Kompetensi guru bukan hanya dalam tataran desain perencanaan pembelajaran, akan tetapi juga dalam proses dan evaluasi pembelajaran. Dalam aspek perencanaan misalnya, guru dituntut untuk mampu mendesain perencanaan yang memungkins secara terbuka siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya., seperti Kompetensi merumuskan tujuan pembelajaran, Kompetensi menyusun dan menyajikan materi atau pengalaman belajar siswa, Kompetensi untuk merancang desian pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, Kompetensi menentukan dan memanfaatkan media dan sumber belajar, serta Kompetensi menentukan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran.
Kompetensi dalam proses pembeklajaran berhubungan erat dengan bagaimaba cara guru mengimplementasikan perencanaan pembelajaran, yang mencakup Kompetensi menerapkan keterampilan dasar mengajar dan keterampilan mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dianggap mutakhir.Sedangkan keterampilan mengembangkan model pembelajaran seperti keterampilan proses, model pembelajaran, metode klinis, dan pendekatan pembelajaran.
Salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran adalah Pendekatan pembelajaran cooperative learning merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Guru SMP Negeri 3 Satap Pajo Kabupaten Dompu, dalam melaksanakan pembelajaran tidak banyak mendapatkan hasil yang memuaskan, dari hasil UN rata-rata yang dicapai siswa masih jauh dari yang diharapkan, nilai yang dicapai siswa hanya ( 47,06 %) yang mencapai standar KKM dengan nilai di atas 55, tentu hal ini sangat memperihatikan kita, jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka capaian mutu pendidikan di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu akan tetap ketinggalan dengan sekolah lain, baik yang ada di wilayah Kabupaten Dompu, maupun di luar Kabupaten Dompu.
Dari supervisi peneliti juga sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 3 Satap Pajo menunjukan bahwa mayoritas guru saat ini masih menggunakan cara-cara belum inovatif dalam pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab. Kelebihan dari pendekatan ini adalah dapat mengajarkan materi yang relatif banyak dalam waktu yang singkat, tetapi pembelajaran ini memperlakukan siswa hanya sebagai objek sehingga siswa cenderung pasif dan hanya menerima pengetahuan dari gurunya saja. Pembelajaran belum inovatif hanya menyajikan materi secara tekstual sehingga siswa kesulitan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dibutuhkan pembelajaran yang merangsang siswa untuk melakukan pengamatan, penyelidikan serta mengolah informasi sehingga pada akhirnya siswa dapat memahami konsep secara bermakna. Pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa dan berpusat pada siswa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran siswa”.
Salah satu proses pembelajaran yang sesuai dengan teori kontruktivis adalah pembelajaran cooperative learning.

Untuk mempermudah pemahaman siswa maka perlu dilakukan pembinaan kepada guru dengan menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan coopertive learning. Oleh karena itu penulis perlu melakukan penelitian dengan judul : “ Peningkatan Kompetensi guru menggunakan model pembelajaran cooperatif learning melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012“

B. Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada masalah yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana Peningkatan Kompetensi guru dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran cooperatif learning melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap Pajotahun pelajaran 2012?
2. Bagaimana efektivitas supervisi akademik dalam meningkatkan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012 ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Peningkatan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap Pajo Kabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.
2. Efektivitas supervisi akademik dalam meningkatkan Kompetensi guru menerapkan model pembelajaran cooperatif learning di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan refleksi dalam upaya menciptakan model pembelajaran sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.
2. Jika model pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan mutu pendidikan, maka dapat dipertimbangkan sebagai bahan uji pelatihan bagi kepala sekolah di masa mendatang.
3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan supervisi di sekolah pada umumnya, dan khususnya di SMPN 3 Satap Pajo
4. Hasil penelitian ini memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru ,dan karyawan tata usaha di sekolah, untuk dapat aktif dalam kegiatan sekolah, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan.
5. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada hasanah pengetahuan yang berkaitan dengan teori kepemimpinan/leadership terutama manajemen pendidikan.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kompetensi Guru dalam Pembelajaran
Istilah Kompetensi mengajar guru merupakan Kompetensi guru dalam menigkatkan kinerjanya melaksanakan pembelajaran di kelas. Kinerja dapat diterjemahkan dalam perfomance atau unjuk kerja, artinya Kompetensi yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya pada tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu kinerja yang esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjaan. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu perli diciptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Menurut Fattah (1996) kinerja diartikan sebagai ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan otivasi dalam menghasilkan suatu pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja seseorang yang mencerminkan prestasi kerja sebagai ungkapan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Menurut Supriadi (1998) kinerja guru akan menjadi lebih baik, bila seorang guru memiliki lima hal yakni:
1. Mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya
2. Menguasai secara mendalam bahan mata pelajaran yang akan diajarkan serta cara mengajarnya kepada siswa
3. Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi dan
4. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar serta pengalamannya.
Evaluasi kinerja guru mutlak dilakukan, karena masih terdapat banyak kinerja guru yang kurang memadai, di samping itu guru dituntut dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus berkembang pula dengan pesat. Istilah kinerja berasal dari bahasa inggris yaitu Performance, berarti hasil kena atau unjuk kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang/organisasi tertentu. Istilah kinerja dapat diterjemahkan dalam unjuk kerja, artinya Kompetensi yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya di tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu hal yang sangat esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjan. Pada hakikatnya orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan atas dorongan tertentu. Kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku, sedanghkan tujuannya berfungsi untuk menggerakkan perilaku. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu, perlu disiptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Dari pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan kinerja guru dalam penelitian ini ialah: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik, (3) penguasaan pengeloaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran, dan (6) kepribadian.
B. Pembelajaran Cooperatif Learning
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif yang dimaksud dalam penelitian mi adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan interaksi atau bekerja sama dalam mencapai tujuan berbagi informasi, mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Menurut Slavin (1997) pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode pembelajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki Kompetensi heterogen. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari materi akademik dan keterampilan antar pribadi. Setiap anggota-anggota kelompok bertanggung jawab atas ketuntasan tugas-tugas kelompok untuk mempelajari materi yang menjadi tugasnya.
2. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif
Menurut Arends (1997), pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya
b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki Kompetensi tinggi, sedang dan rendah
c) Bila memungkinkan, anggota berasal dari suku, ras budaya, jenis kelamin yang berbeda
d) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
3. Tahapan-tahapan dalam pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif dilaksanakan mengikuti langkah-langkah seperti pada tabel 2.1

B. Hakekat Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, selalu diupayakan adanya interaksi edukatif. Interaksi ini terjadi antara guru, siswa, tujuan pembelajaran, materi, metode dan media, serta evaluasi. Ini sesuai dengan pendapat Soedjadi (1991: 4) yang dituliskan sebagai berikut:
“Mutu pendidikan hanya mungkin dicapai melalui peningkatan mutu proses pendidikan yang bermuara kepada peningkatan mutu produk pendidikan. Proses pendidikan dapat berjalan bila terjadi interaksi antara elemen-elemennya, yakni (1) siswa, (2) guru, (3) sarana, dan (4) kurikulum dalam arti luas dan evaluasi hasil belajar.”

Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran matematika adalah perubahan tingkah laku yang mencapai ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Pengembangan aspek koognitif, afektif dan psikomotor dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan meningkatkan Kompetensi proses matematika yang didapat melalui aktivitas belajar (Arifin, 1995:25).
Tujuan dan fungsi pembelajaran di SMP dijabarkan dalam kurikulum 2006 Fungsi mata pelajaran yang relevan dengan penelitian ini meliputi beberapa hal berikut (Depdikbud, 1993).
1. Memberikan dasar-dasar ilmu untuk mengembangkan pengetahuan di pendidikan tinggi.
2. Mengembangkan keterampilan proses siswa dalam mempelajari konsep
3. Mengembangkan sikap ilmiah
Sesuai dengan fungsi belajar di atas, mengajarkan mata pelajaran seyogyanya mencerminkan hakikat, yakni meliputi produk, proses dan sikap. Sedangkan tujuan pembelajaran (M. Sitorus, 1995:1) dijabarkan bahwa ; “ Mata pelajaran bertujuan untuk, menjelaskan dan menggambarkan bagaimana menggunakan Standar Kompeyensi dan Komptensi Dasar “
Dengan mengkaji tujuan pembelajaran di atas, maka kegiatan pembelajaran diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif, yakni keterlibatan aktif siswa dalam menemukan sendiri pengetahuan melalui interaksinya dengan lingkungan. Untuk itu guru harus menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan siswa, yakni keterlibatan intelektual dan emosional dalam memperoleh produk, di samping keterlibatan fisik dalam proses kegiatan pembelajaran.

C. Supervisi Akademik Kepala sekolah
1. Pengertian Supervisi Akademik
Keterampilan utama dari seorang Kepala sekolah adalah melakukan penilaian dan pembinaan kepada guru untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas agar berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Untuk dapat mencapai kompetensi tersebut kepala sekolah diharapkan dapat melakukan supervisi akademik yang didasarkan pada metode dan teknik supervisi yang tepat sesuai dengan kebutuhan guru
Supervisi akademik adalah Kompetensi dalam melaksanakan supervisi akademik yakni menilai dan membina guru dalam rangka mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya, agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.
Supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh karena itu sasaran supervisi akademik adalah guru dalam proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu tujuan umum pembinaan kepala sekolah melalui supervisi akademik ini adalah (1) menerapkan teknik dan metode supervisi akademik di sekolah, dan (2) Mengembangkan Kompetensi dalam menilai dan membina guru untuk mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.
2. Sifat Sifat Supervisi Akademik
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam pembinaan supervisi akademik maka sifat sebagai seorang Kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik harus memiliki kualitas sebagai berikut: (1). Mendengarkan dengan sabar, (2). Menunjukkan ketrampilan dengan jelas, (3). Menawarkan insentif atau dorongan dengan tepat., (40. Mempertimbangkan reaksi dan pemahaman dengan tepat, (5). Menjelaskan, merangsang (stimulating) dan memuji secara simpatik dan penuh perhatian, (6). Meningkatkan pengetahuan sendiri secara berkelanjutan.
3. Tujuan Supervisi Akademik
Supervisi instruksional bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan, pengembangan, interaksi, penyelesaian masalah yang bebas kesalahan, dan sebuah komitmen untuk membangun kapasitas guru. Cogan (1973) dan Goldhammer (1969), penyusun kerangka supervisi klinis, meramalkan praktek yang akan memposisikan guru sebagai pebelajar aktif. Lebih lanjut, Cogan menegaskan bahwa guru memiliki Kompetensi menjadi penanggungjawab professional dan lebih dari pada itu ia mampu menjadi “penganalisis kinerjanya sendiri, terbuka untuk membantu orang lain, dan mengarahkan diri sendiri”. Unruh dan Turner (1970) menyatakan bahwa supervisi sebagai “sebuah proses sosial dari stimulasi, pengasuhan, dan memprediksi pengembangan professional guru” dan Kepala sekolah sebagai “ penggerak utama dalam pengembangan secara optimum kondisi pembelajaran ”. Apabila guru belajar dari memeriksa praktiknya sendiri dengan bantuan teman sejawat atau Kepala sekolah, pembelajarannya menjadi lebih personal dan oleh karena itu lebih kuat.
Maksud dari supervisi akademik/instruksional adalah formatif, sesuai dengan proses yang sedang berjalan, proses pengembangan, dengan pendekatan yang berbeda yang memungkinkan guru untuk belajar dari cara penganalisisan dan perefleksian praktik di kelas mereka dengan pendampingan kepala sekolah atau profesional lainnya (Glatthorn, 1984, 1990, Glickman, 1990).
Sebaliknya, maksud dari evaluasi adalah sumatif; pengamatan kelas dan penilaian kinerja professional lainnya mengarah pada pertimbangan final atau rating keseluruhan (mis., M=memuaskan, B= baik, PP = perlu peningkatan). McGreal (1983) memperjelas bahwa seluruh supervisi mengarah ke evaluasi dan kepala sekolah tidak dapat mengevaluasi guru sebelum mereka melakukan pengamatan terhadap guru di dalam kelasnya
Penelitian pada kebiasaan supervisi menyatakan bahwa, kebanyak sekolah mengurangi tujuan awal dari supervisi akademik/instruksional dengan menggantikannya dengan evaluasi (Sullivan & Glanz, 2000).
Maksud dari evaluasi adalah untuk melihat ketercapainya dengan ketentuan standar pendidikan nasional dan kebijakan Pemda. Menguji/menentukan nilai guru pada akhir tahun, dan dapat pula digunakan untuk menentukan apakah seorang guru layak untuk mengajar atau tidak.
Tujuan dari supervisi adalah untuk meningkatkan : (1). Interaksi tatap muka dan membangun hubungan antara guru dengan Kepala sekolah (Acheson & Gall, 1997; Bellon & Bellon, 1982; Goldhammer, 1969; McGreal, 1983); (2). Pembelajaran bagi guru , kepala sekolah dan Kepala sekolah (Mosher & Purpel, 1972) (3). Meningkatkan belajar siswa melalui peningkatan pembelajaran guru (Blumberg, 1980; Cogan, 1973; Harris, 1975) (4). Basis data untuk pengambilan keputusan (Bellon & Bellon, 1982) (5). Pengembangan kapasitas individual dan organisasi (Pajak, 1993) (6). Membangun kepercayaan pada proses, satu sama lain, dan lingkungan(Costa & Garmston, 1994), dan (7). Mengubah hasil dengan pengembangan kehidupan yang lebih baikuntuk guru dan siswa dan pembelajaran mereka (Sergiovanni & Starratt,1998).
Secara umum tujuan supervisi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran yang berdampak pada peningkatan kualitas hasil belajar peserta didik

D. Hipotesis Tindakan
Dari uraian tersebut di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kompetensi guru dalam menggunakan model pembelajaran cooperatif learning dapat ditingkatkan melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.
2. Supervisi akademik efektif dapat meningkatkan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian Tindakan

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang bertujuan untuk meningkatkan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning .Tindakan yang akan dilakukan adalah supervisi akademik terhadap guru-guru tempat peneliti menjafi kepala sekolah di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012. Jenis penelitian tindakan yang dipilih adalah jenis emansipatori. Jenis emansipatori ini dianggap paling tepat karena penelitian ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan pada sekolah tempat kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru bersedia melakukan perubahan sehingga kinerjanya sebagai pendidik akan mengalami perubahan secara meningkat.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan model Kemmis yang terdiri dari atas empat langkah, yakni: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Wardhani, 2007: 45). Model ini dipilih karena dalam mengajarkan materi pembelajaran diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan Langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksnaan tindakan, observasi, dan refleksi.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada guru SMP Negeri 3 Satap Pajo kabupaten Dompu yang berlokasi di Jalan Lintas Lakey Kec. Hu’u Kab.Dompu. Pemilihan lokasi penelitian karena sekolah tersebut merupakan sekolah tempat peneliti mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Di samping itu, hasil supervisi ditemukan kelemahan guru dalam menyusun Model pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan mulai dari bulan September minggu pertama sampai dengan minggu keempat bulan Nopember 2012 di SMPN 3 Satap Pajo, mulai dari persipan sampai dengan pembuatan laporan sesuai dengan jadwal terlampir.

C. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah Guru SMPN 3 Satap PajoKabupaten Kabupaten Dompu yang merupakan temaot peneliti bertugas sebagai guru dan sekaligus kepala sekolah tahun pelajaran 2012-2013.
D. Objek Penelitian
Dalam penelitian Tindakan Sekolah ini objek yang akan diteliti adalah Peningkatan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning melalui Supervisi Akademik di SMPN 3 Satap PajoKabupaten Dompu.
E. Rancangan Penelitian
1. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus
2. Kegiatan dilaksanakan dalam semester Ganjil tahun pelajaran 2012-2013.
3. Lama penelitian 4 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 08 Oktober sampai dengan 12 November 2012.
4. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan,(2) tindakan,(3) pengamatan,(4) refleksi.
Rancangan Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS ) menurut Kemmis dan Mc.Taggar ( Depdiknas,2000 ) adalah seperti gambar berikut

Plan

Reflective
Action / Observation

Siklus I

Recived Plan

Reflective
Action / Obesrvation

Siklus II

Recived Plan

Reflective
Action / Observation

Siklus III

Recived Plan

Gambar 3.1. Alur Penelitian Tindakan

1. Rencana ( Plan ) : adalah rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi.
2. Tindakan ( Action ) : adalah apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perbaikan,peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
3. Observasi ( Observation ) : adalah mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap guru.
4. Refleksi ( reflection ) : adalah peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari pelbagai keriteria.
5. Revisi ( recived plan ) : adalah berdasarkan dari hasil refleksi ini,peneliti melakukan revisi terhadap rencana awal.
F. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data :
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu :
a. Guru : Diperoleh data tentang peningkatan Kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran Matematika melalui model pembelajaran cooperative learning
b. Kepala sekolah : Diperoleh data tentang penerapan supervisi akademik Kepala sekolah.
2. Teknik Pengumpulan Data :
Dalam pengumpulan data teknik yang digunakan adalah menggunakan observasi dan angket.

G. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ;
1. Kuantitatif
Analisis ini akan digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan Kompetensin guru melalui supervisi akademik Kepala sekolah dengan menggunakan prosentase ( % ).
2. Kualitatif
Teknik analisis ini akan digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan.

H. Indikator Keberhasilan
Adapun indikator yang akan diteliti dalam variabel harapan terdiri dari :
1. Kompetensi meningkatkan Kompetensi guru
2. Kompetensi meningkatkan kinerja guru dalam perencaan dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah
3. Kompetensi menguasai materi oleh guru.
4. Kompetensi meningkatkan kinerja guru.
Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut :
1. Tingkat kualitas perencanaan
2. Kualitas perangkat observasi
3. Kualitas operasional tindakan
4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan
5. Kesesuaian materi pembinaan dan bimbingan yang diberikan
6. Tingkat efektifitas pelaksanaan pembinaan Kepala sekolah menerapkan pembelajaran cooperatif learning.
7. Kompetensi meningkatkan kinerja guru melalui pembinaan Kepala sekolah.
Penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan Kompetensi guru mencapai 85 % guru ( sekolah yang diteliti ) telah mencapai ketuntasan dengan nilai rata rata 75 .Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2 ,maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan sekolah yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam manajemen berbasis sekolah ( MBS ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s