PENERAPAN SUPERVISI KLINIS PENGAWAS UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU MATEMATIKA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMA BINAANKABUPATEN DOMPU TAHUN PELAJARAN 2011-2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Pandangan mengajar yang hanya sebatas menyampaikan materi ilmu pengetahuan itu, dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Mengapa demikian / minimal ada 3 alasan penting. Alasan inilah yang kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigm mengajar, dari mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.
Alasan penting yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2011;100) adalah sebagai berikut :
1. Siswa bukan orang dewasa dalam bentuk mini, tetapi mereka adalah organism yang sedang berkembang. Agar mereka dapat melaksanakantugas-tugas perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang scara optimal.
2. Ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecendrungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Begitu hebatnya perkembangan ilmu biologi, ilmu ekonomi, hukum dan lain sebagainya. Apa yang dulu pernah terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan.
3. Penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusi. Dewasa ini, anggapan manusia sebagai organisme yang pasif yang perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan seperti yang dijelaskan dalam aliran behavioristik, telah banyak ditinggalkan orang. Orang sekarang percaya, bahwa manusia adalah organism yang memiliki potensi seperti yang dikembangkan oleh aliran kognitif holistik.
Ketiga alasan di atas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan diartikan sebagai proses menyampaikan pembelajaran, atau memberikan stimulus sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi lebih dipandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sewsuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
Pengaturan lingkungan adalah proses menciptakan iklim yang baik seperti penataan lingkungan, penyediaan alat dan sumber pembelajaran, dan hal-hal lain yang memungkinkan siswa betah dan merasa senang belajr sehingga mereka dapat berkembang secara optimal sesuai dengan bakat , minat, dan potensi yang dimilikinya.
Hal ini dilakukan karena kelayakan mengajar guru tidak cukup hanya diukur berdasarkan pendidikan formal tetapi juga harus diukur berdasarkan bagaimana kemampuan guru dalam mengajar dan sesi penguasaan materi, menguasai, memilih dan menggunakan metode, media serta evaluasi pembelajaran. Sehubungan dengan hal di atas, Jiyono ( 1987 ) menyimpulkan bahwa kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran pada umumnya sangat menghawatirkan karena dari sampel guru yang diminta menunjukkan kemampuan menguasai bahan pelajaran 70 % yang kurang menguasai bahan pelajaran, sedangkan 30 % nya hanya menguasai bahan pelajaran.
Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk mengkaji dan menggali supervisi yang berkaitan dengan kemapuan guru dalam proses belajar mengajar, disebabkan oleh: (1). Adanya kecenderungan melemahnya kinerja guru di mana berdasarkan pengalaman penulis menjadi Pengawas yaitu terjadinya guru yang membolos mengajar, guru yang masuk ke kelas yang tidak tepat waktu, guru mengajar tidak mempunyai persiapan mengajar, guru tidak punya absensi siswa, (2) adanya pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh Pengawas belum dilaksanakan dengan sebaik – baiknya kepada guru. Beberapa rekan penulis yang sama – sama menjabat Pengawas mengaku kurang serius dalam melaksanakan fungsinya sebagai supervisor,(3) adanya penurunan kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas merupakan salah satu penyebab menurunnya Nilai UAN siswa di SMA Binaan Kabupaten Dompu.
Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas disebabkan oleh ketidak mampuan guru dalam melaksanakan peran dan fungsinya di sekolah.
Menjadi guru yang profesional tidak cukup dengan lamannya mereka menjadi guru, tetapi diperlukan kemampuan mengatasi masalah, dan mengembangkan, dan membuat perencanaan sekolah, akan tetapi guru yang profesional setidaknya ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu ; (1) kompetensi profesional, (2) kompetensi pedagogik, (3) kompetensi keperibadian, dan (4) kompetensi sosial. Oleh karena itu peran Pengawas dalam membina guru di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya sangat penting agar mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Sehubungan dengan hal di atas, peneliti mencoba melakukan suatu penelitian dalam upaya peningkatan kinerja guru agar capaian mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu penulis mengambil judul penelitian :” Penerapan supervisi klinis Pengawas upaya peningkatan kinerja guru Matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012 “.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang dikemukanan di atas maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Guru tidak menguasai proses pembelajaran di kelas, sehingga rendahnya mutu sekolah.
2. Adanya kecenderungan melemahnya kinerja guru yaitu terjadinya guru yang membolos mengajar, guru yang masuk ke kelas tidak tepat waktu, guru mengajar tidak mempunyai persiapan mengajar, guru tidak punya absensi siswa.
3. kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran sangat menghawatirkan karena dari sampel guru yang diminta menunjukkan kemampuan menguasai bahan pelajaran 70 % yang kurang menguasai bahan pelajaran, sedangkan 30 % nya hanya menguasai bahan pelajaran.
4. Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas disebabkan oleh ketidak mampuan guru dalam melaksanakan peran dan fungsinya di sekolah.
C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan di atas maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012 ?
2. Bagaimana efektivitas Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatkan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012 ?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ;
1. Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012.
2. Efektivitas Penerapan supervisi klinis Pengawas dalam meningkatkan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian tindakan sekolah ini adalah :
1. Sebagai bahan refleksi dalam upaya peningkatan kinerja guru melalui supervisi klinis Pengawas.
2. Jika pembinaan guru melalui supervisi klinis Pengawas ini terbukti dapat meningkatkan kinerja guru, maka dapat dipertimbangkan sebagai bahan uji pelatihan bagi guru di masa mendatang.
3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan supervisi di sekolah pada umumnya, dan khususnya di SMA.
4. Hasil penelitian ini memberikan kesempatan kepada guru, dan karyawan tata usaha di sekolah, untuk dapat aktif dalam kegiatan sekolah, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Supervisi Klinis Pengawas
1. Pengertian Supervisi Klinis
Supervisi klinis yang juga disebut supervisi kelas adalah suatu bentuk bimbingan atau bantuan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhan guru melalui siklus yang sistematis untuk meningkatkan proses belajar mengajar (La Sulo, Efffendi, Gojali).
Richard Waller yang dikutip oleh J.l. Bolla (1985:3) mengatakan: “Clinical Supervision may be defines as supervision focused upon the improvement of instruction by mean of systematic cycles of planning, observationand intensive intellectual analysis of actual teaching performances in the interest of rational modification”.
Bantuan supervisor dipusatkan untuk meningkatkan pengajaran, dan siklus yang sistematis merupakan proses yang terdiri dari kegiatan perencanaan, observasi, dan analisis rasional yang intesif terhadap unjuk kerja mengajar yang ingin dimodifikasi untuk dikembangkan. Hoy dan Forsyth (1986:47) menyatakan: “In education the movement away from traditional supervision has been dramatic; in fact, the strong professional interest in practices designed to improve teaching classroom perforzance has been described as the clinical supervision”. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik suatu pengertian, bahwa supervisi klinis merupakan pendekatan supervisi hasil upaya reformasi terhadap supervisi yang tradisional. Sergiovani dan Starrat, dalam bukunya yang berjudul Supervision Human Perspectives mengemukakan: “…clinical supervision, which emphasis working with teacher about teaching in classroom as an activity distinct from general supervision”. (1979: 309).
Sargiovani dan Starrat menegaskan bahwa supervisi klinis berbeda dengan supervisi umum. Perbedaan itu dikemukakan oleh La Sulo dkk (1995). Sebagai berikut:
Tabel 2. 1. Perbedaan Supervisi Klinis dengan Supervisi Non Klinis
Aspek Supervisi Non Klinis Supervisi Klinis
a. Prakarsa dan tanggungjawab Terutama oleh supervisor Diutamakan oleh guru
b. Hubungan Supervisor-guru Hubungan atasan-bawahan yang bersifat birkratis Hubungan kolegial yang sederajat dan interaktif
c. Sifat supervisi Cenderung direktif atau otoriter Diajukan oleh guru sesuai dengan kebutuhannya
d. Sasaran supervisi Sama-sama atau sesuai dengan keingiunan supervisor
e. Ruang lingkup supervisi Umum dan luas Terbatas sesuai dengan kontrak
f. Tujuan supervisi Cenderung evaluatif Bimbingan analitik dan deskriptif
g. Peran supervisor Banyak memberi tahu dan mengarahkan Banyak bertanya untuk membantu guru menganalisis diri
h. Balikan Sama-sama atau atas kesimpulan supervisor Dengan analisis dan interaksi bersama atas data observasi sesuai kontrak

Dan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan oleh supervisor kepada guru secara kolegial dengan tujuan membantu guru dalam mengungkapkan kemampuan profesionalnya, khususnya untuk kerja mengajarnya di kelas berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif. Menurut J.l. Bolla (1985) istilah klinis menunjuk kepada unsur-unsur khusus sebagai berikut: (1) Adanya hubungan tatap muka antara supervisor dan guru dalam proses supervisi; (2) Proses supervisi difokuskan pada unjuk kerja mengajar guru di kelas; (3) data unjuk kerja mengajar diperoleh melalui observasi secara cermat; (4) Data dianalisis bersama anatar supervisor dan guru; (5) Supervisor dan guru bersama-sama menilai dan mengambil kesimpulan unjuk kerja mengajar guru; (6) Fokus observasi sesuai dengan kebutuhan dan atau permintaan guru yang bersangkutan.
Dari berbagai pendapat analisis dan uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa supervisi klinis adalah supervisi yang memiliki ciri-ciri esensial sebagai berikut: (1) Bimbingan dari supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi, sehingga prakarsa dan tanggungjawab pengembangan diri berada di tangan guru; (2) Hubungan interaksi dalam proses supervisi bersifat kolegial, sehingga intim dan terbuka; (3) Meskipun unjuk kerja mengajar guru di kelas bersifat luas dan terintegrasi, tetapi sasaran supervisi terbatas pada apa yang dikontrakkan; (4) Sasaran supervisi diajukan oleh guru, dikaji dan disepakati bersama dalam kontrak; (5) Proses supervisi klinis melalui tiga tahapan: pertemuan pendahuluan, observasi kelas, dan pertemuan balikan; (6) Instrumen observasi ditentukan bersama oleh guru dan supervisor; (7) Balikan yang objektif dan sepesifik diberikan dengan segera; (8) Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama; (9) Proses supervisi bersiklus.
2. Prinsip Prinsip Supervisi Klinis
Terdapat beberapa prinsip umum yang perlu dijadikan acuan dalam pelaksanaan supervisi klinis, agar sukses mencapai tujuannya, yakni: (1) Hubungan kolegial; (2) Demokrasi; (3) Berorientasi pada kebutuhan dan aspirasi guru; (4) Obyektif; (5) Mengutamakan prarakarsa dan tanggungjawab guru.
a) Prinsip Hubungan Kolegial
Hubungan supervisor dan guru yang kolegial, sederajat dan interaktif membuka kemungkinan tumbuhnya situasi dan iklim yang kondusif bagi terlaksananya supervisi yang kreatif dan bersifat dua arah. Hubungan antara dua tenaga profesional di mana yang satu lebih berpengalaman (supervisor) dari yang lain (guru) memungkinkan terjadinya dialog yang konstruktif dalam suasana yang intim dan keterbukaan. Kepemimpinan supervisor diterima oleh guru yang bersangkutan dengan rasa ikhlas tanpa adanya paksaan, sehingga dapat menumbuhkan motivasi guru untuk berupaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan mengajarnya. Supervisor merasa mudah, dalam memberikan bimbingan karena guru bersikap terbuka.
b) Prinsip Demokrasi
Kepemimpinan supervisor yang demokratis memberi peluang kepada guru untuk berfikir secara kreatif dan percaya diri serta obyektif rasional dalam mengambil keputusan pada saat pertemuan pendahuluan maupun pertemuan balikan, dimana guru harus mampu menganalisis data untuk kerja mengajarnya. Suasana demokratis dapat terwujud apabila kedua dengan bebas mengemukakan pendapat, tidak mendominasi pembicaraan, terbuka dalam menyampaikan dan menerima pendapat yang pada akhirnya kedua pihak mampu menghasilkan keputusan bersama.
c) Prinsip Berorientasi pada Kebutuhan dan Aspirasi Guru
Pada hakekatnya tujuan supervisi adalah membantu guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya. Bantuan supervisi dirasakan guru bermanfaat apabila proses supervisi memusatkan perhatian pada apa yang dibutuhkan oleh guru. Dengan prinsip ini guru mendorong untuk mampu menganalisis kebutuhan dan aspirasinya dalam usaha mengembangkan dirinya.
d) Prinsip Obyektif
Supervisor dan guru harus bersikap obyektif dalam mengemukakan pendapat dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, data hasil observasi yang cermat sangat diperlukan untuk dianalisis dalam menarik suatu pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang ibjektif tersebut.
e) Prinsip Mengutamakan Prarakarsa dan Tanggungjawab Guru Sendiri
Dalam tahap perencanaan, observasi dan tahap balikan, guru diberi peluang yang seluas-luasnya untuk mengambil inisiatif dan aktif berpartisipasi dalam berpendapat dan atau dalam mengambil keputusan. Dengan perlakuan yang sedemikian itu, parakarsa atau inisiatif dan tanggungjawab untuk mengembangkan kemampuan dirinya sendiri akan berkembang.
Perwujudan prinsip-prinsip tersebut dalam pelaksanaan supervisi klinis membawa implikasi bagi supervisor maupun guru.
Implikasi bagi supervisor antara lain: (1) Supervisor harus yakin bahwa guru mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya sendiri serta mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi; (2) Supervisor harus bersikap terbuka dan tanggap terhadap setiap pendapat guru; (3) Supervisor harus mampu dan mau memperlakukan guru sebagai kolega yang memerlukan bantuan profesional darinya.
Sedangkan implikasinya terhadap guru antara lain: (1) Guru mempunyai minat dan sikap mampu dan mau mengambil prakarsa dan tanggungjawab untuk mengembangkan kemampuannya sendiri; (2) Guru bersikap obyektif dan terbuka dalam menganalisis dan mengevaluasi dirinya sendiri.
Di samping itu, kedua belah pihak harus memahami konsep dasar dan prosedur supervisi klinis. Khusus bagi supervisor harus menguasai teknik-teknik supervisi dengan pendekatan supervisi klinis.
f) Tujuan Supervisi Klinis
Tujuan supevisi klinis dapat dibedakan menjadi: (1) Tujuan umum dan (2) Tujuan khusus.
(1) Tujuan Umum Supervisi Klinis
Konsep dasar dan prinsip-prinsip supervisi klinis memberi tekanan pada proses bantuan yang diberikan kepada guru atas dasar kebutuhan yang dirasakan dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Peningkatan kemampuan profesional guru tersebut dimaksudkan untuk menunjang pembaharuan pendidikan serta menanggulangi degradasi proses pendidikan di sekolah dengan memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar (proses pembelajaran) di kelas. Peningkatan kualitas mengajar guru di kelas diharapkan dapat meningkatkan proses belajar siswa, sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah dapat tercapai secara maksimal. Dengan menerapkan pendekatan supervisi klinis, supervisor diharapkan mampu membantu guru meningkatkan kemampuan profesional mengajarnya secara mandiri.
Dengan asumsi bahwa mengajar atau membelajarakan para siswa adalah suatu kegiatan yang dapat dikendalikan dan dikelola (controllable and manageable), dapat diamati (observable), dan terdiri atas kompnen-komponen kemampuan dan keterampilan mengajar yang dapat dipisah-pisahkan dan dilatihkan, maka kegiatan pokok dalam proses suipervisi klinis pada pertemuan pendahuluan, observasi, dan pertemuan balikan harus mengacu pada kegiatan belajar mengajar guru. Jadi, tujuan umum supervisi klinis pada ketiga kegiatan pokoknya adalah memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Dengan demikian pendekatan supervisi klinis merupakan suatu metode peningkatan kemampuan profesional guru yang diharapkan dapat menunjang upaya peningkatan kualitas pendidikan.
(2) Tujuan Khusus Supervisi Klinis
Tujuan umum supervisi klinis seperti yang tersebut diatas, dapat dirinci ke dalam tujuan-tujuan khusus sebagai berikut:
(a) Memberi balikan yang objektif kepada guru tentang unjuk kerja mengajarnya di kelas. Balikan tersebut merupakan cermin guru untuk memahami unjuk kerja mengajarnya baik yang positif maupun yang negatif, yang diharapkan guru menyadari kelebihan dan kekurangan unjuk kerja mengajarnya, serta mendorong guru agar berupaya menyempurnakan kekurangannya dan meningkatkan potensi yang dimiliki;
(b) Membantu guru menganalisis, mendiagnosis dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh guru;
(c) Membantu guru mengembangkan keterampilan-keterampilan mengejarnya dan menerapkan strategi pembelajaran;
(d) Membantu guru mengembangkan sikap positifnya dalam upaya megembangkan diri secara berkelanjutan dalam karir dan profesinya secara mandiri;
(e) Sebagai dasar untuk menilai kemampuan guru dalam rangka promosi jabatan atau pekerjaannya.
g) Sasaran Utama Supervisi Klinis
Sasaran utama yang harus menjadi perhatian supervisor baik pada saat guru mempersiapkan diri sebelum mengajar, pada saat mengajar, dan setelah mengajar adalah sebagai berikut:
1) Kesadaran dan Kepercayaan Guru akan Dirinya sebagai Tenaga Profesional
Kesadaran guru akan pentingnya sebagai guru, keefektifan kemampuan mengajarnya keberadaan guru dalam proses belajar-mengajar potensinya dalam mengembangkan diri, dan sebagainya merupakan faktor yang diharapkan dapat menunjang upaya peningkatan kemampuan profesional guru. Tanpa mengetahui hal-hal tersebut di atas, kiranya sukar bagi seorang guru memiliki kemauan dan kemampuan meningkatkan dirinya. Jadi, seorang guru harus berani melaksanakan self-evaluasi dalam upaya mengetahui keberadaan dirinya. Kesadaran dan kepercayaan diri muncul melalui berbagai pertanyaan seperti berikut:
(a) Bagaimana keberadaan saya sebagai seorang guru?,
(b) Bagaimana tanggapan dan perasaan siswa terhadap diri saya?,
(c) Apakah siswa dapat mempelajari apa yang saya ajarkan?,
(d) seberapa besarkah kemampuan mengajar saya?,
(e) Apakah siswa memperoleh apa yang sebenarnya mereka perlukan?,
(f) Bagaimana saya dapat mengembangkan diri saya sebagai seorang guru?
2) Keterampilan-Keterampilan Dasar Mengajar yang Diperlukan Guru
Disadari atau tidak bahwa dalam kegiatan mengajar guru memerlukan seperangat keterampilan dasar (generic skills) tertentu yang memungkinkan guru mengajar dengan baik, efektif dan dapat mencapai tujuan. Keterampilan-keterampilan dasar tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:
(a) Menggunakan Variasi Mengajar & Stimulus
Keterampilan dalam menggunakan variasi mengajar dan menggunakan stimulus, terdiri dari:
(1) Memberi penguatan (reinforcement);
(2) Variasi gaya interaksi dan pengunaan indera pandang dan dengar (variability);
(3) Menjelaskan (explaining);
(4) Membuka dan menutup pelajaran (introductory, procedures and closure).
(b) Melibatkan siswa dalam proses belajar
Keterampilan melibatkan siswa-siswa dalam proses pembelajaran, antara lain sebagai berikut:
(1) Bertanya dasar dan bertaya lanjut (basic and advanced questioning),
(2) Memimpin diskusi kelompok kecil (guilding small group discusion),
(3) Mengajar kelompok kecil (small group group instruction);
(4) Mengajar melalui penemuan siswa (discovery learning);
(5) Membantu mengembangkan kreativitas (fostering creativity).
3) Mengelola kelas dan disiplin kelas
Keterampilan melibatkan siswa-siswa dalam proses pembelajaran, antara lain sebagai berikut:
(a) Bertanya dasar dan bertanya lanjut (basic and advanced questioning),
(b) Memimpin diskusi kelompok kecil (guilding small group discusion),
(c) Mengajar kelompok kecil (small group instruction);
(d) Mengajar berdasarkan perbedaan individu (individualized instruction);
(e) Mengajar melalui penemuan siswa (discovery learning);
(f) Membantu mengembangkan kreativitas (fostering creativity).
4) Mengelola kelas dan disiplin kelas
Keterampilan mengelola kelas dan kedisiplinan kelas, antara lain sebagai berikut:
(a) Tanggap tentang tingkah laku siswa di kelas;
(b) Menanggulangi tingkah laku siswa yang deskriptif dan bersifat mengganggu.
Keterampilan-keterampilan dasar tersebut perlu dikuasai oleh guru, dan justru inilah yang dibutuhkan oleh guru dalam menunjang keberhasilan tugas mengajar mereka di kelas. Mereka juga perlu mengetahui kekuatan dan kelemahannya.
Dalam hal ini mereka memerlukan bantuan dari orang lain untuk memahami, mengamati dan menganalisis kekuatan atau kelemahan tersebut yang dapat dijadikan balikan untuk menanggapi, menasehati, memberikan dan menanamkan kepercayaan pada diri guru, serta membantu mengembangkan keterampilannya.
h) Prosedur Supervisi Klinis
1) Proses Supervisi Klinis
Seperti apa yang telah diungkapkan pada bgain terdahulu bahwa supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses yang terdiri atas tiga tahapan, yakni : tahap pertemuan pendahuluan, tahap observasi, dan tahap pertemuan balikan, yang hasilnya menjadi input dalam proses supervisi berikutnya. Itulah sebabnya maka proses supervisi klinis disebut juga “siklus supervisi klinis”. Ketiga tahapan proses supervisi klinis tersebut diuraikan secara singkat sebagai berikut:

2) Pertemuan pendahuluan
Dalam tahap ini, supervisor dan guru bersama-sama merencanakan kegiatan supervisi yang diinginkan oleh guru. Supervisor memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan apa yang menjadi perhatian utamanya, yang selanjutnya dijabarkan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dalam setting kegiatan belajar mengajar. Jenis data mengajar yang akan diobservasi ditentukan sebelumnya. Demikian pula dengan instrumen observasi dan cara mencatat data-data yang diperlukan disepakati bersama selama proses belajar mengajar berlangsung. Agar dialog antara supervisor harus dapat menciptakan situasi interaksi terbuka, kolegial dan demokratis, sehingga dapat menimbulkan kerjasama yang harmonis.
Secara teknis diperlukan lima langkah utama dalam pertemuan pendahuluan sebagai berikut:
a) Menciptakan suasana akrab antara supervisor dan guru sebelum langkah-langkah berikutnya dilaksanakan,
b) Mereview rencana pembelajaran serta tujuan yang ingin dicapai:
c) Mereview komponen keterampilan yang akan dilatih atau hal-hal yang menjadi keprihatinan guru untuk diperbaiki,
d) Memilih dan mengembangkan instrumen observasi yang akan dipergunakan supervisor dalam mencatat data-data yang diperlukan atau yang menjadi perhatian utama guru, dan
e) Mengadakan kesepakatan tentang perhatian utama guru serta cara merekamnya dalam instrumen observasi. Ini merupakan kontrak yang menjadi rambu-rambu daam melaksanakan tuasg masing-masing, dalam menganalisis data dan mengambil kesimpulan.
3) Tahap Observasi
Dalam tahap observasi ini, guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas seperti yang telah direncanakan, sementara itu supervisor mengamati atau mengobservasi kegiatan guru yang sedang mengajar sambil mencatat data tentang perilaku mengajar guru yang diperlukan pada instrumen observasi secara cermat dan objektif seperti kesepakatan pada tahap pertemuan pendahuluan. Supervisor juga dapat mencatat perilaku siswa dan perilaku interaksi guru-siswa sebagai data pelengkap.
4) Tahap Pertemuan Balikan
Sebelum diadakan pertemuan balikan, supervisor dapat mengadakan analisis pendahuluan terhadap data-data hasil observasi sebagai bahan pembicaraan dalam tahap pertemuan balikan. Pertemuan ini segera dilaksanakan agar supervisor tidak lupa tentang apa yang diamati, dan guru bersama-sama menganalisis data hasil observasi. Guru diharapkan mampu menginterpretasikan perilaku mengajarnya sendiri, serta mampu mengevaluasi dirinya sendiri di bawah bimbingan supervisor. Kesadaran guru tentang dirinya sendiri akan menumbuhkan sikap percaya diri dan motivasi diri untuk berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara mandiri. Langkah-langkah utama dalam tahap ini adalah sebagai berikut:
a) Supervisor menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru atas pengalaman mengajar yang baru dilaksanakan, serta memberi penguatan (reinforcement)
b) Supervisor dan guru bersama-sama mereview rencana pembelajaran dan tujuannya
c) Supervisor bersama guru mereview kontraknya, (target pelatihan dan keprihatinan utama guru
d) Supervisor menanyakan jalannya proses pembelajaran yang berkaitan dengan kotraknya
e) Supervisor menunjukkan data hasil observasi dan mempersilahkan untuk menganalisis serta menginterpretasikan sendiri dengan bimbingan supervisor:
f) Supervisor menanyakan pendapat dan perasaan guru setelah melihat rekaman data observasi
g) Guru diharapkan dapat menyimpulkan sendiri hasilnya dalam mencapai target latihan dan apa yang telah terjadi sehubungan dengan keprihatinan utamanya
h) Dengan memberikan dorongan kepada guru, suypervisor mengadakan kesepakatan menindaklanjuti kegiatan supervisi beriktnya.
i) Latihan Mengajar Terbimbing
dalam tahap ini guru berlatih untuk menerapkan keterampilan mengajar dan non mengajar secara terintegrasi dan utuh dalam situasi mengajar yang sebebnarnya di bawah bimbingan intensif guru senior atau Pengawas (Suparno Anah, S, dkk. 1993: 40).
Dalam latihan ini adalah latihan mengajar yang melibatkan seluruh supervisi yang langsung berhubungan dengan guru, yaitu guru pembimbing, Pengawas serta guru senior/guru inti. Pada tahap ini bimbingan mencakup hal-hal:
(1) Mengembangkan materi pelajaran, termasuk medianya
(2) Menyusun persiapan mengajar
(3) Melaksanakan kegiatan belajar mengajar
(4) memberikan bimbingan belajar kepada murid
(5) Melaksanakan tuags administrasi
(6) Melaksanakan tugas ko dan ekstrakurikuler.

B. Kinerja Guru dan Indikatornya
Istilah kemampuan mengajar guru merupakan kemampuan guru dalam menigkatkan kinerjanya melaksanakan pembelajaran di kelas. Kinerja dapat diterjemahkan dalam perfomance atau unjuk kerja, artinya kemampuan yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya pada tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu kinerja yang esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjaan. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu perli diciptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Menurut Fattah (1996) kinerja diartikan sebagai ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan otivasi dalam menghasilkan suatu pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja seseorang yang mencerminkan prestasi kerja sebagai ungkapan pengetahuan, sikpa dan keterampilan.
Menurut Supriadi (1998) kinerja guru akan menjadi lebih baik, bila seorang guru memiliki lima hal yakni:
1. Mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya
2. Menguasai secara mendalam bahan mata pelajaran yang akan diajarkan serta cara mengajarnya kepada siswa
3. Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi dan
4. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar serta pengalamannya.
Lebih lanjut Hamalik (2002) kemampuan dasar yang disebut juga kinerja dari seorang guru teridiri dari: (1) kemampuan merencanakan pembelajaran, (2) kemampuan mengelola program belajar mengajar, (3) kemampuan menglola kelas (4) kemampuan menggunakan media/sumber belajar, (5) kemampuan menglola interaksi belajar mengajar, (6) mampu melaksanakan evaluasi belajar siswa.
Kinerja guru sangat terkait dengan efektifitas guru dalam melaksanakan fungsinya oleh Medley dalam Depdikbud (1984) dijelaskan bahwa efektifitas guru yaitu: (1) memiliki pribadi kooperatif, daya tarik, penampilan amat besar, pertimbangan dan kepemimpinan, (2) menguasai metode mengajar yang baik, (3) memiliki tingkah laku yang baik saat mengajar, dan (4) menguasai berbagai kompetensi dalam mengajar.
Evaluasi kinerja guru mutlak dilakukan, karena masih terdapat banyak kinerja guru yang kurang memadai, disamping itu guru dituntut dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus berkembang pula dengan pesat. Istilah kinerja berasal dari bahasa inggris yaitu Performance, berarti hasil kena atau unjuk kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang/organisasi tertentu. Istilah kinerja dapat diterjemahkan dalam unjuk kerja, artinya kemampuan yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya di tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu hal yang sangat esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjan. Pada hakikatnya orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan atas dorongan tertentu. Kebuituhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku, sedanghkan tujuannya berfungsi untuk menggerakkan perilaku. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu, perlu disiptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Widyastono (1999) berpendapat bahwa terdapat empat gugus yang erat kaitannya dengan kinerja guru, yaitu kemampuan (1) merencanakan KBM, (2) melaksanakan KBM, (3) melaksanakan hubungan antar pribadi, dan (4) mengadakan penilaian. Sedangkan Suyud (2005) mengembangkan kinerja guru profesional meliputi: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik siswa, (3) penguasaan pengelolaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran dan (6) kepribadian.
Dari pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan kinerja guru dalam penelitian ini ialah: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik, (3) penguasaan pengeloaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran, dan (6) kepribadian.

C. Hipotesis Tindakan
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah :
1. Penerapan supervisi klinis Pengawas dapat meningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun pelajaran 2011-2012.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah guru matematika di SMA Binaan Kabupaten Dompu tempat peneliti bertugas sebagai Pengawas tahun pelajaran 2011-2012.
Adapun data Guru Matematika di SMA Binaan Kabupaten Dompu adalah sebagai berikut :
TABEL 3.1

JUMLAH DAN NAMA GURU SMA BINAAN
KABUPATEN DOMPU TAHUN PELAJARAN 2011-2012
No NAMA GURU ASALA SEKOLAH Alamat
1 Amar Hadi, S.Pd SMA Negeri 1 Dompu Dompu
2 Yuliani, S.Pd SMA Negeri 2 Dompu Dompu
3 Eka Sosilawati, S.Pd SMA Tri D.Kosgoro Dompu Dompu
4 Yeni Arnaningsih, S.Pd SMA PGRI Dompu Dompu
5 Syamsuddin, S.Pd SMA Negeri 1 Woja Woja
6 Endang Nurmiati, S.Pd SMA Negeri 2 Woja Woja
7 Abdul Syukur SMA Ar Rahman Dompu
8 Eva Susanti, S.Pd SMA Negeri 1 Pajo Pajo
9 Iswan, S.Pd SMA IT Pajo Pajo
10 Yuliana, S.Pd SMA Negeri 1 Manggewa Dompu
11 Juraidin, S.Pd SMA Negeri 2 Kempo Kempo
12 Kusmiatin, S.Pd SMA Negeri 1 Kempo Kempo
13 Eko Sutrismi, S.Pd SMK Negeri 1 Dompu Dompu
Sumber Data : Dinas Dikpora Kabupaten Dompu Tahun Pelajaran 2011-2012.
B. Setting Penelitian
1. PTKp akan dilakukan pada guru Matematika di SMA Binaan Kabupaten Dompu Tahun Pelajaran 2011-2012.
2. Guru Matematika di SMA Binaan terdiri dari 13 orang tiap sekolah sekolah diambil 1 atau 2 orang guru matematika.
3. PTKp dilakukan pada guru melalui supervisi klinis Pengawas dalam meningkatkan kineraja guru dalam proses pembelajaran.

C. Rancangan Penelitian
1. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus
2. Kegiatan dilaksanakan dalam semester Ganjil tahun pelajaran 2011-2012.
3. Lama penelitian 6 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 14 Juli sampai dengan 22 Agustus 2011.
Dalam pelaksanaan tindakan,rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan,(2) tindakan,(3) pengamatan,(4) refleksi.
Rancangan Penelitian Tindakan Kepengawasan ( PTKp ) menurut Kemmis dan Mc.Taggar ( Depdiknas,2000 ) adalah seperti gambar berikut :

Plan
Reflective
Action / Observation

Siklus I

Recived Plan

Reflective
Action / Obesrvation

Siklus II

Recived Plan

Reflective
Action / Observation

Siklus III

Recived Plan
Gambar 3.1. Alur Penelitian Tindakan Kepengawasan

1. Rencana ( Plan ) : adalah rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi.
2. Tindakan ( Action ) : adalah apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
3. Observasi ( Observation ) : adalah mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap guru.
4. Refleksi ( reflection ) : adalah peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari pelbagai keriteria.
5. Revisi ( recived plan ) : adalah berdasarkan dari hasil refleksi ini, peneliti melakukan revisi terhadap rencana awal.

D. Varibel Penelitian
Dalam penelitian Tindakan kepengawasan ini variabel yang akan diteliti adalah Peningkatan kinerja guru matematika dalam pelaksanaan pembelajaran melalui supervisi klinis Pengawas Tahun Pelajaran 2011-2012.
Variabel tersebut dapat dituliskan kembali sebagai berikut :
Variabel Harapan :

Variabel Tindakan : Peningkatan kinerja guru dalam proses pembelajaran
Pembinaan melalui supervisi klinis Pengawas.

Adapun indikator yang akan diteliti dalam variabel harapan terdiri dari :
1. Kemampuan meningkatkan kualitas guru dalam proses belajar mengajar
2. Kemampuan guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah
3. Kemampuan guru menguasai materi bimbingan dan pembinaan oleh Pengawas.
4. Keefektifan guru dalam peningkatan kinerjanya untuk peningkatan kualitas proses belajar mengajar.

Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut :
1. Tingkat kualitas perencanaan
2. Kualitas perangkat observasi
3. Kualitas operasional tindakan
4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan Pengawas
5. Kesesuaian materi pembinaan dan bimbingan yang diberikan
6. Tingkat efektifitas pelaksanaan pembinaan Pengawas
7. Kemampuan meningkatkan kualitas guru melalui pembinaan Pengawas.

E Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data :
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu :
1 Guru : Diperoleh data tentang peningkatan kinerja guru matematika dalam proses pembelajaran
2 Pengawas : Diperoleh data tentang pembinaan Pengawas melalui supervisi klinis.

2. Teknik Pengumpulan Data :
Dalam pengumpulan data teknik yang digunakan adalah menggunakan observasi dan angket
F. Indikator Keberhasilan
Penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan kinerja guru melalui pembinaan supervisi klinis Pengawas mencapai 85 % guru ( sekolah yang diteliti ) telah mencapai ketuntasan dengan nilai rata rata 75 .Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan sekolahn yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam manajemen berbasis sekolah ( MBS ).

G. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ;
1. Kuantitatif
Analisis ini akan digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA Binaan Kabupaten Dompu melalui supervisi klinis Pengawas dengan menggunakan prosentase ( % ).

2. Kualitatif
Teknik analisis ini akan digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan.

H. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Tabel : 3.2
JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN

No
Uraian Kegiatan Bulan
Keterangan
Juli
2011 Agustus
2011
1 2 3 4 5 6
1 Persiapan dan Koordinasi X
2 SIKLUS I
a. Perencanaan
b. Tindakan
c. Observasi
d. Evaluasi

X
X
X

X
3 SIKLUS II
a. Perencanaan
b. Tindakan
c. Observasi
d. Evaluasi
X
X
X

X
4 SIKLUS III
a. Perencanaan
b. Tindakan
c. Observasi
d. Evaluasi
X
X
X

X
5 ANALISIS DATA X
6 PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN X
7 PENYUSUNAN LAPORAN AKHIR X

dstrnya………………

UU No.23 tahun 2014 Guru PNS dikembalikan ke Pusat

silahkan download uu_23_tahun_2014

MENINGKATKAN PRESTASI DAN PEMAHAMAN PELAJARAN IPS MELALUI METODE BELAJAR AKTIF MODEL PENGAJARAN TERARAH PADA SISWA KELAS V SDN SDN 7 PAJO KAB.DOMPU TAHUN 2011/2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.Sedangkan tujuan mata pelajaran IPS agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:1).mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. 2).memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan social, 3).memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaanMemiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Sedangkaan ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut.Manusia, Tempat, dan Lingkungan, Wakt, Keberlanjutan, dan Perubahan. Sistem Sosial dan Budaya, perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan.
Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan panjang. Dan, itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita! Pendekatan kontekkstual (contextual teaching learning/CTL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekrang ini pengajaran kontekstual menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya ‘menghidupkan’kelas secara maksimal. Kelas yang ‘hidup’ diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang sedemikian cepat.
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
Apa yang menjadikan belajar aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud)
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.
Setiap akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam persiapan itu sudah terkandung tentang, tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar, secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evalasi.
Sementara itu teknologi pembelajaran adalah salah satu dari aspek tersebut yang cenderung diabaikan oleh beberapa pelaku pendidikan, terutama bagi mereka yang menganggap bahwa sumber daya manusia pendidikan, sarana dan prasarana pendidikanlah yang terpenting. Padahal kalau dikaji lebih lanjut, setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal apalagi tingkat Sekolah Dasar, haruslah berpusat pada kebutuhan perkembangan anak sebagai calon individu yang unik, sebagai makhluk sosial, dan sebagai calon manusia Indonesia.
Hal tersebut dapat dicapai apabila dalam aktivitas belajar mengajar, guru senantiasa memanfaatkan teknologi pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran struktural dalam penyampaian materi dan mudah diserap peserta didik atau siswa berbeda.
Khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru dengan baik, maka proses pembelajaran kontektual, guru akan memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci, tujuan yang ingin dicapai, baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal kepada siswa.
Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut diatas, maka diadakan penelitian dengan judul Pengaruh Metode Belajar Aktif Model Pengajaran Terarah Dalam Meningkatkan Prestasi Dan Pemahaman Pelajaran IPS Pada Siswa Kelas V SDN 7 PAJO.

B. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut:
1. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar IPS dengan diterapkannya metode belajar aktif model pengajaran terarah pada siswa Kelas V SDN 7 Pelajaran 2011/2012?
2. Bagaimanakah pengaruh metode belajar aktif model pengajaran terarah terhadap motivasi belajar IPS pada siswa Kelas V SDN 7 PAJO Tahun Pelajaran 2011/2012?

C. Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan menerapkan metode belajar aktif model pengajaran terarah, dengan menerapkan metode belajar ini diharapkan prestasi belajar siswa dapat meningkat.

D. Batasan Masalah
Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi:
1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas V SDN 7 PAJO Tahun Pelajaran 2011/2012.
2. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil bulan September tahun pelajaran 2011/2012.
3. Materi yang disampaikan adalah pokok perkembangan teknologi untuk produksi dan, komunikasi dan transportasi.

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui peningkatan prestasi belajar IPS setelah diterapkannya metode belajar aktif model pengajaran terarah pada siswa Kelas V SDN 7 PAJO Tahun Pelajaran 2011/2012.
2. Mengetahui pengaruh motivasi belajar IPS setelah diterapkan metode belajar aktif model pengajaran terarah pada siswa Kelas V SDN 7 PAJO Tahun Pelajaran 2011/2012.

F. Manfaat Penelitan
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:
1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru IPS dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar IPS.
2. Sumbangan pemikiran bagi guru IPS dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar IPS.

¬BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Pustaka
1. Definisi Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996:14).
Sependapat dengan pernyataan tersebut Setomo (1993:68) mengemukakan bahwa belajar adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang dengan sengaja dikalukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah pengetahuan, bekembang daya pikir, sikap dan lain-lain (Soetomo, 1993:120).
Pasal 1 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
2. Motivasi Belajar
a. Konsep Motivasi
Pengajaran tradisional menitik beratkan pada metode imposisi, yakni pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid (Hamalik, 2001:157). Cara ini tidak mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak dengan kesanggupan, kebutuhan, minat, dan tingkat kesanggupan, serta pemahaman murid. Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid.
Sejak adanya penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi tentang kepribadian dan tingkah laku manusia, serta perkembangan dalam bidang ilmu pendidikan maka pandangan tersebut kemudian berubah. Faktor siswa didik justru menjadi unsur yang menentukan berhasil atau tidaknya pengajaran berdasarkan “pusat minat” anak makan, pakaian, permainan/bekerja. Kemudian menyusul tokoh pendidikan lainnya seperti Dr. John Dewey, yang terkenal dengan “pengajaran proyeknya”, yang berdasarkan pada masalah yang menarik minat siswa, sistem perekolahan lainnya. Sehingga sejak itu pula para ahli berpendapat, bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif tertentu, dan perbuatan belajar akan berhasil apabila didasarkan pada motivasi yang ada pada murid. Murid dapat dipaksa untuk mengikuti semua perbuatan, tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana mestinya. Seekor kuda dapat digiring ke sungai tetapi tidak dapat dipaksa untuk minum. Demikian pula juga halnya dengan murid, guru dapat memaksakan bahan pelajaran kepada mereka, akan tetapi guru tidak mungkin dapat memaksanya untuk belajar belajar dalam arti sesungguhnya. Inilah yng menjadi tugas yang paling berat yakni bagaimana caranya berusaha agar murid mau belajar, dan memiliki keinginan untuk belajar secara kontinyu.
b. Pengertian Motivasi
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000:28).
Sedangkan menurut Djamarah (2002:114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001:3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
3. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Telah disepakati oleh ahli pendidikan bahwa guru merupakan kunci dalam proses belajar mengajar. Bila hal ini dilihat dari segi nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya. Nilai lebih ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru bidang studi pengajarannya. Walalu demikian nilai lebih itu tidak akan dapat diandalkan oleh guru, apabila ia tidak memiliki teknik-teknik yang tepat untuk mentransferkan kepada siswa. Disamping itu kegiatan mengajar adalah suatu aktivitas yang sangat kompleks, karena itu sangat sukar bagi guru Bahasa Indonesia bagaimana caranya mengajar dengan baik agar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar bahasa Indonesia.
Untuk merealisasikan keinginan tersebut, maka ada beberapa prinsip umum yang harus dipengang oleh guru Bahasa Indonesia dalam menjalankan tugasnya. Menurut Prof. DR. S. Nasution, prinsip-prinsip umum yang harus dipengang oleh guru Bahasa Indonesia dalam menjalankan tugasnya adalah sebagai berikut:
a. Guru yang baik memahami dan menghormati siswa.
b. Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya.
c. Guru hendaknya menyesuaikan bahan pelajaran yang diberikan dengan kemampuan siswa.
d. Guru hendaknya menyesuaikan metode mengajar dengan pelajarannya.
e. Guru yang baik mengaktifkan siswa dalam belajar.
f. Guru yang baik memberikan pengertian, bukan hanya dengan kata-kata belaka. Hal ini untuk menghindari verbalisme pada murid.
g. Guru menghubungkan pelajaran pada kehidupan siswa.
h. Guru terikat dengan texs book.
i. Guru yang baik tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan, melainkan senantiasa membentuk kepribadian siswanya.
Sehubungan dengan upaya meningkatkan motivasi belajar siswa ada dua prinsip yang harus diperhatiakn oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas F. Saton sebagai berikut:
a. Menyelidiki dengan jelas dan tegas apa yang diharapkan dari pelajaran untuk dipelajari dan mengapa ia diharapkan mempelajarinya.
b. Menciptakan kesadaran yang tinggi pada pelajaran akan pentingnya memiliki skill dan pengetahuan yang akan diberikan oleh program pendidikan itu.
Dari prinsip-prinsip umum di atas, menunjukkan bahwa peranan guru Bahasa Indonesia dalam mengajar bahasa Indonesia dapat dikatakan sangat dominan, begitu pula dalam meningkatkan motivasi belajar siswa tampaknya guru yang mengetahui akan kemampuan siswa-siswanya baik secara individual maupun secara kelompok, guru mengetahui persoalan-persoalan belajar dan mengajar, guru pula yang mengetahui kesulitan-kesuliatan siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia dan bagaimana cara memecahkannya.
4. Memperkenalkan Belajar Aktif
Lebih dari 2400 tahun silam, Konfusius menyatakan:
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya lihat, saya ingat.
Yang saya kerjakan, saya pahami.
Tiga pertanyaan sederhana ini berbicara banya tentang perlunya metode belajar aktif.
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai pahami. Dari yang saya dengar, lihat, bahas dan terapkan, saya dapatkan pengetahun dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai. (Silberman, 2004:15).
Ada sejumlah alasan mengapa sebagian besar orang cenderung lupa tentang apa yang mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik ada kaitannya dengan tingkat kecepatan bicara guru dan tingkat kecepatan pendengaran siswa.
Pada umumnya guru berbicara dengan kecepatan 100 hingga 200 kata permenit. Tetapi beberapa kata-kata yang dapat ditangkap siswa dalam per menitnya? Ini tentunya juga bergantung pada cara mereka mendengarkannya. Jika siswa benar-benar berkonsentrasi, mereka akan dapat mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap 50 sampai 100 kata per menit, atau setengah dari apa yang dikatakan guru. Itu karena siswa juga berpikir banyak selama mereka mendengarkan. Akan sulit menyimak guru yang bicaranya nyerocos. Besar kemungkinan, siswa tidak bisa konsentrasi karena, sekalipun materinya menarik, berkonsentrasi dalam waktu yang lama memang bukan perkara mudah. Penelitian menunjukkan bahwa siswa mampu mendengarkan (tanpa memikirkan) dengan kecepatan 400 hingga 500 kata per menit. Ketika mendengarkan dalam waktu berkepanjangan terhadap seorang guru yang berbicara lambat, siswa cenderung menjadi jenuh, dan pikiran mereka mengembara entah ke mana.
Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam suatu perkualiahan bergaya-ceramah, mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40% dari seluruh waktu kuliah (Pollio,1984) (dalam Sileberman, 2004:16. Mahasiswa dapat mengingat 70 persen dalam sepuluh menit pertama kuliah, sedangkan dalam sepuluh menit terakhir, mereka hanya dapat mengingat 20% materi kuliah mereka (McKeachie, 1986) (dalam Silberman, 2004:16). Tidak heran bila mahasiswa dalam kualiah psikologi yang disampaikan dengan gaya ceramah hanya mengetahui 8% lebih banyak dari kelompok pembanding yang sama sekali belum pernah mengikuti kuliah itu (Richard, dkk., 1989) (dalam Silberman, 2004:16). Bayangkan apa yang bisa didapatkan dari pemberian kuliah dengan cara seperti itu di perguruan tinggi.
Dua figur terkenal dalam gerakan kooperatif, David dan Roger Jonson, bersama Karl Smith, mengemukakan beberapa persoalan berkenaan dengan perkuliahan yang berkepanjangan (Johnson, Johnson & Smith, 1991; dalam Silberman, 2004:17).
a. Perhatian mahasiswa menurun seiring berlalunya waktu.
b. Cara kuliah macam ini hanya menarik bagi peserta didik auditori.
c. Cara ini cenderung mengakibatkan kurangnya proses belajar mengajar tentang informasi faktual.
d. Cara ini mengasumsikan bahwa mahasiswa memerlukan informasi yang sama dengan langkah penyampaian yang sama dengan langkah penyampaian yang sama pula.
6. Pengajaran Terarah
a. Uraian Singkat
Dalam teknik ini, guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa atau mendapatkan hipotesis atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori. Metode pengajaran terarah merupakan selingan yang mengasyikan di sela-sela cara pengajaran biasa. Cara ini memungkinkan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan dipahami oleh siswa sebelu memaparkan apa yang guru ajarkan. Metode ini sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep abstrak.
b. Prosedur
1) Ajukan pertanyaan atau serangkaian pertanyaan yang menjajaki pemikiran siswa dan pengetahuan yang mereka miliki. Gunakan pertanyaan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban, semisal “Bagaimana kamu menjelaskan seberapa cerdanya seseorang?”
2) Berikan waktu yang cukup kepada bagi siswa dalam pasangan atau kelompok untuk membahas jawaban mereka.
3) Perintahkan siswa untuk kembali ke tempat masing-masing dan catatlah pendapat mereka. Jika memungkinkan, seleksi jawaban mereka menjadi beberapa kategori terpisah yang terkait dengan kategori atau konsep yang berbeda semisal “kemampuan membuat mesin” pada kategori kecerdasan kinestetika-tubuh.
4) Sajikan poin-poin pembelajaran utama yang ingin anda ajarkan. Perintahkan siswa untuk menjelaskan kesesuaian jawaban mereka dengan poin-poin ini. Catatlah gagasan yang memberi informasi tambahan bagi poin pembelajaran.
c. Variasi
1) Jangan memilah-milah jawaban siswa menjadi daftar yang terpisah. Sebagai gantinya, buatlah satu daftar panjang dan perintahkan mereka untuk mengkategorikan gagasan mereka terlebih dahulu sebelum guru membandingkannya dengan konsep yang ada di pikiran anda.
2) Mulailah pelajaran dengan tanpa kategori yang sudah ada di benak guru. Cermati bagaimana siswa dan guru secara bersama-sama bisa memilah-milah gagasan mereka menjadi kategori yang berguna.

B. Kerangka Berpikir
Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pengertian pembelajaran, (2) motivasi belajar meliputi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, (3) pengajaran terarah.
1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
2. Motivasi Belajar
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
3. Motivasi Instrinsik
Motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinnya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang memiliki motivasi instrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.
4. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbbul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.
5. Pengajaran Terarah
Suatu teknik pengajaran dimana guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa atau mendapatkan hipotesis atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Dalam penelitian ini menggunakan bentuk penelitian tindakan kolaboratif, dimana peneliti bekerja sama dengan guru kelas. Tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, semua yang tergabung dalam penelitain ni terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil.
Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dirancang untuk dilakukan dalam tiga siklus. Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi dimasyarakat atau sekolompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Arikunto, 2002:82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tidakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan invovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (1988:14), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3.1 Alur PTK

Penjelasan alur di atas adalah:
1. Rancangan/perencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
2. Pelaksanaan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya model pembelajaran penemuan terbimbing.
3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rangcangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga siklus/putaran.Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2, dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SDN 7 PAJO Tahun Pelajaran 2011/2012.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012.

C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas V SDN 7 PAJO Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan perkembangan teknologi untuk produksi, komunikasi dan transportasi.

D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan melalui 5 tahap, yaitu, (1) tahap perencanaan, (2) tahap persiapan, dan (3) tahap pelaksanaan, (4) tahap pengolahan data, dan (5) penyusunan Laporan. Tahap-tahap tersebut dapat dirinci seperti sebagai berikut.
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini kegiatan yang dilakukan meliputi, (1) observasi di sekolah, (2) penyusunan proposal penelitian.
2. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ini meliputi, (1) pembuatan RP (rencana pembelajaran), (2) pembuatan LO (lembar observsi) minat perhatian dan partisipasi siswa, (3) pembuatan soal tes formatif, (4) pembuatan rambu-rambu penilaian, (5) uji coba instrumen, dan (6) seleksi dan revisi instrumen.
3. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan yang banyak berhubungan dengan lapangan dan pengolahan hasil penelitian. Tahap pelaksanaan meliputi, (1) tahap pengumpulan data dan (2) tahap pengolahan data.
4. Tahap Penyelesaian
Pada tahap ini meliputi, (1) penyusunan laporan penelitian dan (2) penggandaan laporan.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Rencana Pelajaran (RP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.
2. Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil proses belajar mengajar.
3. Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep IPS pada pokok bahasan perkembangan teknologi untuk produksi, komunikasi dan transportasi. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif).
F. Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk mengalinasis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan : = Nilai rata-rata
Σ X = Jumlah semua nilai siswa
Σ N = Jumlah siswa=
2. Untuk ketuntasan belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

3. Untuk lembar observasi
a. Lembar observasi pengolahan pembelajaran penemuan terbimbing
Untuk menghitung lembar observasi pengolahan pembelajaran penemuan terbimbing digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana: P1 = pengamat 1 dan P2 = pengamat 2
b. Lembar observasi aktivitas guru dan siswa
Untuk mnghitung lembar observasi aktivitas guru dan siswa digunakan rumus sebagai berikut:
dengan

Dimana: % = Persentase angket
= Rata-rata
= Jumlah rata-rata
P1 = Pengamat 1
P2 = Pengamat 2

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF LEARNING MELALUI SUPERVISI AKADEMIK OLEH KEPALA SEKOLAH DI SMPN 3 SATAP PAJO KABUPATEN DOMPU

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu standar yang memegang peran penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah standar pendidik dan standar kependidikan yang memegang peran strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka dibutuhkan peningkatan kualitas guru. Tenaga guru dituntut mampu menunjukkan kompetensinya sebagai guru yang profesional. Mulyasa (2003,45) mengemukakan lima kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional yaitu : (1) Penguasaan kurikulum, (2) penguasaan materi pelajaran, (3) penguasaan metode dan tehnik evaluasi, (4) komitmen terhadap tugas, dan (5) disiplin dalam arti luas.
Kompetensi guru merupakan faktor pertama yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Guru yang memiliki Kompetensi tinggi akan bersikap kreatif dan inovatif yang selamanya akan mencoba dan mencoba menerapkan berbagai penemuan baru yang dianggap lebih baik untuk pembelajaran siswa.
Kompetensi guru bukan hanya dalam tataran desain perencanaan pembelajaran, akan tetapi juga dalam proses dan evaluasi pembelajaran. Dalam aspek perencanaan misalnya, guru dituntut untuk mampu mendesain perencanaan yang memungkins secara terbuka siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya., seperti Kompetensi merumuskan tujuan pembelajaran, Kompetensi menyusun dan menyajikan materi atau pengalaman belajar siswa, Kompetensi untuk merancang desian pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, Kompetensi menentukan dan memanfaatkan media dan sumber belajar, serta Kompetensi menentukan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran.
Kompetensi dalam proses pembeklajaran berhubungan erat dengan bagaimaba cara guru mengimplementasikan perencanaan pembelajaran, yang mencakup Kompetensi menerapkan keterampilan dasar mengajar dan keterampilan mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dianggap mutakhir.Sedangkan keterampilan mengembangkan model pembelajaran seperti keterampilan proses, model pembelajaran, metode klinis, dan pendekatan pembelajaran.
Salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran adalah Pendekatan pembelajaran cooperative learning merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Guru SMP Negeri 3 Satap Pajo Kabupaten Dompu, dalam melaksanakan pembelajaran tidak banyak mendapatkan hasil yang memuaskan, dari hasil UN rata-rata yang dicapai siswa masih jauh dari yang diharapkan, nilai yang dicapai siswa hanya ( 47,06 %) yang mencapai standar KKM dengan nilai di atas 55, tentu hal ini sangat memperihatikan kita, jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka capaian mutu pendidikan di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu akan tetap ketinggalan dengan sekolah lain, baik yang ada di wilayah Kabupaten Dompu, maupun di luar Kabupaten Dompu.
Dari supervisi peneliti juga sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 3 Satap Pajo menunjukan bahwa mayoritas guru saat ini masih menggunakan cara-cara belum inovatif dalam pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab. Kelebihan dari pendekatan ini adalah dapat mengajarkan materi yang relatif banyak dalam waktu yang singkat, tetapi pembelajaran ini memperlakukan siswa hanya sebagai objek sehingga siswa cenderung pasif dan hanya menerima pengetahuan dari gurunya saja. Pembelajaran belum inovatif hanya menyajikan materi secara tekstual sehingga siswa kesulitan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dibutuhkan pembelajaran yang merangsang siswa untuk melakukan pengamatan, penyelidikan serta mengolah informasi sehingga pada akhirnya siswa dapat memahami konsep secara bermakna. Pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa dan berpusat pada siswa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran siswa”.
Salah satu proses pembelajaran yang sesuai dengan teori kontruktivis adalah pembelajaran cooperative learning.

Untuk mempermudah pemahaman siswa maka perlu dilakukan pembinaan kepada guru dengan menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan coopertive learning. Oleh karena itu penulis perlu melakukan penelitian dengan judul : “ Peningkatan Kompetensi guru menggunakan model pembelajaran cooperatif learning melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012“

B. Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada masalah yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana Peningkatan Kompetensi guru dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran cooperatif learning melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap Pajotahun pelajaran 2012?
2. Bagaimana efektivitas supervisi akademik dalam meningkatkan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012 ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Peningkatan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap Pajo Kabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.
2. Efektivitas supervisi akademik dalam meningkatkan Kompetensi guru menerapkan model pembelajaran cooperatif learning di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan refleksi dalam upaya menciptakan model pembelajaran sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.
2. Jika model pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan mutu pendidikan, maka dapat dipertimbangkan sebagai bahan uji pelatihan bagi kepala sekolah di masa mendatang.
3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan supervisi di sekolah pada umumnya, dan khususnya di SMPN 3 Satap Pajo
4. Hasil penelitian ini memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru ,dan karyawan tata usaha di sekolah, untuk dapat aktif dalam kegiatan sekolah, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan.
5. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada hasanah pengetahuan yang berkaitan dengan teori kepemimpinan/leadership terutama manajemen pendidikan.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kompetensi Guru dalam Pembelajaran
Istilah Kompetensi mengajar guru merupakan Kompetensi guru dalam menigkatkan kinerjanya melaksanakan pembelajaran di kelas. Kinerja dapat diterjemahkan dalam perfomance atau unjuk kerja, artinya Kompetensi yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya pada tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu kinerja yang esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjaan. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu perli diciptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Menurut Fattah (1996) kinerja diartikan sebagai ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan otivasi dalam menghasilkan suatu pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja seseorang yang mencerminkan prestasi kerja sebagai ungkapan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Menurut Supriadi (1998) kinerja guru akan menjadi lebih baik, bila seorang guru memiliki lima hal yakni:
1. Mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya
2. Menguasai secara mendalam bahan mata pelajaran yang akan diajarkan serta cara mengajarnya kepada siswa
3. Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi dan
4. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar serta pengalamannya.
Evaluasi kinerja guru mutlak dilakukan, karena masih terdapat banyak kinerja guru yang kurang memadai, di samping itu guru dituntut dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus berkembang pula dengan pesat. Istilah kinerja berasal dari bahasa inggris yaitu Performance, berarti hasil kena atau unjuk kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang/organisasi tertentu. Istilah kinerja dapat diterjemahkan dalam unjuk kerja, artinya Kompetensi yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya di tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu hal yang sangat esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjan. Pada hakikatnya orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan atas dorongan tertentu. Kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku, sedanghkan tujuannya berfungsi untuk menggerakkan perilaku. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu, perlu disiptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.
Dari pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan kinerja guru dalam penelitian ini ialah: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik, (3) penguasaan pengeloaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran, dan (6) kepribadian.
B. Pembelajaran Cooperatif Learning
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif yang dimaksud dalam penelitian mi adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan interaksi atau bekerja sama dalam mencapai tujuan berbagi informasi, mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Menurut Slavin (1997) pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode pembelajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki Kompetensi heterogen. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari materi akademik dan keterampilan antar pribadi. Setiap anggota-anggota kelompok bertanggung jawab atas ketuntasan tugas-tugas kelompok untuk mempelajari materi yang menjadi tugasnya.
2. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif
Menurut Arends (1997), pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya
b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki Kompetensi tinggi, sedang dan rendah
c) Bila memungkinkan, anggota berasal dari suku, ras budaya, jenis kelamin yang berbeda
d) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
3. Tahapan-tahapan dalam pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif dilaksanakan mengikuti langkah-langkah seperti pada tabel 2.1

B. Hakekat Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, selalu diupayakan adanya interaksi edukatif. Interaksi ini terjadi antara guru, siswa, tujuan pembelajaran, materi, metode dan media, serta evaluasi. Ini sesuai dengan pendapat Soedjadi (1991: 4) yang dituliskan sebagai berikut:
“Mutu pendidikan hanya mungkin dicapai melalui peningkatan mutu proses pendidikan yang bermuara kepada peningkatan mutu produk pendidikan. Proses pendidikan dapat berjalan bila terjadi interaksi antara elemen-elemennya, yakni (1) siswa, (2) guru, (3) sarana, dan (4) kurikulum dalam arti luas dan evaluasi hasil belajar.”

Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran matematika adalah perubahan tingkah laku yang mencapai ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Pengembangan aspek koognitif, afektif dan psikomotor dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan meningkatkan Kompetensi proses matematika yang didapat melalui aktivitas belajar (Arifin, 1995:25).
Tujuan dan fungsi pembelajaran di SMP dijabarkan dalam kurikulum 2006 Fungsi mata pelajaran yang relevan dengan penelitian ini meliputi beberapa hal berikut (Depdikbud, 1993).
1. Memberikan dasar-dasar ilmu untuk mengembangkan pengetahuan di pendidikan tinggi.
2. Mengembangkan keterampilan proses siswa dalam mempelajari konsep
3. Mengembangkan sikap ilmiah
Sesuai dengan fungsi belajar di atas, mengajarkan mata pelajaran seyogyanya mencerminkan hakikat, yakni meliputi produk, proses dan sikap. Sedangkan tujuan pembelajaran (M. Sitorus, 1995:1) dijabarkan bahwa ; “ Mata pelajaran bertujuan untuk, menjelaskan dan menggambarkan bagaimana menggunakan Standar Kompeyensi dan Komptensi Dasar “
Dengan mengkaji tujuan pembelajaran di atas, maka kegiatan pembelajaran diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif, yakni keterlibatan aktif siswa dalam menemukan sendiri pengetahuan melalui interaksinya dengan lingkungan. Untuk itu guru harus menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan siswa, yakni keterlibatan intelektual dan emosional dalam memperoleh produk, di samping keterlibatan fisik dalam proses kegiatan pembelajaran.

C. Supervisi Akademik Kepala sekolah
1. Pengertian Supervisi Akademik
Keterampilan utama dari seorang Kepala sekolah adalah melakukan penilaian dan pembinaan kepada guru untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas agar berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Untuk dapat mencapai kompetensi tersebut kepala sekolah diharapkan dapat melakukan supervisi akademik yang didasarkan pada metode dan teknik supervisi yang tepat sesuai dengan kebutuhan guru
Supervisi akademik adalah Kompetensi dalam melaksanakan supervisi akademik yakni menilai dan membina guru dalam rangka mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya, agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.
Supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh karena itu sasaran supervisi akademik adalah guru dalam proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu tujuan umum pembinaan kepala sekolah melalui supervisi akademik ini adalah (1) menerapkan teknik dan metode supervisi akademik di sekolah, dan (2) Mengembangkan Kompetensi dalam menilai dan membina guru untuk mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.
2. Sifat Sifat Supervisi Akademik
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam pembinaan supervisi akademik maka sifat sebagai seorang Kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik harus memiliki kualitas sebagai berikut: (1). Mendengarkan dengan sabar, (2). Menunjukkan ketrampilan dengan jelas, (3). Menawarkan insentif atau dorongan dengan tepat., (40. Mempertimbangkan reaksi dan pemahaman dengan tepat, (5). Menjelaskan, merangsang (stimulating) dan memuji secara simpatik dan penuh perhatian, (6). Meningkatkan pengetahuan sendiri secara berkelanjutan.
3. Tujuan Supervisi Akademik
Supervisi instruksional bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan, pengembangan, interaksi, penyelesaian masalah yang bebas kesalahan, dan sebuah komitmen untuk membangun kapasitas guru. Cogan (1973) dan Goldhammer (1969), penyusun kerangka supervisi klinis, meramalkan praktek yang akan memposisikan guru sebagai pebelajar aktif. Lebih lanjut, Cogan menegaskan bahwa guru memiliki Kompetensi menjadi penanggungjawab professional dan lebih dari pada itu ia mampu menjadi “penganalisis kinerjanya sendiri, terbuka untuk membantu orang lain, dan mengarahkan diri sendiri”. Unruh dan Turner (1970) menyatakan bahwa supervisi sebagai “sebuah proses sosial dari stimulasi, pengasuhan, dan memprediksi pengembangan professional guru” dan Kepala sekolah sebagai “ penggerak utama dalam pengembangan secara optimum kondisi pembelajaran ”. Apabila guru belajar dari memeriksa praktiknya sendiri dengan bantuan teman sejawat atau Kepala sekolah, pembelajarannya menjadi lebih personal dan oleh karena itu lebih kuat.
Maksud dari supervisi akademik/instruksional adalah formatif, sesuai dengan proses yang sedang berjalan, proses pengembangan, dengan pendekatan yang berbeda yang memungkinkan guru untuk belajar dari cara penganalisisan dan perefleksian praktik di kelas mereka dengan pendampingan kepala sekolah atau profesional lainnya (Glatthorn, 1984, 1990, Glickman, 1990).
Sebaliknya, maksud dari evaluasi adalah sumatif; pengamatan kelas dan penilaian kinerja professional lainnya mengarah pada pertimbangan final atau rating keseluruhan (mis., M=memuaskan, B= baik, PP = perlu peningkatan). McGreal (1983) memperjelas bahwa seluruh supervisi mengarah ke evaluasi dan kepala sekolah tidak dapat mengevaluasi guru sebelum mereka melakukan pengamatan terhadap guru di dalam kelasnya
Penelitian pada kebiasaan supervisi menyatakan bahwa, kebanyak sekolah mengurangi tujuan awal dari supervisi akademik/instruksional dengan menggantikannya dengan evaluasi (Sullivan & Glanz, 2000).
Maksud dari evaluasi adalah untuk melihat ketercapainya dengan ketentuan standar pendidikan nasional dan kebijakan Pemda. Menguji/menentukan nilai guru pada akhir tahun, dan dapat pula digunakan untuk menentukan apakah seorang guru layak untuk mengajar atau tidak.
Tujuan dari supervisi adalah untuk meningkatkan : (1). Interaksi tatap muka dan membangun hubungan antara guru dengan Kepala sekolah (Acheson & Gall, 1997; Bellon & Bellon, 1982; Goldhammer, 1969; McGreal, 1983); (2). Pembelajaran bagi guru , kepala sekolah dan Kepala sekolah (Mosher & Purpel, 1972) (3). Meningkatkan belajar siswa melalui peningkatan pembelajaran guru (Blumberg, 1980; Cogan, 1973; Harris, 1975) (4). Basis data untuk pengambilan keputusan (Bellon & Bellon, 1982) (5). Pengembangan kapasitas individual dan organisasi (Pajak, 1993) (6). Membangun kepercayaan pada proses, satu sama lain, dan lingkungan(Costa & Garmston, 1994), dan (7). Mengubah hasil dengan pengembangan kehidupan yang lebih baikuntuk guru dan siswa dan pembelajaran mereka (Sergiovanni & Starratt,1998).
Secara umum tujuan supervisi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran yang berdampak pada peningkatan kualitas hasil belajar peserta didik

D. Hipotesis Tindakan
Dari uraian tersebut di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kompetensi guru dalam menggunakan model pembelajaran cooperatif learning dapat ditingkatkan melalui supervisi akademik di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.
2. Supervisi akademik efektif dapat meningkatkan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012-2013.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian Tindakan

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang bertujuan untuk meningkatkan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning .Tindakan yang akan dilakukan adalah supervisi akademik terhadap guru-guru tempat peneliti menjafi kepala sekolah di SMP Negeri 3 Satap PajoKabupaten Dompu tahun pelajaran 2012. Jenis penelitian tindakan yang dipilih adalah jenis emansipatori. Jenis emansipatori ini dianggap paling tepat karena penelitian ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan pada sekolah tempat kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru bersedia melakukan perubahan sehingga kinerjanya sebagai pendidik akan mengalami perubahan secara meningkat.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan model Kemmis yang terdiri dari atas empat langkah, yakni: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Wardhani, 2007: 45). Model ini dipilih karena dalam mengajarkan materi pembelajaran diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan Langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksnaan tindakan, observasi, dan refleksi.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada guru SMP Negeri 3 Satap Pajo kabupaten Dompu yang berlokasi di Jalan Lintas Lakey Kec. Hu’u Kab.Dompu. Pemilihan lokasi penelitian karena sekolah tersebut merupakan sekolah tempat peneliti mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Di samping itu, hasil supervisi ditemukan kelemahan guru dalam menyusun Model pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan mulai dari bulan September minggu pertama sampai dengan minggu keempat bulan Nopember 2012 di SMPN 3 Satap Pajo, mulai dari persipan sampai dengan pembuatan laporan sesuai dengan jadwal terlampir.

C. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah Guru SMPN 3 Satap PajoKabupaten Kabupaten Dompu yang merupakan temaot peneliti bertugas sebagai guru dan sekaligus kepala sekolah tahun pelajaran 2012-2013.
D. Objek Penelitian
Dalam penelitian Tindakan Sekolah ini objek yang akan diteliti adalah Peningkatan Kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran cooperatif learning melalui Supervisi Akademik di SMPN 3 Satap PajoKabupaten Dompu.
E. Rancangan Penelitian
1. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus
2. Kegiatan dilaksanakan dalam semester Ganjil tahun pelajaran 2012-2013.
3. Lama penelitian 4 pekan efektif dilaksanakan mulai tanggal 08 Oktober sampai dengan 12 November 2012.
4. Dalam pelaksanaan tindakan, rancangan dilakukan dalam 3 siklus yang meliputi ; (a) perencanaan,(2) tindakan,(3) pengamatan,(4) refleksi.
Rancangan Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS ) menurut Kemmis dan Mc.Taggar ( Depdiknas,2000 ) adalah seperti gambar berikut

Plan

Reflective
Action / Observation

Siklus I

Recived Plan

Reflective
Action / Obesrvation

Siklus II

Recived Plan

Reflective
Action / Observation

Siklus III

Recived Plan

Gambar 3.1. Alur Penelitian Tindakan

1. Rencana ( Plan ) : adalah rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi.
2. Tindakan ( Action ) : adalah apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perbaikan,peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
3. Observasi ( Observation ) : adalah mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap guru.
4. Refleksi ( reflection ) : adalah peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari pelbagai keriteria.
5. Revisi ( recived plan ) : adalah berdasarkan dari hasil refleksi ini,peneliti melakukan revisi terhadap rencana awal.
F. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data :
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu :
a. Guru : Diperoleh data tentang peningkatan Kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran Matematika melalui model pembelajaran cooperative learning
b. Kepala sekolah : Diperoleh data tentang penerapan supervisi akademik Kepala sekolah.
2. Teknik Pengumpulan Data :
Dalam pengumpulan data teknik yang digunakan adalah menggunakan observasi dan angket.

G. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ;
1. Kuantitatif
Analisis ini akan digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan Kompetensin guru melalui supervisi akademik Kepala sekolah dengan menggunakan prosentase ( % ).
2. Kualitatif
Teknik analisis ini akan digunakan untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian deskriptif, dan penarikan simpulan.

H. Indikator Keberhasilan
Adapun indikator yang akan diteliti dalam variabel harapan terdiri dari :
1. Kompetensi meningkatkan Kompetensi guru
2. Kompetensi meningkatkan kinerja guru dalam perencaan dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah
3. Kompetensi menguasai materi oleh guru.
4. Kompetensi meningkatkan kinerja guru.
Sedangkan variabel tindakan memiliki indikator sebagai berikut :
1. Tingkat kualitas perencanaan
2. Kualitas perangkat observasi
3. Kualitas operasional tindakan
4. Kesesuaian perencanaan dengan tindakan
5. Kesesuaian materi pembinaan dan bimbingan yang diberikan
6. Tingkat efektifitas pelaksanaan pembinaan Kepala sekolah menerapkan pembelajaran cooperatif learning.
7. Kompetensi meningkatkan kinerja guru melalui pembinaan Kepala sekolah.
Penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan Kompetensi guru mencapai 85 % guru ( sekolah yang diteliti ) telah mencapai ketuntasan dengan nilai rata rata 75 .Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2 ,maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan sekolah yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam manajemen berbasis sekolah ( MBS ).

PENELITIAN TINDAKA KELAS

imagesDPENELITIAN TINDAKAN KELAS

BAB I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diundangkannya Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, merupakan bukti pengakuan terhadap profesionalitas pekerjaan guru dan dosen semakin mantap. Terlebih lagi di dalam pasal 14 dan 15 Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial, meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. 10443210_854549237906023_1696326834474510977_o imagesUUUUUUUU
Bagi para guru pengakuan dan penghargaan di atas harus dijawab dengan meningkatkan profesionalisme dalam bekerja. Guru tidak selayaknya bekerja as usual seperti era sebelumnya, melainkan harus menunjukkan komitmen dan tanggung jawab yang tinggi. Setiap kinerjanya harus dapat dipertanggung jawabkan baik secara publik maupun akademik. Untuk itu ia harus memiliki landasan teoretik atau keilmuan yang mapan dalam melaksanakan tugasnya mengajar maupun membimbing peserta didik.
Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru sudah pasti akan berhadapan dengan berbagai persoalan baik menyangkut peserta didik, subject matter, maupun metode pembelajaran. Sebagai seorang profesional, guru harus mampu membuat prefessional judgement yang didasarkan pada data sekaligus teori yang akurat. Selain itu guru juga harus melakukan peningkatan mutu pembelajaran secara terus menerus agar prestasi belajar peserta didik optimal disertai dengan kepuasan yang tinggi. Baca lebih lanjut

PENULISAN KARYA ILMIAH

PENULISAN KARYA ILMIAH

I.KARAKTERISTIK KARYA TULIS ILMIAH

indexKKA. Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah adalah suatu produk dari kegiatan ilmiah. Mem- bicarakan produk ilmiah, pasti kita membayangkan kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan temuan baru yang bersifat ilmiah, yaitu penelitian. Memang temuan ilmiah dilakukan melalu penelitian, namun tidak hanya penelitian merupakan satu-satunya karya tulis ilmiah.
Karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu per- masalahan. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamat- an, pengumpulan data yang diperoleh melalui suatu penelitian. Karya tulis ilmiah melalui penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang sistematis untuk memperoleh jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang diteliti. Untuk memperjelas jawaban ilmiah berdasarkan penelitian, penulisan karya tulis ilmiah hanya dapat dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas melalui penelitian dan kesimpulan dari penelitian tersebut.
Karya tulis ilmiah sebagai sarana komunikasi ilmu pengetahuan yang berbentuk tulisan menggunakan sistematika yang dapat diterima oleh komunitas keilmuan melalui suatu sistematika penulisan yang disepakati. Dalam karya tulis ilmiah cirri-ciri keilmiahan dari suatu karya harus dapat dipertanggung jawabkan secara empiris dan objektif. Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber pengetahuan ilmiah yang digunakan dalam penulisan. Penulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak bisa diindentifikasikan mana yang merupakan subjek dan predikat serta hubungan apa antara subjek dan predikat kemungkinan besar merupakan informasi yang tidak jelas. Penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang harus disampaikannya.
Dalam penelitian yang digunakan sebagai bahan penulisan karya tulis ilmiah mengutip pernyataan orang lain sebagai dasar atau sebagai landasan penyusunan penelitian. Pernyataan ilmiah ini digunakan untuk bermacam-macam tujuan sesuai dengan bentuk argumentasi yang diajukan. Pernyataan tersebut dapat digunakan sebagai definisi dalam menjelaskan suatu konsep, atau dapat digunakan sebagai premis dalam pengambilan kesimpulan pada suatu argumentasi.
Pernyataan ilmiah yang harus kita gunakan dalam tulisan harus mencakup beberapa hal, yaitu :
1. Harus dapat kita identifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut.
2. Harus dapat kita identifikasikan media komunikasi ilmiah di mana pernyataan disampaikan apakah dalam makalah, buku, seminar, lokakarya dan sebagainya.
3. Harus dapat diindentifikasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat domisili dan waktu penerbitan itu dilakukan. Sekiranya publikasi ilmiah tersebut tidak diterbitkan maka harus disebutkan tempat, waktu dan lembaga yang melakukan kegiatan tersebut.
Cara kita mencantumkan ketiga hal tersebut dalam karya tulis ilmiah disebut teknik notasi ilmiah. Terdapat bermacam-macam teknik notasi ilmiah yang pada dasarnya mencerminkan hakikat dan unsur yang sama.
Buku ini memberikan contoh teknik notasi ilmiah yang menggunakan catatan kaki (Footnote). Catatan kaki merupakan informasi dari pernyataan yang kita kutip. Di samping itu catatan kaki dapat digunakan sebagai infor- masi tambahan yang tidak langsung berkaitan dengan pernyataan dalam badan tulisan.
Kutipan yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ada dua jenis yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung merupakan pernyataan yang kita tulis dalam karya tulis ilmiah susunan kalimat aslinya tanpa mengalami perubahan sedikit pun. Kutipan tak langsung merupakan kutipan pendapat atau pernyataan orang lain dengan melakukan perubahan kalimat yang dikutip disesuaikan dengan bahasa penulis itu sendiri.

B. Persyaratan karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah merupakan perwujudan kegiatan ilmiah yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Karya tulis ilmiah adalah karangan atau karya tulis yang menyajikan fakta dan ditulis dengan menggunakan metode penulisan yang baku.
Hal-hal yang harus ada dalam karya ilmiah antara lain:
1. Karya tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
2. Keindahan karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang menyangganya.
3. Alur pikir dituangkan dalam sistematika dan notasi.
4. Karya tulis ilmiah terdiri dari unsur-unsur: kata, angka, tabel, dan gam- bar, yang tersusun mendukung alur pikir yang teratur.
5. Karya tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkan- dung dalam hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah keba- hasaan.
6. Karya tulis ilmiah terdiri dari serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan), deskripsi (lukisan) dan argumentasi (alasan).

Karya ilmiah adalah suatu karya tulis yang membahas suatu permasa- lahan.Pembahasan dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian.
Karya tulis ilmiah harus memiliki gagasan ilmiah bahwa dalam tulisan tersebut harus memiliki permasalahan dan pemecahan masalah yang menggunakan suatu alur pemikiran dalam pemecahan masalah. Alur pemikiran tersebut tertuang dalam metode penelitian. Metode penelitian ilmiah pada hakikatnya merupakan operasionalisasi dari metode keilmuan. Dengan kata lain bahwa struktur berpikir yang melatarbelakangi langkah-langkah dalam penelitian ilmiah adalah metode keilmuan.
Metode penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan pemecahan masalah memiliki pengertian sebagai berikut:
1. Penelitian adalah usaha yang sistematik dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah spesifik yang memerlukan pemecahan.
2. Cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.
3. Cara ilmiah dilandasi oleh metode rasional dan metode empiris serta metode kesisteman.
4. Penelitian meliputi proses pemeriksaan, penyelidikan, pengujian dan eksperimen yang harus diilakukan secara sistematik, tekun, kritis, objektif, dan logis.
5. Penelitian dapat didefinisikan sebagai pemeriksaan atau penyelidikan ilmiah sistematik, terorganisasi didasarkan data dan kritis mengenai masalah spesifik yang dilakukan secara objektif untuk mendapatkan pemecahan masalah atau jawaban dari masalah tersebut.
Metode penulisan karya tulis ilmiah mengacu pada metode pengungkapan fakta yang biasanya berasal dari hasil penelitian dengan berbagai metode yang digunakan. Karya tulis ilmiah dapat juga disebut sebagai laporan hasil penelitian.
Laporan hasil penelitian ditulis sesuai dengan tujuan laporan tersebut dibuat atau ditujuan untuk keperluan yang dibutuhkan. Laporan hasil penelitian dapat ditulis dalam dua macam, yaitu sebagai dokumentasi dan sebagai publikasi. Perbedaan kedua karya tulis ilmiah ini terletak pada format penulisan.
Karya tulis ilmiah sebagian besar merupakan publikasi hasil peneli- tian. Dengan demikian format yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini ditentukan oleh isi penelitian yang menggambarkan metode atau sistematika penelitian. Metode penelitian secara garis besar dapat dibagi dalam empat macam.yaitu yang disusun berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, hasil penelitian kualitatif, hasil kajian pustaka, dan hasil kerja pengembangan.
Karya tulis ilmiah yang berupa hasil penelitian inid apat dibedakan berdasarkan sasaran yang dituju oleh penulis. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan. objektif. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum biasanya disajikan dalam bentuk artikel yang lebih cenderung menyajikan hasil penelitian dan aplikasi dari hasil penelitian tersebut dalam subtansi keilmuannya.
Dari berbagai macam bentuk karya tulis ilmiah, karya tulis ilmiah memiliki persyaratan khusus. Persyaratan karya tulis ilmiah adalah:
1. Karya tulis ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2. Karya tulis ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulis ilmiah yakni mencantukan rujukan dan kutipan yang jelas.
3. Karya tulis ilmiah disusun secara sistematis setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual dan prosedural.
4. Karya tulis ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5. Karya tulis ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis
6. Karya tulis ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, serta tidak bersifat ambisius dan berprasangka, penyajian tidak boleh bersifat emotif.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam menulis karya ilmiah memer- lukan persiapan yang dapat dibantu dengan menyusun kerangka tulisan. Di samping itu, karya tulis ilmiah harus menaati format yang berlaku.

BAB II
SISTEMATIKA KARYA TULIS ILMIAH

Menulis karya tulis ilmiah yang bersumber penelitian adalah menulis laporan penelitian dan artikel untuk jurnal ilmiah. Oleh sebab itu, format penulisannya menyesuaikan dengan format penelitian. Format penelitian sangat tergantung dengan metode penelitian yang digunakan, di mana setiap metode memiliki format tersendiri. Format dalam menulis karya ilmiah merupakan alur-alur jalan pikiran yang terdapat dalam sebuah penelitian yang dikaitkan dengan proses penulisan.
Dalam pembahasan ini kita tidak akan menekankan kepada aspek-aspek penelitian seperti teknik pengambilan data, analisis data, dan teknik analisis statistika, melainkan kepada rambu-rambu pikiran yang merupakan tema pokok sebuah proses penelitian. Seperti kita ketahui bahwa penelitian adalah sebuah proses pemecahan masalah, maka penulisan karya tulis ilmaih merupakan pemaparan proses pemecahan masalah, sehingga pembaca memperoleh jawaban dari masalah yang diteliti.
Karya tulis ilmiah hasil penelitian berfungsi mengkomunikasikan ihwal gagasan atau hasil penelitian yang telah dilakukan, khususnya (a) gagasan: Apa yang menjadi permasalahan, dan Bagaimana gagasan yang dikemukakan dalam memecahkan maasalah, (b) Penelitian: apa yang diteliti, mengapa penelitian dilakukan, dan apa yang menjadi fokusnya, apa yang menjadi acuan konseptualnya, bagaimana desainnya, bagaimana data dikum- pulkan dan dianalisis, temuan apa yang diperoleh, apa kesimpulan akhirnya, dan apa rekomendasi yang dinyatakan berdasarkan temuan tersebut bagi kepentingan praktis dan pengembanga ilmu.
Bentuk karya tulis ilmiah ada dua macam, yaitu (a) panjang, contoh- nya skripsi, tesis atau laporan penelitian, dan (b) atau versi pendek, contoh- nya artikel jurnal dan makalah simposium.

A. Sistematika Laporan Penelitian
Bagian Awal
1. Hal-hal yang termasuk bagian awal adalah :
2. Halaman sampul
3. Halaman judul
4. Abstrak
5. Kata Pengantar
6. Daftar Isi
7. Daftar Gambar
8. Daftar Lampiran
Bagian Inti
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Kegunaan Penelitian
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian pustaka setiap variabel
B. ……………
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
B. Tempat dan Waktu Penelitian
C. Populasi dan Sampel Penelitian
D. Metode Penelitian
E. Instrumen Penelitian
F. Teknik Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
B. Uji Prsayarat Analisis
C. Pengujian Hipotesis
D. Pembahasan hasil penelitian
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
Bagian Akhir
• Daftar Pustaka
• Lampiran
• Riwayat Hidup Penulis
f). Sistematika Laporan Penelitian Versi Pendek:
(Makalah Seminar, Artikel Jurnal Ilmiah)
1). Pendahuluan
2). Metode
3). Temuan dan Pembahasan
4). Kesimpulan dan Rekomendasi
5). Daftar Pustaka

Berikut ini disajikan contoh format karya tulis ilmiah laporan hasil penelitian berserta uraian tiap-tiap bagian, sebagai berikut.

Bab I.Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah
1. memaparkan permasalahan umum yang menjadi landasan fokus masalah yang akan diteliti
2. memaparkan faktor-faktor yang melatarbelakangi masalah tersebut muncul.:
o Faktor yang melatarbelakangi permasalahan digambarkan dengan kenyataan yang ada, misalnya kemampuan guru biologi dalam penggunaan metode CTL rendah. Paparkan fakta yang mendukung, seperti hasil pengamatan kita saat melakukan supervisi.
o Berilah argumentasi mengapa kemampuan tersebut rendah, misalnya guru kurang berminat untuk mencoba, sulit mengaplikasikan meteri dengan metode, tugas-tugas tidak mendorong aktivitas siswa. Dalam memberi argumentasi ini dilakukan analisis yang didasari suatu bukti nyata berdasarkan pengalaman sendiri saat melakukan obeservasi guru mengajar di kelas.
o Berilah argumentasi perkiraan pemecahan yang diharapkan dapat mengatasi masalah, misalnya bila masalah yang dominan adalah teknik pelatihan, maka pilihlah teknik pelatihan yang dianggap dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar biologi dengan metode CTL. Contoh, teknik problem solving sebagai upaya peningkatan kemampuan guru menerapkan metode CTL dalam mengajar biologi di SMA.
o Berilah argumentasi kelebihan dari teknik Problem Solving, sehingga penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.
3. Mengerucutkan permasalahan menjadi lebih fokus pada variabel penelitian.

B. Identifikasi Masalah
o Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada tersedia dan cukup banyak, peneliti dapat mengidentifikasi, memilih, dan merumuskannya.
o Dalam mengidentifikasi peneliti melakukan pendataan semua permasalahan yang diduga mempengaruhi variabel utama atau masalah yang ada
o Identifikasi masalah dilakukan dengan menyusun sejumlah pertanyaan yang terkait dengan fokus masalah.

C. Pembatasan Masalah
o Setelah masalah diidentifikasi, belum merupakan jaminan bahwa masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti.
o Biasanya, dalam usaha mengidentifikasi atau menemukan masalah penelitian diketemukan lebih dari satu masalah.
o Dari masalah-masalah yang teridentifikasi tersebut perlu dipilih salah satu, yaitu mana yang paling menjadi masalah utama dan menjadi faktor yang sangat mempergaruhi dan sesuai untuk diteliti.
o Pilihlah salah satu permasalahan yang sekiranya sesuai
o Jika yang diketemukan sekiranya hanya satu masalah, masalah tersebut juga harus dipertimbangkan kelayakan serta kesesuaiannya untuk diteliti.

D. Perumusan Masalah
o Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka perlu dirumuskan.
o Perumusan masalah ini penting, karena hasilnya akan menjadi penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya.
o Perumusan masalah memperhatikan hal-hal berikut ini:
(a) masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan,
(b) rumusan itu hendaknya padat dan jelas, dan
(c) rumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang kemungkinan mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

E. Hipotesis Tindakan
o Rumuskan dugaan sementara pemecahan masalah yang disebabkan oleh solusi yang dipilih secara operasional
o Misalnya ” Teknik Problem Solving dapat meningkatkan kemampuan guru biologi dalam menerapkan metode CTL dalam pelajaran Biologi”

Bab II.Kajian Teori Dan Kerangka Berpikir

A. Kajian Teori
o Setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoretis bagi peneliti yang akan dilakukan itu.
o Landasan ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error).
o Untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai hal yang disebutkan di atas itu orang harus melakukan penelaahan kepustakaan.
o Telaah pustaka dilakukan untuk memcahkan permasalahan yang terdapat pada perumusan masalah berdasarkan teori yang ada. Pemecahan masalah secara teoretis adalah mempergunakan teori yang relevan sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji permasalahan agar mendapat jawaban yang akurat.
o Dalam kajian teori bukan kumpulan kutipan dari teori yang relevansaja, tetapi kajian yang membangun kerangka pemikiran pemecahan masalah sampai dapat menggambarkan cara perolehan data berupa konstruk variabel yaitu indikator-indkator dari variabel yang harus diamati.

B. Kerangka berpikir
o Sintesis dari analisis hasil kajian teori dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian
o Memberikan gambaran pemecahan masalah dengan adanya variabel yang digunakan untuk memecahkan masalah
o Gambaran tersebut memberikan arah pemecahan masalah melalui argumentasi, yaitu menyusun kerangka berpikir peneliti sendiri secara sistemik dan analitik.

III.Metodologi Penelitian

A. Tujuan
Tujuan penelitian perlu dirumuskan, karena dalam tujuan ini memberikan gambaran pemecahan masalah yang diharapkan dalam penelitian. Oleh karena itu, dalam merumuskan tujuan harus operasional dan rinci.
B. Lokasi
Jelaskan lokasi penelitian
C. Waktu
Jelaskan waktu pelaksanaan penelitain
D. Prosedur
1. Perencanaan
a. Masalah yang teridentifikasi/fokus masalah
bagian ini menjelaskan masalah yang teridentifikasi berdasarkan hasil pengamatan/pretes serta analisis untuk mencari akar masalah.
b. Rencana Tindakan
bagian ini menjelaskan rencana tindakan berdasarkan akar masalah yang telah teridentifikasi yang berupa tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki permasalahan, aspek apa saja yang dilakukan untuk memperbaiki yang dirumuskan dalam siklus. Dalam rencana tindakan ini terdapat kreteria keberhasilan dari suatu siklus. Rencana tindakan disusun dalam bentuk skenario pembelajaran yang mana dalam strategi pembelajaran telah mengimplementasikan solusi (tindakan) yang direncanakan untuk memecahkan masalah.
2. Pelaksanaan
o Objek
o Kolaborator
3. Evaluasi

IV.Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
1.1. Siklus I
a. Perencanaan
berisi rencana untuk melaksanakan action pada siklus ini (seperti skenarion pembelajaran)
b. Pelaksanaan
menjelaskan pelaksanaan tindakan (action) secara jelas langkah-langkah yang dilakukan dalam proses penelitian.
c. Hasil Pengamatan
berisi paparan yang mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, misalnya nilai hasil tes atau analisis hasil yang diamati/dijaring melalui kuesioner. hasil pengamatan kolaborator selama pelaksanaan action.
d. Refleksi
Pembahasan hasil dari peneliti dan kolaborator yang merupakan kesimpulan daripelaksanaan siklus I. Bila dari hasil refleksi menyimpulkan hasil action belum tuntas, maka dirumuskan kembali masalah yang akan ditindalanjuti pada siklus kedua.
2. Pembahasan
Berisi pembahasan berdasarkan analisis-analisis yang ada pada setiap siklus

V.Kesimpulan Dan Saran

1. Kesimpulan
2. Saran

Daftar Pustaka
Lampiran
1 Surat Keterangan dari Kepala Sekolah
2 Skenario/RPP
3 Bukti Pengamatan dari Kolaborator
4 Instrumen/tes
5 contoh/bukti pekerjaan/jawaban siswa

B. Sistematika Makalah Seminar dari Hasil Penelitian
• Judul
– Bagian yang mungkin satu-satunya dibaca orang lain, oleh karena itu judul harus mampu menarik perhatian pembaca yang membacanya secara sepintas
– Judul yang tidak jelas, terlalu umum, kurang informatif, tidak memikat dan bisu akan menyebabkan tulisan diremehkan orang
– Judul yang baik memakai kata-kata tidak lebih dari 12 kata-kata
– Dalam menyusun judul, hindari kata-kata klise, seperti: penelitian pendahuluan, studi perbandingan, suatu penelitian tindakan kelas, dll.
– Hindari pemakaian kata kerja pada awal judul
– Jangan memakai kata singkatan atau akronim
• Baris kepemilikan
– Nama pengarang
– Nama lembaga tempat kegiatan dilakukan, lengkap dengan alamat pos
– Setiap orang yang namanya tercantum sebagai pengarang, mempunyai kewajiban moral bisa menjawab isi dari tulisan tersebut
– Dalam menulis nama, tanggalkan pangkat, gelar, dan kedudukan
• Abstrak dan Ringkasan
– Abstrak dapat menerangkan keseluruhan isi tulisan
– Abstrak disajikan ke dalam satu paragraf dengan kata-kata sekitar 500
– Komponen abstrak:
– Tabel dan grafik tidak boleh dicantumkan dalam abstrak, begitu juga dengan singkatan ataupun pengacuan pada pustaka
• Kata kunci
– Kata kunci dapat berasal dari judul, abstrak, atau isi dari tulisan
– Pilih kata-kata yang dipakai kalau mencari informasi mengenai topik tersebut
Pendahuluan
• Pendahuluan tidak diberi judul, ditulis langsung setelah abstrak dan kata kunci. Bagian ini menyajikan kajian pustaka yang berisi paling sedikit tiga gagasan:
• Latar belakang atau rasioanl penelitian
• masalah dan wawasan rencana pemecahan masalah
• rumusan tujuan penelitian ( dan harapan tentang manfaat hasil penelitian).
• Sebagai kajian pustaka, bagian ini harus disertai rujukan yang bisa dijamin otoritas penulisnya. Jumlah rujukan harus proporsional ( tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak). Pembahasan kepustakaan harus disajikan secara ringkas, padat dan lkangsung mengenai masalah yang diteliti. Aspek yang dibahasa dan mencakup landasan teorinya, segi historisnya, atau segi lainnya. Penyajian latar belakang atau rasional penelitian hendaknya sedemikian rupa sehingga mengarahkan pembaca ke rumusan masalah penelitian yang dilengkapi dengan rencana pemecahan masalah dan akhirnya ke rumusan tujuan. Untuk penelitian kualitatif di bagian ini dijelaskan juga fokus penelitian dan uraian konsep yang berkaitan dengan fokus penelietian.

Metode
• Pada dasarnya bagian ini menyajikan bagaimana penelitian itu dilakukan. Uraian bisa jika dalam beberapa paragraph tanpa subbagian, atau dipilah-pilah menjadi beberapa sub-bagian. Hanya hal-hal yang pokok saja disajikan. Uraian rinci tentang rancangan penelitian tidak perlu diberikan.
• Materi pokok bagian ini adalah bagaimana data dikumpulkan, siapa sumber data, dan bagaimana data dianalisis.

Hasil
• Bagian hasiladalah bagian utama artikel ilmiah, dan oleh karena itu biasanya merupakan bagian terpanjang. Bagian ini menyajikan hasil-hasil analisis data; yang dilaporkan adalah hasil bersih. Proses analisis data ( seperti perhitungan statistik) tidak perlu disajikan. Proses pengujian hipotesis pun tidak perlu disajikan, termasuk pembandingan antara koefisien yang ditemukan dalam analisis dengan koefisien dalam tabel statistik. Yang dilaporkan adalah hasil analisis dan hasil pengujian hipotesis.
• Hasil analisis boleh disajikan dengan tabel atau grafik. Tabel ataupun grafik harus diberi komentar atau dibahas. Pembahasan tidak harus dilakukan per tabel atau grafik. Tabel atau grafik digunkan untuk memperjelas penyajian hasil secara verbal.
• Apabila hasil yang disajikan cukup panjang, penyajian bisa dilakukan dengan memilah-milah menjadi subbagian-subbagian sesuai dengan penjabaran masalah penelitian. Apabila bagian ini pendek, bisa digabung dengan bagian pembahasan. Untuk penelitian kualitatif, bagian hasil memuat bagian-bagian rinci dalam bentuk subtopic-subtopik yang berkaitan langsung dengan fokus penelitian.

Pembahasan
• Bagian ini adalah bagian terpenting dari keseluruhan isi artikel ilmiah. Tujuan pembahasan adalah
a. menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaiamana tujuan penelitian itu tercapai
b. menafsirkan temuan-temuan
c. mengintegrasi temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan.
• Dalam menjawab masalah penelitian atau tujuan penelitian, harus disimpulkan hasil-hasil penelitian secara eksplisit. Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakan logika dan teori-teori yang ada.
• Untuk penelitian kualitatif, bagian ini dapat pula memuat ide-ide peneliti, keterkaitan antara kategori-kategori dan dimensi-dimensi serta posisi temuan atau penelitian terhadap temuan dan teori sebelumnya.

Kesimpulan dan saran
• Kesimpulan menyajikan ringkasan dari uraian yang disajikan pada bagian hasil dan pembahasan. Berdasarkan uaraian pada kedua bagian itu, dikembangkan pokok-pokok pikiran yang merupakan esensi dari uraian tersebut. Kesimpulan disajikan dalam bentuk essei, bukan dalam bentuk numerical.
• Saran disusun berdasarkan kesimpulan yang telah ditarik. Saran-saran bisa mengacu kepada tindakan praktis, atau pengembangan teoretis, dan penelitian lanjutan. Bagian saran bisa berdiri sendiri. Bagian kesimpulan dan saran dapat pula disebut bagian penutup.

Daftar Rujukan
• Daftar rujukan harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang disajikan dalam batang tubuh artikel ilmiah.
• Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh makalah.

C. Artikel Jurnal Ilmiah Hasil Penelitian
• Judul
– Bagian yang mungkin satu-satunya dibaca orang lain, oleh karena itu judul harus mampu menarik perhatian pembaca yang membacanya secara sepintas
– Judul yang tidak jelas, terlalu umum, kurang informatif, tidak memikat dan bisu akan menyebabkan tulisan diremehkan orang
– Judul yang baik memakai kata-kata tidak lebih dari 12 kata-kata
– Dalam menyusun judul, hindari kata-kata klise, seperti: penelitian pendahuluan, studi perbandingan, suatu penelitian tindakan kelas, dll.
– Hindari pemakaian kata kerja pada awal judul
– Jangan memakai kata singkatan atau akronim

• Baris kepemilikan
– Nama pengarang
– Nama lembaga tempat kegiatan dilakukan, lengkap dengan alamat pos
– Setiap orang yang namanya tercantum sebagai pengarang, mempunyai kewajiban moral bisa menjawab isi dari tulisan tersebut
– Dalam menulis nama, tanggalkan pangkat, gelar, dan kedudukan

• Abstrak dan Ringkasan
– Abstrak dapat menerangkan keseluruhan isi tulisan
– Abstrak disajikan ke dalam satu paragraf dengan kata-kata sekitar 500
– Komponen abstrak:
– Tabel dan grafik tidak boleh dicantumkan dalam abstrak, begitu juga dengan singkatan ataupun pengacuan pada pustaka

• Kata kunci
– Kata kunci dapat berasal dari judul, abstrak, atau isi dari tulisan
– Pilih kata-kata yang dipakai kalau mencari informasi mengenai topik tersebut
Pendahuluan
• Pendahuluan tidak diberi judul, ditulis langsung setelah abstrak dan kata kunci. Bagian ini menyajikan kajian pustaka yang berisi paling sedikit tiga gagasan:
• Latar belakang atau rasioanl penelitian
• masalah dan wawasan rencana pemecahan masalah
• rumusan tujuan penelitian ( dan harapan tentang manfaat hasil penelitian).
• Sebagai kajian pustaka, bagian ini harus disertai rujukan yang bisa dijamin otoritas penulisnya. Jumlah rujukan harus proporsional ( tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak). Pembahasan kepustakaan harus disajikan secara ringkas, padat dan lkangsung mengenai masalah yang diteliti. Aspek yang dibahasa dan mencakup landasan teorinya, segi historisnya, atau segi lainnya. Penyajian latar belakang atau rasional penelitian hendaknya sedemikian rupa sehingga mengarahkan pembaca ke rumusan masalah penelitian yang dilengkapi dengan rencana pemecahan masalah dan akhirnya ke rumusan tujuan. Untuk penelitian kualitatif di bagian ini dijelaskan juga fokus penelitian dan uraian konsep yang berkaitan dengan fokus penelitian.
• Metodologi penelitian yang digunakan dalam pemecahan masalah dipaparkan secara naratif yang menggambarkan metode, teknik pengambilan data, dan teknik analisis data.

Pembahasan
• Bagian hasil adalah bagian utama artikel ilmiah. Oleh karena itu biasanya merupakan bagian terpanjang. Pada bagian ini disajikan hasil analisis data; Yang dilaporkan adalah hasil analisis atau hasil pengujian hipotesis,
• Hasil analisis boleh disajikan dengan tabel atau grafik. Tabel ataupun grafik harus diberi komentar atau dibahas. Pembahasan tidak harus dilakukan per tabel atau grafik. Tabel atau grafik digunkan untuk memperjelas penyajian hasil secara verbal.
• Bagian ini adalah bagian terpenting dari keseluruhan isi artikel ilmiah. Tujuan pembahasan adalah
a. menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaiamana tujuan penelitian itu tercapai
b. menafsirkan temuan-temuan
c. mengintegrasi temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan.
• Dalam menjawab masalah penelitian atau tujuan penelitian, harus disimpulkan hasil-hasil penelitian secara eksplisit. Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakan logika dan teori-teori yang ada.
• Untuk penelitian kualitatif, bagian ini dapat pula memuat ide-ide peneliti, keterkaitan antara kategori-kategori dan dimensi-dimensi serta posisi temuan atau penelitian terhadap temuan dan teori sebelumnya.
Kesimpulan dan saran
• Kesimpulan menyajikan ringkasan dari uraian yang disajikan pada bagian hasil dan pembahasan. Berdasarkan uaraian pada kedua bagian itu, dikembangkan pokok-pokok pikiran yang merupakan esensi dari uraian tersebut. Kesimpulan disajikan dalam bentuk essei, bukan dalam bentuk numerical.
• Saran disusun berdasarkan kesimpulan yang telah ditarik. Saran-saran bisa mengacu kepada tindakan praktis, atau pengembangan teoretis, dan penelitian lanjutan. Bagian saran bisa berdiri sendiri. Bagian kesimpulan dan saran dapat pula disebut bagian penutup.
Daftar Rujukan
• Daftar rujukan harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang disajikan dalam batang tubuh artikel ilmiah.
• Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh makalah.

D. Lembar Kerja

Setelah Anda pelajari format penulisan karya iliah baik karya ilmiah laporan penelitian maupun karya ilmiah untuk keperluan seminar, coba sekarang Anda diskusikan dalam kelompok salah satu bentuk karya ilmiah yang Anda bisa mita pada instruktur Anda. Adapun pokok-pokok yang harus Anda diskusikan adalah sebagai berikut:
1. Apakah sistematika atau format penulisan dalam karya ilmiah yang Anda diskusikan sesuai dengan format yang telah Anda pelajari? Kalau tidak jelaskan letak perbedaannya!
2. Bagaimana menurut Anda tentang isi dari setiap komponen dalam karya ilmiah itu? Anda jelaskan dengn singkat!
3. Bagaimana penlaian Anda tentang karya ilimiah yang Anda diskusikan

IVKETENTUAN DALAM PENULISAN ILMIAH

A. Notasi Ilmiah
1. Pengertian Notasi Ilmiah
Terdapat bermacam-macam sistem dalam penulisan notasi untuk menyusun karya tulis ilmiah. Sistem yang dikenal di kalangan masyarakat ilmiah antara lain adalah system University of Chicago Press, Sistem Harvard, Sistem American Psychological Assosation (APA), Sistem American Antropoloist, Sistem Harcouver, dan sistem Gabungan (misalnya Sistem Harvard dengan sistem huruf)-Keseluruhan sistem tersebut pada hakikatnya dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yakni, pertama, sistem yang mempergunakan catatan kaki (umpamanya Sistem University of Chicago press), kedua, sistem yang tidak menggunakan catatan kaki (umpamanya sistem yang menggabungkan kedua sistem yang pertama).
Sistem yang menggunakan catatan kaki menaruh sumber rujukan yang berupa nama pengarang, judul, penerbit, tahun penerbitan, dan halaman yang dirujuk, dibagian bawah dari halaman tulisan. Dari sinilah dikembangkan terminology footnote atau catatan kaki disebabkan letak rujukan yang diletakan pada bagian bawah atau kaki dari tulisan. Walaupun demikian, terdapat juga sistem yang menggunakan catatan kaki, namun meletakkan daftar rujukannya tidak di halaman yang sama, melainkan di belakang setelah seluruh karya tulis selesai. Hal ini sering dilakukan untuk memudahkan pengetikan. Sebenarnya, meletakkan daftar rujukan di belakang ini bertentangan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sistem catatan kaki, yakni pembaca dengan cepat menemukan sumber rujukan yang digunakan dalam karya tulis. Seorang pembaca, yang meresensi sebuah buku untuk menemukan sumber rujukan, menulis bahwa “catatan kaki yang ditaruh di belakang (menjadi catatan belakang), malah mempersulit pembaca untuk merekam kutipan-kutipan para analis”. Selanjutnya, ia menyarankan bahwa dalam penerbitan selanjutnya hal ini “dibenahi
Contoh di atas dikemukakan untuk menunjukkan bahwa setiap sistem notasi ilmiah mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, dalam memilih sistem notasi ilmiah, kita harus mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan tersebut vis-a-vis tujuan penulisan karya tulis kita. Kelebihan sistem catatan kaki, di samping dengan mudah menemukan sumber rujukan pada halaman yang sama, juga memungkinkan kita untuk menambahkan keterangan tambahan untuk tubuh tulisan yang ditaruh dalam catatan kaki. Keterangan tambahan ini, baik yang berupa penjelasan maupun analis, akan “memperluas” dan “memperdalam” materi karya tulis. Hal ini tidak ditaruh dalam tubuh tulisan sebab akan menggangu kelancaran penulisan.
Disebabkan hal inilah maka sistem catatan kaki sangat ideal untuk penulisan karya tulis ilmiah yang membutuhkan kedalaman dan keluasan materi tulisan seperti skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian lainnya. Sebaiknya, terdapat pula tulisan yang relative tidak sedalam dan seluas karya tulis tersebut seperti artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal atau majalah. Untuk tulisan semacam ini maka teknik notasi yang ideal adalah sistem tanpa catatan kaki.
Sistem tanpa catatan kaki, sesuai dengan namanya, meletakkan daftar pernyataan yang tercantum tulisan. Artinya dalam pernyataan yang tercantum dalam tubuh tulisan sudah terangkum di dalamnya sumber rujukan. Hal ini sangat memudahkan penulisan, termasuk mereka yang membaca tulisan tersebut, terutama bila dikaitkan dengan diskripsi perkembangan keilmuan (the state of the art) atau analisis perbandingan dengan karya ilmiah lainnya. Kelemahannya ialah bahwa keterangan tambahan yang bersifat memperluas dan memperdalam tulisan tidak dapat diberikan.
Untuk mengatasi kekurangan itu maka sering digabungkan antara sistem tanpa catatan kaki dengan sistem catatan kaki. Artinya, sumber rujukan mempergunakan sistem tanpa catatan kaki, sedangkan keterangan tambahan mempergunakan sistem catatan kaki. Penelitian akadeik seperti skripsi, tesis, dan disertasi, sering mempergunakan sistem gabungan ini.
Semua peneliti harus menguasai ketigia sistem penulisan ini dengan berbagai variasinya, Baik sistem catatan kaki, maupun sistemtanpa catatan kaki, tidak terdiri dari satu teknik notasi ilmiah yang sama, melainkan berkembang menjadi beragam teknik penulisan. Pengiriman artikel ke jurnal tertentu membutuhkan persyaratan penulisan tertentu pula. Sebagaimana telah disinggung terdahulu, penulisan Sistem American Psychological Association berbeda dengan Sistem American Anthropologist. Perbedaan ini tidak akan terlalu dibesar-besarkan, yang penting ialah bahwa kita mengenal berbagai sistem yang berlaku dalam masyarakat ilmiah.

2. Kutipan, Catatan Kaki, dan Daftar Pustaka
1). Kutipan
Kutipan adalah bagian dari pernyataan, pendapat, buah pikiran, definisi, atau hasil penelitian orang lain atau penulis sendiri yang telah terdokumentasi. Kutipan akan dibahas dan ditelaah berkaitan dengan materi penulisan. Kutipan dari pendapat berbagai tokoh merupakan esensi dalam penulisan sinteisis.
Kutipan dilakukan apabila penulis sudah memperoleh sebuah kerangka berpikir yang mantap. Walaupun kutipan atas pendapat seorang pakar itu diperkenankan, tidaklah berarti bahwa keseluruhan sebuah tulisan dapat terdiri dari kutipan-kutipan. Garis besar kerangka karangan serta kesimpulan yang dibuat harus merupakan endapat penulis sendiri. Kutipan – kutipan hanya berfungsi sebagai bahan bukti untuk menunjang pendapat penulis.

Manfaat Kutipan
1. untuk menegaskan isi uraian
2. untuk membuktikan kebenaran dari sebuah pernyataan yang dibuat oleh penulis
3. untuk mencegah penggunaan dan pengakuan bahan tulisan orang lain sebagai milik sendiri

Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah pengambilan bagian tertentu dari tulisan orang lain tanpa melakukan perubahan ke dalam tulisan kita. Syarat kutipan langsung adalah sebagai berikut:
1. Tidak boleh melakukan perubahan terhadap teks asli yang dikutip
2. Menggunakan tiga titik berspasi [. . . ]jika ada bagian yang dikutip dihilangkan
3. Menyebutkan sumber sesuai dengan teknik notasi yang digunakan.
4. Bila kutipan langsung pendek (tidak lebih empat baris) dilakukan dengan cara :
a. Integrasikan langsung dalam tubuh teks
b. Diberi jarak antarbaris yang sama dengan teks
c. Diapit oleh tanda kutip
5. Bila kutipan langsung panjang (lebih dari empat baris) dilakukan dengan cara”
a. Dipisahkan dengan spasi (jarak antarbaris) lebih dari teks
b. Diberi jarak rapat antarbaris dalam kutipan

Contoh Kutipan Langsung Pendek
Kecerdasan emosi merupakan kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk “memandu pikiran dan tindakan”.1

Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.1

Contoh Kutipan Langsung Panjang
Kecerdasan emosi merupakan kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan- perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan. Mayer dan Salovey mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai berikut:
Emotional intelligence involves the ability to perceive accurately, appraise, and express emotion; the ability to understand emotion and emotional knowledg; and ability to regulate emotions to promote emotional and intellectual growth.1

Kutipan Tak Langsung
Kutipan tak lansung adalah kutipan yang menuliskan kembali dengan kata-kata sendiri. Kutipan ini dapay dibuat panjang atau pendek dengan cara mengintegrasikan dalam teks, tidak diapit dengan kata kutip dan menyebutkan sumbernya sesuai dengan teknik notasi yang dijadikan pedoman dalam menulis karya ilmiah.

Contoh Kutipan Taklangsung
Secara empirik hal ini telah dibuktikan oleh Jepang melalui Restorasi Meiji telah berhasil memodernisasi bangsa Jepang menjadi bangsa yang maju dengan jalan membenahi sistem pendidikannya terutama pada jenjang pendidikan tinggi. Faktor pendidikan dalam proses modernisasi menjadi penting sebab pada hakikatnya modernisasi menjadi penting sebab pada hakikatnya modernisasi adalah perubahan pandangan hidup yang didorong oleh cara berpikir. 1

2). Catatan Kaki
Catatan kaki adalah penyebutan sumber yang dijadikan kutipan. Fungsi catatan kaki adalah memberikan penghargaan terhadap sumber yang dikutip dan aspek ligalitas untuk izin penggunaan karya tulis yang dikutip, serta yang terpenting adalah etika akademik dalam masyarakat ilmiah sebagai wujud kejujuran penulis. Ada beberapa cara yang digunakan dalam menuliskan sumber kutipan, antara lain:
1. Nama pengarang hanya satu orang
Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 39.
Atau
Maurice N. Richter, Jr, Science as a Cultural Process (Cambridge Schenkman, 1972), h.4
2. Nama Pengarang yang jumlahnya dua orang dituliskan lengkap
David B. Brinkerhoff dan Lynn K. White, Sociology (St Paul: Wst Publishing Company, 1988), hal. 585.
3. Nama Pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang yang lebih dari tiga orang hanya dituliskan nama pengarang pertama ditambah kata et al. (et al: dan tain-lain).
John A. R. Wilson, Mildred C. Robeck, and William B. Micheal, Psychological Foundation of Learning and Teaching (New York: McGraw-Hill Book Company, 1974), hal. 406.
dan
Carrick Martin et al., Introduction to Accounting ed ke 3 (Singapore”Mc.Graw-Hill, 1991), hal 123.
4. Kutipan yang diambil dari halaman tertentu disebutkan halamannya dengan singkatan p (pagina) atau h (halaman). Sekiranya kutipan itu disarikan dari beberapa halaman umpamanya dari halaman 1 sampai dengan 5 maka dikutip p. 1-5 atau hh 1-5.
David Harrison, The Sociology of Modernization and Development (London: Unwin Hyman Ltd., 1988), hal. 20-21.
Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 39- 44
5. Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah, Koran, kumpulan karangan atau disampaikan dalam forum ilmiah dituliskan dalam tanda kutip yang disertai dengan informasi mengenai makalah tersebut.
Karlina, “Sebuah Tanggapan : Hipotesa dan Setengah llmuan,” Kompas, 12 Desember 1981 ,h.4.
Liek Wiliardjo, “Tanggung llmuan” Pustaka th. Ill 1979,pp.11-14. Jawab Sosial No. 3, April
M. Sastrapratedja, “Perkembangan ilmu dan Teknologi dalam Kaitannya dengan Agama dan Kebudayaan”. Makalah disampaikan dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) III, LIPI. Jakarta, 15-19 September 1981.

B. Suprapto, “Aturan Permainan dalam ilmu-ilmu alam.”llmu dalam Perspektif. ed. Juiun S. Suriasumantri (Jakarta : Gramedia, 1978) pp. 129-133.
J.J. Honingman, The World of Man, dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan (Jakarta : Gramedia, 1985), hal. 100.
6. Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op. cit. (opera citato : dalam karya yang telah dikutip), loc. Cit. (loco citato : dalam tempat yang telah dikutip dan ibid, (ibidem: dalam tempat yang sama). Untuk pengulangan maka pengarang tidak ditulis lengkap melainkan cukup nama familinya saja. Sekiranya pengulangan dilakukan dengan tidak diselang oleh pengarang lain maka dipergunakan notasi ibid.
dikutip kembali sumber yang sama dengan kutipan sebelumnya pada halaman yang sama
lbid
dikutip kembali sumber yang sama dengan kutipan sebelumnya pada halaman yang berbeda
Ibid., hal 12.
Mengutip sumber yang sama dan halaman yang sama tetapi sudah diselingi oleh sumber lain
Conny R. Semiawan, loc. cit.
Mengutip sumber yang sama dan halaman yang berbeda tetapi sudah diselingi oleh sumber lain
Jujun S. Suriasumantri, op. cit., hal. 49
Mengutip pengarang yang sama buku berbeda dan halaman yang sama tanpa diselingi oleh sumber lain
Suriasumantri, Pembangunan Modernisasi dan Pendidikan, hal. 39 – 42.
Mengutip pengarang yang sama buku berbeda dan halaman yang sama tetapi sudah diselingi oleh sumber lain
Suriasumantri, Pembangunan Modernisasi dan Pendidikan, loc.cit.
Mengutip pengarang yang sama buku berbeda dan halaman yang berbeda tetapi sudah diselingi oleh sumber lain
Suriasumantri, Pembangunan Modernisasi dan Pendidikan, op.cit., hal. 7
7. Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah dalam karya tulis yang lain. Untuk itu maka kedua sumber itu kita tuliskan.
Anastasi dalam Syafuddin Azwar, Pengantar Psikologi Inteligensi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hal. 6.
Anton Bekker, “Badan Manusia dan Budaya” dalam G. Muedjanti, (ed.) Tantangan Kemanusiaan Universal (Yogyakarta: Kanisius), hal. 19.
Jujun S. Suriasumantri, “Pembangunan Sosial Budaya Secara Terpadu”, dalam Masalah Sosial Budaya Tahun 2000: Sebuah Bunga Rampai Soedjatmoko at al. (ed.) (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1986), hal. 10.
8. Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah diterjemahkan. Untuk itu maka kedua sumber itu kita tuliskan.
Theodore M. NewComb, Ralph H. Turner dan Philip E. Converse, Psikologi Sosial, Terjemahan FPUI (Jakarta: Diponegoro: 1985), hal. 325.
J.W. Schoorl, Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang, Terjemahan R.G. Soekadijo (Jakarta: PT Gramedia, 1982), hal. 4.
9. Majalah/Jurnal Ilmiah
James F. Stratman, “The Emergence of Legal Composition as a field of inquiry,” Review of Educational Research, LX (2,1990), pp. 153-235.
10. Interview
Interview dengan Dr. Endry Boeriswati, M.Pd. . Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNJ, 2 Februari 2007 pukul 15.00
11. Tidak dipublikasikan
Endry Boeriswati, Penilian Berbasis Kelas dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, Makalah Pelatihan Widya Iswara Bahasa Indonesia, Jakarta : PPPG Bahasa, 2006)
12. Buku yang terdiri dari beberap jilid yang mempunyai judul umum namun tiap jilid mempunyai subjudul sendiri.
Russell G. Davis (ed.), Planning Education ofr Development. Vol II : Issues and Problem in the Planning of Education in Developing Countries (Cambridge, Harvard University, 1980). P.p. 76.
13. Dokumen
RI, Undang-Undang Dasar 1945, Bab VII, Pasal 19, Ayat 1.
14. Situs Internet
Thorndike, R.L., History of Infleunces in Develompment of Intelligence Theory & Testing, (http://www.Indiana.edu/~intel/Thorndike.html), 1998, hal. 1.
Traditional Intelligence Theories,. (http://edweb.gsn.org/edref.mi. hst.html), 2000, hal. 1 Report of Task Force established by Board of Scientific Affairs of American Psychological Assciation, (http://www.cycau.com/Organ/ Upstream/ IQ/apa/html), 20/08/2000, hal. 13

3. Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan rujukan penulis selama ia melakukan dan menyusun penulisan baik sebagai penunjang maupun sebagai data. Ada beberapa teknik penulisan daftar pustaka. Semua teknik yang dipilih dapat menyesuaikan dengan pedoman yang kita pilih. Namun demikian pada dasarnya daftar pustaka digunakan untuk pembantu pembaca mengenal ruang lingkup penulis, memberikan informasi kepada pembaca untuk memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap dan mendalam daripada kutipan yang digunakan penulis, dan membantu pembaca memilih refrensi dan materi dasar studinya.
Teknik penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut:
a. Baris pertama dimulai pada margin kiri, baris kedua dan selanjutnya dimulai dengan 3 ketukan ke dalam.
b. Jarak antarbaris 1,5 spasi
c. Diurutkan berdasarkan abjad huruf pertama nama keluarga penulis.
d. Jika penulis yang sama menulis lebih dari satu karya tulis yang dikutip, nama penulis nama penulis harus ditulis berulang.
e. Urutan penulisan: nama penulis diawali nama keluraga penulis, tahun terbitan, judul karya tulis dengan menggunakan huruf kapital di awal kata, dan data publikasi berisi nama kota dan nama penerbit karya yang dikutip.

Contoh Penulisan Daftar Pustaka

Brotowidjoyo, Mukayat D. 2002. Penulisan Karangan Ilmiah. (Ed. Ke-2). Jakarta: Akademika Pressindo.

Perino, Joseph G. 1999. Self-Confidence, http://www.psychological-self-help.com/ intro/html.on-line

Suriasumantri, Jujun S. “Pembangunan Sosial Budaya Secara Terpadu”, dalam Masalah Sosial Budaya Tahun 2000: Sebuah Bunga Rampai Soedjatmoko at al. (ed. 1986). Yogyakarta: Tiara Wacana.

Schoorl, J.W. 1982. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang, Terjemahan R.G. Soekadijo. Jakarta: PT Gramedia..

B. Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah
1. Bahasa llmiah
Berbagai ketentuan yang sepatutnya diperhatikan oleh penyusun karya tulis ilmiah agar karya tulisnya komunitatif, karya tulis ilmiah itu harus memenuhi kriteria logis sistematis, dan lugas, karya tulis ilmiah disebut logis jika keterangan yang dikemukakannya dapat ditelusuri alasan-alasannya yang masuk akal. Karya tulis ilmiah disebut sistematis jika keterangan yang ditulisnya disusun dalam satuan-satuan yang berurutan dan saling berhubungan. Karya tulis ilmiah disebut lugas jika keterangan yang diuraikannya disajikan dalam bahasa yang langsung menunjukkan persoalan dan tidak berbunga-bunga. Dalam hubungan dengan penggunaan bahasa. Bab ini akan membicarakan pemakaian bahasa, bab ini akan membicarakan pemakaian ejaan yang disempurnakan, pembentukan kata, pemilihan kata, penyusunan kalimat efektif, dan penyusunan paragraf dalam karya tulis ilmiah.

Ciri-ciri Bahasa Ilmiah
• Bahasa Ilmiah harus tepat dan tunggal makna, tidak remang nalar ataupun mendua.
– Contoh:”penelitian ini mengkaji metode pemebalajaran CTL objek yang efektif dan efisien”
• Bahasa Ilmiah mendefinisikan secara tepat istilah, dan pengertian yang berkaitan dengan suatu penelitian, agar tidak menimbulkan kerancuan.
• Bahasa Ilmiah itu singkat, jelas dan efektif.
– Contoh:”tulisan ini (dilakukan dengan maksud untuk) membahas kecendrungan peningkatan kompetensi guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2006”.
Catatan: kata-kata yang di dalam kurung sebaiknya dihilangkan.

Kalimat Yang Efektif
• “Kalimat yang membangkitkan acuan dan makna yang sama di benak pendengar atau pembaca dengan yang ada di benak pembicara atau penulis
• Kalimat yang efektif ditentukan oleh:
– Keterpaduan kalimat: mengacu pada penalaran (deduksi, induksi, top-down, bottom-up, dll.)
– Koherensi kalimat: mengacu pada hubungan timbal-balik antara kalimat-kalimat
Contoh :
Kalimat tidak Efektif Kalimat Efektif
• membahayakan bagi penderita
• membicarakan tentang penyakit
• mengharapkan akan tindakan
• para dokter saling bantu-membantu
• keharusan daripada dilakukannya tindakan pembedahan • membahayakan penderita
• membicarakan penyakit
• mengharapkan tindakan
• para dokter saling membantu
• keharusan melakukan pembedahan

Koherensi Kalimat
Hal-hal yang dapat mengganggu koherensi kalimat
• Tempat kata
– Pekan Kesenian Bekas Penyandang Kusta Nasional
• Pemilihan dan Pemakaian Kata
– Memilih kata depan atau kata penghubung yang salah:
• Dari hasil perhitungan…..
– Memilih dua kata yang kontradiktif atau medan maknanya tumpang tindih:
• Banyak siswa-siswa ….
• Suatu ciri-ciri yang didapatkan……
– Menggunakan kata yang tidak sesuai:
• Walaupun banyak artikel berpendapat…..
– Menggunakan nama atau istilah yang benar, tetapi penulisannya keliru

2. Penerapan Ejaan yang disempurnakan
a. Penggunaan Spasi
Penggunaan spasi setelah tanda baca sering tidak diindahkan. Menurut ketentuanyang berlaku, setelah tanda baca (titik, koma, titik koma, titik dua, tanda satu, tanda Tanya) harus ada spasi, jarak satu pukulan ketikan.
b. Pengunaan Garis Bawah Satu
Garis bawah satu dalam karya tulis ilmiah digunakan untuk menandai kata-kata atau bagian-bagian yang harus dicetak miring apabila karya tulis ilmiah itu diterbitkan. Garis bahwa satu dipakai pada 1) anak bab, 2) subanak bab, 3) kata asing atau kata daerah, 4) judul buku, majalah, surat kabar yang dikutip dalam naskah. Perhatikan contoh-contoh berikut:

1) Anak Bab
Misalnya
1. Later Belakang dan Masalah
2) Subanak Bab
Misalnya:
1.1.1. Later Belakang
1.1.2. Masalah
3) Kata Asing atau kata Daerah
Acceptence boundary “batas penerimaan”
Papalingpang (Sd.) bertentangan.
4) Judul Buku, Majalah, atau Surat Kabar yang diterbitkan
Misalnya:
Buku Dasar-dasar Gizi Kuliner
Majalah Intisari
Surat Kabar Kompas
Garis bawah satu itu dibuat terputus-putus kata demi kata, sedangkan spasi (jarak kata dengan kata) tidak perlu digarisbawahi sebab yang akan dicetak miring adalah kata itu sendiri.

3. Pemenggalan Kata
Apabila memengalan atau penyukuran sebuah kata dalam penggantian baris, kita harus membubuhkan tanda kurang (-), dengan tidak didahului spasi dan tidak dibubuhksn di pinggir ujung bsris. Tanda hubung itu dibubuhkan di pinggir ujung baris. Dalam kaitan ini, pias kanan karya tulis ilmiah tidak perlu lurus. Yang harus diutamakan adalah pemenggalan kata sesuai dengan kaidah penyukuan, bukan masalah kelurusan atau kerapian pias kanan karya tulis ilmiah. Namun, jika pengetikan karya tulis menggunakan computer, kerapian pias kanan dapat deprogram dan penyukuran kata dapat dicegah. Berikut dicantumkan kaidah penyukuran sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
1) Kalau di tengah kata ada dua vocal yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua vocal.
Misalnya : bi-arkan, mema-lukan, pu-ing.
2) Kalau di tengah kata ada dua vocal yang mengapit sebuah konsonan (termasuk ng, ny, sy, dan kh), Pemisahan tersebut dilakukan sebelum konsonan itu.
Misalnya : pu-jangga, tereke-nal, meta-nol, muta-khir.
3) Kalau di tengah kata ada dua konsonan atau lebih, Pemisahan tersebut dilakukan di antara konsonan itu.
Misalnya : hid-roponik, resep-sionis, lang-sung.
4) Kalau di tengah kata ada tiga konsonan atau lebih, Pemisahan tersebut dilakukan di antara konsonan yang pertama dan konsonan kedua.
Misalnya : Indus-trial, kon-struksi, in-stansi, ben-trok.
5) Jika kata berimbuhan atau berpartikal dipengal, kita harus memisahkan imbuhan atau partikel itu dari kata dasarnya (termasuk imbuhan yang mengalami perubahan bentuk).
Misalnya : pelapuk-an, me-ngisahkan, peng-awetan.
Selain itu, jangan sampai terjadi pada ujung baris atau pada pangkal baris terdapat hanya satu huruf walaupun huruf itu merupakan satu suku kata. Demikaian juga, harus diusahakan (kalau mungkin) agar nama orang tidak dipenggal atau suku-suku katanya.

4. Penulisan di sebagai kata Depan
Di yang berfungsi sebagai kata depan harus dituliskan terpisah dari kata yang mengiringinya. Biasanya di sebagai kata depan ini berfungsi menyatakan arah atau tempat dan merupakan jawaban atas pernyataan dimana.
Contoh-contoh penggunaan di kata depan
di samping di rumah
di persimpangan
di sebelah utara
di pasar
di sungai
di luar kota
di toko
5. Penulisan di sebagai Awalan
Di- yang berfungsi sebagai awalan membentuk kata kerja pasif dan harus dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya. Pada umumnya, kata kerja pasif yang berawalan di-dapat diubah menjadi kata kerja aktif yang berawalan meng-(meN-).
Misalnya:
Diubah berlawanan dengan mengubah
Dipahami berlawanan dengan memahami
Dilihat berlawanan dengan melihat
Dimeriahkan berlawanan dengan memeriahkan.
Diperlihatkan berlawanan dengan memperlihatkan.

6. Penulisan ke sebagai Kata Depan
Ke yang berfungsi sebagai kata depan, biasanya menyatakan arah atau tujuan dan merupakan jawaban atas pertanyaan ke mana. Ke belakang ke muka
ke kecamatan
ke lokasi penelitian
ke pinggir
ke atas
ke sini
ke samping
ke bawah
ke dalam
Sebagai patokan kita, ke yang dituliskan terpisah dari kata yang mengiringinya jika kata-kata itu dapat dideretkan dengan kata-kata yang didahului kata di dan dari.
Misalnya :
Ke sana di sana dari sana
Ke kecamatan di kecataman dari kecamatan
ke jalan raya di jalan raya dari jalan raya
ke berbagai di berbagai dari berbagai
Instansi Instansi Instansi

7. Penulisan ke-sebagai Awalan
Ke- yang tidak menunjukkan arah atau tujuan harus dituliskan serangkaian dengan kata yang mengiringinya karena ke-seperti itu tergolong imbuhan.
Misalnya:
Kelima kepagian
Kehadiran ketrampilan
Kekasih kepanasan
Kehendak kedinginan
Ketua kehujanan
Catatan:
Ke pada kata kemari, walaupun menunjukkan arah, harus dituliskan serangkaian karena tidak dapat dideretkan dengan di mari dan dari mari. Selain itu, penulisan ke pada kata keluar harus dituliskan serangkai jika berlawanan dengan kata masuk. Misalnya : saya ke luar dari organisasi itu. Akan tetapi, jika ke luar itu berlawanan dengan ke dalam, ke harus dituliskan terpisah. Misalnya, Pandangannya diarahkan ke luar ruangan.

8. Penulisan Partikel pun
Pada dasarnya, partikel pun yang mengikuti kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan harus dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya karena pun di sana merupakan kata yang lepas.
Menangis pun di rumah pun
Seratus pun satu kali pun
Berlari pun tingginya pun
Negara pun apa pun
Sesuatu pun ke mana pun
Akan tetapi, kata-kata yang mengandung pun berikut harus dituliskan serangkai karena sudah dianggap padu benar. Jumlah kata seperti itu tidak banyak, hanya dua belas kata, yang dapat dihapal di luar kepala, yaitu adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, ataupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, Cyang berarti walaupun) sungguhpun, dan walaupun.

9. Penulisan Partikel per
Partikel per yang berarti “mulai” demi atau “tiap” dituliskan terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya :
Per meter per kilogram
Per orang per Oktober
Per orang per Januari
Per kapita per liter
Satu per satu
Akan tetapi, per yang menunjukkan pecahan atau imbuhan harus dituliskan serangkaian dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Lima tiga perdelapan perempat final
Empat pertiga satu perdua
Dua pertujuh tujuh persembilan
10. Penggunaan Tanda Hubung (-)
Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan kata ulang. Dalam pedoman ejaan kata ulang harus dituliskan dengan dirangkaikan oleh tanda hubung. Penggunaan angka dua pada kata ulang tidak dibenarkan, kecuali dalam tulisan-tulisan cepat,- seperti catatan pada waktu mewawancarai seseorang atau catatan fapat. Perhatian penggunaan tanda hubung pada kata ulang berikut.
dibesar-besarkan bolak-balik
berliku-liku meloncat-loncat
ramah-tamah kait-mengait
sayur-mayur tunggang-langgang
centang-perenang kupu-kupu
compang-camping tolong-menolong
Tanda hubung juga harus digunakan antara huruf kecil dan huruf capital kata berimbuhan, baik awalan maupun akhiran, dan antara unsur kata yang tidak dapat berdiri sendiri dan kata yang mengikutinya yang diawali huruf capital.
Misalnya:
rahmat-Nya se-Jawa Barat
non-RRC di sisi-Nya
se-DKI Jakarta non-Palestina
hamba-Nya se-lndonesia
KTP-Nya PBB-lah
ber-SIM SK-mu
Makhluk-Nya pan-lslamisme
Sinar-X
Antara huruf dan angka dalam suatu ungkapan juga harus digunakan tanda hubung.
Misalnya :
ke-2 ke-50
uang 500-an ke-25
ke-100 tahun 90-an
ke-40 ke-500
abad 20-an
Jika dalam tulisan terpaksa digunakan kata-kata asing yang belum diserap, kemudian kata itu diberi imbuhan bahasa Indonesia, penulisannya tidak langsung diserangkaikan, tetapi dirangkaikannya dengan tanda hubung. Dalam hubungan ini, kata asingnya perlu digarisbawahi (cetak miring).
Misalnya:
men-charter di-recall
di-charter di-calling
di-coach men-tackle
pen-tacle-an
Sebenarnya, masih banyak masalah ejaan yang perlu dibicarakan, terutama yang sering dijumpai dalam tulisan sehari-hari salah, tetapi karena ada hal lain, yaitu masalah penyusunan kalimat dan paragraph, yang juga perlu disinggung selintas, pembicaraan ejaan dicukupkan sekian saja. Diharapkan agar para penyusun karya tulis ilmiah memiliki sendiri buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan agar segala masalah aturan ejaan dapat dikuasai betul.

11. Pembentukan Kata
a. Peluluhan Bunyi
Jika kata dasar berbunyi awal /kl, /pi, /t/, /s/, ditambah imbuhan meng-, meng-…kan, atau meng-l, bunyi awal itu harus luluh menjadi (ng), /ml/, /n/, dan /ny/. Kaidah itu berlaku juga bag! kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang sekarang sudah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia. Bandingkan dua bentuk di bawah ini, yaitu bentuk baku dan bentuk tidak baku.

Bentuk Baku Bentuk Tidak Baku
Mengikis
Mengultuskan
Mengambinghitamkan
Mengalkulasikan
Memesona
Memarkir
Menafsirkan
Menahapkan
Menerjemahkan
Menyukseskan
Menyuplai
Menargetkan
Menakdirkan Mengkikis
Mengkultuskan
Mengkambinghitamkan
Mengkalkuiasikan
Mempesona
Memparkir
Mentafsirkan
Mentahapkan
Menterjemahkan
Mensukseskan
Mensuplai
Mentargetkan
Mentakdirkan
Demikian juga, bunyi /k/, /p/, /t/, /s/, harus luluh jika diberi imbuhan peng- atau peng..-an (pe-N atau pe N-….an).
Bentuk Baku Bentuk Tidak Baku
Pengikisan Pemarkiran Penargetan Penerjemahan Penahanan Penyuplai penyuksesan Pengikikisan Pemparkiran Pentargetan Penterjemahan Pentahapan Pensuplai Pensuksesan
Kaidah di atas tidak berlaku bagi kata-kata serapan yang bunyi awal katanya berupa gugus konsonan.
Transkripsi menjadi mentranskripsikan atau pentranskripsian, klasifikasi menjadi mengklasifikasikan atau pengklasifikasian.

b. Penulisan Gabungan Kata
Di dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan terdapat kaidah yang menyatakan bahwa gabungan kata, termasuk yang lazim disebut kata majemuk, unsure-unsurnya dituliskan terpisah. Gabungan kata yang harus dituliskan terpisah, antara lain, sebagai berikut.
duta besar tata bahasa
sebar luas loka karya
tanda tangan empat puluh
ibu kota dua puluh lima
rumah sakit umum lipat ganda
hancur lebur juru tulis
tanggung jawab anak emas
tepuk tangan kerja sama
kambing hitam beri tahu
Selain gabungan kata di atas yang harus dituliskan terpisah, terdapat juga gabungan kata yang harus dituliskan serangkai, yaitu gabungan kata yang sudah dianggap sebagai kata yang padu, sebagai berikut.
Bagaimana
bumi putra
padahal
halalbihalal
saputangan
segitiga
antarkota
antarwarga
asusila
dasawarsa
kontrarevolusi
ekstrakurikuler
Pancasila
mahakuasa
mahasiswa
pascapanen
pascaperang
purnawirawan
purnasarjana
semiprofessional
nonmigas apabila
dari pada
matahari
barangkali
manakala
sekaligus
bilamana
amoral
dwiwarna
caturtunggal
poligami
monoteisme
saptakrida
subbagian
subpanitia
subseksi
swadaya
swasembada
peribahasa
perilaku
tunarungu
tunanetra

C. Format Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah biasanya ditulis pada kertas ukuran A4, dengan margin (lebar sisi) kiri 4 cm dan sisi atas, bawah dan samping kanan 3 cm.. Jenis huruf, spasi, format numbering sub-sub judul bab, serta pola penomoran dan lain-lain biasanya ditentukan oleh masing-masing institusi. Namun demikian yang penting dalam penulisan ilmiah adalah konsistensi bentuk/ukuran dari awal sampai akhir tulisan. Berikut ini disajikan beberapa contoh format yang umum.

bentuk/ukuran dari awal sampai akhir tulisan. Berikut ini disajikan beberapa contoh format yang umum.KLIK DI SINI

D. Lembar Kerja
Setelah Anda pelajari notasi penulisan karya iliah baik karya ilmiah laporan penelitian maupun karya ilmiah untuk keperluan seminar, coba sekarang Anda diskusikan dalam kelompok, salah satu bentuk karya ilmiah yang Anda bisa mita pada instruktur Anda. Adapun pokok-pokok yang harus Anda diskusikan adalah sebagai berikut:
1. Sistem yang digunakan dalam mengutip yang ada dalam karya ilmiah tersebut.
2. Tuliskan contoh-contoh kutipan langsung dan tidak langsung yang ada dalam setiap kutipan!
3. Bagaimana menurut penialain kelompok anda kekurngan dan kelebihan teknik mengutip dengan sistem harvard dan sistm catatan kaki??

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti, Arsyad Maidar G., dan Ridwan, Sakura H. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
American Psychological Assosciation. 2001. Publication Manual of The American Psychological Assosiantion.Ed. ke-5 Washingtn, D.C.
Brotowidjoyo, Mukayat D. 2002. Penulisan Karangan Ilmiah. (Ed. Ke-2). Jakarta: Akademika Pressindo.
Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende-Flores: Penerbit Nusa Indah.
Sugono, Dendy. 1997. Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta : Puspa Swara
Surisasumantri, Jujun S. 2000. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer Jakarta: Sinar Harapan,
Turabian, Kate L. 1996. A Manual for Wrting of Term Papers, Theses, and Disertation. (Ed. Ke 6). Chicago: The University of Chicago Press.

DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN
DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU
PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2008

JUDUL JUDUL PTK/PTS/PTKp

JUDUL JUDUL PTK/PTS/PTKp

M

JUDUL PI/KI
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI PERKALIAN CARA SUSUN PADA SISWA KELAS V SDN SDN xxxxxx DENGAN METODE DEMONTRASI DAN MEMOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN KEPAHLAWANAN DAN PATRIOTISME TOKOH-TOKOH DI LINGKUNGAN PESERTA DIDIK MELALUI PEMBERIAN PENGUATAN VERBAL DAN NON VERBAL SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN ……..

PENGGUNAAN MEDIA KUBUS SATUAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHITUNG VOLUM BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS V SDN …… KABUPATEN ……… SEMESTER GENAP TAHUN ………….
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS IV SDN …………… KECAMATAN ……..KABUPATEN ……..MELALAUI PENGGUNAAN KARTU BILANGAN SEMESTER GENAP TAHUN …

MENINGKATKAN KEMAMPAN SISWA KELAS I SDN ……. DALAM MENGOPERASIONALKAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN BANTUAN BENDA KONGKRIT.SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN ….

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS I SD ………. MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK .SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN …

PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING MODEL JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA KELAS VI DI SD N ……

PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK BERPASANGAN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI MEMBAWAKAN ACARA PADA PESERTA DIDIK KELAS VIIIB SMPN………A   TAHUNPELAJARAN………..

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA DENGAN MENGGUNAKAN METODE “KLOS” SISWA KELAS VIII B SMP N…………SEMESTER GANJIL TAHUN …

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENJUMLAHKAN BILANGAN BULAT PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA LIDI PADA SISWA KELAS IV SDN …… KABUPATEN DOMPU SEMESTER GANJIL TAHUN ….

PENINGKATAN HASIL BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA DENGAN MENERAPKAN METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III SDN ….. KECAMATAN …. KABUPATEN ….U SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN ….

PENINGKATAN HASIL BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA DENGAN MENERAPKAN METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III SDN ….. KECAMATAN ….. KABUPATEN …. SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN …..

PENGGUNAAN METODE DISKUSI UNTUK MENINGATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP ……… PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA TAHUN PELAJARAN ….

PENGGUNAAN BENDA-BENDA KONTEKSTUAL UNUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHITUNG PERKALIAN PADA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA SD NEGERI …….KABUPTEN …… SEMSTER 1 TAHUN …………….

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SDN…. KABUPATEN …. DALAM MENENTUKAN VOLUM BANGUN RUANG MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KUBUS SATUAN SEMSETER I TAHUN ..

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MTEMATIKA MELALUI METODE DEMONSTRASI DENGAN ALAT PERAGA KARTU PINUS DI SDN …… SEMSTER I TAHUN ………..

PENERAPAN MODEL BELAJAR KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SISWA SD…..T KABUPTEN …. SEMSTER 1 TAHUN ……………

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISON ( STAD ) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA MATERI MENYUNTING EJAAN DAN TANDA BACA KELAS IV …T TAHUN PELAJARAN .

PENGGUNAAN MEDIA ”GAMBAR DAN KARTU” UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI PEMBELAJARAN TEMATIK PADA SISWA KELAS 3 SDN …SEMESSTER I TAHUN ….

PENINGKATAN HASIL BELAJAR EKONOMI MATERI PEREKONOMIAN TERBUKA MELALUI MODEL PEMBELJARAN KOOPERATIF TEKHNIK STAD PADA SISWA KELAS XI-B SMA …. SEMESTER GAZAL TAHUN PELAJARAN ……………

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEBELAJARAN EKONOMI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN INQUIRY PADA SISWA KELAS X-C SMA . KABUPATEN DOMPU SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MENGGUNAKAN INSTRUMEN PENILAIAN KELAS UNJUK KERJA MELALUI PEMBINAAN KERJA KELOMPOK DI SMKN …KABUPATEN ….EMESTER GAZAL TAHUN PELAJARAN ….

PENERAPAN SUPERVISI INDIVIDUAL KOLABORATIF UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMKN ….TAHUN ….
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS IV SDN ……. KECAMATAN…. KABUPATEN DOMPU MELALAUI PENGGUNAAN KARTU BILANGAN SEMESTER GENAP TAHUN …

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHITUNG VOLUM BANGUN RUANG MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KUBUS SATUAN PADA SISWA KELAS IV ….KECAMATAN…KABUPATEN …SEMESTER GENAP TAHUN ….

IMPLEMENTASI TEKNIK DRAWING PICTURE DALAM UPAYA MENINGKATKAN KECAKAPAN MENDENGAR (LISTENING SKILL) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS ADA KELAS X SMKN ….TAHUN PELAJARAN….

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ACCELERATED INSTRUCTION (TAI) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS PADA KELAS IX-C SMP NEGERI…. SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN …

UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS BELAJAR LEMPAR CAKRAM DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA MODIFIKASI PIRING PLASTIK PTK DI KELAS VI SD NEGERI… – KAB. … SEMESSTER I TAHUN…

PENERAPAN MODEL BELAJAR KOOPERATIF TIPE JIGSAWUNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SISWA SD NEGERI ….. KABUPTEN DOMPU SEMSTER 1 TAHUN ……….

PENERAPAN MODEL SIKLUS BELAJAR DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN KIMIA PADA SISWA KELAS X-1 SMA NEGERI….TAHUN PELAJARAN …

.
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR, KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS, DAN PEMAHAMAN KONSEP BIOLOGI SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH SEMSTER 1 TAHUN …

PENGGUNAAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS DAN PENGUASAAN ASPEK ALJABAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA BAGI SISWA KELAS XIPROGRAM IPA SMAN …. SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN .

IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DAN KETUNTASAN SISWA KELAS X-2 SMA NEGERI …. SEMESTER ….TAHUN PELAJARAN …..
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN PENCAPAIAN KOMPETENSI MATEMATIKA DAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA KELAS XI IPA-3SMA NEGERI …SEMSTER 1 TAHUN …

UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS BELAJAR LEMPAR CAKRAM DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA MODIFIKASI PIRING PLASTIK PTK DI KELAS VI SD … – KAB. ………….. SEMESSTER I TAHUN …

MODEL ”KUIS JAKS” UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MERAKIT KOMPUTER PC PADA SISWA KELAS XI TEKNIK ELEKTRONIKA INDUSTRI SMK NEGERI 2 DOMPU TAHUN PELAJARAN 2013/2014”

PENERAPAN MODEL SIKLUS BELAJAR DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN KIMIA  Pada Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 3 Woja Tahun Pelajaran 2013/2014

MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR, KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS, DAN PEMAHAMAN KONSEP BIOLOGI SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAHSEMSTER 1 TAHUN 2013/2014

PENERAPAN TEHNIK PEMBELAJARAN UMPAN BALIK PADA TUGAS TERSTRUKTUR MATERI POKOK HIMPUNAN DALAM MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII-B SMP ….. TAHUN PELAJARAN 2012/2013

MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII A SMP NEGERI ……….MELALUIPENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSINGSEMESTER 1 TAHUN AJARAN …

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENEMUKAN RUMUS LUAS LINGKARAN MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIFDENGAN METODE DEMONSTRATION PADA SISWA KELAS VIII-C SMP ……A TAHUN PELAJARAN …

OPTIMALISASI PENGGUNAAN LEMBAR KERJA SISWA DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII C SMP …………SEMESTER 1 TAHUN ………..

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR OLAHRAGA LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN RESIPROKAL MENGGUNAKAN MEDIA KARDUS PADA SISWA KELAS VI SDN ….SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN …….

MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS TERPADU MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN INKUIRI DI KELAS IX-C SMP ……. KABUPATEN DOMPU SEMESTER GANJIL THN…….

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS TERPADU MELALUI METODE PENGAJARAN BERBASIS PROYEK PADA SISWA KELAS VIII-B SMP ………KABUPATEN ………….. SEMESTER GANJIL THN …

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN GURU DALAM MENYUSUN SOAL UAS ( ULANGAN AKHIR SEMESTER ) MELALUI KERJA TERBIMBING DI SEKOLAH DASAR ……SEMESTER GANJIL TAHUN ….

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN MUTU DAN PENGUASAAN MATERI PELAJARAN IPA PADA SISWA KELAS vi ….. SEMESTER GANJIL TAHUN…..

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU-GURU SD …… MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MELALUI KERJA PRAKTEK TERBIMBINGTERBIMBING

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SDN …. MELALUI PEMBELAJARAN TERSTRUKTUR DENGAN PEMBERIAN TUGASDALAM TAHUN PELAJARAN ….

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SEMESTER I TAHUN AJARAN ….SDN ………..KECAMATAN ……….. KABUPATEN DOMPU

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE BERVARIASI KELAS 1 SDN ….- KABUPATEN…. SEMESTER I TAHUN PELAJARAN …

Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf melaluiPenerapan KegiatanMenulis Jurnal dan Pemanfaatanya untuk Penilaian Autentik pada Siswa Kelas XI IPA-2 SMA Negeri 1 Pajo Kabupaten Dompu

PeningkatanPembelajaranMenulisPuisiMelaluiMetodeKontekstualBerbasisMasalahPadaSiswaKelas Xi-Ipa3 Sman 1 PajoTahunPelajaran 2013-2014

Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Siswa Kelas Xi Ipa-1 Sma Negeri 1 Pajo Kabupaten Dompu Semster Ganjil Tahun 2011/2012 Dengan Menggunakan Teknik Role Play

PRAKTIKUM BIOLOGI BERBASIS KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN KINERJA ILMIAH DAN PEMAHAMAN KONSEP METABOLISME PADA SISWA KELAS IX-B SMP NEGERI 4 WOJA KABUPATEN DOMPU SEMESTER GANJIL THN 2013/2014

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI BIOLOGI MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STADPADA SISWA KELAS IX-1 SMP NEGERI 4 WOJA KABUPATEN DOMPU SEMESTER GANJIL THN 2014/2015

UpayaMeningkatkanPrestasi Dan KualitasBelajarIPADenganMetodePembelajaranPenemuan (discovery)PadaSiswaKelas VISDN 16 KempoTahunPelajaran2011/2012

Upayameningkatkandisiplinguru dalamkehadiranmengajardikelasmelaluipenerapanreward and punishment di sdnegeri 2 kempokabupatendomputahunpelajaran 2012/2013

Metode demonstrasi dalam upaya miningkatkan proses belajar dan hasil belajar bahasa indonesia pada siswa kelas vi sd negero 02 kempotahun pelajaran 2013/2014

Optimalisasi layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kebiasaan bertanya siswa dalam pembelajaran di SMPN 2 WOJA Tahun 2012-2013

Mengatasipermasalahanbelajarsiswakelas ix semester 2 melaluikonselingeklektifdenganperilaku attending  Di di SMPN 2 WOJA Tahunpelajaran 2013/2014

Meningkatkan prestasi belajar bidang bimbingan sosial materi tata krama dalam kehidupan bermasyarakat siswa kelas VIII-C semester II SMPN 2 wojajabupatwndompu dengan bimbingan dan konselinTahun 2011-2012

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS EKONOMI MELALUI PENERAPAN METODE BELAJAR TUNTAS KELAS XI TAV SMKN 2 DOMPU TAHUN 2011-2012

PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU DALAM MENYUSUSN SILABUS DAN RPP DI SMKN 2 DOMPU TAHUN 2013-2014

PENERAPAN SUPERVISI OBSERVASI KELAS UAPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DI SMKN 2 DOMPU TAHUN 2012-2013

PEMBELAJARAN TERSTRUKTUR DENGAN PEMBERIAN TUGAS DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SDN 10 PEKAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

MENINGKATKAN KEMAMPAN SISWA KELAS I SDN 10 PEKAT DALAM MENGOPERASIONALKAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN BANTUAN BENDA KONGKRIT. SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2013-2014

UpayaPeningkatanKeterampilanGuruDalamPenerapanPAIKEMmelaluiKegiatanKelompokKerja Guru (KKG) dalam bentuk WorkshopDiSDN 02 WojaKabupatenDompuSemester ganjil tahun 2012/2013

UpayaMeningkatkanPrestasiBelajarSiswa KELAS III SDN 02 WOJA Melalui Model PembelajaranTematik Semester GanjilTahunAjaran 2013/2014

Peningkatan Kemampuan Guru dalam Memanfaatkan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar melalui Diskusi Kelompok Kerja Guru(KKG) di SD NEGERI 2 WOJA tahun pelajaran 2014/2015

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MENULIS PUISI MELALUI METODE BERBASIS MASALAH DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4 SATAP PEKAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Meningkatkan Kemampan Siswa Kelas I SDN… Dalam Mengoperasionalkan Penjumlahan Dan Pengurangan Pada Mata Pelajaran Matematika Dengan Bantuan Benda Kongkri Semester GanjilTahu nAjaran…….

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER PADA SISWA KELAS XI SMKN 1 DOMPU TPELAJARAN 2012/2013

PENGGUNAAN METODE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN SIMPLE PRESENT TENSE PADA SISWA KELAS XII SMKN 1 DOMPU TAHUN PELAJARAN 2013-2014

IMLEMENTASI MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN KEMAMPUAN BERBAHASA DI TK …. … ….. TAHUN ………..

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBILANG MELALUI PERMAINAN KELOMPOK B DI TK …………. DOMPU-NTB TAHUN ..

PENINGKATKAN KETRAMPILAN BAHASA INDONESIA DENGAN MENUMBUHKAN MINAT MEMBACA SISWA KELAS I SEKOLAH DASAR NEGERI 10 KEMPO KECAMATAN KEMPO KABUPATEN DOMPU TAHUN 2012/2013

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATERI PELAJARAN BANGUN DATAR DENGAN METODE STAD DAN ALAT BANTU MODEL BANGUN DATAR WARNA-WARNI PADA PESERTA DIDIK KELAS V SD 10 KEMPO,DOMPU TAHUN 2013

PENERAPAN PENDEKATAN PROSES 5 FASE UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN  MENULIS PADA SISWA KELAS V SD  TAHUN …..

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SEMESTER I TAHUN AJARAN 2013/2014 SDN 10 KEMPO KECAMATAN KEMPOKABUPATEN DOMPU

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PAI DENGAN DITERAPKANNYA METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS IV SDN 24 DOMPU KEC. KOTA DOMPU TAHUN PELAJARAN 2013/2014

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) PADA SISWA KELAS VI SDN 01 DOMPU TAHUN 2011-2012

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGERJAKAN SOAL CERITA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE BERMAIN KARTU SOAL BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 DOMPU KABUPATEN DOMPU TAHUN PELAJARAN 2012/2013
MENINGKATKAN KINERJA GURU MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN BERBASIS CTL MELALUI SUPERVISI KLINIS OLEH KEPALA SEKOLAH DI SDN 19 DOMPU SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2013-2014

PEMBELAJARAN TERSTRUKTUR DENGAN PEMBERIAN TUGAS DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SDN …. TAHUN PELAJARAN……

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR DENGAN MENERAPKAN METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BELAJAR …………PADA SISWA KELAS …………TAHUN …………

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PAI MATERIMEMBACA KAIMAT DALAM AL-QURAN MELALUI METODE READING ALAOUD PADA SISW KELAS VI SD NEGERI 16 WOJA 2013/2014

MENGEMBANGKAN PENGUASAAN KONSEP TATA CARA SHOLAT LIMA WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PRAKREK LANGSUNG KELAS IV SDN 16 WOJA 2012/2013

PENINGKATAN KINERJA GURU MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN MELALAUI SUPERVISI KLINIS OLEH KEPALA SEKOLAH DI SD NEGERI 26 DOMPU KAB. DOMPU TAHUN PELAJARAN 2011-2012

“PENINGKATKAN KETRAMPILAN BAHASA INDONESIA DENGAN MENUMBUHKAN MINAT MEMBACA SISWA KELAS I SEKOLAH DASAR NEGERI 04 MANGGELEWA KECAMATAN MANGGELEWA KABUPATEN DOMPU TAHUN 2013/2014

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA KELAS V DALAM MATA PELAJARAN IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI SDN. 26 DOMPU KEC. DOMPU

PENINGKATAN KINERJA GURU MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN PAIKEM MELALUI PENERAPAN SUPERVISI KLINIS DI TK ….KILO KAB. …..  Semester Ganjil Tahun 2..4

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBILANG MELALUI PERMAINAN KELOMPOK B DI TK ….. KECAMATAN …… KAB. DOMPU

MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VI SDN 05 PAJO MELALUI PENERAPAN
TEHNIK UMPAN BALIK PADA TUGAS TERSTRUKTUR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENGGUNAAN BENDA-BENDA KONTEKSTUAL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHITUNG PERKALIAN PADA SISWA KELAS IVSD NEGERI 05 PAJO KABUPTEN DOMPU SEMSTER 1 TAHUN 2013/2014

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS IX MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIG SAW DI SMP NEGERI 6 DOMPU

Sharing

Berbagi tak pernah rugi

Staff Dikmen LPMP Jawa Tengah

Dengan TIK Memajukan Pendidikan Jawa Tengah

hilangpermataku.wordpress.com

A great WordPress.com site

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

MANAJEMEN | PEMBELAJARAN | KONSELING

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

educatinalwithptk

PTK The Frontiers Of New Technology

e-Newsletter Disdik

LEMBARAN BERITA DAN DISTRIBUSI INFORMASI SEPUTAR PENDIDIKAN

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Rudi Triatmono Personal Blogs

A Simple Blog, that contains some articles about Motorcycles, Information Technology, Management and much more...

tunas63

weblog untuk berbagi ilmu dan persaudaraan

SMK MERDESA

Pusat Pengembangan Kecakapan Hidup Menunju Insan Mandiri

Riau Pos

Berita Riau Pos Online Terkini dan Up to Date

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.