PENERAPAN SUPERVISI KLINIS PENGAWAS UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU MATEMATIKA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMA BINAANKABUPATEN DOMPU TAHUN PELAJARAN 2011-2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Pandangan mengajar yang hanya sebatas menyampaikan materi ilmu pengetahuan itu, dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Mengapa demikian / minimal ada 3 alasan penting. Alasan inilah yang kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigm mengajar, dari mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.
Alasan penting yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2011;100) adalah sebagai berikut :
1. Siswa bukan orang dewasa dalam bentuk mini, tetapi mereka adalah organism yang sedang berkembang. Agar mereka dapat melaksanakantugas-tugas perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang scara optimal.
2. Ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecendrungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Begitu hebatnya perkembangan ilmu biologi, ilmu ekonomi, hukum dan lain sebagainya. Apa yang dulu pernah terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan.
3. Penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusi. Dewasa ini, anggapan manusia sebagai organisme yang pasif yang perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan seperti yang dijelaskan dalam aliran behavioristik, telah banyak ditinggalkan orang. Orang sekarang percaya, bahwa manusia adalah organism yang memiliki potensi seperti yang dikembangkan oleh aliran kognitif holistik.
Ketiga alasan di atas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan diartikan sebagai proses menyampaikan pembelajaran, atau memberikan stimulus sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi lebih dipandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sewsuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
Pengaturan lingkungan adalah proses menciptakan iklim yang baik seperti penataan lingkungan, penyediaan alat dan sumber pembelajaran, dan hal-hal lain yang memungkinkan siswa betah dan merasa senang belajr sehingga mereka dapat berkembang secara optimal sesuai dengan bakat , minat, dan potensi yang dimilikinya.
Hal ini dilakukan karena kelayakan mengajar guru tidak cukup hanya diukur berdasarkan pendidikan formal tetapi juga harus diukur berdasarkan bagaimana kemampuan guru dalam mengajar dan sesi penguasaan materi, menguasai, memilih dan menggunakan metode, media serta evaluasi pembelajaran. Sehubungan dengan hal di atas, Jiyono ( 1987 ) menyimpulkan bahwa kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran pada umumnya sangat menghawatirkan karena dari sampel guru yang diminta menunjukkan kemampuan menguasai bahan pelajaran 70 % yang kurang menguasai bahan pelajaran, sedangkan 30 % nya hanya menguasai bahan pelajaran.
Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk mengkaji dan menggali supervisi yang berkaitan dengan kemapuan guru dalam proses belajar mengajar, disebabkan oleh: (1). Adanya kecenderungan melemahnya kinerja guru di mana berdasarkan pengalaman penulis menjadi Pengawas yaitu terjadinya guru yang membolos mengajar, guru yang masuk ke kelas yang tidak tepat waktu, guru mengajar tidak mempunyai persiapan mengajar, guru tidak punya absensi siswa, (2) adanya pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh Pengawas belum dilaksanakan dengan sebaik – baiknya kepada guru. Beberapa rekan penulis yang sama – sama menjabat Pengawas mengaku kurang serius dalam melaksanakan fungsinya sebagai supervisor,(3) adanya penurunan kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas merupakan salah satu penyebab menurunnya Nilai UAN siswa di SMA Binaan Kabupaten Dompu.
Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas disebabkan oleh ketidak mampuan guru dalam melaksanakan peran dan fungsinya di sekolah.
Menjadi guru yang profesional tidak cukup dengan lamannya mereka menjadi guru, tetapi diperlukan kemampuan mengatasi masalah, dan mengembangkan, dan membuat perencanaan sekolah, akan tetapi guru yang profesional setidaknya ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu ; (1) kompetensi profesional, (2) kompetensi pedagogik, (3) kompetensi keperibadian, dan (4) kompetensi sosial. Oleh karena itu peran Pengawas dalam membina guru di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya sangat penting agar mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Sehubungan dengan hal di atas, peneliti mencoba melakukan suatu penelitian dalam upaya peningkatan kinerja guru agar capaian mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu penulis mengambil judul penelitian :” Penerapan supervisi klinis Pengawas upaya peningkatan kinerja guru Matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012 “.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang dikemukanan di atas maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Guru tidak menguasai proses pembelajaran di kelas, sehingga rendahnya mutu sekolah.
2. Adanya kecenderungan melemahnya kinerja guru yaitu terjadinya guru yang membolos mengajar, guru yang masuk ke kelas tidak tepat waktu, guru mengajar tidak mempunyai persiapan mengajar, guru tidak punya absensi siswa.
3. kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran sangat menghawatirkan karena dari sampel guru yang diminta menunjukkan kemampuan menguasai bahan pelajaran 70 % yang kurang menguasai bahan pelajaran, sedangkan 30 % nya hanya menguasai bahan pelajaran.
4. Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas disebabkan oleh ketidak mampuan guru dalam melaksanakan peran dan fungsinya di sekolah.
C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan di atas maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012 ?
2. Bagaimana efektivitas Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatkan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012 ?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ;
1. Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012.
2. Efektivitas Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatkan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian tindakan sekolah ini adalah :
1. Sebagai bahan refleksi dalam upaya peningkatan kinerja guru melalui supervisi klinis Pengawas.
2. Jika pembinaan guru melalui supervisi klinis Pengawas ini terbukti dapat meningkatkan kinerja guru, maka dapat dipertimbangkan sebagai bahan uji pelatihan bagi guru di masa mendatang.
3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan supervisi di sekolah pada umumnya, dan khususnya di SMA.
4. Hasil penelitian ini memberikan kesempatan kepada guru, dan karyawan tata usaha di sekolah, untuk dapat aktif dalam kegiatan sekolah, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Supervisi Klinis Pengawas
1. Pengertian Supervisi Klinis
Supervisi klinis yang juga disebut supervisi kelas adalah suatu bentuk bimbingan atau bantuan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhan guru melalui siklus yang sistematis untuk meningkatkan proses belajar mengajar (La Sulo, Efffendi, Gojali).
Richard Waller yang dikutip oleh J.l. Bolla (1985:3) mengatakan: “Clinical Supervision may be defines as supervision focused upon the improvement of instruction by mean of systematic cycles of planning, observationand intensive intellectual analysis of actual teaching performances in the interest of rational modification”.
Bantuan supervisor dipusatkan untuk meningkatkan pengajaran, dan siklus yang sistematis merupakan proses yang terdiri dari kegiatan perencanaan, observasi, dan analisis rasional yang intesif terhadap unjuk kerja mengajar yang ingin dimodifikasi untuk dikembangkan. Hoy dan Forsyth (1986:47) menyatakan: “In education the movement away from traditional supervision has been dramatic; in fact, the strong professional interest in practices designed to improve teaching classroom perforzance has been described as the clinical supervision”. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik suatu pengertian, bahwa supervisi klinis merupakan pendekatan supervisi hasil upaya reformasi terhadap supervisi yang tradisional. Sergiovani dan Starrat, dalam bukunya yang berjudul Supervision Human Perspectives mengemukakan: “…clinical supervision, which emphasis working with teacher about teaching in classroom as an activity distinct from general supervision”. (1979: 309).
Sargiovani dan Starrat menegaskan bahwa supervisi klinis berbeda dengan supervisi umum. Perbedaan itu dikemukakan oleh La Sulo dkk (1995). Sebagai berikut:
Tabel 2. 1. Perbedaan Supervisi Klinis dengan Supervisi Non Klinis
Aspek Supervisi Non Klinis Supervisi Klinis
a. Prakarsa dan tanggungjawab Terutama oleh supervisor Diutamakan oleh guru
b. Hubungan Supervisor-guru Hubungan atasan-bawahan yang bersifat birkratis Hubungan kolegial yang sederajat dan interaktif
c. Sifat supervisi Cenderung direktif atau otoriter Diajukan oleh guru sesuai dengan kebutuhannya
d. Sasaran supervisi Sama-sama atau sesuai dengan keingiunan supervisor
e. Ruang lingkup supervisi Umum dan luas Terbatas sesuai dengan kontrak
f. Tujuan supervisi Cenderung evaluatif Bimbingan analitik dan deskriptif
g. Peran supervisor Banyak memberi tahu dan mengarahkan Banyak bertanya untuk membantu guru menganalisis diri
h. Balikan Sama-sama atau atas kesimpulan supervisor Dengan analisis dan interaksi bersama atas data observasi sesuai kontrak

Dan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan oleh supervisor kepada guru secara kolegial dengan tujuan membantu guru dalam mengungkapkan kemampuan profesionalnya, khususnya untuk kerja mengajarnya di kelas berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif. Menurut J.l. Bolla (1985) istilah klinis menunjuk kepada unsur-unsur khusus sebagai berikut: (1) Adanya hubungan tatap muka antara supervisor dan guru dalam proses supervisi; (2) Proses supervisi difokuskan pada unjuk kerja mengajar guru di kelas; (3) data unjuk kerja mengajar diperoleh melalui observasi secara cermat; (4) Data dianalisis bersama anatar supervisor dan guru; (5) Supervisor dan guru bersama-sama menilai dan mengambil kesimpulan unjuk kerja mengajar guru; (6) Fokus observasi sesuai dengan kebutuhan dan atau permintaan guru yang bersangkutan.
Dari berbagai pendapat analisis dan uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa supervisi klinis adalah supervisi yang memiliki ciri-ciri esensial sebagai berikut: (1) Bimbingan dari supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi, sehingga prakarsa dan tanggungjawab pengembangan diri berada di tangan guru; (2) Hubungan interaksi dalam proses supervisi bersifat kolegial, sehingga intim dan terbuka; (3) Meskipun unjuk kerja mengajar guru di kelas bersifat luas dan terintegrasi, tetapi sasaran supervisi terbatas pada apa yang dikontrakkan; (4) Sasaran supervisi diajukan oleh guru, dikaji dan disepakati bersama dalam kontrak; (5) Proses supervisi klinis melalui tiga tahapan: pertemuan pendahuluan, observasi kelas, dan pertemuan balikan; (6) Instrumen observasi ditentukan bersama oleh guru dan supervisor; (7) Balikan yang objektif dan sepesifik diberikan dengan segera; (8) Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama; (9) Proses supervisi bersiklus.
2. Prinsip Prinsip Supervisi Klinis
Terdapat beberapa prinsip umum yang perlu dijadikan acuan dalam pelaksanaan supervisi klinis, agar sukses mencapai tujuannya, yakni: (1) Hubungan kolegial; (2) Demokrasi; (3) Berorientasi pada kebutuhan dan aspirasi guru; (4) Obyektif; (5) Mengutamakan prarakarsa dan tanggungjawab guru.
a) Prinsip Hubungan Kolegial
Hubungan supervisor dan guru yang kolegial, sederajat dan interaktif membuka kemungkinan tumbuhnya situasi dan iklim yang kondusif bagi terlaksananya supervisi yang kreatif dan bersifat dua arah. Hubungan antara dua tenaga profesional di mana yang satu lebih berpengalaman (supervisor) dari yang lain (guru) memungkinkan terjadinya dialog yang konstruktif dalam suasana yang intim dan keterbukaan. Kepemimpinan supervisor diterima oleh guru yang bersangkutan dengan rasa ikhlas tanpa adanya paksaan, sehingga dapat menumbuhkan motivasi guru untuk berupaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan mengajarnya. Supervisor merasa mudah, dalam memberikan bimbingan karena guru bersikap terbuka.
b) Prinsip Demokrasi
Kepemimpinan supervisor yang demokratis memberi peluang kepada guru untuk berfikir secara kreatif dan percaya diri serta obyektif rasional dalam mengambil keputusan pada saat pertemuan pendahuluan maupun pertemuan balikan, dimana guru harus mampu menganalisis data untuk kerja mengajarnya. Suasana demokratis dapat terwujud apabila kedua dengan bebas mengemukakan pendapat, tidak mendominasi pembicaraan, terbuka dalam menyampaikan dan menerima pendapat yang pada akhirnya kedua pihak mampu menghasilkan keputusan bersama.
c) Prinsip Berorientasi pada Kebutuhan dan Aspirasi Guru
Pada hakekatnya tujuan supervisi adalah membantu guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya. Bantuan supervisi dirasakan guru bermanfaat apabila proses supervisi memusatkan perhatian pada apa yang dibutuhkan oleh guru. Dengan prinsip ini guru mendorong untuk mampu menganalisis kebutuhan dan aspirasinya dalam usaha mengembangkan dirinya.
d) Prinsip Obyektif
Supervisor dan guru harus bersikap obyektif dalam mengemukakan pendapat dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, data hasil observasi yang cermat sangat diperlukan untuk dianalisis dalam menarik suatu pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang ibjektif tersebut.
e) Prinsip Mengutamakan Prarakarsa dan Tanggungjawab Guru Sendiri
Dalam tahap perencanaan, observasi dan tahap balikan, guru diberi peluang yang seluas-luasnya untuk mengambil inisiatif dan aktif berpartisipasi dalam berpendapat dan atau dalam mengambil keputusan. Dengan perlakuan yang sedemikian itu, parakarsa atau inisiatif dan tanggungjawab untuk mengembangkan kemampuan dirinya sendiri akan berkembang.
Perwujudan prinsip-prinsip tersebut dalam pelaksanaan supervisi klinis membawa implikasi bagi supervisor maupun guru.
Implikasi bagi supervisor antara lain: (1) Supervisor harus yakin bahwa guru mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya sendiri serta mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi; (2) Supervisor harus bersikap terbuka dan tanggap terhadap setiap pendapat guru; (3) Supervisor harus mampu dan mau memperlakukan guru sebagai kolega yang memerlukan bantuan profesional darinya.
Sedangkan implikasinya terhadap guru antara lain: (1) Guru mempunyai minat dan sikap mampu dan mau mengambil prakarsa dan tanggungjawab untuk mengembangkan kemampuannya sendiri; (2) Guru bersikap obyektif dan terbuka dalam menganalisis dan mengevaluasi dirinya sendiri.
Di samping itu, kedua belah pihak harus memahami konsep dasar dan prosedur supervisi klinis. Khusus bagi supervisor harus menguasai teknik-teknik supervisi dengan pendekatan supervisi klinis.
f) Tujuan Supervisi Klinis
Tujuan supevisi klinis dapat dibedakan menjadi: (1) Tujuan umum dan (2) Tujuan khusus.
(1) Tujuan Umum Supervisi Klinis
Konsep dasar dan prinsip-prinsip supervisi klinis memberi tekanan pada proses bantuan yang diberikan kepada guru atas dasar kebutuhan yang dirasakan dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Peningkatan kemampuan profesional guru tersebut dimaksudkan untuk menunjang pembaharuan pendidikan serta menanggulangi degradasi proses pendidikan di sekolah dengan memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar (proses pembelajaran) di kelas. Peningkatan kualitas mengajar guru di kelas diharapkan dapat meningkatkan proses belajar siswa, sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah dapat tercapai secara maksimal. Dengan menerapkan pendekatan supervisi klinis, supervisor diharapkan mampu membantu guru meningkatkan kemampuan profesional mengajarnya secara mandiri.
Dengan asumsi bahwa mengajar atau membelajarakan para siswa adalah suatu kegiatan yang dapat dikendalikan dan dikelola (controllable and manageable), dapat diamati (observable), dan terdiri atas kompnen-komponen kemampuan dan keterampilan mengajar yang dapat dipisah-pisahkan dan dilatihkan, maka kegiatan pokok dalam proses suipervisi klinis pada pertemuan pendahuluan, observasi, dan pertemuan balikan harus mengacu pada kegiatan belajar mengajar guru. Jadi, tujuan umum supervisi klinis pada ketiga kegiatan pokoknya adalah memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Dengan demikian pendekatan supervisi klinis merupakan suatu metode peningkatan kemampuan profesional guru yang diharapkan dapat menunjang upaya peningkatan kualitas pendidikan.
(2) Tujuan Khusus Supervisi Klinis
Tujuan umum supervisi klinis seperti yang tersebut diatas, dapat dirinci ke dalam tujuan-tujuan khusus sebagai berikut:
(a) Memberi balikan yang objektif kepada guru tentang unjuk kerja mengajarnya di kelas. Balikan tersebut merupakan cermin guru untuk memahami unjuk kerja mengajarnya baik yang positif maupun yang negatif, yang diharapkan guru menyadari kelebihan dan kekurangan unjuk kerja mengajarnya, serta mendorong guru agar berupaya menyempurnakan kekurangannya dan meningkatkan potensi yang dimiliki;
(b) Membantu guru menganalisis, mendiagnosis dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh guru;
(c) Membantu guru mengembangkan keterampilan-keterampilan mengejarnya dan menerapkan strategi pembelajaran;
(d) Membantu guru mengembangkan sikap positifnya dalam upaya megembangkan diri secara berkelanjutan dalam karir dan profesinya secara mandiri;
(e) Sebagai dasar untuk menilai kemampuan guru dalam rangka promosi jabatan atau pekerjaannya.
g) Sasaran Utama Supervisi Klinis
Sasaran utama yang harus menjadi perhatian supervisor baik pada saat guru mempersiapkan diri sebelum mengajar, pada saat mengajar, dan setelah mengajar adalah sebagai berikut:
1) Kesadaran dan Kepercayaan Guru akan Dirinya sebagai Tenaga Profesional
Kesadaran guru akan pentingnya sebagai guru, keefektifan kemampuan mengajarnya keberadaan guru dalam proses belajar-mengajar potensinya dalam mengembangkan diri, dan sebagainya merupakan faktor yang diharapkan dapat menunjang upaya peningkatan kemampuan profesional guru. Tanpa mengetahui hal-hal tersebut di atas, kiranya sukar bagi seorang guru memiliki kemauan dan kemampuan meningkatkan dirinya. Jadi, seorang guru harus berani melaksanakan self-evaluasi dalam upaya mengetahui keberadaan dirinya. Kesadaran dan kepercayaan diri muncul melalui berbagai pertanyaan seperti berikut:
(a) Bagaimana keberadaan saya sebagai seorang guru?,
(b) Bagaimana tanggapan dan perasaan siswa terhadap diri saya?,
(c) Apakah siswa dapat mempelajari apa yang saya ajarkan?,
(d) seberapa besarkah kemampuan mengajar saya?,
(e) Apakah siswa memperoleh apa yang sebenarnya mereka perlukan?,
(f) Bagaimana saya dapat mengembangkan diri saya sebagai seorang guru?
2) Keterampilan-Keterampilan Dasar Mengajar yang Diperlukan Guru
Disadari atau tidak bahwa dalam kegiatan mengajar guru memerlukan seperangat keterampilan dasar (generic skills) tertentu yang memungkinkan guru mengajar dengan baik, efektif dan dapat mencapai tujuan. Keterampilan-keterampilan dasar tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:
(a) Menggunakan Variasi Mengajar & Stimulus
Keterampilan dalam menggunakan variasi mengajar dan menggunakan stimulus, terdiri dari:
(1) Memberi penguatan (reinforcement);
(2) Variasi gaya interaksi dan pengunaan indera pandang dan dengar (variability);
(3) Menjelaskan (explaining);
(4) Membuka dan menutup pelajaran (introductory, procedures and closure).
(b) Melibatkan siswa dalam proses belajar
Keterampilan melibatkan siswa-siswa dalam proses pembelajaran, antara lain sebagai berikut:
(1) Bertanya dasar dan bertaya lanjut (basic and advanced questioning),
(2) Memimpin diskusi kelompok kecil (guilding small group discusion),
(3) Mengajar kelompok kecil (small group group instruction);
(4) Mengajar melalui penemuan siswa (discovery learning);
(5) Membantu mengembangkan kreativitas (fostering creativity).
3) Mengelola kelas dan disiplin kelas
Keterampilan melibatkan siswa-siswa dalam proses pembelajaran, antara lain sebagai berikut:
(a) Bertanya dasar dan bertanya lanjut (basic and advanced questioning),
(b) Memimpin diskusi kelompok kecil (guilding small group discusion),
(c) Mengajar kelompok kecil (small group instruction);
(d) Mengajar berdasarkan perbedaan individu (individualized instruction);
(e) Mengajar melalui penemuan siswa (discovery learning);
(f) Membantu mengembangkan kreativitas (fostering creativity).
4) Mengelola kelas dan disiplin kelas
Keterampilan mengelola kelas dan kedisiplinan kelas, antara lain sebagai berikut:
(a) Tanggap tentang tingkah laku siswa di kelas;
(b) Menanggulangi tingkah laku siswa yang deskriptif dan bersifat mengganggu.
Keterampilan-keterampilan dasar tersebut perlu dikuasai oleh guru, dan justru inilah yang dibutuhkan oleh guru dalam menunjang keberhasilan tugas mengajar mereka di kelas. Mereka juga perlu mengetahui kekuatan dan kelemahannya.
Dalam hal ini mereka memerlukan bantuan dari orang lain untuk memahami, mengamati dan menganalisis kekuatan atau kelemahan tersebut yang dapat dijadikan balikan untuk menanggapi, menasehati, memberikan dan menanamkan kepercayaan pada diri guru, serta membantu mengembangkan keterampilannya.
h) Prosedur Supervisi Klinis
1) Proses Supervisi Klinis
Seperti apa yang telah diungkapkan pada bgain terdahulu bahwa supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses yang terdiri atas tiga tahapan, yakni : tahap pertemuan pendahuluan, tahap observasi, dan tahap pertemuan balikan, yang hasilnya menjadi input dalam proses supervisi berikutnya. Itulah sebabnya maka proses supervisi klinis disebut juga “siklus supervisi klinis”. Ketiga tahapan proses supervisi klinis tersebut diuraikan secara singkat sebagai berikut:

2) Pertemuan pendahuluan
Dalam tahap ini, supervisor dan guru bersama-sama merencanakan kegiatan supervisi yang diinginkan oleh guru. Supervisor memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan apa yang menjadi perhatian utamanya, yang selanjutnya dijabarkan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dalam setting kegiatan belajar mengajar. Jenis data mengajar yang akan diobservasi ditentukan sebelumnya. Demikian pula dengan instrumen observasi dan cara mencatat data-data yang diperlukan disepakati bersama selama proses belajar mengajar berlangsung. Agar dialog antara supervisor harus dapat menciptakan situasi interaksi terbuka, kolegial dan demokratis, sehingga dapat menimbulkan kerjasama yang harmonis.
Secara teknis diperlukan lima langkah utama dalam pertemuan pendahuluan sebagai berikut:
a) Menciptakan suasana akrab antara supervisor dan guru sebelum langkah-langkah berikutnya dilaksanakan,
b) Mereview rencana pembelajaran serta tujuan yang ingin dicapai:
c) Mereview komponen keterampilan yang akan dilatih atau hal-hal yang menjadi keprihatinan guru untuk diperbaiki,
d) Memilih dan mengembangkan instrumen observasi yang akan dipergunakan supervisor dalam mencatat data-data yang diperlukan atau yang menjadi perhatian utama guru, dan
e) Mengadakan kesepakatan tentang perhatian utama guru serta cara merekamnya dalam instrumen observasi. Ini merupakan kontrak yang menjadi rambu-rambu daam melaksanakan tuasg masing-masing, dalam menganalisis data dan mengambil kesimpulan.
3) Tahap Observasi
Dalam tahap observasi ini, guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas seperti yang telah direncanakan, sementara itu supervisor mengamati atau mengobservasi kegiatan guru yang sedang mengajar sambil mencatat data tentang perilaku mengajar guru yang diperlukan pada instrumen observasi secara cermat dan objektif seperti kesepakatan pada tahap pertemuan pendahuluan. Supervisor juga dapat mencatat perilaku siswa dan perilaku interaksi guru-siswa sebagai data pelengkap.
4) Tahap Pertemuan Balikan
Sebelum diadakan pertemuan balikan, supervisor dapat mengadakan analisis pendahuluan terhadap data-data hasil observasi sebagai bahan pembicaraan dalam tahap pertemuan balikan. Pertemuan ini segera dilaksanakan agar supervisor tidak lupa tentang apa yang diamati, dan guru bersama-sama menganalisis data hasil observasi. Guru diharapkan mampu menginterpretasikan perilaku mengajarnya sendiri, serta mampu mengevaluasi dirinya sendiri di bawah bimbingan supervisor. Kesadaran guru tentang dirinya sendiri akan menumbuhkan sikap percaya diri dan motivasi diri untuk berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara mandiri. Langkah-langkah utama dalam tahap ini adalah sebagai berikut:
a) Supervisor menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru atas pengalaman mengajar yang baru dilaksanakan, serta memberi penguatan (reinforcement)
b) Supervisor dan guru bersama-sama mereview rencana pembelajaran dan tujuannya
c) Supervisor bersama guru mereview kontraknya, (target pelatihan dan keprihatinan utama guru
d) Supervisor menanyakan jalannya proses pembelajaran yang berkaitan dengan kotraknya
e) Supervisor menunjukkan data hasil observasi dan mempersilahkan untuk menganalisis serta menginterpretasikan sendiri dengan bimbingan supervisor:
f) Supervisor menanyakan pendapat dan perasaan guru setelah melihat rekaman data observasi
g) Guru diharapkan dapat menyimpulkan sendiri hasilnya dalam mencapai target latihan dan apa yang telah terjadi sehubungan dengan keprihatinan utamanya
h) Dengan memberikan dorongan kepada guru, suypervisor mengadakan kesepakatan menindaklanjuti kegiatan supervisi beriktnya.
i) Latihan Mengajar Terbimbing
dalam tahap ini guru berlatih untuk menerapkan keterampilan mengajar dan non mengajar secara terintegrasi dan utuh dalam situasi mengajar yang sebebnarnya di bawah bimbingan intensif guru senior atau Pengawas (Suparno Anah, S, dkk. 1993: 40).
Dalam latihan ini adalah latihan mengajar yang melibatkan seluruh supervisi yang langsung berhubungan dengan guru, yaitu guru pembimbing, Pengawas serta guru senior/guru inti. Pada tahap ini bimbingan mencakup hal-hal:
(1) Mengembangkan materi pelajaran, termasuk medianya
(2) Menyusun persiapan mengajar
(3) Melaksanakan kegiatan belajar mengajar
(4) memberikan bimbingan belajar kepada murid
(5) Melaksanakan tuags administrasi
(6) Melaksanakan tugas ko dan ekstrakurikuler.

B. Kinerja Guru dan Indikatornya
Istilah kemampuan mengajar guru merupakan kemampuan guru dalam menigkatkan kinerjanya melaksanakan pembelajaran di kelas. Kinerja dapat diterjemahkan dalam perfomance atau unjuk kerja, artinya kemampuan yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya pada tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu kinerja yang esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjaan. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu perli diciptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Menurut Fattah (1996) kinerja diartikan sebagai ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan otivasi dalam menghasilkan suatu pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja seseorang yang mencerminkan prestasi kerja sebagai ungkapan pengetahuan, sikpa dan keterampilan.
Menurut Supriadi (1998) kinerja guru akan menjadi lebih baik, bila seorang guru memiliki lima hal yakni:
1. Mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya
2. Menguasai secara mendalam bahan mata pelajaran yang akan diajarkan serta cara mengajarnya kepada siswa
3. Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi dan
4. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar serta pengalamannya.
Lebih lanjut Hamalik (2002) kemampuan dasar yang disebut juga kinerja dari seorang guru teridiri dari: (1) kemampuan merencanakan pembelajaran, (2) kemampuan mengelola program belajar mengajar, (3) kemampuan menglola kelas (4) kemampuan menggunakan media/sumber belajar, (5) kemampuan menglola interaksi belajar mengajar, (6) mampu melaksanakan evaluasi belajar siswa.
Kinerja guru sangat terkait dengan efektifitas guru dalam melaksanakan fungsinya oleh Medley dalam Depdikbud (1984) dijelaskan bahwa efektifitas guru yaitu: (1) memiliki pribadi kooperatif, daya tarik, penampilan amat besar, pertimbangan dan kepemimpinan, (2) menguasai metode mengajar yang baik, (3) memiliki tingkah laku yang baik saat mengajar, dan (4) menguasai berbagai kompetensi dalam mengajar.
Evaluasi kinerja guru mutlak dilakukan, karena masih terdapat banyak kinerja guru yang kurang memadai, disamping itu guru dituntut dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus berkembang pula dengan pesat. Istilah kinerja berasal dari bahasa inggris yaitu Performance, berarti hasil kena atau unjuk kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang/organisasi tertentu. Istilah kinerja dapat diterjemahkan dalam unjuk kerja, artinya kemampuan yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya di tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu hal yang sangat esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjan. Pada hakikatnya orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan atas dorongan tertentu. Kebuituhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku, sedanghkan tujuannya berfungsi untuk menggerakkan perilaku. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu, perlu disiptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Widyastono (1999) berpendapat bahwa terdapat empat gugus yang erat kaitannya dengan kinerja guru, yaitu kemampuan (1) merencanakan KBM, (2) melaksanakan KBM, (3) melaksanakan hubungan antar pribadi, dan (4) mengadakan penilaian. Sedangkan Suyud (2005) mengembangkan kinerja guru profesional meliputi: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik siswa, (3) penguasaan pengelolaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran dan (6) kepribadian.
Dari pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan kinerja guru dalam penelitian ini ialah: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik, (3) penguasaan pengeloaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran, dan (6) kepribadian.

C. Hipotesis Tindakan
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah :
1. Penerapan supervisi klinis Pengawas dapat meningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah guru matematika di SMA Binaan Kabupaten Dompu tempat peneliti bertugas sebagai Pengawas tahun pelajaran 2011-2012.
Adapun data Guru Matematika di SMA Binaan Kabupaten Dompu adalah sebagai berikut :
TABEL 3.1

JUMLAH DAN NAMA GURU SMA BINAAN
KABUPATEN DOMPU TAHUN PELAJARAN 2011-2012
No NAMA GURU ASALA SEKOLAH Alamat
1 Amar Hadi, S.Pd SMA Negeri 1 Dompu Dompu
2 Yuliani, S.Pd SMA Negeri 2 Dompu Dompu
3 Eka Sosilawati, S.Pd SMA Tri D.Kosgoro Dompu Dompu
4 Yeni Arnaningsih, S.Pd SMA PGRI Dompu Dompu
5 Syamsuddin, S.Pd SMA Negeri 1 Woja Woja
6 Endang Nurmiati, S.Pd SMA Negeri 2 Woja Woja
7 Abdul Syukur SMA Ar Rahman Dompu
8 Eva Susanti, S.Pd SMA Negeri 1 Pajo Pajo
9 Iswan, S.Pd SMA IT Pajo Pajo
10 Yuliana, S.Pd SMA Negeri 1 Manggewa Dompu
11 Juraidin, S.Pd SMA Negeri 2 Kempo Kempo
12 Kusmiatin, S.Pd SMA Negeri 1 Kempo Kempo
13 Eko Sutrismi, S.Pd SMK Negeri 1 Dompu Dompu
Sumber Data : Dinas Dikpora Kabupaten Dompu Tahun Pelajaran 2011-2012.
B. Setting Penelitian
1. PTKp akan dilakukan pada guru Matematika di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun Pelajaran 2011-2012.
2. Guru Matematika di SMA Binaan terdiri dari 13 orang tiap sekolah sekolah diambil 1 atau 2 orang guru matematika.
3. PTKp dilakukan pada guru melalui supervisi klinis Pengawas dalam meningkatkan kineraja guru dalam proses pembelajaran.

C. Rancangan Penelitian
1. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus
2. Kegiatan dilaksanakan dalam semester Ganjil tahun pelajaran 2011-2012.
3. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 14 Juli sampai dengan 22 Agustus 2011.
Dalam pelaksanaan tindakan,rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan,(2) tindakan,(3) pengamatan,(4) refleksi.
Rancangan Penelitian Tindakan Kepengawasan ( PTKp ) menurut Kemmis dan Mc.Taggar ( Depdiknas,2000 ) adalah seperti gambar berikut :

Plan
Reflective
Action / Observation

Siklus I

Recived Plan

Reflective
Action / Obesrvation

Siklus II

Recived Plan

Reflective
Action / Observation

Siklus III

Recived Plan
Gambar 3.1. Alur Penelitian Tindakan Kepengawasan

1. Rencana ( Plan ) : adalah rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi.
2. Tindakan ( Action ) : adalah apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
3. Observasi ( Observation ) : adalah mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap guru.
4. Refleksi ( reflection ) : adalah peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari pelbagai keriteria.
5. Revisi ( recived plan ) : adalah berdasarkan dari hasil refleksi ini, peneliti melakukan revisi terhadap rencana awal.

D. Varibel Penelitian
Dalam penelitian Tindakan kepengawasan ini variabel yang akan diteliti adalah Peningkatan kinerja guru matematika dalam pelaksanaan pembelajaran melalui supervisi klinis Pengawas Tahun Pelajaran 2011-2012.
Variabel tersebut dapat dituliskan kembali sebagai berikut :
Variabel Harapan :

Variabel Tindakan : Peningkatan kinerja guru dalam proses pembelajaran
Pembinaan melalui supervisi klinis Pengawas.

Adapun indikator yang akan diteliti dalam variabel harapan terdiri dari :
1. Kemampuan meningkatkan kualitas guru dalam proses belajar mengajar
2. Kemampuan guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah
3. Kemampuan guru menguasai materi bimbingan dan pembinaan oleh Pengawas.
4. Keefektifan guru dalam peningkatan kinerjanya untuk peningkatan kualitas proses belajar mengajar.

Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut :
1. Tingkat kualitas perencanaan
2. Kualitas perangkat observasi
3. Kualitas operasional tindakan
4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan Pengawas
5. Kesesuaian materi pembinaan dan bimbingan yang diberikan
6. Tingkat efektifitas pelaksanaan pembinaan Pengawas
7. Kemampuan meningkatkan kualitas guru melalui pembinaan Pengawas.

E Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data :
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu :
1 Guru : Diperoleh data tentang peningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran
2 Pengawas : Diperoleh data tentang pembinaan Pengawas melalui supervisi klinis.

2. Teknik Pengumpulan Data :
Dalam pengumpulan data teknik yang digunakan adalah menggunakan observasi dan angket
F. Indikator Keberhasilan
Penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan kinerja guru melalui pembinaan supervisi klinis Pengawas mencapai 85 % guru ( sekolah yang diteliti ) telah mencapai ketuntasan dengan nilai rata rata 75 .Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan sekolahn yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam manajemen berbasis sekolah ( MBS ).

G. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ;
1. Kuantitatif
Analisis ini akan digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu melalui supervisi klinis Pengawas dengan menggunakan prosentase ( % ).

2. Kualitatif
Teknik analisis ini akan digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan.

H. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Tabel : 3.2
JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN

No
Uraian Kegiatan Bulan
Keterangan
Juli
2011 Agustus
2011
1 2 3 4 5 6
1 Persiapan dan Koordinasi X
2 SIKLUS I
a. Perencanaan
b. Tindakan
c. Observasi
d. Evaluasi

X
X
X

X
3 SIKLUS II
a. Perencanaan
b. Tindakan
c. Observasi
d. Evaluasi
X
X
X

X
4 SIKLUS III
a. Perencanaan
b. Tindakan
c. Observasi
d. Evaluasi
X
X
X

X
5 ANALISIS DATA X
6 PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN X
7 PENYUSUNAN LAPORAN AKHIR X

dstrnya………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s